Pembelajaran Seumur Hidup

safe_image
#KOMPASkariersabtu, 12 Maret 2016,
Eileen Rachman & Emilia Jakob
EXPERD
CHARACTER BUILDING ASSESSMENT & TRAINING
Seorang pimpinan perusahaan begitu bangga dengan tim IT nya dan menganggap bahwa kemampuan teknologi informasi perusahaannya sudah sangat canggih dan mumpuni. Namun dalam suatu seminar, pimpinan ini terkejut, karena ternyata banyak perusahaan lain mempunyai kekuatan IT yang sama, bahkan lebih canggih. Ketika meninjau kembali manajemennya, ia baru menyadari bahwa tim IT yang merasa sudah canggih ini, ternyata tidak mempelajari sistem baru dan tidak memperbaharui pengetahuannya. Beberapa bahasa bahkan masih menggunakan versi lama. Bisakah kita bertahan bekerja dengan pengetahuan yang diperoleh lebih dari 10 tahun lalu ini? Mungkin untuk beberapa sistem yang memang sangat statis, pengetahuan ‘old school’ ini masih bisa digunakan. Tetapi menjawab tantangan dan tuntutan pasar yang semakin besar, kompleks dan tak jelas, pastinya membutuhkan pengetahuan yang paling mutakhir. Bisakah kita menjaga keingintahuan, semangat belajar, pembaruan kompetensi di lingkungan perusahaan kita, sementara kita juga perlu mengejar target dan tetap berproduksi?
Di Google, 20 % dari kegiatan perusahaan dipergunakan untuk merancang prototip baik untuk produk baru, pembenahan interior ruang atau bahkan untuk mendesain kursi taman kantor baru. Menurut Larry Page, founder Google, “Yang penting ada unsur kotak katik dalam benak karyawan, tidak hanya desain, tetapi juga mencakup implementasi, aplikasi, dan terealisasikan secara fisik”. Kegiatan ini diperlukan untuk membuat aktivitas berfikir karyawan selalu berada dalam keadaan siaga. Tidak bisa kita menganut faham penyebaran benih, ”Let a thousand flowers bloom, and we’ll see what happens” lagi. Saat ini kita selalu perlu berfikir dengan berbagai fokus, serta memperbaharui proses yang sedang berjalan. Bahkan sebenarnya kita perlu menjaga ‘sikap oposisi’ terhadap produk yang tadinya adalah ide cemerlang kita. Tuntutan belajar dalam organisasi sudah bukan main-main. Bila tidak dijaga dan dipasarkan dengan baik di internal, maka kita akan menemukan karyawan yang meskipun masih muda, tetapi berpandangan ‘jadul’, keras kepala, dan tidak percaya pada perubahan, merasa tidak bisa dan tidak mau mempelajari sesuatu dalam proses bekerjanya. Bahkan dalam organisasi yang secara teratur mengirimkan karyawannya ke luar negeri untuk meraih gelar S2 bahkan S3 pun, gejala kealotan pemikiran ini bisa tetap terjadi.
Belajar informal
Apakah pembelajaran memang sudah berganti rupa? Masih bisakah kita menyuntikkan kegiatan belajar dengan cara konvensional? Matthias Malessa, Chief Human Resources Officer Adidas, merasa pembelajaran di dalam kelas sudah tidak lagi berdampak signifikan. Ia mencari cara, bagaimana pembelajaran dapat menjadi “light, desirable, dan fun.” Matthias percaya, bahwa mengalami sendiri, melakukan kesalahan, adalah cara pembelajaran yang paling efektif. Mereka percaya bahwa 80% pembelajaran terjadi secara informal. “Corporate University’ terasa menjadi tempat belajar yang sempit untuk mengakomodir karyawan yang ingin belajar dengan santai. Itulah sebabnya Adidas, mencari cara agar belajar bisa terjadi sepanjang hari, 24/7. Bahan pembelajaran diperluas menjadi bacaan koran, video, internet, quiz-quiz, termasuk ‘sharing’ untuk mengakses sumber sumber eksternal seperti TED, You tube, blog-blog. Mereka mengikuti prinsip : MOOC’s (Massive Open Online Courses). Para karyawan yang dibesarkan oleh You Tube, Pinterest dan Instagram ini perlu dirangsang pembelajarannya melalui media media ini pula. Agenda pembelajaran menjadi agenda setiap orang dalam organisasi, tidak terkecuali para pemimpin. Pemimpinlah yang menjadi komandan dan provokator pembelajaran. Hal ini juga dilakukan oleh sebuah perusahaan kosmetik lokal di negara kita, di mana pemilik, suami-istri, anak-mantu, semua percaya bahwa belajar bisa di mana saja, kapan saja, dari siapa saja, dan dengan media apa saja. Organisasi perlu mencari cara pembelajaran yang ‘self driven’ dan ‘sexy’ bagi karyawannya, menjadikan inovasi sebagai ‘way of thinking’ sehari-hari di lingkungan pekerjaannya. Pemimpin yang menganggap pembelajaran adalan kegiatan pra atau pasca, ataupun di samping kegiatan utama, akan mengalami perlambatan yang signifikan di organisasinya.
Quantum Leap Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran perlu didesain secara seksama, dengan tujuan dan ‘dashboard’ alias parameter pengukuran keberhasilan yang jelas. Menurut para pimpinan Adidas, “Kita paling tidak, perlu melakukan ‘quantum leap” sebanyak 10 kali lipat, dan mencetak laba 10 kali lipat lebih besar. Tidak lagi mengharapkan pertumbuhan mainstream 10 % saja secara biasa”. Mengapa harus demikian? Kenyataannya dengan lompatan 10 kali lipat, kita meninggalkan kompetitor. Karyawanpun menjadi lebih ambisius, dan ingin menginspirasi satu sama lain. Atmosfir seperti ini pastinya akan menarik dan individu yang suka tantangan, rajin belajar dan gemar berpikir untuk bergabung dengan perusahaan pembelajar ini. Budaya inovasi akan terwujud nyata dalam organisasi, tidak hanya menjadi kutipan manis yang tergantung pada plakat budaya perusahaan semata. Dan di sini, pemimpin tidak memiliki pilihan lain selain berpikir ‘why not?’

