Serba serbi mengelola perilaku guru

“iya..tapi kan mereka guru yang semestinya…………….!”

Saat saya membuat tulisan ini terkenang diskusi dengan beberapa rekan yang mengelola atau menjadi pemilik yayasan sebuah sekolah, bahwa sulit sekali mengatur guru. Sebagai individu profesional sudah selayaknya guru mudah dan menerima untuk diatur. Walaupun demikian memang satu kaki profesi guru ada pada level yang dianggap ‘mumpuni’. Sehingga sebelum manajemen sebuah sekolah ingin mengatur,  belum-belum para pengelola itu akan berkata, “iya..tapi kan mereka guru yang semestinya…………….!”

Guru juga manusia, mereka perlu diingatkan jika salah, senang dipuji, dihargai dan dilihat usahanya untuk jadi yang terbaik semampu mereka.

Guru apakah karyawan atau pendidik?

jawaban saya dua-duanya. Pada lingkungan  pekerjaan yang membutuhkan kompetensi dan presisi tinggi seperti di pabrik, seorang karyawan yang salah atau keliru dalam bekerja akan langsung mendapatkan sangsi dan hukuman. Sementara di sekolah? saya yakin hal tadi tidak akan terjadi.

Dunia sekolah adalah lingkungan dimana setiap individu berlomba menjadi contoh yang baik. Kepala sekolah memperlakukan guru dengan hormat, sebagai mitra kerja dan cenderung selalu berprasangka baik sambil terus dibina potensinya. Karena seperti itulah sekolah melalui kepala sekolah berharap agar guru melakukan hal yang sama pada siswanya. Bayangkan jika hal itu terjadi, di sekolah akan terbentuk budaya positif dan saling menghargai.

“Tapi kan di setiap sekolah selalu ada guru yang bandel dan keras kepala?”

Lanjutkan membaca “Serba serbi mengelola perilaku guru”

Iklan

Yuk menjaga keselamatan murid kita di Internet

Gambar
https://blogs.glowscotland.org.uk/ea/EastAyrshireCfEUpdate/tag/internet-safety/

Di era teknologi yang semakin canggih sudah semestinya diterapkan di dunia pendidikan, tetapi patut diwaspadai juga bahaya dan pengaruh negatifnya ke anak didik. Oleh karena itu pendidik harus mengerti dan memahami betul penggunaan teknologi tersebut, dan juga dapat memberikan arahan yang tepat kepada anak didik. Berikut ini adalah perbincangan mengenai  “Internet Safety dan Digital Citizenship” dengan narasumber @Gurukreatif.

1. Apa yang dimaksud dengan ‘Internet Safety dan Digital Citizenship’?

  • internet safety; prosedur agar aman di dunia maya, Digital citizenship: rasa tanggung jawab sebagai warga dunia digital yang baik
  • internet safety; banyak dilupakan orang dewasa, karena selalu berpikir bahwa dunia internet dunia main-main
  • komentar-komentar  di media online yang berbau SARA, terjadi karena kurangnya rasa tanggung jawab sebagai warga dunia online

2. Apa bahayanya jika pendidik lalai?

  • seorang guru yang lalai nilai-nilai dlm dunia online akan sulit jadi contoh bagi siswanya
  • tugas guru memang jadi luar biasa karena mesti pandai mengajar tatap muka sambil jadi contoh di dunia virtual
  • Sikap guru dlm hal internet safety terbagi dua, ada yang senangnya curiga lalu razia, ada yang dengan beri kepercayaan
  • guru yang lalai ajak anak waspada saat di internet, bagaikan minta mrk berenang di lautan penuh hiu
  • Saat guru temukan pengalaman tidak enak di internet, bagi kisahnya pd murid agar mereka belajar
  • Lalai bisa berarti belum sadar, yang bahaya jika guru masa bodoh atas apa yang muridnya lakukan di internet
  •  contoh bagi murid, cara guru update status, komentar di dunia maya dan cara gunakan internet sebagai sarana belajar

3. Bagaimana cara mengajarkan siswa mengenai ‘Internet Safety dan Digital Citizenship’ dengan benar?

  • Dunia online dan dunia nyata sesungguhnya sama saja mesti teguh pada karakter2 yang baik
  • Konsistensi adalah kunci, apa saja hal yang tidak boleh dilakukan di dunia nyata juga tidak boleh dilakukan di dunia maya
  • Guru bisa mulai dari hal paling simpel, himbau murid2 untuk gunakan bahasa yang baik saat ‘texting’ dan update status
  • Sekali2 guru ambil nilai siswa saat ia berkomentar di media online mengenai berita2 yang lagi hangat

4. Siapa yang mesti dijadikan mitra dalam menjaga siswa kita terhadap perkembangan teknologi?

  • Sekolah mesti punya surat perjanjian untuk siswa berisi kesanggupan untuk gunakan komputer dan internet untuk tujuan yang baik
  • Di sekitar sekolah anda banyak warnet? yuk lakukan pendekatan persuasif internet sehat
  • Adakah guru di sini yang sekolahnya pernah adakan penyuluhan internet sehat bagi ortu dan guru?
  • Banyak ortu yang sibuk urusan cari nafkah, saatnya sekolah bantu dan edukasi mereka untuk internet sehat

Tulisan ini ada juga di https://www.facebook.com/guraru/notes ikuti perbincangan #gurarutalk tiap senin jam 17.00 sampai jam 19.00 WIB

Guru sebagai a True Professional (via Dunia Guru, Madrasah dan Tulisan Sekedar)

Kebanyakan guru hanya merasa menjadi seseorang yang ‘mengabdi’ kepada pendidikan. Mengabdi berarti mesti siap dengan segala resikonya. Karena bukan mengabdi namanya jika protes atau mengeluh ini itu. Tulisan sahabat saya dibawah ini menyadarkan saya bahwa menjadi profesional juga tuntutan bagi setiap pendidik.

Pendidik yang gemar menimba ilmu dan senang dengan masukan orang lain layak disebut profesional. Menjadi profesional akan menjadikan profesi guru semakin bermartabat, dan tidak menjadikan pilihan menjadi guru hanya karena tidak ada pekerjan lain.

Guru sebagai a True Professional Image via Wikipedia Meski saat ini telah lahir Undang-Undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen sebagai landasan yuridis profesi guru, tetapi untuk menjadikan guru di Indonesia sebagai sebuah pekerjaan profesional yang sejati (A True Professional) tampaknya masih perlu dikaji dan direnungkan lebih jauh. Merujuk pada pemikiran di atas, mari kita telaah lebih lanjut tentang guru sebagai seorang profesional. Berdasarkan kriteria yang pertama, … Read More

via Dunia Guru, Madrasah dan Tulisan Sekedar