Workshop Dua Hari untuk Guru & Pengelola Taman Bacaan Pelangi di Labuan Bajo Flores

Pelatihan Taman Bacaan Pelangi [Rainbow Reading Gardens yang kedua kalinya ini bertema “Metode Mengajar Kreatif, Tumbuhkan Minat Baca Anak”, di Labuan Bajo, Flores selama dua hari pada 14-15 Desember 2013 dan dihadiri oleh 40 lebih guru dari Manggarai Barat & pengelola TBP dari NTT dan NTB.

foto diambil dari

https://www.facebook.com/media/set/?set=a.554150694667111.1073741837.274081229340727&type=3

Iklan

Di sekolah yang efektif ‘gedung dan bangunan (prasarana fisik)’ sama pentingnya dengan ‘kurikulum dan program’

Sekolah bukan sekedar bangunan fisik tapi adalah hubungan interaksi antar warganya demi wujudkan pendidikan yang berkualitas.

‘Gedung milik sendiri dan permanen’ adalah bahasa yang sering digunakan oleh pengelola sekolah dalam memasarkan sekolahnya. Kata-kata tadi tercetak di brosur, spanduk dan materi promosi lain yang bertujuan untuk menarik minat calon orang tua murid. Tidak heran karena banyak orang tua siswa calon orang tua murid yang jadikan gedung dan fasilitas sebagai ukuran. Maklum kalau bisa orang tua ingin anaknya bersekolah di sekolah yang gedung dan fasilitasnya memadai.

Sebagai ukuran pertama, sebuah sekolah akan dilihat dan dipercaya  jika gedung dan fasilitasnya kelihatan permanen dan nyaman. Layaknya konsumen, calon orang tua murid juga gunakan penilaian-penilaian saat memilih sekolah untuk buah hatinya, dan biasanya memang yang dijadikan penilaian pertama adalah bentuk fisik dan fasilitas sekolah.

Nah saat memilih sekolah untuk anaknya, calon orang tua siswa biasanya akan langsung berpikir bahwa sekolah yang gedungnya bagus, program-progam dan kurikulumnya pasti bagus. Padahal belum tentu. Maklum orang tua siswa terkadang masih berpikir secara awam dan lurus-lurus saja.

Dalam prakteknya pada beberapa kasus banyak pengelola sekolah yang memulai dengan keinginan kuat membawa sekolahnya ke dalam tujuan pendidikan tertentu lewat program-program. Kemudian program-programnya itu yang menuntun mereka dalam  melengkapi sarana dan prasarana fisik. Green school yang ada di Bali misalnya, sekolah tersebut adalah sekolah internasional yang sadar betul bahwa anak sejak dini mesti dikenalkan oleh pentingnya manjaga dan mencintai lingkungan. Sekolah tersebut bagaikan menyindir sekolah-sekolah yang mengatakan dirinya mencintai lingkungan namun sambil belajar di ruang AC dan anak-anak yang menjadi murid jarang terkena cahaya matahari. Sekolah alam yang sekarang banyak dibuka oleh individu yang peduli lingkungan juga bisa dijadikan contoh, betapa konsep dan program bisa menuntun pengelola dalam melengkapi sarana dan prasarana.

Gambar

Gambar

sumber: http://didikanantha.blogspot.com/2011/02/green-school-bali.html

Pengelola sekolah perlu mengetahui dengan pasti kemana arah ia membawa lembaga pendidikannya. Saya tidak mengatakan bahwa semua sekolah mesti jadi sekolah alam, namun minimal konsentrasi antara membangun software dan hardware dalam sebuah sekolah bisa terbagi secara adil.

