13 perubahan yang layak dilakukan di sekolah

cpyk3t4usaqlnfs

cc8uv3rw8aesrpb

Perubahan di sekolah termasuk hal yang cukup sulit untuk dilakukan. Kebanyakan orang ingin ada di dunia pendidikan dikarenakan jam kerja yang fleksibel dan beban pekerjaan yang dipandang ringan. Padahal dengan tantangan pendidikan saat ini, hal tadi justru akan membuat dunia pendidikan jalan di tempat.

Perubahan yang dipandang menantang untuk dilakukan di sekolah adalah perubahan menuju kepada:

Baca lebih lanjut

3 penyebab pendidik merasa sulit menulis di blog

Ikatlah makna dengan menulis. Begitu kata para motivator bidang menulis bilang. Sebagai praktisi pendidikan mari kita bicara hal yang praktis dalam kaitannya dengan manfaat menulis. Menulis sebenarnya kegiatan yang biasa saja. Saat menulis RPP itu juga  bisa digolongkan kegiatan ‘menulis’. Atau saat guru lakukan ‘copas’ RPP pun sebenarnya ia sedang meramu tulisan.

Nah mengapa tidak sekalian saja menulis dijadikan kebiasaan. Dikarenakan besarnya manfaat dalam menulis bagi praktisi pendidikan. Tulisan ini akan membahas mudahnya menyebar ide dan insipirasi kepada sesama pendidik melalui blog. Menulis di blog bisa membuat seseorang menjadi guru, murid dan mentor saat bersamaan. Sebelumnya mari mendiskusikan dahulu cara menjadikan menulis sebagai kebiasaan dengan tips dari saya sebagai berikut:

1. Menulislah singkat singkat saja. Saya terinspirasi betul dengan Seth Godin yang tiap hari menulis diblognya dengan singkat namun padat pengetahuan dan intisari pengalaman.

B6sL-IlCIAARCme
Seth Godin

2. Jika sudah terbiasa menulis maka akan merasa kurang jika belum menutup hari dengan menulis.
3. Menuliskah dimana saja dan dengan alat apa saja. Saat saya menulis tulisan ini saya gunakan fasilitas notes di smart phone saya, sambil menikmati perjalanan berangkat kerja dengan komuter di pagi hari. Jadi tidak mesti menunggu berhadapan dengan laptop atau komputer baru menulis.

photo

Jika demikian mengapa bagi sebagian pendidik menulis di blog itu menjadi hal yang memberatkan, padahal dengan terampil dan menarik mereka menulis status di update media sosial mereka dengan tulisan menyentuh dan menggugah semangat? hal-hal berikut ini adalah bisa menjadi kemungkinan jawabannya

  1. menulis di blog perlu waktu lama untuk bisa dikenal publik atau bahkan bisa ‘tercium’ oleh mesin pencari google. Tidak ada instant gratification seperti kita menulis di facebook yang dalam waktu sekejap bisa dapatkan ‘jempol’ atau likes
  2. menulis di blog dianggap perlu punya latar belakang teori padahal tidak selalu. Blog lebih bernuansa ‘diary’ atau refleksi pengalaman.
  3. menulis blog dianggap seperti menulis makalah ilmiah yang membuat pendidik merasa mesti tampil ‘sempurna’. Jika pendidik itu kemudian berhasil menulis biasanya kemudian blognya menjadi lama diisi kembali dikarenakan energinya habis dan menjadi kehilangan selera untuk mengisinya kembali. Lebih baik menulis singkat. padat dan jelas daripada sekali menulis sempurna lalu setelah itu hilang.

Bayangkan jika semua pendidik berkenan berbagi pengalamannya lewat tulisan, singkat dan bersemangat, dijamin pendidikan Indonesia menjadi maju dan berkembang dalam waktu yang cepat. Hal ini dikarenakan cerita dari ‘lapangan’ bisa dibagi dan dibaca dan dijadikan inspirasi oleh si pembaca untuk diterapkan di sekolahnya masing-masing.

