Serba serbi penggunaan buku teks di sekolah

Buku teks adalah mitra saat guru mengajar di kelas. Bagi orang tua siswa buku teks adalah sarana untuk mengukur apa yang anaknya lakukan di sekolah. Tidak jarang orang tua siswa berang apabila buku teks yang sudah dibeli dengan harga mahal tidak terisi penuh. Padahal tugas guru bukan mengabdi pada buku teks. Tugas guru yang sebenarnya adalah mengajar dengan startegi belajar yang menarik dan terkini sehingga murid senang belajar bersamanya. Buku teks mesti di kembalikan kepada porsinya yaitu sebagai mitra guru mengajar dan bukan hal yang utama. Banyak buku teks yang bagus namun untuk ajarkan konsep, guru tetap mesti gunakan alat peraga dan bukan sekedar buku teks.

Beberapa tanda bahwa sekolah dan guru terlalu menggantungkan diri pada buku teks adalah;

  • Keputusan soal pemilihan buku teks tidak melibatkan guru, padahal guru adalah orang yang mestinya bertanggung jawab penuh atas pengajaran di kelas.
  • Guru kadang merasa bahwa buku teks terlalu susah untuk diajarkan atau bahkan terlalu mudah bagi murid-muridnya dan kurang menantang bagi siswanya
  • Siswa yang  kritis dan kreatif, biasanya senang jika gurunya tampil kreatif di kelas, dan akan  mengeluh jika cuma diminta kerjakan buku teks, ‘bosan’ katanya.
  • Masuk kelas guru langsung mengatakan, “anak-anak buka dan kerjakan halaman ……” tanpa menerangkan lebih lanjut dan langsung meminta anak-anak menghapal atau mengerjakan halaman yang ditentukan.
  • Saat kurikulum KTSP tematik untuk SD kelas 1-3 diluncurkan oleh diknas di tahun 2006, alih-alih guru jadi bekerja sama untuk membuat unit pembelajaran, yang terjadinya  guru malah cuma ganti buku teks. Hal yang sama bisa saja terjadi di kurikulum tahun 2013

Akibat dari ketergantungan antara guru dan buku teks yang akan dirasakan oleh guru dan sekolah adalah

  • Pembelajaran di sekolah jadi kurang kreatif dan ‘kurang menggigit’ serta sekolah jadi tidak punya ciri khas. Hal ini benar adanya mengingat pembelajaran antara satu sekolah dengan sekolah yang lain akan sama saja jika mereka menggunakan buku teks yang sama
  • Guru jadi manja dan kurang mau bereksplorasi, padahal ciri guru professional adalah ia seorang sosok yang gemar mencari ide baru dan keluar dari pakem yang selama ini ada demi memuaskan rasa ingin tahu siswanya
  • Orang tua siswa akan stress sendiri melihat buku teks yang materinya terkadang sulit dan membuat orang tua siswa kesulitan mengajarkan kepada anaknya.
  • Sekolah akan stress sendiri dikejar-kejar oleh orang tua siswa yang mengukur keberhasilan belajar anaknya bukan dari pemahaman dan perubahan pengetahuan atau sikap namun dari penuh tidaknya buku teks milik anaknya.
  • Siswa akan terlihat bisa mengerjakan sebuah soal di buku teks namun akan kebingungan jika bentuk soalnya diganti
  • Di rumah bersama guru lesnya, siswa akan dilatih untuk mengerjakan soal di buku teks, bahkan melingkari tipis-tipis atau menghapalkan jawabanya duluan untuk kemudian ia akan terlihat bisa mengerjakan ketika ada di kelas

Untuk mengatasi ketergantungan yang tidak sehat guru terhadap buku teks berikut ini adalah hal yang mesti dilakukan oleh sekolah