Secara singkat yang saya maksud hardware (perangkat keras) dari sebuah sekolah antara lain;

  1. Gedung  dan ruang kelas yang ada karya dan pekerjaan anak-anak beserta furniture  yang selalu dirawat dan memenuhi standar
  2. Buku teks dan alat serta sumber belajar bagi guru
  3. Resepsionis tempat menerima tamu untuk kepentingan sekolah
  4. Toilet yang pantas nyaman dan bersih
  5. Ruang laboratorium (sains dan lain sebagainya)
  6. Ruang perpusatakaan beserta isinya
  7. Ruang guru yang aman, nyaman dan bersih
  8. Tempat menunggu bagi orang tua
  9. Sarana olah raga

Sementara software (perangkat lunak) dari sebuah sekolah yang efektif adalah

1. Guru yang profesional (yang diseleksi lewat seleksi yang baik dan pelatihan yang terus menerus) yang punya kemampuan dalam

  • Mengelola kelas dengan baik dan menomor satukan siswa dalam pembelajaran
  • Punya standar terhadap kualitas pekerjaannya
  • Punya kemampuan mengelola kurikulum
  • Ramah dan sopan terhadap orang tua siswa, bisa membawa diri dan senang belajar hal yang baru serta berpikiran terbuka

2. Program sekolah yang ditata dan direncanakan dengan baik yang meliputi:

  • Program bagi siswa baru
  • Program bagi siswa yang memerlukan bantuan akademis
  • Program event olahraga, seni, keagamaan dan program lain yang menyeimbangkan potensi siswa dari sisi akademis dan karakter
  • Program yang mengikutsertakan siswa dalam kehidupan masyarakat (community service)
  • Program ekstra kurikuler yang bermakna dan dijalankan oleh guru dari dalam dan luar sekolah.
  • Program konseling bagi siswa
  • Serta banyak sekali program yang bias dihasilkan oleh guru yang kompak dan kreatif.

3. Kurikulum

  • jelas mengacu pada kurikulum nasional atau mencampurnya dengan kurikulum negara lain atau menggunakan kerangka kerja dari badan tertentu di luar negeri
  • jelas dalam  pemilahan dan dibangun dan dikembangkan oleh guru-guru dari dalam sekolah sendiri
  • jelas strukturnya dan standarnya

Silahkan anda membandingkan antar keduanya. Jelas sekali perbedaanya. Jika kemampuan sekolah dalam membangun fisik (bangunan dan lain sebagainya) disesuaikan dengan program. Maka sekolah akan lebih tepat sasaran dan terasa sekali suasana yang dinamis, karena bahkan saat sebuah bangunan baru akan dimulai pengerjaannya segenap komunitas sekolah sudah tahu untuk apa sarana fisik tersebut dan apa urgensinya dibangun sarana tersebut.

Namun sebaliknya jika semata sekolah mengejar dan menargetkan fisik sekolah tanpa pernah melirik program, maka bersiaplah sekolah akan mengalami gonta ganti guru, orang tua siswa yang mengeluh terus dari satu masalah ke masalah lainnya. Bahkan bisa saja terjadi sarana fisik sudah rusak duluan sebelum terpakai.  Serta sederet masalah lain karena fisik sekolah ‘berlari kencang’ meninggalkan program sekolah di belakang.

Sebagai kesimpulan dari tulisan ini, baik program dan pengadaan sarana fisik sekolah keduanya memerlukan biaya. Namun selalu ada jalan untuk memaksimalkan pengeluaran dan membuat orang tua siswa semakin percaya. Caranya dengan selalu menempatkan programsekolah dan  prasarana fisik sekolah sama pentingnya. Karena prasarana fisik mungkin tidak akan ada habisnya jika terus dikerjakan, dan saat yang sama orang tua siswa mengukur dan mengerti sekali bahwa sekolah yang bagus ada karena program-program dan inovasinya dalam menghadapi tantangan zaman.

Berbagi sudut pandang di sekolah, sebagai pengelola, guru dan orang tua siswa

8035424219_8fa6e1766e_b

Banyak yang menyangka mengelola sekolah sama dengan mengelola perusahaan, kantor dan tempat kerja lainnya. Prinsipnya memang sama seperti tempat kerja lainnya, ada produk barang dan jasa. Di sekolah produk berarti mutu lulusan yang dihasilkan, jasa berarti bagaimana pelanggan dalam hal ini orang tua murid merasa didengar dan diakomodir. Tentunya sesuai dengan kemampuan sekolah dan guru, baik dari segi keahlian, biaya tenaga dan waktu. Sebuah sekolah adalah sebuah komunitas dengan pengelola sekolah, kepala sekolah, guru, admin dan orang tua siswa menjadi elemennya. Semuanya berbagi tugas tanggung jawab agar siswa bisa merasakan hasil dan manfaatnya. Ujung-ujungnya akan tercipta sekolah sehat yang jadi kepercayaan masyarakat.

