11 Perubahan Paradigma dalam Kurikulum Merdeka


Perubahan paradigma sebagai pendidik sangat diperlukan agar bisa mendidik generasi terkini. Paradigma adalah cara pandang seseorang terhadap sesuatu yg memengaruhinya dalam berpikir. Seorang pendidik yang paradigma nya pas dengan situasi terkini dan tantangan zaman akan membuat kelasnya menarik. Dalam dunia kreativitas faktor pola pikir sangat penting. Dalam rangka penerapan Kurikulum prototipe maka sudah saatnya guru membenahi cara pandangnya.

Berikut ini adalah perubahan paradigma yang guru perlu sesuaikan kembali agar mendidik dan mengajar menjadi proses yang menyenangkan bagi guru dan siswa.

Teaching is more a way for the teacher to learn than for the student to learn. Dalam proses mengajar guru lah sebenarnya yang banyak belajar dibandingkan siswanya. Jika ingin kelasnya ‘hidup’ dan menarik, guru sudah saatnya mengambil peran sebagai pembelajar. Jika perannya sudah pas saatnya membetulkan cara pandang pendidik terhadap hal lainnya dalam mendidik dan mengajar.

Paradigma yang benar memudahkan guru dalam membenahi praktek pengajarannya. Apa saja paradigma pendidik yang perlu disesuaikan mengingat tantangan zaman

  1. Cara pandang mengenai peran guru
  2. Cara pandang mengenai siswa
  3. Cara pandang mengenai pembelajaran berbasis proyek
  4. Cara pandang mengenai materi ajar
  5. Cara pandang mengenai bagaimana menilai siswa
  6. Cara pandang bagaimana melakukan variasi dalam mengajar
  7. Cara pandang mengenai apa saja kebutuhan siswa
  8. Cara pandang mengenai mata pelajaran
  9. Cara pandang bagaimana mengelola kompetensi pembelajaran vs materi pembelajaran
  10. Cara pandang mengenai kurikulum
  11. Cara pandang bagaimana mengelola waktu pembelajaran

Mari kita kupas satu persatu

Lanjutkan membaca “11 Perubahan Paradigma dalam Kurikulum Merdeka”

33 tanda sekolah anda perlu berinovasi.

Impian semua pemimpin di sekolah agar kualitas guru gurunya meningkat. Kualitas guru yang baik adalah jaminan mutu sebuah sekolah. Perubahan dalam bidang pendidikan adalah keniscayaan. Utamanya dalam bagaimana melakukan perubahan pada diri individu yang ada di sekolah. Dikarenakan tidak ada yang abadi selain perubahan itu sendiri.

Sering sekolah terjebak hanya memperhatikan komplen dari orang tua siswa baru kemudian bersedia melakukan perubahan. Padahal tanda atau sinyal untuk perubahan sudah sangat kentara sekali. Hanya saja sekolah kurang peka untuk melihat adanya kebutuhan bagi sekolah untuk berubah.

Dibawah ini adalah daftar bahwa sekolah anda harus segera berubah.

Lanjutkan membaca “33 tanda sekolah anda perlu berinovasi.”

Resep sukses menjadi guru profesional dan berkarakter di era 4.0

Saat saya tidak punya judul untuk ditulis. Saya biasa melihat judul judul seminar yang ada di google. Alhasil judul tulisan kali ini seperti judul seminar bukan? Menjadi guru profesional adalah sebuah perjalanan. Dikarenakan ia memerlukan karakter baik yang menjadi energi sukses mencapai tujuan. Apa saja tipsnya? silakan dicermati sesuai judul diatas.

Lanjutkan membaca “Resep sukses menjadi guru profesional dan berkarakter di era 4.0”

Penilaian formatif tipe tanpa teknologi dan menggunakan teknologi. Mana yang cocok untuk anda?