2 manfaat luar biasa guru dan kepala sekolah berbagi pengetahuan melalui kegiatan menulis

CLV1k_nWgAA6SOm

Banyak praktisi pendidikan yang pandai, cerdas dan cekatan yang menulis. Kebanyakan dari mereka menulis di status updates mereka di akun facebook miliknya atau akun organisasi guru yang mereka ikuti. Beberapa kemudian terlibat debat, saling mengomentari atau ikut larut dalam status yang dibuat orang lain. Luar biasa energi yang terpakai, karena saya pun pernah mengalami. Sayangnya segala butiran pengetahuan yang tertulis terhalang oleh peraturan facebook sehingga tidak bisa terindeks mesin pencari google. Sehingga segala perdebatan kelas tinggi di laman facebook kita tidak bisa dibaca langsung dengan cepat oleh orang lain.

Saatnya meninjau manfaat menulis bagi para praktisi pendidikan, guru dan kepala sekolah serta siapapun yang peduli pendidikan.

1. Dengan menulis guru/kepala sekolah tak akan pernah kehabisan ‘insight’ sebab rumus menulis bagi praktisi pendidikan adalah:

– ia menuliskan pengalamannya dan apa yang ia sudah lakukan atau refleksi masalah yang ia hadapi
– ia menuliskan apa yang ia rasakan sebagai masalah dalam pekerjaannya
– ia kemudian mencari tahu mengenai bagaimana solusi, lewat riset sederhana di internet dan hasil diskusi dengan orang sekitar.
– ia mengakhiri tulisannya dengan solusi dan ajakan bagi yang membaca untuk bisa terhindar dari masalah yang ia alami atau sekaligus ajakan untuk kembali bersemangat menapaki dunia pendidikan.

2. Dengan menulis dan membiasakan menulis (dengan singkat, padat  dan jelas yang mencerminkan refleksi) seorang pendidik akan jadi sosok yang bertumbuh dan belajar merefleksikan diri dari pengalamannya berkecimpung dalam dunia pendidikan. Ia akan jadi sosok yang berorientasi action dan terhindar dari kebiasaan menunda-nunda karena ia sadar bahwa keberhasilan yang besar berawal dari keberhasilan yang kecil-kecil.

Bayangkan jika hal ini bisa terjadi dan dilakukan oleh para pendidik kita. Dengan kecanggihan media sosial saat ini sekali seorang pendidik memposting tulisan di blog misalnya maka ia bisa otomatis juga hadirkan postingannya di facebook, twitter, instagram dan akun Linkedin miliknya. Semua serba gampang cepat dan tulisannya langsung ‘menggaung’di secara cepat di dunia  online. Secepat kilat sesama guru bisa membaca dan mengambil manfaatnya. Tulisan yang sudah ditulis itupun akan menempel lama di internet dan bisa diakses kapan saja dimana saja oleh mereka yang punya minat terhadap pendidikan. Saya yakin jika pendidik sadar betul nuansa saling berbagi ini makin semangatlah mereka berbagi.

Guru profesional adalah sosok yang pandai berkolaborasi

Menarik sekali jika kita kaitkan makna kerjasama dengan profesi guru. Dari dulu guru hanya diminta sibuk di kelas. Urusannya cuma 4 tembok yg ada di kelasnya. Alias konsen ke hal yang itu-itu saja. Padahal dalam perkembangan terkini di dunia pendidikan ada istilah kerja sama, kolaborasi dan team work.

Mengapa kolaborasi atau kerjasama di sekolah menjadi sangat penting.

Pertama setiap murid kita sekarang akan jadi murid seseorang nantinya. Kedua. Tidak ada guru yang tidak perlu bantuan, bahkan guru yg sudah lama mengajar. Bahkan yang sudah lama mengajar makin lama malah makin jadi tukang perintah ini dan itu. Ketiga. Di sekolah guru bisa merasa bosan lelah bila ia tidak punya teman dekat atau relasi yang baik. Nah itu berarti memang pada dasarnya guru mesti bekerja sama. Jadi kata kolaborasi memang sangat mutlak jika sekolah mau menjadi besar.