Sebagai elemen di sekolah tentu semua punya sudut pandang dan soal bagaimana menyatukan sudut pandang tersebut mari kita bahas satu persatu.

Sebagai pengelola sekolah/yayasan punya pandangan atau punya keinginan;

  • guru-guru yang menjadi pelaksana di lapangan bekerja profesional dan tepat waktu
  • guru tahu tugas dan kewajiban
  • guru mengajar anak didik dengan kasih sayang
  • admin bekerja dengan baik mengelola keuangan serta berkomunikasi yang sehat dengan orang tua siswa sebagai marketing
  • orang tua siswa mau mengerti kesulitan serta kerumitan dalam mengatur sekolah
  • guru yang sadar bahwa dirinya adalah pendidik

Sebagai guru

  • ingin di upah dengan layak dan sesuai sebagai seorang yang profesional
  • ingin merasa dipercaya
  • ingin sekolah mencukupi kebutuhan mengajarnya(kertas dll)  dan semuanya dipenuhi tanpa waktu yang lama
  • ingin di berikan iklim bekerja yang sehat tanpa paksaan dan semua berdasarkan kesadaran yang diawasi oleh sistem
  • ingin dibiarkan belajar terus supaya cara mengajarnya menjadi makin baik dari hari ke hari
  • ingin melihat sekolahnya terus berkembang
  • ingin merasa bahwa sekolah menghargai dirinya sebagai individu yang mempunyai tugas mendidik manusia yang menjadi generasi masa depan
  • ingin menjadikan admin di sekolah sebagai mitra atau partner dalam mendidik siswa dan bukan sebagai orang yang mengawasi guru
  • ingin menjadikan orang tua siswa sebagai mitra dalam mendidik anaknya

sebagai orang tua siswa

  • ingin melihat guru anaknya nyaman mengajar, karena mereka yakin kalau guru nyaman maka mengajarnya juga makin bagus kepada anaknya
  • ingin melihat sekolah anaknya terus berkembang
  • ingin didengar keinginannya oleh sekolah
  • ingin komunikasi yang jernih antar sekolah dan orang tua
  • ingin melihat sekolah punya program yang bagus dan tidak hanya menarik bayaran namun dengan program yang itu-itu saja
  • ingin anaknya dihargai semua potensinya, karena hidup dan kehidupan tidak cuma soal nilai
  • ingin melihat sekolah menggunakan uang yang sudah dibayarkannya dengan cara yang maksimal
  • ingin anaknya memandang sekolah sebagai tempat yang menyenangkan

Kata orang bijak tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, dengan kerja sama yang baik dan komunikasi yang efektif apapun jadi mungkin. Sekolah yang bagus sekarang bukan karena guru-gurunya saja yang bagus dan jempolan atau fasilitasnya yang memadai, sekolah yang bagus ada karena kerja sama.

berikut adalah hal yang bisa sekolah lakukan sebagai sebuah komunitas pembelajar

  • Sekolah mesti mengaktifkan organisasi POMG serta komite sekolah dengan demikian sekolah punya relasi yang positif dengan orang tua siswa
  • guru mesti sering dilatih sehingga ia merasa profesional
  • guru di percaya dan dihargai, hindari menerapkan disiplin ala pabrik oada guru, misalnya dengan memotong gaji jika tidak masuk atau jika melanggar terhadap suatu peraturan
  • jika guru melanggar, kepala sekolah yang mesti bertindak dan mengingatkan
  • sekolah mesti mencari sosok kepala sekolah yang bisa mengayomi semua elemen. Ia adalah sosok yang sayang pada guru, menghargai pemilik sekolah dan ingin berbuat yang terbaik bagi orang tua siswa
  • pengupahan dan penggajian dilakukan dengan struktur dan bukan sekedar dengan lama kerja atau senioritas, dengan demikian semua guru ditantang untuk jadi kreatif
  • sekolah mesti ubah format rapor yang hanya mengandalkan angka, selipkan juga karakter
  • Sekolah mesti sering lakukan kegiatan yang membuat anak senang bersekolah karena kegiatannya bukan hanya belajar dengan buku teks dan mendengarkan ceramah guru