 

5 jenis kelas berdasarkan tingkat kebisingan dan solusinya

original-293843-1 57c20d07256bf0cd49eca88fbe12a045

Dalam hal suara di kelas ada beberapa istilah dalam bahasa Indonesia yang bisa menerangkan. Ada istilah kelas yang ribut, kelas yang gaduh, kelas yang riuh, kelas yang berdengung dan kelas yang sunyi. Bahasa adalah soal rasa, perlu jam terbang  untuk bisa membedakan. Saya akan coba membantu anda mengasah rasa dalam soal bahasa.

Kelas yang ribut adalah kelas yang tidak ada aturan, dengan demikian suara yang ditimbulkan dari kelas seperti ini adalah suara yang tidak beraturan (ribut). Suara bersahut-sahutan. Biasanya hal ini dimulai dari guru yang senang memotong kata saat menjelaskan. Seperti misalnya, “anak-anak kita semua tinggal di negaraaa trooo..? Lalu siswa meneruskan pissssssss.

Kelas yang gaduh adalah kelas yang menghasilkan suara yang bercampur antara suara siswa bersahut-sahutan dan  suara pergerakan siswa selama di kelas. Biasanya karena ukuran siswa yang banyak, bangku meja yang besar membuat siswa sulit untuk bergerak. Siswa yang tidak sabar memilih untuk naik ke bangku atau meja saat bergerak.

Kelas yang riuh adalah kelas yang kedatangan guru yang pandai melucu atau membuat siswa tertawa karena humornya. Kelas yang riuh sering membuat orang salah paham, dikarenakan sepertinya kelas yang baik adalah kelas yang seperti itu, padahal tidak selalu. Jika riuhnya kebangetan maka kelas akan berubah menjadi kelas yang ribut. Apalagi jika kelas sudah mulai mengganggu kelas yang lain.

Baca lebih lanjut

Tulis refleksi pada RPP anda setelah digunakan, jadilah guru yang reflektif

reflective practice 3

Refleksi adalah sebuah cara bagi seorang guru untuk melihat sejauh mana ia sudah berpraktek dengan baik sebagai pendidik.

reflective practice 4

Banyak guru mengeluh soal kewajiban administrasi yang banyak saat menjalani karir sebagai guru. Padahal semua berakar dari ada tidaknya kebiasaan reflektif.

