Kepala sekolah sebagai ‘coach’ yang baik untuk guru

http://www.newteachercenter.org/sites/default/files/ntc/main/images/banner_sld_moebius_0.png

Kepala sekolah punya posisi strategis bagi perubahan positif di sekolah. Ditangan nya sekolah punya potensi untuk berkembang dan menjadi sekolah yang efektif. Salah satu cara untuk mempercepat perubahan adalah menjadikan dirinya sebagai coach bagi guru-gurunya. Berikut adalah arti kata coach dalam pengertian sekarang

arti kata coach adalah suatu kendaraan yang berfungsi membawa penumpangnya dari satu lokasi ke lokasi lain yang menjadi tujuannya. Definisi ini memperlihatkan pada kita bagaimana kata coach akhirnya diberikan pada seseorang yang berperan untuk membantu memperbaiki kehidupan atau kinerja orang lain. Karena kalau kita analogikan, tugas dari coach adalah sebagai ‘kendaraan’ juga, kendaraan dalam kehidupan seseorang. Coach mengantar coachee (orang yang di-coach) dari tahap kehidupan yang sekarang ke tahap kehidupan yang diinginkan, melampaui rintangan yang menghambat kemajuannya hingga tercapai cita-citanya. Contohnya seorang coach dalam dunia olah raga. Tugasnya adalah meningkatkan ketrampilan yang sudah dimiliki menjadi maksimal sehingga bisa mencapai peringkat yang lebih tinggi. Kalau dulu hanya di dunia olah raga seseorang atau tim menggunakan jasa seorang coach untuk meningkatkan kinerjanya, pada tahun 60-an di Amerika orang mulai mengadopsi model coaching dalam dunia kerja. Belakangan dengan adanya kompetisi global, pembelajaran dan pengembangan telah menjadi bagian yang krusial dalam dunia kerja. Namun pelatihan saja kini sudah dianggap sebagai sarana yang masih kurang efektif, karena belum tentu bisa membawa perubahan perilaku yang menetap. Karena itu belakangan dalam dunia kerja coaching telah menjadi marak karena sifat aktifitas coaching yang intensif, sehingga bisa membawa perubahan perilaku tetap yang menguntungkan. Jadi apa kegunaan dari coaching? Coaching bermanfaat untuk membantu seseorang mencapai tujuan dalam kehidupannya. Caranya? Coaching kini memegang prinsip bahwa coachee secara alamiah kreatif, penuh sumber daya, dan merupakakn manusia yang utuh. Karena itu ialah yang paling tahu jawabannya terhadap kebutuhannya sendiri. Dalam hal ini coachee dilihat sebagai guru maupun murid. Dengan pendekatan ini coach tidak dilihat sebagai expert (serba tahu dan mempunyai jawaban terhadap semua masalah) dalam kehidupan coachee. Tugasnya adalah mengajukan pertanyaan yang tepat di saat yang tepat agar coachee bisa memulai suatu perjalanan menuju self discovery dan awareness (pemahaman dan kesadaran mengenai keadaan diri sendiri) dari perspektif baru yang berbeda. Pemahaman dan kesadaran diri ini menghantarkan coachee pada kepercayaan diri dan pemberdayaan dari perspektif yang baru, sehingga timbul keberanian untuk melakukan tindakan-tindakan baru, sehingga bisa mencapai hasil yang sebelumnya tidak pernah diraih. Jadi coaching adalah mengenai perubahan dan transformasi – mengenai kemampuan seseorang untuk tumbuh, merubah perilaku yang menghalangi kemajuan, untuk melahirkan perilaku serta tindakan baru. http://coachjanti.blogspot.com/2008/10/arti-dan-manfaat-coaching_15.html

Ada perbedaan besar antara coach dan atasan, kepala sekolah memang atasan guru sebuah hal yang memang jelas dan nyata, namun menjadi coach bagi guru yang menjadi bawahannya itu baru pilihan. Bukan saatnya lagi kepala sekolah memanggil guru hanya jika ia ada salah, namun lebih penting untuk membuat guru bersemangat mengajar dan belajar.

Prinsip kemitraan yang menjadi jiwa dari prinsip coaching sangat penting untuk diingat dalam proses ini. Di sebuah sekolah yg sehat & efektif, prinsip hubungan antara kepala sekolah & guru adalah kemitraan. Selain itu kepala sekolah yg baik, tidak akan pernah lupa bahwa dia juga dulunya, dan tetap akan menjadi seorang ‘guru’. 

kepala sekolah abad 21 adalah seorang ‘lead learner’ (pemimpin para pembelajar)

Bukan jamannya lagi sebuah sekolah mendatangkan seseorang yang katanya pakar untuk membuat guru-gurunya lebih baik. Saya lebih setuju guru di ‘coaching’ oleh sesama  guru yang lebih pengalaman, kepala sekolah sendiri salah satunya. Karena saat ini setiap guru punya tanggung jawab yang sama dgn kepala sekolah kembangkan sekolah dalam nuansa kebersamaan.