 

Serba serbi penggunaan buku teks di sekolah

Buku teks adalah mitra saat guru mengajar di kelas. Bagi orang tua siswa buku teks adalah sarana untuk mengukur apa yang anaknya lakukan di sekolah. Tidak jarang orang tua siswa berang apabila buku teks yang sudah dibeli dengan harga mahal tidak terisi penuh. Padahal tugas guru bukan mengabdi pada buku teks. Tugas guru yang sebenarnya adalah mengajar dengan startegi belajar yang menarik dan terkini sehingga murid senang belajar bersamanya. Buku teks mesti di kembalikan kepada porsinya yaitu sebagai mitra guru mengajar dan bukan hal yang utama. Banyak buku teks yang bagus namun untuk ajarkan konsep, guru tetap mesti gunakan alat peraga dan bukan sekedar buku teks.

Beberapa tanda bahwa sekolah dan guru terlalu menggantungkan diri pada buku teks adalah;

  • Keputusan soal pemilihan buku teks tidak melibatkan guru, padahal guru adalah orang yang mestinya bertanggung jawab penuh atas pengajaran di kelas.
  • Guru kadang merasa bahwa buku teks terlalu susah untuk diajarkan atau bahkan terlalu mudah bagi murid-muridnya dan kurang menantang bagi siswanya
  • Siswa yang  kritis dan kreatif, biasanya senang jika gurunya tampil kreatif di kelas, dan akan  mengeluh jika cuma diminta kerjakan buku teks, ‘bosan’ katanya.
  • Masuk kelas guru langsung mengatakan, “anak-anak buka dan kerjakan halaman ……” tanpa menerangkan lebih lanjut dan langsung meminta anak-anak menghapal atau mengerjakan halaman yang ditentukan.
  • Saat kurikulum KTSP tematik untuk SD kelas 1-3 diluncurkan oleh diknas di tahun 2006, alih-alih guru jadi bekerja sama untuk membuat unit pembelajaran, yang terjadinya  guru malah cuma ganti buku teks. Hal yang sama bisa saja terjadi di kurikulum tahun 2013

Akibat dari ketergantungan antara guru dan buku teks yang akan dirasakan oleh guru dan sekolah adalah

  • Pembelajaran di sekolah jadi kurang kreatif dan ‘kurang menggigit’ serta sekolah jadi tidak punya ciri khas. Hal ini benar adanya mengingat pembelajaran antara satu sekolah dengan sekolah yang lain akan sama saja jika mereka menggunakan buku teks yang sama
  • Guru jadi manja dan kurang mau bereksplorasi, padahal ciri guru professional adalah ia seorang sosok yang gemar mencari ide baru dan keluar dari pakem yang selama ini ada demi memuaskan rasa ingin tahu siswanya
  • Orang tua siswa akan stress sendiri melihat buku teks yang materinya terkadang sulit dan membuat orang tua siswa kesulitan mengajarkan kepada anaknya.
  • Sekolah akan stress sendiri dikejar-kejar oleh orang tua siswa yang mengukur keberhasilan belajar anaknya bukan dari pemahaman dan perubahan pengetahuan atau sikap namun dari penuh tidaknya buku teks milik anaknya.
  • Siswa akan terlihat bisa mengerjakan sebuah soal di buku teks namun akan kebingungan jika bentuk soalnya diganti
  • Di rumah bersama guru lesnya, siswa akan dilatih untuk mengerjakan soal di buku teks, bahkan melingkari tipis-tipis atau menghapalkan jawabanya duluan untuk kemudian ia akan terlihat bisa mengerjakan ketika ada di kelas

Untuk mengatasi ketergantungan yang tidak sehat guru terhadap buku teks berikut ini adalah hal yang mesti dilakukan oleh sekolah

