Tips menjadi sekolah swasta yang dipercaya oleh orang tua siswa.

BrAwjKjCcAIA32XBpz6Po_CQAEM5qY

Setiap sekolah punya ‘penggemarnya’ sendiri-sendiri. Sekolah negeri digemari oleh tipe orang tua yang sangat senang memanfaatkan fasilitas negara (walaupun ia mampu) atau yang terpaksa mesti (karena keterbatasan dana) memanfaatkan sekolah gratis di sekolah negeri. Sementara sekolah swasta diminati oleh orang tua siswa yang merasa mampu menyekolahkan anaknya di sekolah yang meminta bayaran SPP yang lumayan atau sebaliknya diminati oleh ketidak inginan anaknya masuk ke sekolah negeri karena satu dan lain hal.

Tulisan ini akan membahas mengenai sekolah swasta yang SPP dan uang pangkalnya cukup lumayan. Tipe sekolah swasta ini uniknya diburu oleh orang tua siswa. Mendekati tahun ajaran kapasitas kelasnya cepat penuh dan diminati oleh para orang tua yang menginginkan mutu pendidikan terbaik bagi anaknya. Sementara ada sekolah swasta juga yang susah sekali mendapat murid walau sudah sibuk berpromosi lama sejak sebelum tahun ajaran baru dimulai. Padahal sarana fisiknya bagus, guru-gurunya senior dan pengalaman serta biayanya bersaing dengan sekolah lain.