Penilaian Formatif mengacu pada proses berkelanjutan yang dilakukan siswa dan guru ketika mereka:

  1. Fokus pada tujuan pembelajaran.
  2. Mengambil tolak ukur dan mencatat di mana hasil pekerjaan siswa saat ini dalam kaitannya dengan tujuan akhir pembelajaran.
  3. Mengambil tindakan yang diperlukan untuk bergerak lebih dekat ke tujuan pembelajaran.

Ada dua cara dalam melakukan Penilaian Formatif. Ada dengan teknologi yang minim serta teknologi Jarak Jauh yang dapat mempermudah pengumpulan data terkait Penilaian Formatif.

Lanjutkan membaca “Penilaian formatif tipe tanpa teknologi dan menggunakan teknologi. Mana yang cocok untuk anda?”

13 perubahan yang layak dilakukan di sekolah

cpyk3t4usaqlnfs

cc8uv3rw8aesrpb

Perubahan di sekolah termasuk hal yang cukup sulit untuk dilakukan. Kebanyakan orang ingin ada di dunia pendidikan dikarenakan jam kerja yang fleksibel dan beban pekerjaan yang dipandang ringan. Padahal dengan tantangan pendidikan saat ini, hal tadi justru akan membuat dunia pendidikan jalan di tempat.

Perubahan yang dipandang menantang untuk dilakukan di sekolah adalah perubahan menuju kepada:

Lanjutkan membaca “13 perubahan yang layak dilakukan di sekolah”

3 Tipe kemitraan guru dan kepala sekolah


Di sekolah swasta, seorang guru saat menjalani proses perekrutan hampir pasti akan diwawancarai oleh kepala sekolah. Jika diterima sejak itu akan terjalin pola hubungan kerja yang ada beberapa tipe macamnya.
1. Tipe boss dan karyawan

Hubungan kerja jenis ini rawan konflik karena kepala sekolah hanya akan melakukan kontak dengan gurunya jika gurunya ada kesalahan atau kepala sekolah ingin menyuruh sesuatu. Selama satu tahun ajaran bisa dihitung kapan interaksi terjadi. Interaksi yang formal biasa terjadi saat supervisi.

2. Tipe coach dan mentor

Pola interaksi atau hubungan ini bisa terjadi jika kepala sekolah sadar betul bahwa guru adalah kunci sukses sebuah perubahan di sekolah. Selama satu tahun ajaran beberapa kali guru dan kepala sekolah rutin bertemu. Kedua belah pihak punya semacam catatan yang berisi target serta strategi apa dan dalam jangka waktu berapakah sebuah sasaran akan dicapai. Kepala sekolah mulai dari kelebihan yang dimiliki guru gurunya, guru menjadi terbuka karena ia tahu kepala sekolah peduli dan sudi membantu agar ia sukses dalam berkarier sebagai pendidik.

3. Tipe ahli dan pemberi tugas.

Tipe interaksi ini biasa terjadi pada guru yang dianggap ahli dan mumpuni. Sekolah bahkan tidak memberikan job des pada guru ini. Guru menentukan sendiri target targetnya. Kepala sekolah jadi pihak yang memberi kebebasan dan tinggal memberikan gambaran hal apa yang ia ingin guru tersebut. Secara rutin kedua belah pihak bertemu untuk mengecek target ketercapaian .

Tipe yang manakah yang sedang anda jalani sekarang?

Hal apakah yang menurut anda akan membawa keberhasilan dalam pola kemitraan guru dan kepala sekolah?

Mari berbagi lewat kolom komentar.

Tips Menyatukan guru senior dan guru yunior di sekolah

Guru juga manusia biasa, saat berkenaan dengan pertemanan sesama guru adakalanya persoalan senior dan yunior mengemuka. Guru yang senior merasa paling pengalaman dan guru yang yunior atau masuk belakangan dianggap tidak tahu apa-apa. Padahal bisa saja orang yang dianggap yunior bisa saja lebih berpengalaman dalam hal lain dan ditempat lain bahkan jika orang itu lebih muda. Karena umur bukan ukuran seseorang berpengalaman atau tidak. Jika tidak hati hati dalam hal ini sekolah akan terjerumus menjadi tempat yang tidak menyenangkan dan guru akan mudah pindah hanya karena suasana kerja yang tidak kondusif.