Jadi jelas bahwa memang kolaborasi atau kerja sama itu jadi keterampilan abad 21 yg sayangnya tidak semua guru bisa dan sadar.

Dibawah ini adalah prinsip kolaborasi.

1. Seorang guru mesti punya ‘mentor’ nah sekolah yang sehat menempatkan seseorang untuk bisa jadi mentor bagi yg lain.

2. Keluar dari zona nyaman. Seorang guru pada dasarnya sadar mesti keluar dari zona nyaman. Sayangnya ia jadi tumpul ketika ia tahu mesti meminta tolong pada sesama guru.

3. Senang dan percaya diri saat lontarkan ide. Baik saat diskusi dan rapat. Seorang guru yang profesional adalah guru yang senang mencoba hal baru sendirian atau secara bersama -sama.

4. Sekolah mesti punya pekerjaan yang menantang atau pekerjaan internal yang memerlukan kerja sama semua pihak. Baik dalam skala kecil dan besar. Banyak sekolah malas dengan ‘drama’ yang timbul tiap sebuah event diselenggarakan. Jadinya cenderung tunjuk itu ke itu saja orangnya. Hal ini wajar karena sekolah lalai membiasakan guru gurunya bekerja sama. Padahal makin sering kerja sama dilakukan baik dalam skala kecil dan besar maka guru makin mahir menempatkan diri.

5. Jika sekolah mau berinovasi jangan harap kepsek kerja sendiri, dikarenakan inovasi kaitannya dengan kolaborasi. Bayangkan tingkat keberhasilannya adalah 81% menurut penelitian.

6. Wajar jika kolaborasi timbulkan konflik, sekolah melalui manajemennya mesti siap jadi penengah, saat yg sama sekolah melalui para pemimpinnya mesti beri kepercayaan ‘its ok to be wrong’ or ‘fail’ atau dengan katakan ‘semua pendapat dihargai’ jadinya staff merasa tentram dalam utarakan pendapat, saat yang sama sekolah fasilitasi dengan sarana hingga guru gampang tukar ide antar departemen

Semoga dengan beberapa prinsip diatas menjadikan anda sebagai pendidik siap berkolaborasi dan tahan banting saat ada ‘drama’ yang timbul di perjalanan. Fokus saja pada tujuan akhir dan selalu bersemangat coba hal yang baru.

Panduan bagi guru baru: Apa yang kepala sekolah inginkan dari guru baru?

Sebagai guru dan karyawan baru, penting kiranya untuk tahu betul apa keinginan kepala sekolahnya. Secara umum ini yang kepala sekolah inginkan dari guru baru.

1. Aktif saat rapat dan datang rapat tepat waktu

2. Bersedia membantu setiap ada event sekolah

3. Hormat pada guru senior sewajarnya.

4. Datang tepat waktu

5. Tidak untung rugi saat diminta kerjakan pekerjaan di sekolah

6. Tertib administrasi

7. Tepat waktu jika diminta mengumpulkan ini dan itu demi keperluan dinas

8. Mau berkomunikasi jika ada masalah di lapangan

9. Selektif saat berakrab akrab dengan sesama guru

10. Bersikap profesional kepada orang tua

11. Berpakaian rapih

12. Bersikap sewajarnya pada anak didik

Dua belas hal diatas sangat baik untuk dilakukan sebagai guru baru. Saatnya guru baru sukses ditahun tahun pertamanya sebagai pendidik!

4 cara menuju Kelas yang kondusif

B7tkCn9CQAAYLa0

Hampir semua guru mengatakan bahwa kelas yang kondusif erat kaitannya dengan masalah motivasi. Ini sesuai dengan penemuan saya terhadap banyak sekali perbincangan mengenai bagaimana meningkatkan motivasi siswa di kelas ketika sebuah kelas ingin menjadi kreatif dan inovatif.

Mari keluar dari ‘kotak’ dan kembali ‘ke dalam’ adakah hal lain yang berperan dalam menciptakan kelas yang kondusif.