Beberapa hal yang bisa dilakukan kepala sekolah sebagai coach bagi guru-guru yang menjadi bawahannya adalah;

  • menggunakan twiter dan mention  akun guru-gurunya jika ada artikel yang bagus di internet
  • membuat closed group di facebook yang isinya guru bisa berbagi tips yang berguna bagi pembelajaran
  • kepala sekolah secara rutin menulis di blog sehingga guru menjadi tahu apa kesibukan dan wacana apa yang sedang dipikirkan oleh kepala sekolahnya.
  • Semua kepala sekolah pasti bisa lakukan ‘coaching’ pada guru yang menjadi bawahanya yaitu dengan cara mencari, temukan dan asah potensi terbaiknya
  • Kalau seorang guru merasa bisa mengajar dengan baik di sekolah, itu karena kepala sekolah sudah memimpin dgn baik.
  • Kepala sekolah mesti punya keterampilan yang disebut sebagai ‘people skill’ sebuah keterampilan dimana sebagai atasan ia hilangkan egonya, untuk turun ke bawah mendampingi guru-gurunya dalam berubah kea rah lebih baik
  • Musuh utama nuansa kebersamaan di sekolah adalah ‘status quo’ sebuah situasi dimana tidak ada orang yang memberi contoh untuk mau berubah dan mendengar pada orang lain yang punya ide perubahan
  • Kepala sekolah punya peranan penting dalam mebuat guru mau berubah karena seorang guru yang keras kepala pun akan bersedia berubah jika yang meminta adalah kepala sekolah.
  • Prinsip coaching yang paling utama di sekolah adalah mendampingi guru untuk mau berubah demi pembelajaran yang lebih bermakna bagi siswa-siswinya di kelas
  • guru senang jika kepala sekolahnya sering katakan. “it is safe to try and safe to fail” dijamin semua guru jadi kreatif

Siswa menggunakan laptop di kelas sebagai bagian dari strategi guru kreatif

Guru mesti selalu berada di belakang siswa saat mereka menggunakan laptop, hal ini untuk memantau terus apa yang siswa buka di layar mereka saat pelajaran berlangsung.

Menggunakan laptop terbukti sangat membantu guru dalam membuat anak senang belajar. Maklum anak-anak jaman sekarang adalah individu yang menyenangi sekali teknologi informasi dalam segala bentuknya. Dengan menggunakan laptop guru menjadi orang yang sangat mengerti siswanya. Hal ini dikarenakan dengan cepat siswa menggunakan sampai-sampai jika tidak direncanakan guru akan kerepotan sendiri. Kerepotan yang saya maksud adalah bisa saja karena antusiasnya siswa jadi cepat selesai atau malah menjadi sangat tergantung pada bantuan gurunya karena program yang digunakan oleh guru, asing untuk mereka. Hal yang buruk lagi bisa terjadi adalah ketika siswa kita malah membuka situs yang tidak ada hubungannya dengan pembelajaran yang berlangsung.

Jika anda ingin menggunakan laptop sebagai bagian dari pembelajaran inilah caranya;

Lanjutkan membaca “Siswa menggunakan laptop di kelas sebagai bagian dari strategi guru kreatif”

Kegiatan Guru di Kota Ngabang 7 Februari 2010 Tema: MANAJEMEN PEMBELAJARAN INOVATIF ABAD 21

Guru yang hadir di kantor bupati Landak yang megah, dengan serius mendengarkan paparan mengenai manajemen pembelajaran yang inovatif
Permainan '6 thinking hats' dengan 6 peserta yang antusias
Salah seorang guru baru saja memaparkan pandangannya mengenai karakteristik siswa saat ini.

Abad 21 bukan lagi merupakan hal yang ada jauh di depan mata. Abad 21 adalah sebuah masa yang sekarang sedang kita jalani. Coba perhatikan di sekeliling kita, jika kita membaca dan menelisik perubahan apa saja yang terjadi di berbagai bidang maka akan kita dapati bahwa hampir semua bidang bergerak menyesuaikan diri dengan perubahan serta sikap yang dibutuhkan di abad 21. Tetapi sepertinya ada satu bidang yang kelihatan masih adem ayem dalam menyikapi dan memasuki abad 21. Bidang itu adalah bidang pendidikan. Sebuah bidang yang sejatinya menjadi katalisator atau motor penggerak perubahan di abad 21 malah kelihatan tidak berenergi dan dalam banyak hal masih terlihat seperti 10 atau 15 tahun lalu.

Lanjutkan membaca “Kegiatan Guru di Kota Ngabang 7 Februari 2010 Tema: MANAJEMEN PEMBELAJARAN INOVATIF ABAD 21”

Workshop Pembelajaran Abad 21 bagi guru yang akan berangkat ke Jepang bersama Lembaga Bina Antarbudaya

Atas undangan dari lembaga Bina Antarbudaya di awal bulan November saya hadir untuk berdiskusi bersama para guru yang akan diberangkatkan ke Jepang dalam program magang selama 2 minggu. Disana para guru yang telah lolos seleksi akan melihat sistem pembelajaran dan bagaimana guru-guru di Jepang bekerja dalam mengelola kelas dan membelajarkan siswa.

Lalu apa hubungannya dengan abad 21? Tidak bisa tidak, kita semua sekarang ada didalam gerbang dan kesempatan yang sama dengan guru-guru lain di penjuru dunia dalam menghadapai tantangan abad 21. Sebuah abad yang memerlukan energi dan kerja keras agar bisa bersaing dan bertahan. Pertanyaannya sekarang apakah di abad 21 guru harus serba bisa dan menguasai pengetahuan dan teknologi yang canggih. Jawabannya bisa iya atau tidak.

Berikut ini adalah resep agar guru bisa bekerja seirama dengan arus perubahan abad 21 dan mampu menjadi fasilitator bagi siswa-siswinya menghadapi tantangan jaman

Lanjutkan membaca “Workshop Pembelajaran Abad 21 bagi guru yang akan berangkat ke Jepang bersama Lembaga Bina Antarbudaya”