Banyak sekolah yang ambil cara gampang dalam menyatukan si senior dan yunior dengan cara adakan kegiatan outing, outbond dan sejenisnya. Sah saja jika sekolah punya dana yang banyak, namun ada cara yang bersifat tahan lama dan bisa menjadi budaya yang positif dari sebuah sekolah. Karena semua orang jadi berkontribusi semampu mereka.

Lanjutkan membaca “Tips Menyatukan guru senior dan guru yunior di sekolah”

Budaya sekolah yang sehat membuat sekolah menjadi efektif

Bj-spX3IIAAhMg0Budaya dalam sebuah organisasi adalah hal yang penting, sangat penting sampai-sampai menentukan arah perubahan sebuah sekolah. Sekolah yang memilih untuk menjalankan sekolah sesuai dengan rutinitas saja tanpa berusaha menumbuhkan budaya akan menuai ‘capek hati’ dan ‘capek pikiran’ karena pergerakannya hanya dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya. Tanpa adanya budaya sebagai pondasi yang membuat guru-guru lebih kuat dan siswa jadi senang belajar.

Apa saja budaya sekolah yang penting dan layak untuk dikembangkan?

  • Aspek budaya yang menyangkut nilai-nilai yang baik atau values. Guru akan mudah patah semangat jika bekerja di sekolah yang tidak punya values. Semua values adalah semua hal yang baik, dalam Islam ada Akhlakul Kharimah yang penting untuk menjadi pegangan dalam sesama manusia dalam berinteraksi dan berkomunikasi. Jika sekolah punya nilai yang positif maka guru dan siswa akan berlomba-lomba memberikan sumbangan kontribusi bagi kemajuan sekolah. Peran pimpinan sekolah dan yayasan juga memainkan hal yang sangat penting dalam penanaman nilai di sekolah sebagai contoh dan sebagai pihak yeng menentukan tolak ukur keberhasilan penanaman nilai-nilai, tentunya dengan menyertakan semua elemen yang ada di sekolah seperti orang tua, siswa, guru dan komunitas.
  • Budaya menghadirkan pengalaman belajar dan memimpin. Sekolah yang baik dengan niat yang baik mengajak siswanya untuk bersuara dan punya andil dalam pengambilan keputusan. Organisasi seperti OSIS atau Student Council akan membuat mereka merasa senang dilibatkan dan didengar suaranya. Siswa juga akan dihadapkan pada contoh kasus yang penting dalam organisasinya, diharapkan siswa bisa merasakan contoh kasus-contoh kasus yang membuat aspek kepemimpinannya berkembang. Apalagi jika secara intensif guru diberikan dorongan untuk melibatkan siswanya dikelas dalam upaya memberikan pengalaman belajar, sekolah mesti selangkah lebih maju dalam membuat pengetahuan masuk kedalam pikiran siswanya dengan tidak lagi sekedar mengajak mereka menghafal namun sudah sampai pada tataran mengerti karena mengalami.
  • Budaya Inovasi: Inovasi adalah semua hal yang bisa guru dan sekolah lakukan dalam membuat praktek pembelajaran menjadi lebih baik dari sebelumnya. Tugas sekolah membuat gurunya tidak takut salah dan nyaman dalam berinovasi. Tugas guru adalah memantapkan hati bahwa inovasi yang ia lakukan penting sebagai cara membuat dirinya berarti sebagai guru professional dengan cara berinovasi demi siswa. Sekolah yang efektif menyediakan pembiayaan dan dukungan secara struktur agar kreativitas dan inovasi bisa berkembang sesuai dengan kemampuan.
  • Budaya kerja sama: Bagaimana guru baru dan guru senior bekerja sama? Bagaimana guru dan siswa bekerja sama? Bagaimana guru dan orang tua siswa bekerja sama, bagaimana kepala sekolah dan guru bekerja sama, bagaimana kepala sekolah dan orang tua siswa bekerja sama? Sampai bagaimana sekolah dan masyarakat bekerja sama. Kesemua pertanyaan tadi membuat sekolah makin maju dan berkembang. Sekolah di jaman sekarang makin tidak bisa berdiri sendiri, sekolah yang lalai membina budaya bekerjasama dan berkolaborasi melewatkan bantuan dari orang lain yang mestinya bisa membuat sekolahnya makin maju dan berkembang dengan cara yang unik dan tiada duanya. Prinsip kerja sama adalah meniadakan ego untuk satu tujuan, sebuah sekolah yang baik menomorsatukan siswa diatas segala-galanya.