  • Minta guru untuk berkelompok dan membentuk komite yang menulis sendiri kurikulum (scope and sequence)nya. Bisa mulai dari bidang studi inti seperti ; IPA, IPS, Matematika, Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia.  Dengan demikian guru punya kemampuan untuk menulis sendiri pembelajarannya. Manfaatnya akan terjadi tahap dan kesesuaian dalam setiap tingkatan kelas. Dan di sekolah akan tercipta guru yang kreatif, yang  pandai memodifikasi buku teks, sebab ia tahu pasti kemampuan dan kualitas siswanya sendiri
  • Sekolah mesti adakan pelatihan mengenai startegi belajar mengajar agar guru punya koleksi strategi yang banyak dalam mengajar siswanya.
  • Saat membuat silabus, guru mesti menghindari untuk hanya berpatokan dengn buku teks siswa agar supaya indicator, SK dan KD nya selaras

Saatnya guru jadikan buku teks hanya sebagai salah satu sumber rujukan,sebagai seorang professional  ia tetap punya proyek pembelajaran dengan muridnya. Buku teks bukan kurikulum, buku teks berisi penafsiran pembuatnya terhadap kurikulum, sebagai seorang professional anda juga bisa lho. Kurikulum terbuka untuk ditafsirkan dipetakan saatnya jadikan buku teks sebagai salah satu mitra dan rujukan dalam mengajar.

 

Pertemuan guru dan orang tua di awal tahun, bagaimana sebaiknya?

 

image
image

image

Pertemuan guru dan orang tua di awal tahun ajaran punya peranan yang strategis dalam menentukan arah kerjasama antara sekolah dan rumah setahun penuh ajaran. Jika suasana pertemuan antara guru dan orang tua berlangsung positif maka sekolah akan menjelma jadi sekolah yang  sehat dan efektif. Sebenarnya apa makna penting pertemuan awal tahun ajaran, mari kia bahas satu persatu;

Bagi orang tua siswa ketika sekolah mengundang dirinya maka ia akan merasa;

  • Membuat dirinya merasa dihargai
  • Makin yakin bahwa ia telah memilih sekolah yang tepat bagi anaknya
  • Merasa bahwa saluran komunikasi di sekolah tempat ia menyekolahkan anaknya sehat dan bisa mendengar
  • Sebagai orang tua siswa ia mendapat bayangan apa saja hal yang akan berlangsung dan terjadi di sekolah dan kelas anaknya
  • Orang tua bisa mengenal lebih dekat guru anaknya

Bagi guru ketika ia berdiri di depan orang tua siswanya untuk berpresentasi maka ia akan merasa;

  • Menjadi guru profesional karena dirinya sendiri yang menjelaskan program kepada orang tua siswa yang ada di kelasnya sendiri
  • Makin percaya diri bahwa dirinya bisa menyampaikan yang terbaik kepada murid di kelasnya karena komunikasi sejak dini sudah terbangun di awal tahun ajaran

Berikut ini adalah mekanisme penyelenggaraan pertemuan awal tahun ajaran antara guru dan orang tua siswa

  • Diselenggarakan di hari ketiga di minggu kedua di awal tahun ajaran
  • Undangan dikirim satu minggu sebelumnya
  • Berlangsung paling lama satu jam
  • Berisi Tanya jawab, presentasi guru serta diskusi ringan mengenai hal yang penting untuk diketahui selama satu tahun ajaran
  • Topik pertemuan dibagi menjadi dua hal besar, pertama mengenai akademis dan kedua mengenai rutinitas yang menunjang produktivitas selama satu tahun ajaran
  • Diadakan di hari kerja setelah siswa pulang sekolah
  • Guru bidang studi pun ikut berkeliling memperkenalkan dirinya kepada orang tua siswa di tiap kelas
  • Diselenggarakan di kelas masing-masing, dengan menggabungkan 2 kelas menjadi satu dan guru-gurunya pun bergabung
  • Guru membuat presentasi yang berisi data pribadi dan apa saja yang akan dibahas di sepanjang satu tahun ajaran pada bidang studi matematika, bahasa Indonesia, bahasa Inggris dan lain-lain
  • Presentasi yang guru buat juga berisi peraturan apa saja yang penting untuk guru ketahui, rutinitas serta hal-hal yang sifatnya jika diketahui akan membuat seorang siswa bisa sukses melalui satu tahun ajaran.
  • Orang tua yang hadir diminta mengisi daftar hadir di sertai kolom untuk mengisi nomor telepon agar mudah dihubungi jika ada jawaban mengenai pertanyaan yang ia berikan saat parent teacher meeting dan belum bisa dijawab oleh guru