  • Minta guru untuk berkelompok dan membentuk komite yang menulis sendiri kurikulum (scope and sequence)nya. Bisa mulai dari bidang studi inti seperti ; IPA, IPS, Matematika, Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia.  Dengan demikian guru punya kemampuan untuk menulis sendiri pembelajarannya. Manfaatnya akan terjadi tahap dan kesesuaian dalam setiap tingkatan kelas. Dan di sekolah akan tercipta guru yang kreatif, yang  pandai memodifikasi buku teks, sebab ia tahu pasti kemampuan dan kualitas siswanya sendiri
  • Sekolah mesti adakan pelatihan mengenai startegi belajar mengajar agar guru punya koleksi strategi yang banyak dalam mengajar siswanya.
  • Saat membuat silabus, guru mesti menghindari untuk hanya berpatokan dengn buku teks siswa agar supaya indicator, SK dan KD nya selaras

Saatnya guru jadikan buku teks hanya sebagai salah satu sumber rujukan,sebagai seorang professional  ia tetap punya proyek pembelajaran dengan muridnya. Buku teks bukan kurikulum, buku teks berisi penafsiran pembuatnya terhadap kurikulum, sebagai seorang professional anda juga bisa lho. Kurikulum terbuka untuk ditafsirkan dipetakan saatnya jadikan buku teks sebagai salah satu mitra dan rujukan dalam mengajar.

 

Iklan

Kurikulum 2013 saatnya sekolah dan guru berubah

Perhatikan jam pelajaran mana yang berubah dan jam pelajarannya

Dalam kurikulum 2013 di sekolah dasar sebenarnya pelajaran IPA dan IPS tetap ada, hanya saja kompetensi dasar kedua mata pelajaran tersebut masuk ke dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Pada awal pemberitaan mengenai dibuatnya kurikulum 2013 beberapa waktu yang lalu, pers mem’blow up’ bahwa pemerintah menghilangkan pelajaran sains pada sekolah dasar, padahal ungkapan yang tepat seharusnya adalah mengintegrasikan.

Kurikulum 2013 benar-benar merupakan penafsiran Diknas terhadap perubahan dunia ke masa depan. Tugas pemerintah memang memberikan arahan lewat kompetensi dasar yang ada di kurikulum 2013, sedangkan tugas guru adalah mengajarkan dengan cara yang kreatif.

Ingatlah kembali dulu saat KTSP pertama kali diterapkan, semua guru terbelalak oleh istilah-istilah yang ruwet, semoga hal itu tidak terjadi di kurikulum 2013. Kini saatnya sekolah-sekolah di Indonesia untuk berproses. Sekolah-sekolah yang punya budaya ‘Komunitas belajar’ akan mampu menghadapi kurikulum 2013 dengan kepala tegak.

Tiap perubahan pasti membawa guncangan, kini saatnya sekolah-sekolah menolong guru-gurunya mengimplementasikan kurikulum 2013 dengan baik. Sekolah sebagai komunitas belajar, akan meminta guru-gurunya untuk mengkaji kurikulum 2013 sekaligus meminta mereka bersikap fleksibel.

Perubahan yang paling mendasar sebenarnya adalah bagaimana cara melatih guru-guru mengaplikasikan kurikulum 2013. Tips dan trik serta strategi cara menggunakan kurikulum 2013 adalah yang lebih diperlukan oleh guru. Bagi guru yang gemar menjadikan buku teks sebagai satu-satunya sumber belajar, maka baginya kurikulum 2013 akan terasa sama maknanya dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya.

Kurikulum 2013 terbuka untuk disiasati. Guru perlu belajar mengembangkan kurikulum 2013 dengan cara mengembangkan indikator-indikator yang ada menjadi kegiatan yang bermakna. Hampir pasti bisa ditebak, kegiatan pertama ditahun ajaran disekolah-sekolah adalah mereview standar kompetensi dan kompetensi dasar yang ada di kurikulum 2013.

Kompetensi guru professional adalah gabungan dari empat aspek, yaitu; komunikator, kurikulum, strategi belajar, dan assessment yang jitu. Kelas yang baik bukan cuma dilhat dari urusan kurikulum, sumber belajar, dan fasilitas, tapi juga hubungan antar manusianya. Mengajar sesuai dengan kurikulum memang penting, apalagi jika ditambah dengan guru yang mau melakukan eksplorasi terhadap kurikulum 2013. Kurikulum 2013 berguna sebagai peta, kreativitas guru adalah energy untuk menapakinya.