 

Tips menjadi sekolah swasta yang dipercaya oleh orang tua siswa.

BrAwjKjCcAIA32XBpz6Po_CQAEM5qY

Setiap sekolah punya ‘penggemarnya’ sendiri-sendiri. Sekolah negeri digemari oleh tipe orang tua yang sangat senang memanfaatkan fasilitas negara (walaupun ia mampu) atau yang terpaksa mesti (karena keterbatasan dana) memanfaatkan sekolah gratis di sekolah negeri. Sementara sekolah swasta diminati oleh orang tua siswa yang merasa mampu menyekolahkan anaknya di sekolah yang meminta bayaran SPP yang lumayan atau sebaliknya diminati oleh ketidak inginan anaknya masuk ke sekolah negeri karena satu dan lain hal.

Tulisan ini akan membahas mengenai sekolah swasta yang SPP dan uang pangkalnya cukup lumayan. Tipe sekolah swasta ini uniknya diburu oleh orang tua siswa. Mendekati tahun ajaran kapasitas kelasnya cepat penuh dan diminati oleh para orang tua yang menginginkan mutu pendidikan terbaik bagi anaknya. Sementara ada sekolah swasta juga yang susah sekali mendapat murid walau sudah sibuk berpromosi lama sejak sebelum tahun ajaran baru dimulai. Padahal sarana fisiknya bagus, guru-gurunya senior dan pengalaman serta biayanya bersaing dengan sekolah lain.