Mengapa ada sekolah yang begitu banjir peminat? Ini sebabnya

  • Sekolah mampu menjaga kepercayaan orang tua siswa terutama dari aspek keuangan. Aspek keuangan adalah hal yang paling penting karena orang tua mengukur lari kemana uang pangkal atau uang SPP yang dibayarkan. Apakah kembali pada anaknya dalam bentuk pelayanan yang terbaik yang mengutamakan siswa atau berlalu begitu-begitu saja. Orang tua siswa akan mengukur seberapa sekolah sudah menjadi amanah dengan kemampuan analisa masing-masing. Jika sekolah gagal mencapai apa yang disebut analisa kasar terhadap seberapa yang dibayarkan dan yang kembali kepada siswa dalam bentuk pelayanan, maka sekolah mesti bersiap panen complain dari orang tua siswa. Indikator yang bisa dilihat adalah pelayanan fisik dan non fisik yang terus ditingkatkan. Sekolah memperbaharui fasilitas fisiknya di setiap libur sekolah dan mau mendengar jika ada masukan orang tua siswa secara langsung atau lewat lembaga yang sudah ditunjuk. Soal keuangan ini sangat sensitif karena banyak pemilik sekolah yang ingin segera cepat impas (break even point) dan ingin segera untung, padahal prinsipnya sederhana saja jika 10 tahun pertama sekolah itu amanah dan dapat dipercaya maka orang tua siswa akan berduyun-duyun datang menyekolahkan anaknya. Bahkan sekolah sampai harus menolak siswa.
  • Sekolah punya pengelolaan komunikasi yang baik kepada orang tua siswa. Sekolah tampil sebagai lembaga yang berwibawa. Ada lembaga dewan sekolah, ada lembaga persatuan orang tua murid dan guru, ada perwakilan komite setiap kelas yang siap menampung apa saja yang menjadi kepedulian orang tua siswa. Sekolah berkomunikasi dengan jalur-jalur resmi yang baik, jelas dan terukur secara online maupun offline, secara tertulis maupun secara lisan. Orang tua siswa tidak dibuat bingung karena garis komunikasi sekolah jelas dan menggunakan bahasa yang dipertimbangkan masak-masak sebelum disampaikan pada siswa. Sekolah yang bertipe seprti ini akan terhindar dari konflik yang tidak perlu. Konflik yang saya maksud adalah konflik orang tua yang vokal menyuarakan keluhan karena saat yang sama orang tua dididik untuk mau menyalurkan pendapatnya lewat organisasi resmi dan bersedia menerima apapun hal yang sudah menjadi keputusan, sepanjang keputusannya diputuskan lewat lembaga resmi yang dibentuk oleh sekolah.
  • Sekolah memanusiakan guru-gurunya. Banyak pemilik sekolah swasta yang berasal dari bidang bisnis lain yang kemudian tergerak hatinya untuk membuat sekolah. Para individu pemilik sekolah punya gaya masing-masing dalam mengelola sumber daya manusianya, ada yang semata menganggap guru-guru yang mengajar di sekolahnya sebagai buruh yang mesti bekerja secara fisik dan kasat mata. Tipe pemilik seperti ini biasanya tegas dan keras saat menghukum (bahkan dengan potongan gaji) bagi setiap kesalahan dan pada saat yang sama menginginkan guru bekerja keras dengan sempurna dan sebaik-baiknya. Ada juga tipe pemilik sekolah yang menganggap guru dan memanusiakannya sebagai mitra memajukan sekolah dan bukan sekedar alat pencari keuntungan. Nuansa pembinaan kepada guru pun bernuansa ‘coaching’ yang membesarkan potensi dan menghargai kesalahan sebagai upaya untuk belajar untuk bisa semakin baik di masa depan. Guru dilatih agar mampu bekerja dengan professional dan dihargai secara financial (tergantung kemampuan sekolah). Saat yang sama diberikan pengarahan jika lakukan kesalahan. Jika orang tua siswa merasa bahwa guru anaknya dimanusiakan maka ia akan senang hati menyekolahkan anaknya disitu dan bahkan merekomendasikannya pada orang lain (kerabat dan saudara)
  • Sekolah pandai mengatur penyelenggaraan aspek akademis dan non akademis selama satu tahun ajaran. Orang tua siswa akan berpikir ulang untuk menyekolahkan anaknya ditempat yang suasana pembelajarannya masih sama seperti ia sekolah dulu (banyak hapalan atau guru yang otoriter) atau bahkan sebaliknya sekolah akan begitu saja mengiyakan keinginan orang tua yang masih ‘kolot’ cara pandangnya, misalnya mengukur segala sesuatu dari nilai angka. Seperti yang sudah saya tulis di awal, saatnya sekolah percaya diri bahwa visi misi sekolahnya lah yang penting untuk direalisasikan dengan cara yang demokratis sekolah menampung juga saran serta ide agar dalam praktek mewujudkan visi misi, orang tua tetap merasa bahwa sekolah tempat menyekolahkan anaknya adalah sekolah yang mempersiapkan anak-anaknya untuk masa depan.

Jika semua faktor diatas sudah dilaksanakan oleh sebuah sekolah swasta dijamin sekolah tersebut akan lekat di benak orang tua siswa sebagai sekolah yang bagus mutunya dan dipercaya. Lupakan dulu anggaran promosi yang besar, orang tua siswa lebih suka mendengarkan rekomendasi antar orang tua siswa (dari mulut ke mulut) apalagi sekarang jaman media sosial, segala kebaikan dan keburukan sekolah anda akan menyebar dengan cepat dan dahsyat efeknya.

Jadi selamat menjadi sekolah yang mau belajar dan cepat beradaptasi terhadap kebutuhan orang tua siswa.

Program ‘Community Service (C&S) di Ananda Islamic School

 

Gambar

GambarP

Program Community Service merupakan salah satu program di Ananda Islamic School. Di kelas 7-10, siswa didorong untuk berpartisipasi dalam masyarakat, layanan atau masyarakat dan kegiatan berbasis layanan. Terserah kepada siswa untuk memilih dan merenungkan apa yang merupakan kegiatan C & S. Di kelas 9-10, siswa harus mampu menunjukkan inisiatif pribadi melalui pilihan mereka dan kegiatan C & S.

