Model Pembelajaran ‘Problem Based Learning’ sebagai cara guru mengaktifkan siswa

Selama tiga hari saya ada di Bojonegoro untuk bertemu dengan guru dari SMP dan SMA 1 Kalitidu untuk berdiskusi dan belajar bersama mengenai pembelajaran berbasis masalah.

P_20161012_145223

P_20161011_161738

Guru yang hadir adalah guru yang berasal dari mata pelajaran IPA, PAI dan Olah raga. Di awal pelatihan, saya sebagai fasilitator meminta peserta melakukan permainan top of mind, sebuah permainan dimana seseorang diminta mengingat hal apa saja yang paling ia ingat ketika sesorang menyebutkan sebuah hal. Hal yang dimaksud bisa berupa benda, istilah atau nama tempat. Ketika fasilitator menyebutkan Problem Based Learning, peserta diminta untuk menyebutkan kata kata apa yang terlintas. Peserta kemudian menyebutkan kata-kata yang ada hubungannya dengan PBL adalah

Antara lain :
Solusi Masalah, Pendekatan ilmiah, tahapan, fase,  kontekstual, Belajar aktif,  RPP, identifikasi, Pemecahan masalah,  Hasil belajar,  penyelidikan, kontekstual, analisa dan motivasi belajar

Kata-kata diatas sangat penting dalam upaya membuat guru ingat dan dengan gampang menghubungkan dirinya dengan tahapan dalam pembelajara berbasis masalah.

Lanjutkan membaca “Model Pembelajaran ‘Problem Based Learning’ sebagai cara guru mengaktifkan siswa”

Iklan

Ragam pelatihan bagi guru kreatif

tegal

karawang

Guru abad 21 itu adalah sosok yang senang meningkatkan diri. Ia adalah sosok yang dengan tekun mendengarkan penjelasan nara sumber, bahkan jika yang dikatakan nara sumber sudah ia ketahui atau bersifat teoritis. Ia dengan otomatis membuka begitu saja pikirannya ketika ia tahu bahwa ada hal yang ada hubungannya dengan ‘passion’ nya sedang diperbincangkan atau dibahas. Apalagi jika bahasannya bisa langsung ia bisa terapkan di kelas dimana ia mengajar dan menginspirasi muridnya.

Guru abad 21 adalah guru yang anggap dirinya adalah seorang pembelajar, yang menganggap alam semesta ini sebagai kelas dan setiap orang yang ia temui adalah ‘guru’ dan setiap hari adalah hari yang menyenangkan untuk belajar kembali.
Rekan pendidik berikut ini adalah rangkaian event kependidikan hanya untuk anda.

Hubungi nama dan kontak yang tertera di flyer jika ternyata cocok dengan passion anda miliki

 

12784763_1236879086327007_1754971807_n

onno

Strategi pengelolaan dana kegiatan acara di sekolah.

IMG_9003

Sekolah punya banyak kegiatan dalam setahun ajaran. Dari perayaan sampai peringatan. Dari rapat sampai seminar. Kesemuanya perlu perencanaan dan pengawasan dalam penyelenggaraan dan penggunaan anggaran.

Dalam setahun ajaran sebuah sekolah yang efektif akan punya banyak acara. Saatnya sekolah melakukannya dengan efektif agar dana yang sekolah kelola tidak habis di tengah tahun ajaran.

Cara yang bisa dilakukan sekolah dalam melakukan perencanaan anggaran yang berkaitan dengan penyelenggaraan event adalah:

1. Membentuk komite IPA, IPS, Matematika, Bahasa dan Agama minta mereka bertemu sebelum bulan Februari tiap tahun ajaran untuk merencanakan acara di tahun ajaran depannya. Selain itu Komite juga memutuskan media pembelajaran apa yang akan dibeli. Acara yang bisa dilaksanakan misalnya perayaan agama, lomba atau event lain yang menyemarakkan sekolah.

2. Sekolah melakukan keputusan di bulan Mei, dalam menganalisa setiap rangkaian acara yang akan diadakan oleh tiap komite, disetujui atau tidak. Komite sudah memastikan di cawu berapa acara dilaksanakan.

BERSAMBUNG
Pembaca yang baik, artikel yang sedang anda baca ini termasuk ke dalam artikel mengenai pengelolaan sekolah, untuk membaca lengkap artikel ini silahkan menuju ke situs majulahsekolahku.com. Situs majulah sekolahku adalah situs yang menjadi jawaban dari hiruk pikuk dan dinamisnya dunia persekolahan dan pengelolaan sekolah menuju sekolah efektif. Selamat membaca.

4 Pertimbangan bagi sekolah dalam menentukan tema dan program pelatihan bagi guru-gurunya

IMG_9443

Kebutuhan akan pelatihan atau tambahan semangat bagi guru di sebuah sekolah biasanya datang saat awal pergantian tahun ajaran, di tengah tahun atau di pergantian cawu.
Tulisan ini akan membantu para pengelola sekolah dan yayasan atau kepala sekolah dalam merencanakan kebutuhan pelatihan bagi guru di sekolahnya.
Beberapa kesalahan yang biasa terjadi saat proses ini adalah
1. Sekolah asal menentukan tema tanpa perencanaan dan riset yang mendalam. Akibatnya guru kurang merasa terlibat atau memerlukan tema yang diberikan.
2. Sekolah asal mencari pembicara yang terkenal. Pembicara yang sering ada di TV atau di surat kabar mungkin bagus dalam soal wacana namun lemah dalam implementasi. Ia hanya tahu konsep tapi tidak tahu bagaimana cara penerapan dan belum pernah ‘berkeringat’ di kelas sebagai guru. Di lapangan guru perlu implementasi atau program yang aplikatif sehingga memudahkan pelaksanaan proses belajar mengajar yang ia lakukan.