Mengapa ada sekolah yang begitu banjir peminat? Ini sebabnya

  • Sekolah mampu menjaga kepercayaan orang tua siswa terutama dari aspek keuangan. Aspek keuangan adalah hal yang paling penting karena orang tua mengukur lari kemana uang pangkal atau uang SPP yang dibayarkan. Apakah kembali pada anaknya dalam bentuk pelayanan yang terbaik yang mengutamakan siswa atau berlalu begitu-begitu saja. Orang tua siswa akan mengukur seberapa sekolah sudah menjadi amanah dengan kemampuan analisa masing-masing. Jika sekolah gagal mencapai apa yang disebut analisa kasar terhadap seberapa yang dibayarkan dan yang kembali kepada siswa dalam bentuk pelayanan, maka sekolah mesti bersiap panen complain dari orang tua siswa. Indikator yang bisa dilihat adalah pelayanan fisik dan non fisik yang terus ditingkatkan. Sekolah memperbaharui fasilitas fisiknya di setiap libur sekolah dan mau mendengar jika ada masukan orang tua siswa secara langsung atau lewat lembaga yang sudah ditunjuk. Soal keuangan ini sangat sensitif karena banyak pemilik sekolah yang ingin segera cepat impas (break even point) dan ingin segera untung, padahal prinsipnya sederhana saja jika 10 tahun pertama sekolah itu amanah dan dapat dipercaya maka orang tua siswa akan berduyun-duyun datang menyekolahkan anaknya. Bahkan sekolah sampai harus menolak siswa.
  • Sekolah punya pengelolaan komunikasi yang baik kepada orang tua siswa. Sekolah tampil sebagai lembaga yang berwibawa. Ada lembaga dewan sekolah, ada lembaga persatuan orang tua murid dan guru, ada perwakilan komite setiap kelas yang siap menampung apa saja yang menjadi kepedulian orang tua siswa. Sekolah berkomunikasi dengan jalur-jalur resmi yang baik, jelas dan terukur secara online maupun offline, secara tertulis maupun secara lisan. Orang tua siswa tidak dibuat bingung karena garis komunikasi sekolah jelas dan menggunakan bahasa yang dipertimbangkan masak-masak sebelum disampaikan pada siswa. Sekolah yang bertipe seprti ini akan terhindar dari konflik yang tidak perlu. Konflik yang saya maksud adalah konflik orang tua yang vokal menyuarakan keluhan karena saat yang sama orang tua dididik untuk mau menyalurkan pendapatnya lewat organisasi resmi dan bersedia menerima apapun hal yang sudah menjadi keputusan, sepanjang keputusannya diputuskan lewat lembaga resmi yang dibentuk oleh sekolah.
  • Sekolah memanusiakan guru-gurunya. Banyak pemilik sekolah swasta yang berasal dari bidang bisnis lain yang kemudian tergerak hatinya untuk membuat sekolah. Para individu pemilik sekolah punya gaya masing-masing dalam mengelola sumber daya manusianya, ada yang semata menganggap guru-guru yang mengajar di sekolahnya sebagai buruh yang mesti bekerja secara fisik dan kasat mata. Tipe pemilik seperti ini biasanya tegas dan keras saat menghukum (bahkan dengan potongan gaji) bagi setiap kesalahan dan pada saat yang sama menginginkan guru bekerja keras dengan sempurna dan sebaik-baiknya. Ada juga tipe pemilik sekolah yang menganggap guru dan memanusiakannya sebagai mitra memajukan sekolah dan bukan sekedar alat pencari keuntungan. Nuansa pembinaan kepada guru pun bernuansa ‘coaching’ yang membesarkan potensi dan menghargai kesalahan sebagai upaya untuk belajar untuk bisa semakin baik di masa depan. Guru dilatih agar mampu bekerja dengan professional dan dihargai secara financial (tergantung kemampuan sekolah). Saat yang sama diberikan pengarahan jika lakukan kesalahan. Jika orang tua siswa merasa bahwa guru anaknya dimanusiakan maka ia akan senang hati menyekolahkan anaknya disitu dan bahkan merekomendasikannya pada orang lain (kerabat dan saudara)
  • Sekolah pandai mengatur penyelenggaraan aspek akademis dan non akademis selama satu tahun ajaran. Orang tua siswa akan berpikir ulang untuk menyekolahkan anaknya ditempat yang suasana pembelajarannya masih sama seperti ia sekolah dulu (banyak hapalan atau guru yang otoriter) atau bahkan sebaliknya sekolah akan begitu saja mengiyakan keinginan orang tua yang masih ‘kolot’ cara pandangnya, misalnya mengukur segala sesuatu dari nilai angka. Seperti yang sudah saya tulis di awal, saatnya sekolah percaya diri bahwa visi misi sekolahnya lah yang penting untuk direalisasikan dengan cara yang demokratis sekolah menampung juga saran serta ide agar dalam praktek mewujudkan visi misi, orang tua tetap merasa bahwa sekolah tempat menyekolahkan anaknya adalah sekolah yang mempersiapkan anak-anaknya untuk masa depan.

Jika semua faktor diatas sudah dilaksanakan oleh sebuah sekolah swasta dijamin sekolah tersebut akan lekat di benak orang tua siswa sebagai sekolah yang bagus mutunya dan dipercaya. Lupakan dulu anggaran promosi yang besar, orang tua siswa lebih suka mendengarkan rekomendasi antar orang tua siswa (dari mulut ke mulut) apalagi sekarang jaman media sosial, segala kebaikan dan keburukan sekolah anda akan menyebar dengan cepat dan dahsyat efeknya.

Jadi selamat menjadi sekolah yang mau belajar dan cepat beradaptasi terhadap kebutuhan orang tua siswa.