Setiap siswa diwajibkan untuk menyelesaikan tiga C & S lembar refleksi per tahun untuk portofolio C & S mereka, dengan setidaknya satu dari lembaran ini merefleksikan kegiatan pelayanan. Portofolio juga dapat berisi foto, jurnal, puisi, dll Di kelas 7, bimbingan guru dalam C & S adalah kuat, sedangkan dengan nilai 9-10, siswa mengambil lebih C & S tanggung jawab.

Sistem portofolio di Ananda Islamic School Secondary (SMP dan SMA)

IMG_2582 IMG_2580 IMG_2578 IMG_2579

Sebagai seorang pembelajar semua siswa di secondary diajarkan untuk menyusun dokumen pembelajarannya setiap 6 bulan sekali. Hal ini sangat penting dikarenakan pembelajaran yang dilakukan direncanakan dengan baik oleh para guru dan siswa dianggap sebagai mitra dalam pembelajaran.

Portfolio berguna sebagai sarana siswa merayakan keberhasilan pembelajaran. Karena isi dari portfolio ini siswa yang memilih berdasarkan pertanyaan dan umpan balik yang diberikan oleh semua guru yang mengajar. Misalnya ‘kegiatan mana yang paling kalian sukai’ atau ‘ jika kalian diminta mengulangi kegiatan belajar ini maka apa yang akan kalian lakukan untuk bisa hasilkan yang terbaik?’. Dengan demikian siswa belajar untuk bersikap reflektif dan belajar dari kesalahan

Sekolah adalah komunitas pembelajar dan bukan komunitas pengejar nilai

Sebuah sekolah adalah sebuah komunitas, di dalamnya ada beragam kebutuhan dan beragam keinginan. Dalam pandangan tradisional sekolah adalah tempat siswa mencari nilai akademis dan tempat guru sebagai satu-satunya sumber pengetahuan memberi penilaian yang bentuknya angka. Dalam pengertian terbaru sekolah adalah lembaga tempat menyemaikan potensi baik akademis maupun hal lain yang sifatnya non akademis.

Dalam situasi dunia pendidikan swasta seperti sekarang ini dimana orang tua siswa sangat kritis, jika sekolah hanya memberi nilai sebagai satu-satunya cara menghargai anak didiknya, maka bersiaplah menjadi sekolah yang kering tanpa makna, sekolah yang miskin penghargaan pada muridnya karena semua dinilai secara angka. Siswa pun dihargai hanya karena nilai yang di dapatnya dan pencapaiannya dalam bidang lain jadi kurang dihargai  Tidak heran orang tua siswa akan berjuang sekeras dan semampu mereka agar anaknya bisa meraih angka yang sesuai KKM dan   ujung-ujungnya sekolah itu sendiri yang akan banjir complain karena mutu guru dan pelayanan yang dianggap kurang memenuhi syarat kepuasan pelanggan.

Ada cara dan jalan keluar untuk menghindari diri jadi sekolah yang berorientasi pada angka dan nilai.Berikut ini adalah caranya

  • guru diberi pelatihan agar punya cara dalam menilai siswa. Siswa bukan hanya dinilai dari kognitifnya saja namun juga dari afektif dan psikomotorik
  • membuat program yang menarik di sekolah. Program yang terdiri dari program akademis (misalnya; program bagi anak yang berbakat, program bantuan bagi anak yang kurang menguasai bidang tertentu dll) dan program non akademis (pengembangan minat olah raga dan seni budaya serta bidang lain yang membuat anak percaya diri dan meningkat kemampuan sosialnya)
  • orang tua siswa diberi masukan lewat rapat, pelatihan, seminar dan news letter sekolah mengenai bagaimana mempersiapkan apa yang terbaik untuk putra putrinya. Semacam acara yang memberikan pemahaman bagaimana mempersiapkan anak secara utuh. Diharapkan dengan cara ini sekolah bisa menyadarkan orang tua mengenai cara yang terbaik mengembangkan potensi anak didiknya dengan bantuan orang tua siswa sebagai partner.
  • Sekolah secara berkala mengadakan assembly, sebuah cara bagi sekolah untuk menyuguhkan kreasi dari siswanya kepada orang tua. Silahkan klik disini untuk mengetahui lebih lanjut mengenai assembly.