Beberapa hal yang menyebabkan kelas menjadi tidak kondusif

  1. Kendali ada pada guru semata, siswa jarang diberikan pilihan dan kebebasan untuk ‘bersuara’
  2. Kelas banyak aturan dan kebanyakan berasal dari guru. Guru sering kirimkan pesan kepada siswanya, “ini kelas saya dan kamu mesti nurut sama saya!”
  3. Yang siswa ingat dari kelas yang ditempatinya adalah ‘hukuman’, dan bukan ‘support’. Guru semangatnya adalah ‘menangkap basah’ saat siswa berbuat salah dan bukan bagaimana memberikan dukungan saat siswa memerlukan
  4. Siswa merasa dirinya biasa saja saat di kelas, ia merasa gurunya tidak mengenalinya dengan baik dan guru pun tidak ada usaha agar lebih dekat dengan siswa.

CO5SS-JWUAAMxbX

Jika guru mau ia sebenarnya bisa membuat kelasnya menjadi kelas yang kondusif, caranya

  1. Buat kesepakatan dan bukan peraturan, jumlahnya pun 5 saja
  2. Utamakan dukungan terlebih dahulu kepada siswa baru nuansa ‘hukuman’
  3. Kenali siswa dengan segala cara, anda punya waktu setahun untuk bisa kenali siswa anda, perlakukan siswa anda sebagai orang yang berbeda dari siswa yang lainnya.
  4. Biasakan ada sesi brainstorming untuk minta ide dari siswa mengenai cara anda mengajar, biasanya guru lakukan ini di akhir tahun ajaran padahal waktu tersebut sudah terlambat.

Inti dari tulisan ini adalah bagaimana sebuah kelas saling mendukung dan mengutamakan proses yang baik saat kelas berlangsung. Guru hadir sebagai sosok yang mengutamakan siswanya dahulu baru konten pembelajarannya.

