7 Nilai lebih guru bertipe kepribadian Introvert

Apa yang dimaksud dengan introvert? Introvert adalah jenis kepribadian yang cenderung lebih fokus kepada perasaan dan pikiran yang berasal dari dalam diri.

Apakah anda sebagai guru punya ciri dibawah ini?

  1. Panas dingin saat acara ambil raport tiba, dikarenakan akan bertemu dengan orang tua siswa.
  2. Tahun ajaran baru deg degan dengan jenis orang tua apa yang akan menjadi mitra selama satu tahun ajaran kedepan
  3. Panas dingin ketika diminta berbicara depan rapat besar.

Jika iya selamat anda adalah guru bertipe introvert.

Tiga hal diatas adalah bukti bahwa sebagai guru, karier anda terus bertumbuh. Rasa tidak enak, deg degan datang karena anda sedang masuk ke hal yang baru. Bayangkan jika seorang guru dalam karirnya tidak ada tantangan, maka yang terjadi ia akan masuk ke zona nyaman dan tidak mau mencoba hal baru.

Namun sadar bahwa diri anda adalah guru bertipe kepribadian introvert juga merupakan hal yang penting dikarenakan titik tolak kesuksesan seorang pendidik datang dari mengerti dengan baik perihal lebih dan kurang dirinya sebagai pribadi.

Saat yang sama jangan sedih dahulu karena sebagai guru yang introvert anda punya kelebihan lho

  1. Sangat baik dalam berbicara dengan orang tua siswa (one on one) alias bicara dari hati ke hati. kemampuan ini sangat khas kaum introvert ia mudah dekat dan akrab dengan orang perorang.
  2. Punya kemampuan yang baik dalam mengolah anak anak yang introverts
  3. Punya kemampuan yang baik dalam menelaah perasaan siswa anda
  4. Anda bukan guru yang pemalu. Menyebut diri anda sendiri sebagai pemalu adalah sebuah kesalahan besar, karena anda adalah seseorang yang penuh empati, senang berperan sebagai penghubung, dan sosok yang fleksibel yang analitis dan kreatif.
  5. Sosok pendengar yang baik, yang suka mendengarkan sebelum berbicara, dan seringkali memiliki ide terbaik setelah ngobrol ngalor ngidul
  6. Gemar memperhatikan anak-anak yang berkeliaran tanpa pengawasan saat di sekolah, dan para introvert juga yang seringnya berempati melihat kolega yang membutuhkan dukungan ekstra.
  7. Senang memberi perhatian yang detail dan menyenangkan. Karena guru bertipe ini memberikan penghargaan dengan memberi perhatian.

Menjadi guru yang introvert adalah sebuah kelebihan dan keberuntungan. Mereka adalah sosok yang tenang, gemar berintrospeksi, dan menyukai hubungan mendalam dan sebaliknya malah kelelahan oleh interaksi sosial yang berlebihan.

Dikarenakan udara sekolah menjadi tambah lengkap dan segar ketika anda hadir dengan empati dan rasa perhatian pada siswa dan rekan sekerja.
Anda mungkin tampak kikuk di keramaian namun saat sudah terlibat dengan obrolan dengan seseorang anda akan menjelma menjadi orang yang menarik dan enak dijadikan rekan diskusi.

Orang tua siswa pun senang karena punya guru bagi anaknya yang perhatian dan memberikan perhatian pada saat yang tepat dan dibutuhkan. Nah dalam mendidik generasi Z saat ini, dunia pendidikan bergantung dan mengharapkan konstribusi dari para guru yang introvert ini.

3 Solusi sukses mengajar kelas secara bersamaan (online dan offline)

Hampir semua guru saat ini diminta untuk mengajar kelas online dan offline secara bersamaan. Situasinya adalah separuh siswa menghadiri kelas secara langsung dan secara virtual. Guru di kelas secara susah payah berusaha memenuhi kebutuhan siswa di kelas dan online secara bersamaan. Guru sering merasa bersalah karena mereka tahu satu kelompok siswa lebih banyak menyita waktu dan perhatian. Seringkali, siswa di kelas memonopoli waktu dan perhatian guru karena mereka dapat mengajukan pertanyaan secara langsung.