3 P di sekolah yang efektif (Place, People and Profit)

Tiga hal yang menjadi judul artikel ini menjadi ‘agak aneh’ ketika diterapkan di sekolah. Sepertinya konsep diatas hanya cocok untuk dunia wirausaha. Namun saatnya sekolah membuka diri untuk menggunakan konsep yang berasal dari luar konsep pendidikan. Berikut ini adalah paparan saya mengenai konsep diatas dalam konsep persekolahan.

 

Place (tempat)

Sekolah yang nyaman dan bersih membuat semua yang belajar dan bekerja didalamnya merasa senang, bangga dan terhormat. Sebaliknya sekolah juga bisa mencapai standar yang tadi saya sebutkan dalam konsep yang sederhana sesuai kemampuan. Inti dari konsep ‘place’ adalah sekolah bisa menjadi rumah kedua bagi siswa dan tempat yang nyaman bagi guru untuk berkarya sebagai professional. Bagus dan aman tidak perlu mahal karena untuk apa jika sekolah yang bagus gedungnya namun guru keluar masuk atau orang tua merasa dikecewakan dan sibuk complain kemana mana.  Soal ‘tempat ‘ bisa juga diartikan sebagai atmosfir, sejatinya sebagai tempat mendidik sekolah mesti bernuansa pendidikan dan bukan bisnis atau (maaf) tempat penitipan anak.

 

People (manusia)

Ketika bicara ‘people’ yang ada di bayangan saya adalah guru-guru yang ada di sekolah. Sebagai sekolah swasta Ananda Islamic School percaya sekali bahwa guru mesti diberdayakan dan bukan diperdayakan. Dua kata yang mirip namun beda makna.

Gurudan karyawan di sekolah  diberdayakan dengan cara

  • di dengar apa keinginan yang bisa membuatnya jadi semakin professional
  • menciptakan nuansa kerja yang positif dan bebas dari prasangka negatif
  • ada nuansa saling menghormati antar guru, guru dengan orang tua siswa, guru dan siswa serta siswa dan guru.
  • Membuat suatu system dimana mereka merasa dihargai karena kinerja dan bukan karena kedekatan personal
  • Menghargai pencapaiannya sebagai pribadi sebagai guru dan sebagai orang yang punya keinginan dan cita-cita
  • Berusaha mempercaya guru dan berbaik sangka . Berbaik sangka diajarkan dengan jelas dalam Agama Islam dan jadi penyembuh dari berbagai macam penyakit hati. Sekolah yang sehat bebas dari ‘penyakit hati’ seperti gossip dll.

Profit

Bicara profit mohon dibedakan dengan membicarakan uang atau kekayaan. Sekolah yang bagus dan baik memang perlu dana. Namun profit disini saya artikan sebagai keuntungan yang dihasilkan sekolah dan diberikan kembali kepada masyarakat.  Kepada yang mengelola pun kata ‘profit’ bisa diartikan sebagai berkah (sebuah hal yang jika kita percaya tidak bisa dinilai dengan uang0 atau ‘priceless’. Jika kedua prinsip yang sebelumnya (Place and People) dijalankan sekolah akan mendapatkan profit sebagai konsekuensi. Profit yang saya maksud antara lain lulusan yang dihasilkan punya kontribusi pada masyarakat, guru-guru nya berprestasi, siswanya cemerlang dalam akhlak dan akademis. Sementara sekolah tidak perlu pusing lagi soal dana karena murid mengantri untuk masuk karena cerita yang beredar mengenai sekolah ini sangat harum dan menjadikan semua calon orang tua merasa cocok dan senang menyekolahkan anaknya .

Dengan demikian jelaslah bahwa profit hanya datang setelah usaha yang keras dalam hal sarana dan prasarana (Place) dan orang-orang yang bekerja di dalamnya (people) merasa betah dan mempercayakan sebagian episode dalam hidupnya bekerja bersama sekolah tsb. Jadi selamat bekerja keras saya ucapkan bagi semua orang yang peduli pada pendidikan yang terbaik untuk generasi Indonesia sekarang dan masa depan.

 

%d blogger menyukai ini: