Workshop satu hari guru Kiat Guru Kreatif untuk guru-guru TK bersama Erlass Prokreatif” di gedung TK Erlass Jl Sawo Manila, Senin 31 Oktober 2011

Semua orang bisa mengajar namun belum tentu bisa mengajar TK atau PAUD. Mengajar TK atau PAUD berarti mengajar anak yang sedang ada di masa keemasannya. Sebuah masa dimana potensi anak sedang berkembang dan saat yang tepat untuk membuatnya menjadi seorang pembelajar yang mandiri dan haus pengetahuan. Bersama guru-guru TK dan PAUD yang ada di seputaran Jakarta timur dan selatan saya berbagi dan memotivasi bagaimana cara terbaik untuk menjadi seorang guru TK dan PAUD yang bisa menjawab tantangan abad 21. Pelatihan kali ini  mengasyikkan karena saya bekerja sama dgn para ahli mengajar anak usia dini

Sesi 1

membuka wawasan soal bagaimana guru Pendidikan anak usia dini bisa menyesuaikan diri dengan jaman

  • Karekteristik pembelajaran untuk Usia dini
  • Tantangan jaman adalah menjadikan siswa senang belajar, dengan cara mereka belajar dan belajar dari siapapun yang ada di sekitar mereka

 Sesi 2

guru yang hadir berdiskusi mengenai gaya belajar siswa, ini adalah cara agar guru bisa makin ‘mengerti’ siswanya

  • guru mendiskusikan strategi belajar yg cocok utk anak dengan gaya belajar
  • kinestetik, auditory dan visual
  • guru yang hadir di bagi menjadi kelompok yang saling berbagi kisah sukses dalam menggunakan pedekatan variatif dalam mengajar anak usia dini

Lanjutkan membaca “Workshop satu hari guru Kiat Guru Kreatif untuk guru-guru TK bersama Erlass Prokreatif” di gedung TK Erlass Jl Sawo Manila, Senin 31 Oktober 2011″

Iklan

Workshop guru “Pengelolaan Kelas dan membuat pajangan (display)” di SDIT Buah Hati Condet Jakarta Timur 15 Oktober 201

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Ada rekan saya bertanya kenapa dari dulu sampai sekarang pajangan kelas isinya gambar Teuku Umar, Dewi Sartika, Kartini dan pahlawan revolusi ? Menurut saya pajangan kelas yang berisi gambar pahlawan bagus juga asal disesuaikan dengan tema yang sedang berlangsung. Dengan demikian dibutuhkan kreativitas guru dalam merencanakan dan menyesuaikan dengan topic yang sedang berlangsung.

Menjadi guru kreatif yang pandai mengelola kelas dan mendisplay hasil karya siswa di kelas bukan perkara mudah. Guru dengan profil tadi adalah guru yang selalu berusaha menjadi orang yang senantiasa ingin tahu dan mendalami bagaimana perasaan siswa yang menjadi muridnya. Dengan mendalami perasaan seorang murid, mata guru yang bersangkutan akan terbuka lebar. Terbuka yang saya maksud adalah ia menjelma menjadi sosok seorang yang mau belajar terus demi memnuhi standar terbaik pelayanan pada siswanya sekaligus menapaki jenjang karier sebagai pendidik professional. Apa perasaan anda sebagai murid ketika kelasnya sepi dan sebaliknya apa perasaan anda ketika kelas bernuansa ramai dan menyegarkan mata serta informatif saat bersamaan. Di SDIT Buah Hati saya berbagi bersama guru-guru yang hadir mengenai bagaimana mengelola kelas dan membuat pajangan (display) yang menarik di kelas.  Untuk anda para pembaca saya sajikan beerapa hal yang penting