Perlu usaha yang konsisten dan terus menerus dari sekolah untuk menanamkan pengertian mengenai pentingnya orang tua siswa mengerti bahwa nilai memang penting namun yang lebih penting adalah motivasi dan perasaan ingin terus belajar dan selalu mencari tahu hal yang baru dalam kehidupan

Refleksi hari guru 2013, mari terus belajar dan mengajar

Gambar

Seorang guru professional bekerja berdasarkan kata hati, uraian tugas (job description) dan etika. Ketiga hal itu yang hari demi hari seorang guru lakukan di sekolah sebagai pendidik, di ruang guru saat bertemu dan berbicara dengan sesama guru dan di dalam dan di luar sekolah saat bertemu dengan orang tua siswa. Profil guru saat ini kerap menjadi sorotan karena semua pihak hari ini pun masih membandingkan profil guru sekarang dengan profil guru di masa lalu. Di masa lalu seorang guru dikenal karena keikhlasannya dan kemauannya memberikan yang terbaik dalam hidupnya bagi siswanya. Jika dibandingkan dengan keadaan sekarang akan ada perbedaan sedikit banyak, apalagi jika disangkut pauntukan dengan kesejahteraan. Di hari guru saya coba merefleksikan beberapa hal lewat tweet @gurukreatif

Refleksi hubungan Guru dengan orang tua siswa

Orang tua siswa boleh saja tidak tahu cara mengajar, namun orang biasa pun tahu mana kelas yang ‘hidup’ mana yang tidak

Pernyataan ini untuk mengingatkan diri saya dan rekan guru sekalian bahwa menganggap orang tua siswa tidak tahu apa-apa hanya akan menambah masalah baru disekolah. Serap saja keinginannya dan aplikasikan sejauh sekolah bisa dan mampu.

Refleksi cara guru bersikap dan memandang dirinya sendiri

Guru belajar terus agar bagus cara mengajarnya serta profesional dalam bersikap, rejekinya datang dari banyak ‘pintu’

Hal ini sangat benar sekali, jika himpitan ekonomi menghampiri segeralah ingat bahwa yang kita lakukan sebagai guru sangat mempunyai keistemewaan karena memberikan ilmu pada orang lain. Mudan-mudahan kesabaran dan keikhlasan akan berbuah manis

2 tipe guru yang diingat siswa, guru yang cara mengajarnya buat mereka mengerti dan guru yang bisa jadi teman bicara

Tidak mudah menjadi guru yang bisa menjadi teman bicara, ia mesti jadi pendengar yang baik dan senang belajar bahkan dari muridnya sendiri. Guru akan diingat karena kemauannya belajar dan meningkatkan diri, bukankah hal itu yang diinginkan oleh dirinya sebagai guru pada muridnya.

murid curhat soal cara mengajar guru lain, dengarkan saja, bukan kapasitas kita untuk menilai cara mengajar sesama guru

Guru sering tergoda untuk mengomentari guru lain, padahal jika ada orang yang menceritakan soal cara mengajar guru lain, cukup dengarkan. Guru bisa menginspirasi guru lainnya hanya dengan contoh nyata dan bukan dengan cibiran atau kritikan.

Cara sukses hadapi akreditasi sekolah

Akreditasi SDS Islam Ananda ?????????????????????? ?????????????????????? ?????????????????????? ?????????????????????? Foto-foto yang diambil saat akreditasi Sekolah Dasar Islam Ananda. 
Thanks to @Toni_amrizal

Bagi setiap guru kata ‘akreditasi’ membuat kening berkerut dan hati berdebar-debar. Tidak heran karena kata akreditasi mengacu pada pekerjaan administrasi yang bertumpuk dan penyiapannya sedari jauh hari. Padahal sejatinya akreditasi dengan segala prosesnya hadir untuk membuat sekolah makin maju kearena akreditasi sekolah punya serangkaian criteria dan syarat yang mesti dipenuhi

Dari blog bapak Akhmad Sudrajat saya mendapatkan pengertian dan tahap akreditasi sebagai berikut..