Tugas guru ajarkan siswa sesuai target kurikulum, sambil mempersiapkan mereka dengan ketrampilan hidup. Kurikulum yang padat membuat guru merasa berharga tapi setelah itu kebingungan sendiri, semoga pada kurikulum 2013 hal itu tidak terjadi lagi. Sekolah yang efektif, memberikan keleluasaan waktu bagi gurunya bersama-sama untuk membedah dan menelaah kurikulum 2013. Jika konten kurikulum terlalu banyak dan menghimpit, guru cenderung kembali ke pola lama, yaitu chalk and talk.

Murid stres bukan karena beban kurikulum, ia stres karena cara komunikasi dan interaksi gurunya. Maka guru harus menganggap kurikulum 2013 itu sebagai kompas, ia memberikan arah apa yang mesti siswa kuasai. Para guru sebaiknya mengatur dan mengelola waktunya dengan efektif, daripada mengeluh tentang kurikulum yang gonta-ganti. Jangan sedikit-sedikit beralasan target kurikulum, sebab siswa juga perlu tahu kenapa mereka mesti belajar hal yang guru ajarkan.

Kurikulum di Indonesia sudah bagus, terlalu bagus malah, tapi bagaimana memprosesnya ketika dikelas itu yang menjadi masalah. Sebenarnya kurikulum ya itu-itu saja, tinggal bagaimana cara guru berusaha agar siswanya paham itulah yang jauh lebih penting. Buat apa target kurikulum tercapai, tapi siswa tidak enjoy yang pada akhirnya guru juga akan merasa kosong.

Guru sering melewatkan banyak moment yang berharga dari siswanya saat mengajar hanya karena mengejar target kurikulum. Padahal tidak ada kurikulum yang berat, yang ada adalah guru yang kurang terampil mengelola waktu. Pada kurikulum 2013 diperlukan guru yang terbiasa berkolaborasi dan bekerja sama, bahkan saat menentukan bahan ajar. Pada kurikulum 2013 diperlukan guru dan sekolah yang mempunyai keahlian meracik kurikulum secara terpimpin dan bertanggung jawab.

 http://wrogz.wordpress.com/2012/12/02/kurikulum-2013/

Artikel ini dikutip dari kumpulan tweet @gurukreatif

Pelatihan membuat RPP bagi guru SMK Jakarta Selatan

Pelatihan membuat RPP bagi guru SMK Jakarta Selatan

PELATIHAN DAN WORKSHOP PENYUSUNAN RPP
BERKAITAN DENGAN PENDIDIKAN KESEHATAN REPRODUKSI (HIV-AIDS)
BAGI FASILITATOR PROGRAM PENDIDIKAN KESPRO (DAKU!) DI SMU/K

  1. A.     LATAR BELAKANG

Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Seksual Remaja secara komprehensif di sekolah perlu dilakukan sebagai salah satu upaya untuk menekan permasalahan permasalahan kesehatan seksual dan reproduksi di kalangan remaja, meliputi IMS, HIV_AIDS, kehamilan yang tak diinginkan, gender dan pelecehan/kekerasan. Untuk mencapai tujuan tersebut digunakan standar acuan yang dijadikan dasar untuk mengembangkan materi maupun strategi pembelajarannya.

Dalam pelaksanaan pembelajaran yang efektif dirancang atau dibuat RPP terlebih dahulu. RPP adalah rencana yang menggambarkan prosedur dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam standar isi dan telah dijabarkan dalam silabus. Pengembangan RPP dikembangkan dengan mengacu kepada standar isi. RPP sebagai hasil pengembangan merupakan acuan operasinal guru dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran untuk satu atau dua kali pertemuan guna menyelesaikan satu kompetensi dasar.

Saat ini materi kesehatan reproduksi dan HIV-AIDS sudah diintegrasikan pada kurikulum pendidikan dan telah ditetapkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasarnya. Dalam rangka meningkatkan ketrampilan fasilitator DAKU! dalam merancang RPP, maka perlu dilakukan pelatihan dan workshop penyusunan RPP sehubungan dengan isu kesehatan reproduksi/seksual dan HIV-AIDS berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah ditetapkan, dengan sumber utama pada materi modul DAKU!