  • display yg baik adalah pajangan hasil karya siswa yg sdah di nilai & diberi feed back oleh guru
  • display bukan sekedar pajangan, ia adalah alat pembelajaran dan sarana
  • memotivasi siswa.
  • Buatlah hiasan yang menarik untuk pinggiran papan pajangan. Bisa gunakan kertas
  • yang digunting dengan membentuk pola
  • Gunakan waktu luang siswa untuk membantu kita membuat display atau pajangan di
  • kelas
  • inti   menaruh sesuatu pd tempatnya, mengatur meja kursi sesuai strategi belajar
  • saat menata kelas, standarnya jgn diri anda sbg guru, tapi murid, merekalah pemilik
  • utama kelas
  • sekarang restoran taruh dapurnya malah di depan, bukan di belakang lagi, di sekolah, kelas juga begitu jd ‘showcase’
  • mendisplay dan menata kelas memang capek, apalagi kalau anda tdk terbiasa rapih
  • menghias dan menata kelas bukan monopoli guru tk atau sd saja, guru SMA pun
  • wajib
  • siapa pun yg merasa mengajar adalah panggilan, merasa bahwa ‘menghias kelas’ itu adalah kewajiban

Saat saya membahas ini di twitter ada rekan guru berbaik hati memberikan masukan berikut adalah masukannya

@irantimega: libatkan siswa dalam menata kelas, tanamkan pengertian kelas adalah rumah ke-2 mrk

RT @irantimega: Sbyk mgkn gunakan hasil karya siswa dalam mendisplay. Siswa jd bangga dan kegiatan bljr kelas terekam

SEMINAR TRAINING MOTIVASI DAN WORKSHOP ‘MENJADI GURU PROFESIONAL’ MINGGU, 8 AGUSTUS 2010 KKN 69 UIN Syarif Hidayatullah

Assalamualaikum
Kami dari kelompok Kuliah Kerja Nyata UIN Syarif Hidayatullah mengucapkan terima kasih kepada Bpk. Agus yang telah bersedia untuk meluangkan waktunya untuk berbagi ilmu dan wawasan kepada masyarakat ditempat kami bertugas dan tentunya bagi diri kami sendiri.
Kami mohon maaf atas segala kekurangan yang membuat Bapak dan Ibu merasa tidak nyaman.
Sekali lagi terima kasih untuk kesempatan yang luar biasa ini. Insya Allah dikemudian hari kita bisa berbagi ilmu lagi bersama.
Maju terus guruku. Maju terus Indonesiaku.
Wassalamualaikum.

Panitia Penyelenggara : Team KKN 69 UIN Syarif Hidayatullah

Lanjutkan membaca “SEMINAR TRAINING MOTIVASI DAN WORKSHOP ‘MENJADI GURU PROFESIONAL’ MINGGU, 8 AGUSTUS 2010 KKN 69 UIN Syarif Hidayatullah”

Seminar guru kreatif di Pekanbaru

Di Pekanbaru pada tanggal 9 Mei 2010 saya berbagi di Seminar pembelajaran abad 21 (Tematik dan Project Based Learning). Saya hadir ditengah guru yang antusias yang rindu akan perubahan dan upaya untuk menjadikan siswa sebagai subyek dalam pembelajaran

Beberapa hal yang saya sampaikan antara lain

• Mengubah pola pikir guru dari fokus pada ‘mengajar’ menjadi fokus pada ‘belajar’.

• Tempat duduk siswa yang terbaik bukan di depan dan menghadap kedepan tapi siswa duduk dalam kelompok , untuk berkolaborasi dan membangun makna bersama.

• Kelas yang baik bukan kelas yang diam karena guru yang memegang kendali sepenuhnya tapi kelas yang berisik dimana anak-anak yang sedang belajar mencerminkan pembelajaran yang bersemangat.

• Kelas yang baik jika bukan jika kita sebagai guru sibuk mengulangi pertanyaan atau mengajukan pertanyaan yang berbeda kepada siswa. Tapi sebuah kelas yang baik adalah jika guru memaknai diamnya adalah membuat siswa punya waktu untuk berpikir.

• Berhenti mengangap bahwa pengaturan dan pemberian tugas yang berbedakepada siswa demi mengakomodir kemampuan yang berbeda. Tapi memulai menggunakan teknologi digital yang malah menyediakan diferensiasi alami untuk tingkat yang berbeda, kemampuan dan kepentingan siswa yang berbeda pula.

• Berhenti berpikir setiap siswa harus mengangkat tangannya sebelum ia berbicara dan percakapan semua harus diatur melalui guru. Tapi memulai untuk membiarkan anak melakukan diskusi yang intens. Karena diskusi yang terbaik adalah ketika siswa menanggapi satu sama lain dan guru menjadi fasilitator.