Permasalahan yang sering timbul

1. Bagaimana mengelola pembelajaran dalam dua situasi. Pembelajaran luring dengan siswa yang ada di sekolah dan daring dengan siswa yang ada di rumah

2. Membagi perhatian kepada siswa secara bersamaan

3. Siswa yang kurang perhatian dan tidak tertarik

4. Waktu yang tidak cukup dalam melakukan kegiatan pembelajaran dengan siswa (dalam grup dan individu)

Berikut ini adalah solusinya:

Solusi dalam merencanakan pembelajaran. (untuk waktu silahkan disesuaikan)

Guru membagi waktu selama jam pelajaran dengan pembagian sebagai berikut. 1. Pembukaan pembelajaran dengan quiz singkat atau pemaparan materi 15 menit.

2. Dilanjutkan dengan 15-30 menit guru melakukan teknik Present-Pause-Discuss. Tiga tahap yang berarti guru menerangkan (present), guru berhenti menerangkan dengan mengecek pemahaman (pause). Dilanjutkan dengan guru mendiskusikan materi pembelajaran (discuss).

3. 15- 20 menit guru memberikan pemaparan materi dan memberikan kesempatan siswa untuk mengerjakan dengan bimbingan. Siswa boleh bertanya dan guru memberikan konsultasi.Siswa juga diberikan kesempatan untuk mengerjakan secara mandiri.

4. Selama 15-20 menit. Guru dalam mengatur apakah siswa bekerja dalam kelompok yang ditentukan oleh uru berdasarkan kemampuan, campuran (agar siswa bisa belajar dari rekannya) atau grup yang sudah ditentukan untuk sebuah project tertentu.

5. Melakukan 5 menit refleksi pembelajaran dengan bertanya pada siswa. Guru bisa bertanya Apa 3 poin yang kamu ambil dari pelajaran hari ini? Apa hal yang masih kamu ingin pelajari ? Bagaimana kamu menceritakan pelajaran hari ini dengan teman mu yang tidak masuk?

Solusi mengaktifkan siswa.

1. Menggunakan teknik mengajar siswa dalam kelompok. Buat 3 kelompok. Ditiap kelompok siapkan penugasan bagi siswa. Lalu lakukan rotasi tiap 10 menit atau sesuai waktu yang anda miliki. Persiapkan dengan baik dan variasikan tugas tiap kelompok. Siapkan pekerjaan bagi siswa yang selesai lebih cepat.

2. Guru membuat video atau mengambil video yang cocok di youtube. Video berisi penjelasan guru mengenai materi pembelajaran. Lakukan penjelasan dahulu sebelum meminta siswa memutar video. Berikan siswa waktu untuk melihat dan mencermati video. Setelah itu lakukan kegiatan pasca siswa menonton video. Gunakan grouping seperti di point sebelumnya.

3. Guru memberikan semacam menu (playlist) yang berisi urutan perintah kegiatan pembelajaran yang bisa siswa akses dan lakukan secara mandiri. Guru menyediakan urutan kegiatan yang berisi aktivitas pembelajaran yang beragam dari awal hingga akhir. Dengan demikian siswa tetap sibuk dan terkendali oleh guru.

4. Menggunakan papan pilihan atau hyperdocs. Manfaat Papan Pilihan: Siswa senang saat diminta memilih akan mengerjakan tugas yang mana dulu. Siswa melakukan tugas yang berbeda beda. Siswa belajar dengan kecepatan mereka sendiri. Guru dengan rileks memonitor siswa dan bisa dengan santai berdiskusi dengan siswa.

Solusi membuat siswa mau bertanya dan mendapatkan jawaban selama pembelajaran.

1. Lakukan strategi ‘3 before me’, atau bertanya kepada 3 hal/orang sebelum bertanya kepada guru. Langkah pertama: Minta siswa bertanya dahulu kepada Google atau melakukan pencarian jawaban mereka secara online. Langkah kedua : mencari jawaban lewat tutorial video YouTube. Langkah ketiga: bertanya pada teman sekelas (yang sedang online di rumah atau teman yang ada di kelas. Bagaimana jika belum juga ditemukan jawabannya? baru bertanya pada guru.

2. Jika siswa masih belum menemukan jawaban. Siswa bisa menggunakan aplikasi seperti Padlet, google forms atau ClassroomQ untuk bertanya agar guru dan siswa lain bisa membantu menjawabnya.

