Workshop bersama Bincang Edukasi

Workshop bersama Bincang Edukasi di acara ONOFF 2011 di Gedung Epicentrum Kuningan Jakarta 3 Desember 2011

Dikutip dari Situs Rumah Inspirasi.com

 

Acara workshop Bincang Edukasi bersama mas Agus Sampurno  (@gurukreatif) & mas Rudi Cahyono (@rudicahyo) berjalan dengan asik. Tujuan workshopnya adalah membuat sebuah kegiatan yang bisa digulirkan untuk perkembangan pendidikan di Indonesia.

Diawali dengan sesi berbagi oleh aku & mas Agus tentang hal-hal sederhana yang kami lakukan. Di sini kami berbagi kisah, bahwa apa-apa yang kami lakukan itu sesungguhnya adalah sebuah hal yang sederhana yang bisa dilakukan oleh siapa saja. Mas Agus berbagi kisah tentang kegiatan & ide-ide mengajar yang kreatif sementara aku berbagi kisah tentang homeschooling dan musik anak. Siapa yang sangka, jika hal sederhana yang dilakukan dengan terus-menerus ternyata bisa menjadi inspirasi bagi orang lain. Inspirasi ini pun kemudian bergulir menjadi aksi dan berbuah menjadi aneka kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat. Semua dimulai dari hal yang sederhana yang dilakukan secara konsisten.

Aku, mas Rudi Cahyono & pak Agus Sampurno

Mas Rudi kemudian mengajak seluruh peserta untuk menuliskan sebuah ide sederhana yang dekat dengan kemampuan & cukup sederhana untuk bisa dilakukan. Setelah setiap peserta menuliskan ide mereka dalam secarik kertas, peserta pun dibagi dalam 4 kelompok. Di situ ide-ide mereka disatukan atau diperbandingkan hingga mengerucut menjadi satu ide. Ide-ide inilah yang kemudian dipresentasikan dan kemudian disajikan kepada seluruh peserta.

Setiap peserta kemudian diharuskan memilih 2 ide yang menurut mereka paling menarik dan akan mereka aplikasikan minimal dalam bentuk tulisan di webnya. Ide yang menurutku paling menarik adalah gerakan Warna-Warni Anak, yang menekankan pada keunikan setiap anak. Semoga kegiatan ini dapat berlangsung, bergulir dan membawa perubahan bagi wajah pendidikan bangsa ini.

 

 

Workshop guru “Pengelolaan Kelas dan membuat pajangan (display)” di SDIT Buah Hati Condet Jakarta Timur 15 Oktober 201

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Ada rekan saya bertanya kenapa dari dulu sampai sekarang pajangan kelas isinya gambar Teuku Umar, Dewi Sartika, Kartini dan pahlawan revolusi ? Menurut saya pajangan kelas yang berisi gambar pahlawan bagus juga asal disesuaikan dengan tema yang sedang berlangsung. Dengan demikian dibutuhkan kreativitas guru dalam merencanakan dan menyesuaikan dengan topic yang sedang berlangsung.

Menjadi guru kreatif yang pandai mengelola kelas dan mendisplay hasil karya siswa di kelas bukan perkara mudah. Guru dengan profil tadi adalah guru yang selalu berusaha menjadi orang yang senantiasa ingin tahu dan mendalami bagaimana perasaan siswa yang menjadi muridnya. Dengan mendalami perasaan seorang murid, mata guru yang bersangkutan akan terbuka lebar. Terbuka yang saya maksud adalah ia menjelma menjadi sosok seorang yang mau belajar terus demi memnuhi standar terbaik pelayanan pada siswanya sekaligus menapaki jenjang karier sebagai pendidik professional. Apa perasaan anda sebagai murid ketika kelasnya sepi dan sebaliknya apa perasaan anda ketika kelas bernuansa ramai dan menyegarkan mata serta informatif saat bersamaan. Di SDIT Buah Hati saya berbagi bersama guru-guru yang hadir mengenai bagaimana mengelola kelas dan membuat pajangan (display) yang menarik di kelas.  Untuk anda para pembaca saya sajikan beerapa hal yang penting

  • display yg baik adalah pajangan hasil karya siswa yg sdah di nilai & diberi feed back oleh guru
  • display bukan sekedar pajangan, ia adalah alat pembelajaran dan sarana
  • memotivasi siswa.
  • Buatlah hiasan yang menarik untuk pinggiran papan pajangan. Bisa gunakan kertas
  • yang digunting dengan membentuk pola
  • Gunakan waktu luang siswa untuk membantu kita membuat display atau pajangan di
  • kelas
  • inti   menaruh sesuatu pd tempatnya, mengatur meja kursi sesuai strategi belajar
  • saat menata kelas, standarnya jgn diri anda sbg guru, tapi murid, merekalah pemilik
  • utama kelas
  • sekarang restoran taruh dapurnya malah di depan, bukan di belakang lagi, di sekolah, kelas juga begitu jd ‘showcase’
  • mendisplay dan menata kelas memang capek, apalagi kalau anda tdk terbiasa rapih
  • menghias dan menata kelas bukan monopoli guru tk atau sd saja, guru SMA pun
  • wajib
  • siapa pun yg merasa mengajar adalah panggilan, merasa bahwa ‘menghias kelas’ itu adalah kewajiban

Saat saya membahas ini di twitter ada rekan guru berbaik hati memberikan masukan berikut adalah masukannya

@irantimega: libatkan siswa dalam menata kelas, tanamkan pengertian kelas adalah rumah ke-2 mrk

RT @irantimega: Sbyk mgkn gunakan hasil karya siswa dalam mendisplay. Siswa jd bangga dan kegiatan bljr kelas terekam