  1. B.      NAMA KEGIATAN

Pelatihan dan Workshop Penyusunan RPP, Pendidikan Kesehatan Reproduksi (HIV-AIDS) bagi Fasilitator Daku.

  1. C.      TUJUAN KEGIATAN

Tujuan Umum

Meningkatkan kemampuan fasilitator DAKU! dalam merancang RPP pendidikan kesehatan reproduksi dan seksual serta HIV-AIDS, sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah ditetapkan.

Tujuan Khusus

–          Mengetahui hasil pemetaan standar kompetensi dan kompetensi dasar kurikulum SMA/K, sehubungan dengan materi kesehatan reproduksi dan HIV-AIDS.

–          Mengetahui kerangka konsep dan tehnik penyusunan RPP yang efektif

–          Menyusun RPP pendidikan kesehatan reproduksi/seksual dan HIV-AIDS, sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah ditetapkan.

  1. D.     WAKTU DAN TEMPAT

Hari           : Kamis, 20 Desember 2012

Waktu        : Pukul 08.00 – 16.00 WIBB

Tempat      : Ruang Wakil Walikota Jakarta Selatan Lt.2

Jl. Prapanca, Kebayoran

  1. E.      PESERTA

Peserta pertemuan ini direncanakan diikuti oleh sekitar 20 orang guru (fasilitator DAKU!)   terdiri dari 11 sekolah

  F.       MATERI WORSKHOP

 Pemetaan standar kompetensi dan kompetensi dasar mata pelajaran SMA/SMK sehubungan dengan isu kesehatan reproduksi/seksual dan HIV-AIDS.

  1. Kerangka Konsep dan Tehnik Penyusunan RPP yang efektif
  2. Pengalaman Menyusun RPP dalam Pendidikan Kespro (DAKU!)
  3. Praktek menyusun atau merancang RPP dalam rangka pendidikan kespro di sekolah

 

  1. G.     Penutup

Demikian gambaran kegiatan pelatihan dan workshop penyusunan RPP sehubungan dengan pendidikan kespro dan HIV-AIDS bagi fasilitator DAKU! yang kami tuangkan dalam TOR, semoga dapat memberikan gambaran proses pelaksanaan kegiatan yang akan dilaksanakan

JADWAL ACARA

Waktu Kegiatan/Materi Keterangan
08.00 – 09.00 Pendaftaran Peserta
09.00 – 09.30 Pembukaan YPI/RWPFDisdik DKI
09.30 – 09.45 Rehat
09.45 – 10.15 Hasil Pemetaan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar YPI
10.15 – 11.30 Kerangka Konsep dan Tehnik Penyusunan RPP yang Efektif Bapak Agus Sampurno
11.30 – 12.00 Pengalaman menyusun RPP dalam pendidikan kespro dan HIV-AIDS Guru Daku!
12.00 – 13.00 Break, Makan Siang
13.00 – 14.30 Praktek Menyusun RPP, Pendidikan Kespro dan HIV-AIDS Fasilitator/ Narasumber
14.30 – 15.00 Presentasi Rancangan RPP Fasilitator
15.00 – 15.15 Rehat
15.15 – 15.45 Presentasi Rancangan RPP Fasilitator
15.45 – 16.00 Penutupan

Blog karya guru ini menurut saya menjadi calon kuat penerima Guraru Award 2012, amin. Saya tertarik dengan isi blognya yang selalu up date dan senang memberi ilmu, sekaligus melaporkan kegiatan yang sehari-hari bapak guru ini lakukan sebagai pendidik dan pengajar. Silahkan membaca laporan Pak guru Koeshariatmo mengenai Workshop saya bersama Pustekkom Diknas

KARYAGURU CENTER

Lihat jam.. sekarang menunjukan pukul 23:52. Mantaps… Malam-Malam Ikut Workshop Jejaring Sosial untuk Portal Rumah Belajar yang dilaksanakan di Hotel Permata Bogor dan penyelenggaranya dari Pustekom Kemdiknas. Satu jam lalu baru saja ditutup sesi pertama yang sebelumnya acara ini dibuka sekitar pukul 19.00. Materi malam ini disampaikan oleh Romi Satrio Wahono. Saya suka cara penyampaiannya.. santai bgt tapi materinya keren bermutu…