Akreditasi sekolah kegiatan penilaian yang dilakukan oleh pemerintah dan/atau lembaga mandiri yang berwenang. untuk menentukan kelayakan program dan/atau satuan pendidikan pada jalur pendidikan formal dan non-formal pada setiap jenjang dan jenis pendidikan., berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan, sebagai bentuk akuntabilitas publik  yang dilakukan dilakukan secara obyektif, adil, transparan, dan komprehensif dengan menggunakan instrumen dan kriteria yang mengacu kepada Standar Nasional Pendidikan

Bagi sekolah yang akan diakreditasi ada bagusnya juga untuk jauh-jauh hari bersiap dan mengumpulkan semua bahan yang kemudian akan diteliti dan dilihat oleh tim asesor. Berikut ini adalah daftar hal apa saja yang mesti disiapkan

Persiapan akreditasi

Dari sisi waktu

  • Mesti siap dengan panggilan atau pemberitahuan dari dinas atau jadwal yang berubah
  • Lembur bagi guru yang akan mengerjakan
  • Meluangkan waktu supaya guru rapat dan mengerjakan tugas pengumpulan data

Dari sisi tenaga guru dan kepala sekolah yang menyiapkan

  • Dibagi dalam focus grup, satu grup satu standar penilaian
  • Disamakan dulu pengertiannya mengenai KTSP berdasarkan standar kurikulum nasional
  •  Info terbaru mesti terus digali oleh kepala sekolah dengan cara melakukan kontak yang intensif dengan pengawas
  •  Administrasi kepala sekolah

Dari sisi sekolah

  •  Membuat banner visi misi yang terlihat
  • Printer yang ada di sekolah mesti juga disiapkan yang baik agar maksimal dalam membantu guru mencetak bukti dokumen.
  • Serta alat tulis kantor untuk keperluan penjilidan dan penulisan
  • Ada kalanya dalam persiapannya guru mesti lembur saatnya sekolah menunjukkan dukungan dengan menyediakan keperluan makan dan minum untuk keperluan lembur.
  • Mempersiapkan SK bagi tenaga kepustakaan
  • Menyiapkan papan data guru/kegiatan inventaris/grafik perkembangan dll
  • Foto presiden dan wakilnya serta lambang Negara
  • Bendera merah putih

Dari sisi persiapan pada orang tua siswa

  •  Lakukan sosialisasi visi misi
  •   Libatkan komite dalam persiapan akreditasi
  • Daftar hadir orang tua siswa ketika menghadiri rapat
  • Dokumen apa saja yang perlu disiapkan (di scan jika diperlukan)
  • Buku induk
  •  Buku klapper
  • Buku pembinaan kurikulum
  • Notulen rapat
  •  Daftar hadir rapat yang ada tanda tangan peserta rapat
  • SK guru dan karyawan
  • Kegiatan ekstra kurikuler
  • RPP prota dan prosem yang sudah ditanda tangani oleh kepala sekolah
  • Penilaian
  • Data supervisi kepala sekolah
  • Catatan surat masuk dan keluar
  • Buku tamu dinas
  • Berita acara setiap kegiatan
  • Surat tugas untuk setiap kegiatan misalnya mengirim guru untuk seminar workshop dll
  • Surat dari dinas setempat bahwa sekolah telah melaksanakan kurikulum KTSP
  • Notulen rapat penentuan KKM
  • MOU kerja sama dengan lembaga lain
  •  EDS (evaluasi diri sekolah)
  • Ijasah semua guru (foto kopi)
  • SK pembentukan komisi akreditasi
  • Kelengkapan data siswa
  • Prestasi guru
  • Data dan  foto Extra kurikuler yang dilengkapi dengan foto dan narasi kegiatan
  • Portfolio siswa (online dan offline) digital atau berupa bukti fisik
  • Karya siswa yang perlu didokumentasikan
  • Mempersiapkan foto
  • Kegiatan akademis dan non akademis
  • Setiap arsip foto diberikan nama dan kegiatan yang jelas, minimal pada folder
  • Sarana dan prasarana

Koordinasi sangatlah penting dari pihak kepala sekolah mengenai arsip apa saja yang diperlukan dalam akreditasi. Misalnya foto dipusatkan kedalam satu folder khusus di server jika sekolah anda sudah mempunyai atau ada seseorang yang ditunjuk untuk urusan foto selama satu tahun ajaran. Dengan demikian gampang mencarinya.