Bayangkan situasi ini:

Seorang guru merencanakan sebuah pembelajaran untuk dua jam pelajaran dalam bentuk RPP. Ia masuk kelas dan mulai mengajar, waktu berlalu dan banyak kejadian pada saat ia mengajar. Kejadiannya bervariasi dan kebanyakan kesemuanya bisa diambil kesimpulan bahwa pembelajarannya hari dan jam itu tidak berhasil. Meleset target dan sebagai guru ia tidak puas. Sebagai manusia biasa ia akan berusaha melupakan apa yang terjadi hari itu. Memang buat apa mengingat ingat hal yang tidak enak. Jadi lebih baik lanjutkan mngajar, toh tidak setiap hari kegagalan terjadi.

Sebaliknya

Suatu hari saat guru mengajar, ia merasakan hal yang luar biasa, semuanya berjalan lancar dan ia merasa sangat berhasil sebagai guru.

Baca lebih lanjut

14 tanda bahwa kelas yang anda ajar monoton

level-of-engagements

Tidak ada guru yang yang ingin kelasnya menjadi kelas yang monoton. Jika boleh meminta setiap guru ingin kelasnya isinya adalah siswa yang baik, pintar secara akademis, punya karakter dan aktif saat gurunya mengajar. Jika boleh meminta maka guru juga akan meminta murid yang punya perhatian dan perasaan empati pada gurunya, ketika gurunya terlihat capek maka murid akan diam tidak bertanya dan menurut. Semantara jika gurunya terlihat segar dan siap mengajar maka siswa akan aktif seaktifnya, bertanya terus menerus pada gurunya.

Namun mengajar bukan soal keinginan guru. Mengajar di kelas adalah masalah kesiapan guru lewat perencanaan dan sikap reflektif belajar dari pengalaman sebelumnya. Hanya dengan kedua hal tadi guru akan berhasil di kelas.

Kembali lagi kepada judul diatas, guru sering tak sadar jika kelasnya sudah menjelma jadi kelas yang monoton. Beberapa hal dibawah ini menjadi tanda bahwa kelas anda adalah kelas yang monoton.

  1. Kelas anda hanya punya satu model dalam hal metode pembelajaran, metode komunikasi dan tingkat kebisingan. Bayangkan sebuah kelas yang ribut terus dan gurunya berceramah terus, atau kelas yang sepi terus, gurunya saja yang berbicara (itu juga kalau didengar) murid tenang bukan karena perhatian tapi karena malas dan skeptis.
  2. Anda lupa kapan terakhir memuji siswa. Siswa dipuji hanya pada saat pengambilan rapor (bagi yang baik nilainya) sementara murid yang biasa saja atau murid yang lambat jarang sekali atau bahkan tidak pernah dipuji.
  3. Tempat duduknya hanya berbanjar kebelakang. Murid yang pintar duduk didepan,  murid yang lambat belajar malah dibelakang
  4. Temboknya kosong tanpa pajangan, kalaupun ada hanyalah foto presiden atau beberapa foto pahlawan.
  5. Guru mengajar dengan kendalikan buku teks, guru akan marah sekali jika siswa tidak membawa buku teks.
  6. Pekerjaan siswa hanya menghabiskan atau menyelesaikan mengerjakan LKS
  7. Metode pembelajarannya hanya mengandalkan ceramah yang bersifat satu arah.
  8. Guru sering mengeluhkan siswanya, sebaliknya siswa tidak peduli pada gurunya.
  9. Seisi kelas melihat jam dinding menjelang jam istirahat atau jam pulang
  10. Guru hanya duduk dimejanya sepanjang jam pelajaran
  11. Semua siswa, baik yang cepat daya tangkapnya sampai yang lambat daya tangkapnya mengerjakan hal yang sama. dan mengerjakan lembar kerja yang sama
  12. Kelas tidak memungkinkan siswa untuk bekerja dalam kelompok
  13. kelas bernuansa masa lalu tidak ada penggunaan teknologi digital
  14. Siswa tidak punya bayangan kegiatan yang ia akan lakukan dari menit ke menit, dengan demikian siswa merasa mesti minta persetujuan guru terus menerus.