Situasi saat ini memerlukan guru yang senang mencoba dan belajar dari pengalaman yang ia lalui. Guru kreatif memaknai teknologi hanya sebagai alat. Dalam diri guru kreatif sudah lekat dengan keinginan untuk selalu menghadirkan pengalaman belajar bermakna bagi anak didiknya.

Selamat mencoba.

47Amalya, Iha Ikha and 45 others10 Comments20 SharesLikeCommentShare

Exit ticket : sebuah cara mengakhiri kelas dengan sukses

Seorang guru dalam mengakhiri kelas yang menjadi tanggung jawabnya mesti punya cara dan taktik. Alih alih siswa yang jika ditanyakan ‘apakah ada pertanyaan?’ pasti akan menjawab tidak ada. Ada istilah exit ticket yang berarti tiket yang guru berikan kepada siswa saat ia akan keluar dari kelas.

Saatnya guru mempunyai cara untuk membuat siswanya berpikir mengenai materi atau kegiatan yang ia ajarkan. Dibawah ini adalah pertanyaan yang bisa memandu guru dalam bertanya kepada siswa saat mengakhiri kelas yang ia ampu.

  1. Apa kata atau istilah baru yang kamu baru dengar hari ini?
  2. Sebutkan satu hal yang akan kamu ubah atau tambahkan dari pelajaran hari ini?
  3. Apa yang kamu rasakan dari pelajaran hari ini?
  4. Jika kita semua akan melakukan kuis di pertemuan berikutnya, apa hal yang kamu ingin lakukan/persiapkan?
  5. Bagaimana kamu akan menceritakan pelajaran hari ini kepada teman sekelas yang tidak hadir?
  6. Apa bagian favorit mu dari pelajaran hari ini?
  7. Apa yang mengejutkan mu tentang kelas hari ini?
  8. Hal apa yang kamu inginkan saya sebagai guru untuk mengubah di kelas ?
  9. Jika kamu diminta memberikan tambahan pertanyaan pada kuis hari ini, pertanyaan apa yang akan kamu tambahkan?
  10. Bagaimana cara mu membantu teman sekelas yang masih belum mengerti pelajaran hari ini?
  11. Sebutkan satu hal yang ingin kamu pelajari lebih lanjut?
  12. Apa bagian termudah dari pelajaran di kelas hari ini?
  13. Bagaimana pelajaran hari ini berhubungan dengan pelajaran sebelumnya?
  14. Menurut mu pelajaran selanjutnya akan membahas apa?
  15. Apa bagian tersulit dari kelas hari ini?

Diharapkan dengan guru mempunyai tehnik bertanya seperti diatas. Maka siswa akan keluar ruangan dengan niat dan pertanyaan baru dibenaknya. Guru pun akan lebih siap dalam mengajar di kelas dan kesempatan berikutnya dikarenakan mendapatkan umpan balik dari siswa.

Penilaian formatif tipe tanpa teknologi dan menggunakan teknologi. Mana yang cocok untuk anda?

Penilaian Formatif mengacu pada proses berkelanjutan yang dilakukan siswa dan guru ketika mereka:

  1. Fokus pada tujuan pembelajaran.
  2. Mengambil tolak ukur dan mencatat di mana hasil pekerjaan siswa saat ini dalam kaitannya dengan tujuan akhir pembelajaran.
  3. Mengambil tindakan yang diperlukan untuk bergerak lebih dekat ke tujuan pembelajaran.

Ada dua cara dalam melakukan Penilaian Formatif. Ada dengan teknologi yang minim serta teknologi Jarak Jauh yang dapat mempermudah pengumpulan data terkait Penilaian Formatif.

Penilaian formatif minim teknologi.

Berikut ini cara berteknologi rendah yang berbeda untuk mengukur pemahaman siswa:

  1. Pemeriksaan Siswa Individu-Ini bisa sangat bagus tidak hanya untuk penilaian formatif tetapi juga untuk kondisi sosial-emosional siswa .
  2. Breakout room-Penilaian formatif dapat memberi tahu kita banyak tentang apa yang siswa pahami tentang pembelajaran dan mana yang dilakukan. Sekarang dengan breakout room kelompok di Zoom, Teams, dan Google Meet, Anda tidak hanya dapat mengidentifikasi apa yang dibutuhkan siswa, tetapi juga memberikan lebih banyak instruksi langsung kepada kelompok yang lebih kecil.
  3. Tiket Masuk/Keluar-Memiliki form sederhana yang dapat Anda minta agar siswa menjelaskan apa yang mereka pelajari hari itu atau pembelajaran apa yang masih mengalami kesulitan dapat menjadi alat yang berharga dalam pembelajaran jarak jauh.
    Ide Tiket Masuk
    – Identifikasi 3 poin yang Anda ingat dari pelajaran kemarin
    – Hal yang paling menarik minat saya tentang topik ini sejauh ini adalah__
    – Saat ini saya merasa _ tentang pelajaran ini karena saya __
    Ide Tiket Keluar
    – Apa 3 poin yang Anda ambil dari pelajaran hari ini?
    – Apa 3 hal yang masih kamu ragukan?
    – Apa yang Anda harapkan untuk dipelajari dalam pelajaran kita berikutnya?

Penilaian formatif dengan menggunakan teknologi.

Plickers adalah alat pembelajaran gratis, dapat diakses, dan menarik yang digunakan oleh jutaan guru di seluruh dunia untuk menilai siswa mereka dan mengumpulkan hasil secara instan di kelas. Sebagai guru, Anda akan memiliki akses ke akun Plickers gratis.

Padlet. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengumpulkan tanggapan individu terhadap sebuah pertanyaan, mengurutkannya ke dalam kategori, dan membuat representasi dari kurasi yang kemudian dapat dibagikan kepada siswa? Padlet dapat menyelesaikan tugas seperti itu dalam waktu kurang dari satu menit! Siswa dapat mengetik tanggapan mereka (secara anonim atau terkait dengan nama mereka) untuk sebuah pertanyaan atau prompt, yang kemudian muncul di Padlet (papan buletin virtual). Guru dapat memperbarui tampilan secara real-time dan mencari masukan siswa untuk mengkategorikan tanggapan atau menunjukkan hubungan.

Tiktok. Sesuai untuk siswa sekolah menengah (yang mungkin sudah mengunduh aplikasi populer di perangkat seluler mereka), guru dapat menugaskan siswa untuk membuat video TikTok berdurasi 60 detik atau kurang untuk menunjukkan pemahaman mereka. Siswa dapat membuat simulasi, sandiwara, analogi, atau ilustrasi pada aplikasi serbaguna dan mudah digunakan ini.

Formative, yang juga dikenal sebagai GoFormative, adalah alat berbasis web yang memungkinkan guru membuat penilaian, tugas, atau tugas formatif digital yang mudah diakses dari perangkat elektronik apa pun: laptop, tablet, atau smartphone

Poll Everywhere adalah layanan online yang memungkinkan guru mengajukan pertanyaan kepada siswanya. Siswa menjawab pertanyaan menggunakan ponsel, Twitter, atau browser web mereka. Baik pertanyaan maupun tanggapan siswa ditampilkan secara langsung di Keynote, PowerPoint, dan/atau di web.

Socrative adalah sistem respons siswa berbasis cloud yang dikembangkan pada tahun 2010 oleh siswa sekolah pascasarjana yang berbasis di Boston. Hal ini memungkinkan guru untuk membuat kuis sederhana yang dapat dilakukan siswa dengan cepat di laptop – atau, lebih sering, melalui komputer tablet kelas atau ponsel cerdas mereka sendiri

Nearpod adalah alat online yang memungkinkan guru menggunakan pengajaran berbasis slide baik di kelas maupun dari jarak jauh (hybrid). Guru dapat membuat banyak sumber belajar interaktif berbeda yang memungkinkan siswa untuk terlibat dan belajar melalui perangkat mereka atau satu layar di dalam ruangan

3 Cara memilih Kepala Sekolah Sesuai dengan kebutuhan yayasan sekolah swasta.

Pemimpin di sekolah adalah sosok yang menjadi pemandu bagi perubahan dan inovasi di sekolah. Di tangannya semua pihak pemangku kepentingan menggantungkan dirinya pada kreativitas dan kemampuan nya dalam memimpin.

Di sekolah swasta masing masing sekolah punya caranya sendiri dalam memilih dan menciptakan pemimpin.

Ada beberapa cara untuk membuat stock pemimpin baca: kepala sekolah tetap tersedia di sebuah sekolah. Berikut ini cara yang biasa ditempuh oleh sebuah swasta dalam memilih kepala sekolah beserta plus minusnya.