Pertemuan antara guru dan orang tua yang sukses di tahun ajaran semakin meneguhkan  cara pandang guru yang sukses saat  selesaikan masalah di sekolah, karena iajadi mudah  tempatkan dirinya dari sisi siswa, orang tua siswa dan kepala sekolah. Orang tua siswa pun jadi dilatih untuk tidak begitu saja menyerahkan anaknya bulat-bulat ke sekolah tanpa kerja sama dan kontribusi nyata pada proses pembelajaran.

 

Membuat tiga bagian penting di sekolah swasta (guru, kepala sekolah, yayasan dan orang tua siswa) bekerja sama menciptakan sekolah unggulan

 
image

image

Di sekolah swasta berlaku sebutan atau jargon, ‘pelanggan adalah raja’. Jargon ini memang benar adanya, namun untuk konteks di sekolah jargon ini sebaiknya dihindari. Apa jadinya jika orang tua siswa hanya dianggap raja tanpa sedikitpun diminta untuk melakukan kolaborasi dan kemitraan demi suksesnya pembelajaran anaknya di sekolah. Kemitraan yang baik bermula dari semua pihak di sekolah tahu hak dan kewajiban sehingga terciptalah sebuah harmoni yang akan membawa perbaikan terus menerus yang baik bagi perkembangan sebuah sekolah.

Sebenarnya apa peran tiap-tiap bagian dari sekolah (guru, kepala sekolah, yayasan dan orang tua siswa) agar tercipta sebuah sekolah yang efektif?

Peran guru

  • Mengajar dengan baik di kelas, semampunya dan sekreatif mungkin
  • Berkomunikasi yang efektif dengan orang tua siswa
  • Perlakukan orang tua siswa dengan hormat, tahu batas sebagai guru yang professional.
  • Memperlakukan siswa dengan baik dan dicarikan jalan keluar jika terjadi kesulitan dalam belajar

dan tingkah laku

  • Bekerja sama dengan sesama guru agar tercipta atmosfir kerja yang baik dalam berinteraksi sebagai guru professional
  • Bekerja sama dengan kepala sekolah, jadikan kepala sekolah mitra ketika ada persoalan

Peran kepala sekolah

  • Mewujudkan visi misi yang sudah digariskan oleh yayasan
  • Merencanakan pelatihan yang terbaik untuk guru-gurunya
  • Menjadi pemimpin yang baik yang menguasai kurikulum, pembelajaran , pengajaran serta penilaian kepada siswa
  • Memimpin guru melakukan penyesuaian dan pembuatan kurikulum sehingga sekolah punya standar yang terbaik dalam kurikulum
  • Membantu siswa mengatasi masalah disiplin siswa
  • Melakukan komunikasi dengan nuansa yang positif dengan guru dan mengelola guru dengan cara yang baik hingga guru merasa diayomi dihormati dan semangat mengajar dan belajar
  •  Mendeteksi dengan cepat potensi sumber konflik di sekolah hingga dengan cepat dicarikan jalan keluar
  • Bekerja sama dengan orang tua siswa dan yayasan dalam mengelola sekolah dalam keseharian
  • Membuat keputusan dengan cepat dan mensosialisasikannya kepada komunitas sekolah
  • Bersama dengan guru membuat anggaran yang tepat,bertanggung jawab dan maksimal mendukung pembelajaran.