Sebenarnya akreditasi ini adalah ukuran sejauh mana setiap guru merasa punya loyalitas pada sekolah tempat ia mengajar. Karena dalam prosesnya gurulah yang mempersiapkan segalanya. Karena mustahil kepala sekolah mempersiapkannya sendiri. Tentunya rasa loyalitas ini hadir karena pembinaan yang baik juga dari sekolah sebagai pengayom para guru. Akreditasi yang sukses dalam prosesnya tentu akan berdampak yang baik pada hasilnya.

Di sekolah yang efektif ‘gedung dan bangunan (prasarana fisik)’ sama pentingnya dengan ‘kurikulum dan program’

Sekolah bukan sekedar bangunan fisik tapi adalah hubungan interaksi antar warganya demi wujudkan pendidikan yang berkualitas.

‘Gedung milik sendiri dan permanen’ adalah bahasa yang sering digunakan oleh pengelola sekolah dalam memasarkan sekolahnya. Kata-kata tadi tercetak di brosur, spanduk dan materi promosi lain yang bertujuan untuk menarik minat calon orang tua murid. Tidak heran karena banyak orang tua siswa calon orang tua murid yang jadikan gedung dan fasilitas sebagai ukuran. Maklum kalau bisa orang tua ingin anaknya bersekolah di sekolah yang gedung dan fasilitasnya memadai.

Sebagai ukuran pertama, sebuah sekolah akan dilihat dan dipercaya  jika gedung dan fasilitasnya kelihatan permanen dan nyaman. Layaknya konsumen, calon orang tua murid juga gunakan penilaian-penilaian saat memilih sekolah untuk buah hatinya, dan biasanya memang yang dijadikan penilaian pertama adalah bentuk fisik dan fasilitas sekolah.

Nah saat memilih sekolah untuk anaknya, calon orang tua siswa biasanya akan langsung berpikir bahwa sekolah yang gedungnya bagus, program-progam dan kurikulumnya pasti bagus. Padahal belum tentu. Maklum orang tua siswa terkadang masih berpikir secara awam dan lurus-lurus saja.

Dalam prakteknya pada beberapa kasus banyak pengelola sekolah yang memulai dengan keinginan kuat membawa sekolahnya ke dalam tujuan pendidikan tertentu lewat program-program. Kemudian program-programnya itu yang menuntun mereka dalam  melengkapi sarana dan prasarana fisik. Green school yang ada di Bali misalnya, sekolah tersebut adalah sekolah internasional yang sadar betul bahwa anak sejak dini mesti dikenalkan oleh pentingnya manjaga dan mencintai lingkungan. Sekolah tersebut bagaikan menyindir sekolah-sekolah yang mengatakan dirinya mencintai lingkungan namun sambil belajar di ruang AC dan anak-anak yang menjadi murid jarang terkena cahaya matahari. Sekolah alam yang sekarang banyak dibuka oleh individu yang peduli lingkungan juga bisa dijadikan contoh, betapa konsep dan program bisa menuntun pengelola dalam melengkapi sarana dan prasarana.

Gambar

Gambar

sumber: http://didikanantha.blogspot.com/2011/02/green-school-bali.html

Pengelola sekolah perlu mengetahui dengan pasti kemana arah ia membawa lembaga pendidikannya. Saya tidak mengatakan bahwa semua sekolah mesti jadi sekolah alam, namun minimal konsentrasi antara membangun software dan hardware dalam sebuah sekolah bisa terbagi secara adil.