Kalau menurut jadwalnya workshop dilaksanakan dari tanggal 05 sampai 07 Desember 2011. Mudah-mudahan materi selanjutnya lebih dahsyat dari malam ini biar puas dateng ke bogor dapat ilmu yang buanyaaak. Karena tadi siang berangkat naik kereta berdiri selama 2 jam.. mpe pegel nih kaki dan seluruh badan.

ok deh.. sekarang mau istirahat dulu karena pagi-pagi saya harus menyelesaikan soal ujian CAD akhir semester untuk minggu depan. Masih kurang 20 soal lagi… ayo semangat!!

besok dilanjut lagi nulisnya…

Lihat pos aslinya 246 kata lagi

Workshop guru “Pengelolaan Kelas dan membuat pajangan (display)” di SDIT Buah Hati Condet Jakarta Timur 15 Oktober 201

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Ada rekan saya bertanya kenapa dari dulu sampai sekarang pajangan kelas isinya gambar Teuku Umar, Dewi Sartika, Kartini dan pahlawan revolusi ? Menurut saya pajangan kelas yang berisi gambar pahlawan bagus juga asal disesuaikan dengan tema yang sedang berlangsung. Dengan demikian dibutuhkan kreativitas guru dalam merencanakan dan menyesuaikan dengan topic yang sedang berlangsung.

Menjadi guru kreatif yang pandai mengelola kelas dan mendisplay hasil karya siswa di kelas bukan perkara mudah. Guru dengan profil tadi adalah guru yang selalu berusaha menjadi orang yang senantiasa ingin tahu dan mendalami bagaimana perasaan siswa yang menjadi muridnya. Dengan mendalami perasaan seorang murid, mata guru yang bersangkutan akan terbuka lebar. Terbuka yang saya maksud adalah ia menjelma menjadi sosok seorang yang mau belajar terus demi memnuhi standar terbaik pelayanan pada siswanya sekaligus menapaki jenjang karier sebagai pendidik professional. Apa perasaan anda sebagai murid ketika kelasnya sepi dan sebaliknya apa perasaan anda ketika kelas bernuansa ramai dan menyegarkan mata serta informatif saat bersamaan. Di SDIT Buah Hati saya berbagi bersama guru-guru yang hadir mengenai bagaimana mengelola kelas dan membuat pajangan (display) yang menarik di kelas.  Untuk anda para pembaca saya sajikan beerapa hal yang penting

  • display yg baik adalah pajangan hasil karya siswa yg sdah di nilai & diberi feed back oleh guru
  • display bukan sekedar pajangan, ia adalah alat pembelajaran dan sarana
  • memotivasi siswa.
  • Buatlah hiasan yang menarik untuk pinggiran papan pajangan. Bisa gunakan kertas
  • yang digunting dengan membentuk pola
  • Gunakan waktu luang siswa untuk membantu kita membuat display atau pajangan di
  • kelas
  • inti   menaruh sesuatu pd tempatnya, mengatur meja kursi sesuai strategi belajar
  • saat menata kelas, standarnya jgn diri anda sbg guru, tapi murid, merekalah pemilik
  • utama kelas
  • sekarang restoran taruh dapurnya malah di depan, bukan di belakang lagi, di sekolah, kelas juga begitu jd ‘showcase’
  • mendisplay dan menata kelas memang capek, apalagi kalau anda tdk terbiasa rapih
  • menghias dan menata kelas bukan monopoli guru tk atau sd saja, guru SMA pun
  • wajib
  • siapa pun yg merasa mengajar adalah panggilan, merasa bahwa ‘menghias kelas’ itu adalah kewajiban

Saat saya membahas ini di twitter ada rekan guru berbaik hati memberikan masukan berikut adalah masukannya

@irantimega: libatkan siswa dalam menata kelas, tanamkan pengertian kelas adalah rumah ke-2 mrk

RT @irantimega: Sbyk mgkn gunakan hasil karya siswa dalam mendisplay. Siswa jd bangga dan kegiatan bljr kelas terekam