Peran orang tua siswa

  • Mengerti dengan baik dan jelas visi misi sekolah
  • Berperan dalam komite sekolah atau POMG yang didalamnya orang tua siswa bisa berperan sebagai pihak yang memberi usul dalam pengembangan sekolah (fasilitas dan sarana dan prasana fisik)
  • Bermitra dengan guru dalam membuat atmosfir yang menyenangkan bagi anak untuk belajar
  • Datang dan berperan aktif dalam rapat dengan guru atau ikut serta sebagai peserta yang aktif di dalam pelatihan yang di adakan oleh sekolah

Peran yayasan

  • Mempercayakan pengelolaan pelaksanaan praktek pendidikan terbaik pada kepala sekolah dan guru
  • Menjadi pihak yang memikirkan pengembangan dan menentukan arah dari pengembangan sekolah yang kemudian di konsultasikan saat rapat dengan komite sekolah
  • Memberikan perhatian pada upaya pemberian kesempatan pada siswa berprestasi bisa lewat pemberian beasiswa dan lain sebagainya
  • Memberikan support pada upaya sekolah memajukan diri lewat Teknologi Informasi atau sarana prasarana yang diperlukan oleh sekolah sebagai sebuah institusi
  • Memikirkan sumber pendanaan agar kegiatan sekolah bisa dilaksanakan dengan baik serta guru mendapat support untuk melakukan proses kegiatan pembelajaran yang kreatif dan menarik di sekolah

Ketika semua elemen berusaha yang terbaik lewat komunikasi, kerjasama dan sistem yg rutin di ‘update'”maka semua anak yang bersekolah di sekolah tersebut akan muncul potensinya. Anak pintar bukan semata karena gurunya, anak kita pintar karena kerjasama yang baik antara seluruh elemen di sekolah

 

Kepala sekolah sebagai ‘coach’ yang baik untuk guru

http://www.newteachercenter.org/sites/default/files/ntc/main/images/banner_sld_moebius_0.png

Kepala sekolah punya posisi strategis bagi perubahan positif di sekolah. Ditangan nya sekolah punya potensi untuk berkembang dan menjadi sekolah yang efektif. Salah satu cara untuk mempercepat perubahan adalah menjadikan dirinya sebagai coach bagi guru-gurunya. Berikut adalah arti kata coach dalam pengertian sekarang

arti kata coach adalah suatu kendaraan yang berfungsi membawa penumpangnya dari satu lokasi ke lokasi lain yang menjadi tujuannya. Definisi ini memperlihatkan pada kita bagaimana kata coach akhirnya diberikan pada seseorang yang berperan untuk membantu memperbaiki kehidupan atau kinerja orang lain. Karena kalau kita analogikan, tugas dari coach adalah sebagai ‘kendaraan’ juga, kendaraan dalam kehidupan seseorang. Coach mengantar coachee (orang yang di-coach) dari tahap kehidupan yang sekarang ke tahap kehidupan yang diinginkan, melampaui rintangan yang menghambat kemajuannya hingga tercapai cita-citanya. Contohnya seorang coach dalam dunia olah raga. Tugasnya adalah meningkatkan ketrampilan yang sudah dimiliki menjadi maksimal sehingga bisa mencapai peringkat yang lebih tinggi. Kalau dulu hanya di dunia olah raga seseorang atau tim menggunakan jasa seorang coach untuk meningkatkan kinerjanya, pada tahun 60-an di Amerika orang mulai mengadopsi model coaching dalam dunia kerja. Belakangan dengan adanya kompetisi global, pembelajaran dan pengembangan telah menjadi bagian yang krusial dalam dunia kerja. Namun pelatihan saja kini sudah dianggap sebagai sarana yang masih kurang efektif, karena belum tentu bisa membawa perubahan perilaku yang menetap. Karena itu belakangan dalam dunia kerja coaching telah menjadi marak karena sifat aktifitas coaching yang intensif, sehingga bisa membawa perubahan perilaku tetap yang menguntungkan. Jadi apa kegunaan dari coaching? Coaching bermanfaat untuk membantu seseorang mencapai tujuan dalam kehidupannya. Caranya? Coaching kini memegang prinsip bahwa coachee secara alamiah kreatif, penuh sumber daya, dan merupakakn manusia yang utuh. Karena itu ialah yang paling tahu jawabannya terhadap kebutuhannya sendiri. Dalam hal ini coachee dilihat sebagai guru maupun murid. Dengan pendekatan ini coach tidak dilihat sebagai expert (serba tahu dan mempunyai jawaban terhadap semua masalah) dalam kehidupan coachee. Tugasnya adalah mengajukan pertanyaan yang tepat di saat yang tepat agar coachee bisa memulai suatu perjalanan menuju self discovery dan awareness (pemahaman dan kesadaran mengenai keadaan diri sendiri) dari perspektif baru yang berbeda. Pemahaman dan kesadaran diri ini menghantarkan coachee pada kepercayaan diri dan pemberdayaan dari perspektif yang baru, sehingga timbul keberanian untuk melakukan tindakan-tindakan baru, sehingga bisa mencapai hasil yang sebelumnya tidak pernah diraih. Jadi coaching adalah mengenai perubahan dan transformasi – mengenai kemampuan seseorang untuk tumbuh, merubah perilaku yang menghalangi kemajuan, untuk melahirkan perilaku serta tindakan baru. http://coachjanti.blogspot.com/2008/10/arti-dan-manfaat-coaching_15.html