BERSAMBUNG
Pembaca yang baik, artikel yang sedang anda baca ini termasuk ke dalam artikel mengenai pengelolaan sekolah, untuk membaca lengkap artikel ini silahkan menuju ke situs majulahsekolahku.com. Situs majulah sekolahku adalah situs yang menjadi jawaban dari hiruk pikuk dan dinamisnya dunia persekolahan dan pengelolaan sekolah menuju sekolah efektif. Selamat membaca.

Tiga sosok yang ada di dunia persekolahan

Listen, Learn, Lead

Tiga sosok yang ada di tulisan ini adalah sosok yang ada di dunia persekolahan kita. Silahkan berkomentar jika ternyata ada di sekolah anda.

Guru

Sibuknya hanya mengajar dan menghabiskan buku teks. Hidupnya tenang dan bahagia ketika buku teks mata pelajaran yang menjadi tanggung jawabnya selesai diajarkan dan selesai penuh halamannya dikerjakan oleh siswa nya. Pembelajaran kreatif? Itu sih baguus, buat orang lain dan bukan untuk saya, karena bikin capek dan belum tentu sebanding dengan gaji yang diterima. Di ruang guru sibuk bercanda, bicara mengenai hal yang tidak perlu dan mengeluh soa gaji dan kesejahteraan. Paling senewen lihat guru lain berkembang apalagi dapat tanggung jawab yang baru. Jika ada masalah senangnya cari dukungan dan bukan cari penyelesaian. Memandang orang lain karena lama atau sebentarnya masa kerja, ukuran hormat cuma pada senior dan meminta hormat dari junior. Paling senang membanding-bandingkan kesejahteraan yang didapatnya dengan orang lain dan selalu membandingkan sekolahnya sendiri dengan sekolah lain yang menurutnya lebih enak dan sejahtera serta ringan kerjanya.

Murid

Kehidupannya cuma dari tes satu ke tes yang lainnya. Tasnya berat dengan buku teks, lebih berat dari anak kuliahan bahkan. Pelajaran yang diterima selalu soal hapalan dan jangan harap ada pembelajaran kreatif karena gurunya lebih suka kelas yang diam dan muridnya mendengarkan saja sepanjang hari. Setelah pulang sekolah ada lagi les demi les yang mesti dijalani.

Lanjutkan membaca “Tiga sosok yang ada di dunia persekolahan”

Sekolah adalah komunitas pembelajar dan bukan komunitas pengejar nilai

Sebuah sekolah adalah sebuah komunitas, di dalamnya ada beragam kebutuhan dan beragam keinginan. Dalam pandangan tradisional sekolah adalah tempat siswa mencari nilai akademis dan tempat guru sebagai satu-satunya sumber pengetahuan memberi penilaian yang bentuknya angka. Dalam pengertian terbaru sekolah adalah lembaga tempat menyemaikan potensi baik akademis maupun hal lain yang sifatnya non akademis.

Dalam situasi dunia pendidikan swasta seperti sekarang ini dimana orang tua siswa sangat kritis, jika sekolah hanya memberi nilai sebagai satu-satunya cara menghargai anak didiknya, maka bersiaplah menjadi sekolah yang kering tanpa makna, sekolah yang miskin penghargaan pada muridnya karena semua dinilai secara angka. Siswa pun dihargai hanya karena nilai yang di dapatnya dan pencapaiannya dalam bidang lain jadi kurang dihargai  Tidak heran orang tua siswa akan berjuang sekeras dan semampu mereka agar anaknya bisa meraih angka yang sesuai KKM dan   ujung-ujungnya sekolah itu sendiri yang akan banjir complain karena mutu guru dan pelayanan yang dianggap kurang memenuhi syarat kepuasan pelanggan.

Ada cara dan jalan keluar untuk menghindari diri jadi sekolah yang berorientasi pada angka dan nilai.Berikut ini adalah caranya

  • guru diberi pelatihan agar punya cara dalam menilai siswa. Siswa bukan hanya dinilai dari kognitifnya saja namun juga dari afektif dan psikomotorik
  • membuat program yang menarik di sekolah. Program yang terdiri dari program akademis (misalnya; program bagi anak yang berbakat, program bantuan bagi anak yang kurang menguasai bidang tertentu dll) dan program non akademis (pengembangan minat olah raga dan seni budaya serta bidang lain yang membuat anak percaya diri dan meningkat kemampuan sosialnya)
  • orang tua siswa diberi masukan lewat rapat, pelatihan, seminar dan news letter sekolah mengenai bagaimana mempersiapkan apa yang terbaik untuk putra putrinya. Semacam acara yang memberikan pemahaman bagaimana mempersiapkan anak secara utuh. Diharapkan dengan cara ini sekolah bisa menyadarkan orang tua mengenai cara yang terbaik mengembangkan potensi anak didiknya dengan bantuan orang tua siswa sebagai partner.
  • Sekolah secara berkala mengadakan assembly, sebuah cara bagi sekolah untuk menyuguhkan kreasi dari siswanya kepada orang tua. Silahkan klik disini untuk mengetahui lebih lanjut mengenai assembly.

Perlu usaha yang konsisten dan terus menerus dari sekolah untuk menanamkan pengertian mengenai pentingnya orang tua siswa mengerti bahwa nilai memang penting namun yang lebih penting adalah motivasi dan perasaan ingin terus belajar dan selalu mencari tahu hal yang baru dalam kehidupan