Terimakasih Guruku Persembahan Pocari Sweat untuk Para Guru (dari Harian Surya Surabaya edisi cetak 25 Mei 2010)

SEBAGAI bentuk kepedulian terhadap dunia pendidikan di Indonesia POCARI SWEAT menyelenggarakan kegiatan seminar dalam bidang Pendidikan yaitu ” Terimakasih Guruku ” di Hotel Empire Palace Surabaya hari Sabtu tanggal 22 Mei 2010. Kegiatan Coorporate Sosial Responsibility (CSR) dari PT. Amerta Indah Otsuka ini merupakan salah satu kegiatan perusahaan untuk berperan serta dalam upaya pembangunan pendidikan di Indonesia. Tema yang diusung di acara ini adalah ” Karakteristik Pembelajaran Abad 21″ dengan menghadirkan narasumber yang merupakan pakar di bidang pendidikan yaitu Agus Sampurno ( education , blogger, educational motivator , teacher professional development program facilitator) Di abad 21 ini hal yang terpenting dalam mendidik siswa adalah kemampuan untuk bertanya dan melatih siswa untuk efektif dan percaya diri dalam bertanya saat pembelajaran di kelas. Demi mewujudkan hal tersebut guru juga harus melatih diri dan mencari pengetahuan tentang bagaimana membuat siswa mau bertanya dan senang bertanya. Harapannya adalah para peserta dapat memeperoleh pengetahuan mengenai kita-kiat untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia dan informasi mengenail produk POCARI SWEAT yaga dibuat berdasarkan penelitian ilmiah sehingga aman dan terukur Selain program Terimakasih Guruku PT. Amerta Indah Otsuka juga memiliki Program SATU HATI CERDASKAN BANGSA yaitu gerakan peduli pendidikan nasional yang mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk ikut berpartisipasi dan peduli terhadap pendidikan Indonesia. Hal ini juga merupakan bukti komitmen PT. Amerta Indah Otsuka untuk memajukan pendidikan bagi bangsa Indonesia. ikl

surya/sudarmawan

Iklan

Bukan Lagi Sentral Ilmu, Guru Harus Inovatif

Saturday, 22 May 2010

SURABAYA (Seputar Indonesia) – Siswa-siswa era tahun 2000 ke atas adalah anak zaman ini.Zaman abad 21 yang telah dipenuhi kemajuan bidang informasi dan teknologi.

Karena itu, para guru harus bisa menyesuaikan diri dengan kondisi ini agar tidak ketinggalan zaman. “Sekarang ini abad IT (Information Technology).Semua hal bisa didapat lewat internet. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber ilmu dan harus menjadi otoriter di depan kelas,” ungkap pelatih dan motivator pengajaran,Agus Sampurno, saat menjadi pembicara di acara Terima Kasih Guruku di Empire Palace,Surabaya,kemarin.

Dalam kegiatan yang digelar PT Amerta Indah Otsuka,produsen minuman Pocari Sweat, Agus menyatakan, metode pembelajaran di mana guru harus selalu menjadi tokoh sentral. Kelas yang sunyi senyap dan suasana tegang sudah bukan masanya lagi. Saat ini anakanak sudah lahir dan mengenal teknologi dengan baik. “Karena itu,harus ada perubahan strategi pembelajaran,mulai metode, strategi,hingga teknologi yang dipakai. Metode yang lebih interaktif seperti pemberian tugas lewat email.

Bila perlu,sang guru aktif up date status di facebook. Tentunya status yang mendidik, ”katanya. Promotion Head PT PT Amerta Indah Otsuka Ratna Yudythia menyatakan, acara yang melibatkan para guru ini adalah salah satu bentuk partisipasi perusahaannya untuk mendorong tumbuhnya metode pembelajaran yang lebih inovatif dan kemajuan di bidang pendidikan. Dari acara semacam ini, kata Ratna, para peserta dapat memperoleh pengetahuan mengenai kiat-kiat meningkatkan kualitas pendidikan. (dili eyato)

Waspadai Penyakit Kronis Pendidikan

Jawa Pos Guru-guru yang enggan belajar menjadi penghambat pengembangan pendidikan. Pengamat pendidikan Agus Sampurno menyebut saat ini muncul penyakit kronis di lingkungan pendidik, yaitu kendurnya semangat mencari ilmu. “Kasarnya, guru sekarang sudah ogah belajar,” tegas Agus dalam seminar di Empire Palace kemarin (22/5).

Seminar Terima Kasih Guru dengan tema Karakteristik Pembelajaran Abad Ke-21 itu diadakan oleh PT Amerta Indah Otsuka. Di depan ratusan guru peserta seminar, Agus menyatakan bahwa penyakit kronis tersebut menuntut segera diobati. Jika tidak, pendidikan di tanah air ini bakal stagnan.

“Bagaimana tidak jika gurunya sendiri memilih stagnan,” jelas pengajar sekaligus pelatih para guru itu. Akibat paling berbahaya jika guru tidak mau belajar adalah pendidikan tidak akan mampu mengikuti arus perkembangan zaman yang cukup kencang.

Agus menjelaskan, salah satu ciri pembelajaran yang tidak berkembang adalah model pembelajaran satu arah. ”Guru memosisikan diri sebagai satu-satunya sumber ilmu,” tuturnya. Padahal, lanjut Agus, ilmu pengetahuan itu bisa digali dari berbagai sumber. Mulai media masa, lingkungan sekitar, sampai internet.

“Berikanlah kebebasan kepada siswa untuk mencari sumber ilmu yang lain,” tutur pengajar di School Teacher Indonesia itu. Dengan memberi sedikit kebebasan ke siswa, kewibawaan guru tidak bakal luntur. Bahkan, Agus menjelaskan saat ini siswa lebih suka dengan guru yang memiliki sikap demokratis yang tinggi. “Di mana pun dan kapan pun siap menerima pertanyaan siswa,” jelasnya.

Di antara guru yang hadir kemarin adalah Harjito. Guru pendidikan kewarganegaraan di SMA YPPI 1 itu menjelaskan, permasalahan guru di tingkat bawah cukup kompleks. Di satu sisi, mereka diwajibkan menjalankan program pemerintah yang “kaku”. Di sisi lain, guru dituntut mencari inovasi-inovasi serta sedikit memberi siswa kebabasan untuk mencari ilmu. “Dua persoalan itu cukup kontradiktif,” papar Harjito.

Sampai sekarang, belum ada titik temu antara dua persoalan tersebut. Harjito menjelaskan, dirinya lebih memilih menjalankan keduanya beriringan. “Dijalankan mengalir begitu saja,” katanya. Ratna Yudythia, wakil dari PT Amerta Indah Otsuka, mengatakan sangat concern kepada dunia pendidikan. Acara Terima Kasih Guru itu diselenggarakan dalam rangkaian menciptakan pendidikan nasional yang lebih baik. Guru, menurut dia, merupakan tulang punggung pendidikan. “Ini merupakan kontribusi yang cukup signifikan,” jelas Yudythia. (wan/c10/roz)

Sumber

http://www.jawapos.co.id/metropolis/index.php?act=detail&nid=135488