Ada perbedaan besar antara coach dan atasan, kepala sekolah memang atasan guru sebuah hal yang memang jelas dan nyata, namun menjadi coach bagi guru yang menjadi bawahannya itu baru pilihan. Bukan saatnya lagi kepala sekolah memanggil guru hanya jika ia ada salah, namun lebih penting untuk membuat guru bersemangat mengajar dan belajar.

Prinsip kemitraan yang menjadi jiwa dari prinsip coaching sangat penting untuk diingat dalam proses ini. Di sebuah sekolah yg sehat & efektif, prinsip hubungan antara kepala sekolah & guru adalah kemitraan. Selain itu kepala sekolah yg baik, tidak akan pernah lupa bahwa dia juga dulunya, dan tetap akan menjadi seorang ‘guru’. 

kepala sekolah abad 21 adalah seorang ‘lead learner’ (pemimpin para pembelajar)

Bukan jamannya lagi sebuah sekolah mendatangkan seseorang yang katanya pakar untuk membuat guru-gurunya lebih baik. Saya lebih setuju guru di ‘coaching’ oleh sesama  guru yang lebih pengalaman, kepala sekolah sendiri salah satunya. Karena saat ini setiap guru punya tanggung jawab yang sama dgn kepala sekolah kembangkan sekolah dalam nuansa kebersamaan.

Beberapa hal yang bisa dilakukan kepala sekolah sebagai coach bagi guru-guru yang menjadi bawahannya adalah;

  • menggunakan twiter dan mention  akun guru-gurunya jika ada artikel yang bagus di internet
  • membuat closed group di facebook yang isinya guru bisa berbagi tips yang berguna bagi pembelajaran
  • kepala sekolah secara rutin menulis di blog sehingga guru menjadi tahu apa kesibukan dan wacana apa yang sedang dipikirkan oleh kepala sekolahnya.
  • Semua kepala sekolah pasti bisa lakukan ‘coaching’ pada guru yang menjadi bawahanya yaitu dengan cara mencari, temukan dan asah potensi terbaiknya
  • Kalau seorang guru merasa bisa mengajar dengan baik di sekolah, itu karena kepala sekolah sudah memimpin dgn baik.
  • Kepala sekolah mesti punya keterampilan yang disebut sebagai ‘people skill’ sebuah keterampilan dimana sebagai atasan ia hilangkan egonya, untuk turun ke bawah mendampingi guru-gurunya dalam berubah kea rah lebih baik
  • Musuh utama nuansa kebersamaan di sekolah adalah ‘status quo’ sebuah situasi dimana tidak ada orang yang memberi contoh untuk mau berubah dan mendengar pada orang lain yang punya ide perubahan
  • Kepala sekolah punya peranan penting dalam mebuat guru mau berubah karena seorang guru yang keras kepala pun akan bersedia berubah jika yang meminta adalah kepala sekolah.
  • Prinsip coaching yang paling utama di sekolah adalah mendampingi guru untuk mau berubah demi pembelajaran yang lebih bermakna bagi siswa-siswinya di kelas
  • guru senang jika kepala sekolahnya sering katakan. “it is safe to try and safe to fail” dijamin semua guru jadi kreatif