• Berhenti berpikir bahwa memuji siswa adalah sebuah penguatan positif bagi siswa. Tapi memulai untuk memberikan umpan balik konstruktif dan spesifik pada siswa.

• Berhenti berpikir guru adalah guru dan siswa adalah peserta didik. Mulai berpikir kita semua bagian dari komunitas pembelajar . http://whatedsaid.wordpress.com/

Metode tematik dan Project based learning yang sampaikan saat itu disertai contoh dan penerapannya. Hanya saja saya menekankan lebih dalam pada usaha guru untuk merubah iklim kelas dan pola hubungannya dengan siswa terlebih dahulu untuk kemudian siap menjadi guru yang professional dan mau menggunakan pendekatan terkini.

Terima kasih kepada Ibu Tria, penyelenggara seminar di Pekanbaru yang berkenan mengadakan event yang dahsyat bagi pendidik di kota Pekanbaru dan sekitarnya.

Foto-foto lengkapnya bisa dilihat pada link dibawah ini

http://picasaweb.google.com/a.sampurno/SeminarTematikDanProjectBasedLearningDiPekanbaru#

Terimakasih Guruku Persembahan Pocari Sweat untuk Para Guru (dari Harian Surya Surabaya edisi cetak 25 Mei 2010)

SEBAGAI bentuk kepedulian terhadap dunia pendidikan di Indonesia POCARI SWEAT menyelenggarakan kegiatan seminar dalam bidang Pendidikan yaitu ” Terimakasih Guruku ” di Hotel Empire Palace Surabaya hari Sabtu tanggal 22 Mei 2010. Kegiatan Coorporate Sosial Responsibility (CSR) dari PT. Amerta Indah Otsuka ini merupakan salah satu kegiatan perusahaan untuk berperan serta dalam upaya pembangunan pendidikan di Indonesia. Tema yang diusung di acara ini adalah ” Karakteristik Pembelajaran Abad 21″ dengan menghadirkan narasumber yang merupakan pakar di bidang pendidikan yaitu Agus Sampurno ( education , blogger, educational motivator , teacher professional development program facilitator) Di abad 21 ini hal yang terpenting dalam mendidik siswa adalah kemampuan untuk bertanya dan melatih siswa untuk efektif dan percaya diri dalam bertanya saat pembelajaran di kelas. Demi mewujudkan hal tersebut guru juga harus melatih diri dan mencari pengetahuan tentang bagaimana membuat siswa mau bertanya dan senang bertanya. Harapannya adalah para peserta dapat memeperoleh pengetahuan mengenai kita-kiat untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia dan informasi mengenail produk POCARI SWEAT yaga dibuat berdasarkan penelitian ilmiah sehingga aman dan terukur Selain program Terimakasih Guruku PT. Amerta Indah Otsuka juga memiliki Program SATU HATI CERDASKAN BANGSA yaitu gerakan peduli pendidikan nasional yang mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk ikut berpartisipasi dan peduli terhadap pendidikan Indonesia. Hal ini juga merupakan bukti komitmen PT. Amerta Indah Otsuka untuk memajukan pendidikan bagi bangsa Indonesia. ikl

surya/sudarmawan

Bukan Lagi Sentral Ilmu, Guru Harus Inovatif

Saturday, 22 May 2010

SURABAYA (Seputar Indonesia) – Siswa-siswa era tahun 2000 ke atas adalah anak zaman ini.Zaman abad 21 yang telah dipenuhi kemajuan bidang informasi dan teknologi.

Karena itu, para guru harus bisa menyesuaikan diri dengan kondisi ini agar tidak ketinggalan zaman. “Sekarang ini abad IT (Information Technology).Semua hal bisa didapat lewat internet. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber ilmu dan harus menjadi otoriter di depan kelas,” ungkap pelatih dan motivator pengajaran,Agus Sampurno, saat menjadi pembicara di acara Terima Kasih Guruku di Empire Palace,Surabaya,kemarin.