Pembelajaran Seumur Hidup

safe_image
#KOMPASkariersabtu, 12 Maret 2016,
Eileen Rachman & Emilia Jakob
EXPERD
CHARACTER BUILDING ASSESSMENT & TRAINING
Seorang pimpinan perusahaan begitu bangga dengan tim IT nya dan menganggap bahwa kemampuan teknologi informasi perusahaannya sudah sangat canggih dan mumpuni. Namun dalam suatu seminar, pimpinan ini terkejut, karena ternyata banyak perusahaan lain mempunyai kekuatan IT yang sama, bahkan lebih canggih. Ketika meninjau kembali manajemennya, ia baru menyadari bahwa tim IT yang merasa sudah canggih ini, ternyata tidak mempelajari sistem baru dan tidak memperbaharui pengetahuannya. Beberapa bahasa bahkan masih menggunakan versi lama. Bisakah kita bertahan bekerja dengan pengetahuan yang diperoleh lebih dari 10 tahun lalu ini? Mungkin untuk beberapa sistem yang memang sangat statis, pengetahuan ‘old school’ ini masih bisa digunakan. Tetapi menjawab tantangan dan tuntutan pasar yang semakin besar, kompleks dan tak jelas, pastinya membutuhkan pengetahuan yang paling mutakhir. Bisakah kita menjaga keingintahuan, semangat belajar, pembaruan kompetensi di lingkungan perusahaan kita, sementara kita juga perlu mengejar target dan tetap berproduksi?
Di Google, 20 % dari kegiatan perusahaan dipergunakan untuk merancang prototip baik untuk produk baru, pembenahan interior ruang atau bahkan untuk mendesain kursi taman kantor baru. Menurut Larry Page, founder Google, “Yang penting ada unsur kotak katik dalam benak karyawan, tidak hanya desain, tetapi juga mencakup implementasi, aplikasi, dan terealisasikan secara fisik”. Kegiatan ini diperlukan untuk membuat aktivitas berfikir karyawan selalu berada dalam keadaan siaga. Tidak bisa kita menganut faham penyebaran benih, ”Let a thousand flowers bloom, and we’ll see what happens” lagi. Saat ini kita selalu perlu berfikir dengan berbagai fokus, serta memperbaharui proses yang sedang berjalan. Bahkan sebenarnya kita perlu menjaga ‘sikap oposisi’ terhadap produk yang tadinya adalah ide cemerlang kita. Tuntutan belajar dalam organisasi sudah bukan main-main. Bila tidak dijaga dan dipasarkan dengan baik di internal, maka kita akan menemukan karyawan yang meskipun masih muda, tetapi berpandangan ‘jadul’, keras kepala, dan tidak percaya pada perubahan, merasa tidak bisa dan tidak mau mempelajari sesuatu dalam proses bekerjanya. Bahkan dalam organisasi yang secara teratur mengirimkan karyawannya ke luar negeri untuk meraih gelar S2 bahkan S3 pun, gejala kealotan pemikiran ini bisa tetap terjadi.
Belajar informal
Apakah pembelajaran memang sudah berganti rupa? Masih bisakah kita menyuntikkan kegiatan belajar dengan cara konvensional? Matthias Malessa, Chief Human Resources Officer Adidas, merasa pembelajaran di dalam kelas sudah tidak lagi berdampak signifikan. Ia mencari cara, bagaimana pembelajaran dapat menjadi “light, desirable, dan fun.” Matthias percaya, bahwa mengalami sendiri, melakukan kesalahan, adalah cara pembelajaran yang paling efektif. Mereka percaya bahwa 80% pembelajaran terjadi secara informal. “Corporate University’ terasa menjadi tempat belajar yang sempit untuk mengakomodir karyawan yang ingin belajar dengan santai. Itulah sebabnya Adidas, mencari cara agar belajar bisa terjadi sepanjang hari, 24/7. Bahan pembelajaran diperluas menjadi bacaan koran, video, internet, quiz-quiz, termasuk ‘sharing’ untuk mengakses sumber sumber eksternal seperti TED, You tube, blog-blog. Mereka mengikuti prinsip : MOOC’s (Massive Open Online Courses). Para karyawan yang dibesarkan oleh You Tube, Pinterest dan Instagram ini perlu dirangsang pembelajarannya melalui media media ini pula. Agenda pembelajaran menjadi agenda setiap orang dalam organisasi, tidak terkecuali para pemimpin. Pemimpinlah yang menjadi komandan dan provokator pembelajaran. Hal ini juga dilakukan oleh sebuah perusahaan kosmetik lokal di negara kita, di mana pemilik, suami-istri, anak-mantu, semua percaya bahwa belajar bisa di mana saja, kapan saja, dari siapa saja, dan dengan media apa saja. Organisasi perlu mencari cara pembelajaran yang ‘self driven’ dan ‘sexy’ bagi karyawannya, menjadikan inovasi sebagai ‘way of thinking’ sehari-hari di lingkungan pekerjaannya. Pemimpin yang menganggap pembelajaran adalan kegiatan pra atau pasca, ataupun di samping kegiatan utama, akan mengalami perlambatan yang signifikan di organisasinya.
Quantum Leap Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran perlu didesain secara seksama, dengan tujuan dan ‘dashboard’ alias parameter pengukuran keberhasilan yang jelas. Menurut para pimpinan Adidas, “Kita paling tidak, perlu melakukan ‘quantum leap” sebanyak 10 kali lipat, dan mencetak laba 10 kali lipat lebih besar. Tidak lagi mengharapkan pertumbuhan mainstream 10 % saja secara biasa”. Mengapa harus demikian? Kenyataannya dengan lompatan 10 kali lipat, kita meninggalkan kompetitor. Karyawanpun menjadi lebih ambisius, dan ingin menginspirasi satu sama lain. Atmosfir seperti ini pastinya akan menarik dan individu yang suka tantangan, rajin belajar dan gemar berpikir untuk bergabung dengan perusahaan pembelajar ini. Budaya inovasi akan terwujud nyata dalam organisasi, tidak hanya menjadi kutipan manis yang tergantung pada plakat budaya perusahaan semata. Dan di sini, pemimpin tidak memiliki pilihan lain selain berpikir ‘why not?’