Secara singkat yang saya maksud hardware (perangkat keras) dari sebuah sekolah antara lain;

  1. Gedung  dan ruang kelas yang ada karya dan pekerjaan anak-anak beserta furniture  yang selalu dirawat dan memenuhi standar
  2. Buku teks dan alat serta sumber belajar bagi guru
  3. Resepsionis tempat menerima tamu untuk kepentingan sekolah
  4. Toilet yang pantas nyaman dan bersih
  5. Ruang laboratorium (sains dan lain sebagainya)
  6. Ruang perpusatakaan beserta isinya
  7. Ruang guru yang aman, nyaman dan bersih
  8. Tempat menunggu bagi orang tua
  9. Sarana olah raga

Sementara software (perangkat lunak) dari sebuah sekolah yang efektif adalah

1. Guru yang profesional (yang diseleksi lewat seleksi yang baik dan pelatihan yang terus menerus) yang punya kemampuan dalam

  • Mengelola kelas dengan baik dan menomor satukan siswa dalam pembelajaran
  • Punya standar terhadap kualitas pekerjaannya
  • Punya kemampuan mengelola kurikulum
  • Ramah dan sopan terhadap orang tua siswa, bisa membawa diri dan senang belajar hal yang baru serta berpikiran terbuka

2. Program sekolah yang ditata dan direncanakan dengan baik yang meliputi:

  • Program bagi siswa baru
  • Program bagi siswa yang memerlukan bantuan akademis
  • Program event olahraga, seni, keagamaan dan program lain yang menyeimbangkan potensi siswa dari sisi akademis dan karakter
  • Program yang mengikutsertakan siswa dalam kehidupan masyarakat (community service)
  • Program ekstra kurikuler yang bermakna dan dijalankan oleh guru dari dalam dan luar sekolah.
  • Program konseling bagi siswa
  • Serta banyak sekali program yang bias dihasilkan oleh guru yang kompak dan kreatif.

3. Kurikulum

  • jelas mengacu pada kurikulum nasional atau mencampurnya dengan kurikulum negara lain atau menggunakan kerangka kerja dari badan tertentu di luar negeri
  • jelas dalam  pemilahan dan dibangun dan dikembangkan oleh guru-guru dari dalam sekolah sendiri
  • jelas strukturnya dan standarnya

Silahkan anda membandingkan antar keduanya. Jelas sekali perbedaanya. Jika kemampuan sekolah dalam membangun fisik (bangunan dan lain sebagainya) disesuaikan dengan program. Maka sekolah akan lebih tepat sasaran dan terasa sekali suasana yang dinamis, karena bahkan saat sebuah bangunan baru akan dimulai pengerjaannya segenap komunitas sekolah sudah tahu untuk apa sarana fisik tersebut dan apa urgensinya dibangun sarana tersebut.

Namun sebaliknya jika semata sekolah mengejar dan menargetkan fisik sekolah tanpa pernah melirik program, maka bersiaplah sekolah akan mengalami gonta ganti guru, orang tua siswa yang mengeluh terus dari satu masalah ke masalah lainnya. Bahkan bisa saja terjadi sarana fisik sudah rusak duluan sebelum terpakai.  Serta sederet masalah lain karena fisik sekolah ‘berlari kencang’ meninggalkan program sekolah di belakang.

Sebagai kesimpulan dari tulisan ini, baik program dan pengadaan sarana fisik sekolah keduanya memerlukan biaya. Namun selalu ada jalan untuk memaksimalkan pengeluaran dan membuat orang tua siswa semakin percaya. Caranya dengan selalu menempatkan programsekolah dan  prasarana fisik sekolah sama pentingnya. Karena prasarana fisik mungkin tidak akan ada habisnya jika terus dikerjakan, dan saat yang sama orang tua siswa mengukur dan mengerti sekali bahwa sekolah yang bagus ada karena program-program dan inovasinya dalam menghadapi tantangan zaman.