Dalam kegiatan yang digelar PT Amerta Indah Otsuka,produsen minuman Pocari Sweat, Agus menyatakan, metode pembelajaran di mana guru harus selalu menjadi tokoh sentral. Kelas yang sunyi senyap dan suasana tegang sudah bukan masanya lagi. Saat ini anakanak sudah lahir dan mengenal teknologi dengan baik. “Karena itu,harus ada perubahan strategi pembelajaran,mulai metode, strategi,hingga teknologi yang dipakai. Metode yang lebih interaktif seperti pemberian tugas lewat email.

Bila perlu,sang guru aktif up date status di facebook. Tentunya status yang mendidik, ”katanya. Promotion Head PT PT Amerta Indah Otsuka Ratna Yudythia menyatakan, acara yang melibatkan para guru ini adalah salah satu bentuk partisipasi perusahaannya untuk mendorong tumbuhnya metode pembelajaran yang lebih inovatif dan kemajuan di bidang pendidikan. Dari acara semacam ini, kata Ratna, para peserta dapat memperoleh pengetahuan mengenai kiat-kiat meningkatkan kualitas pendidikan. (dili eyato)

Waspadai Penyakit Kronis Pendidikan

Jawa Pos Guru-guru yang enggan belajar menjadi penghambat pengembangan pendidikan. Pengamat pendidikan Agus Sampurno menyebut saat ini muncul penyakit kronis di lingkungan pendidik, yaitu kendurnya semangat mencari ilmu. “Kasarnya, guru sekarang sudah ogah belajar,” tegas Agus dalam seminar di Empire Palace kemarin (22/5).

Seminar Terima Kasih Guru dengan tema Karakteristik Pembelajaran Abad Ke-21 itu diadakan oleh PT Amerta Indah Otsuka. Di depan ratusan guru peserta seminar, Agus menyatakan bahwa penyakit kronis tersebut menuntut segera diobati. Jika tidak, pendidikan di tanah air ini bakal stagnan.

“Bagaimana tidak jika gurunya sendiri memilih stagnan,” jelas pengajar sekaligus pelatih para guru itu. Akibat paling berbahaya jika guru tidak mau belajar adalah pendidikan tidak akan mampu mengikuti arus perkembangan zaman yang cukup kencang.

Agus menjelaskan, salah satu ciri pembelajaran yang tidak berkembang adalah model pembelajaran satu arah. ”Guru memosisikan diri sebagai satu-satunya sumber ilmu,” tuturnya. Padahal, lanjut Agus, ilmu pengetahuan itu bisa digali dari berbagai sumber. Mulai media masa, lingkungan sekitar, sampai internet.

“Berikanlah kebebasan kepada siswa untuk mencari sumber ilmu yang lain,” tutur pengajar di School Teacher Indonesia itu. Dengan memberi sedikit kebebasan ke siswa, kewibawaan guru tidak bakal luntur. Bahkan, Agus menjelaskan saat ini siswa lebih suka dengan guru yang memiliki sikap demokratis yang tinggi. “Di mana pun dan kapan pun siap menerima pertanyaan siswa,” jelasnya.

Di antara guru yang hadir kemarin adalah Harjito. Guru pendidikan kewarganegaraan di SMA YPPI 1 itu menjelaskan, permasalahan guru di tingkat bawah cukup kompleks. Di satu sisi, mereka diwajibkan menjalankan program pemerintah yang “kaku”. Di sisi lain, guru dituntut mencari inovasi-inovasi serta sedikit memberi siswa kebabasan untuk mencari ilmu. “Dua persoalan itu cukup kontradiktif,” papar Harjito.

Sampai sekarang, belum ada titik temu antara dua persoalan tersebut. Harjito menjelaskan, dirinya lebih memilih menjalankan keduanya beriringan. “Dijalankan mengalir begitu saja,” katanya. Ratna Yudythia, wakil dari PT Amerta Indah Otsuka, mengatakan sangat concern kepada dunia pendidikan. Acara Terima Kasih Guru itu diselenggarakan dalam rangkaian menciptakan pendidikan nasional yang lebih baik. Guru, menurut dia, merupakan tulang punggung pendidikan. “Ini merupakan kontribusi yang cukup signifikan,” jelas Yudythia. (wan/c10/roz)

Sumber

http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=135488