Empat belas tanda diatas bisa dihindari jika guru mengajar dengan hati yang diramu dengan strategi. Dijamin kelas akan kondusif dan bernuansa mengedepankan potensi siswa.

Sembilan tanda kelas yang fokus

prioritaspendidikan.org
prioritaspendidikan.org

Semua orang yang peduli pendidikan pasti bisa mengenali mana kelas yang hidup, fokus dan mana kelas yang monoton. Kelas yang hidup bisa membuat siswa fokus. Sebaliknya kelas yang monoton akan membuat siswa bosan. Kenali tanda-tanda sebuah kelas yang fokus dibawah ini, sangat berguna dalam membuat anda lebih semangat dalam mengajar dan belajar untuk jadi guru yang baik.

Tanda kelas yang fokus adalah:

Baca lebih lanjut

Tips membuat siklus pembelajaran (learning cycle) yang bermakna

siklus pembelajaran

Sebuah siklus pembelajaran bukan lah sebuah siklus dimana siswa dibiarkan sibuk sendiri, mengerjakan apa yang guru perintahkan untuk kemudian guru merasa dirinya sudah mengajar. Sebuah siklus mengajar bukan juga sebuah siklus dimana  kegiatan yang ada adalah guru berceramah panjang lebar dan siswa mendengarkan sampai jam pelajaran habis.

TLC

Sebuah siklus mengajar mesti;

  • Punya arti, makna dan manfaat dari menit kemenitnya. Setiap saat bermakna dan punya tujuan, guru mengawal lewat RPP yang ia buat dan rencanakan. Siswa dibekali lembar kerja, urutan kegiatan dan sumber belajar.
  • Punya tujuan pasti di akhir pembelajaran: siswa bisa menguasai ….., siswa mampu melakukan…., siswa bisa tampil untuk …… serta sederet tujuan singkat yang jika dijalankan punya konsekuensi kegiatan yang banyak dan perencanaan yang matang.
  • Guru sering pastikan pengetahuan yang dimiliki siswanya lewat metode formatif assessment atau penilaian formatif.
  • Ada strategi belajar yang digunakan, guru bisa memilih ragam metode pembelajaran korporatif dan lain sebagainya.
  • Berazaskan pada kurikulum satu tahun penuh yang telah dibuat sebelumnya, dengan demikian menjaga alur agar pembelajaran tetap sesuai dengan tingkat dan kurikulum.

Baca lebih lanjut

Penilaian autentik sebagai cara untuk menilai siswa dengan adil

assessment 1

Siswa berhak dan layak untuk dinilai dengan adil. Guru sebagai orang dewasa adalah sosok yang diharapkan integritas nya saat hadir di kelas. Siswa sebagai elemen penting di kelas perlu dinilai kinerja, karakter dan pencapaian nya.

assessment 2

Apa yang terjadi jika guru tidak kreatif dalam menggunakan instrumen penilaian? Hal yang terjadi adalah siswa akan dinilai dengan asumsi. Hal ini berbahaya sekali karena siswa hanya akan dinilai berdasarkan anggapan dan prasangka bahkan lewat ingatan yang guru ingat tentang sosok siswa nya. Jika demikian hal yang terjadi siswa akan merugi karena siswa yang dianggap ‘nakal’ atau ‘lamban dalam belajar’ akan dinilai sama seterusnya tanpa melihat usaha yang dilakukan.

 assessment 7

Apa definisi penilaian autentik, berikut ini adalah pendapat para ahli

A form of assessment in which students are asked to perform real-world tasks that demonstrate meaningful application of essential knowledge and skills — Jon Mueller

“…Engaging and worthy problems or questions of importance, in which students must use knowledge to fashion performances effectively and creatively. The tasks are either replicas of or analogous to the kinds of problems faced by adult citizens and consumers or professionals in the field.” — Grant Wiggins — (Wiggins, 1993, p. 229).

“Performance assessments call upon the examinee to demonstrate specific skills and competencies, that is, to apply the skills and knowledge they have mastered.” — Richard J. Stiggins — (Stiggins, 1987, p. 34).

Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa untuk bisa menilai siswa dengan adil ada beberapa hal yang mesti guru lakukan;

  Baca lebih lanjut