Cara 1. Membuka lowongan pemimpin internal dalam waktu tertentu. Bisa 2 tahun atau 4 tahun sekali.

Plus:
Sekolah menjadi dinamis. Semua orang punya peluang sebagai pemimpin. Guru muda pun bisa jadi kepsek (syarat sudah mengabdi 5 tahun misalnya). Sekolah tidak perlu mengeluarkan budget yang banyak. Tinggal memberikan tambahan tunjangan gaji kepada orang yang terpilih.

Minus

1. Jika system penggajian dan jenjang karir belum bagus maka sulit menjaring pelamar. Dikarenakan calon pelamar tidak melihat perbedaan signifikan dengan menjadi kepsek dan menjadi guru biasa. Jika lowongan internal dibuka biasanya yang melamar orang yang itu itu saja. Sekolah bahkan harus sedikit memaksa agar jumlah pelamar yang akan diinterview bisa memenuhi angka yang cukup.

2. Jika performance nya jelek biasa nya jarang diputus masa jabatannya. Hanya ditunggu masa jabatannya berakhir untuk kemudian tidak dipilih kembali.

Hal yang harus diwaspadai:
1. Dalam pemilihan teknis dan mekanismenya harus terbuka dan transparan. Guru yang ingin jadi pemimpin akan kecewa jika ternyata pemilihan nya hanya setting an. Calon unggulan ternyata sudah ada dan proses pemilihan hanya menjadi pemanis saja.

2. Orang yang terpilih bisa saja bukan orang yang disukai publik atau orang yang senang menyenangkan atasan namun dingin terhadap sesama rekan karena ambisius. Dengan demikian sekolah mesti bersiap untuk drama drama yang dihasilkan dari proses pemilihan internal.

Tugas dan peran yayasan:
Memastikan bahwa job description dan KPI pencapaian jelas. Lakukan pembimbingan dan pendampingan. Lapangkan jalan bagi pemimpin baru. Minta ia membuat road map dan target target yang terukur.

Cara 2. Menerima talent atau calon pemimpin dari luar sekolah lewat job posting.

Positif:
Jika mendapatkan orang yang pas maka sekolah akan pesat berkembang. Jika orang dari luar biasanya ia akan minim beban masa lalu. Ia akan bebas melakukan pembenahan. Situasi mungkin akan chaos sejenak. Namun cepat membaik jika semua pihak berada di sisi new Comer ini untuk memajukan sekolah. Karena ia akan kesulitan jika ada pemangku kepentingan di sekolah yang cari aman.

Minus:
Jika pemimpin dari luar ini diminta untuk melakukan ‘cuci piring’. Perjelas apa hal yang harus dicuci dan dibenahi. Yayasan mungkin akan menyembunyikan hal ini khawatir calon akan mundur. Lebih baik diberikan kode kode diawal agar calon kepsek tahu ia akan berhadapan dengan situasi seperti apa.

Kepsek yang bagus biasanya berharga mahal. Jika yayasan ada Dana silahkan melakukan proses ini. Tentunya dengan menghitung Manfaat bagi kemajuan sekolah.

Tugas dan peran yayasan:
Membuat proses recruitment yang Profesional demi menjaring calon dari luar yang cocok. Lakukan proses wawancara dengan panel. Cek rekam jejaknya. Cek juga medsos nya. Perkecil masalah di kemudian hari jika ternyata calon ini cenderung galak di medsos maka di kehidupan nyata ia juga akan banyak dapat lawan.

Cara 3. Membenahi dan memperkuat sistem terus menerus dan cukup menjadikan seorang kepala sekolah saja sampai ia pensiun atau resign.

Plus

Sekolah bebas drama pemilihan kepala sekolah. Sekolah tinggal fokus saja meningkatkan kapasitas orang ini. Kirim ia ke pelatihan dalam dan luar negeri.

Minus
Jika leadership nya lemah maka guru guru yang tidak sepaham dengannya akan cenderung resign dan pergi ke sekolah lain. Jika masih bertahan guru yang tidak seirama dengannya akan menjelma menjadi dead wood alias orang yang apatis dengan kerja seadanya dan terima gaji diakhir bulan.

Tugas dan peran yayasan
Tidak boleh berdiam diri. Tidak bisa melepaskan semuanya pada orang ini saja. Harus aktif memantau. Cek semua target dan KPI. Menjadi mitra yang kritis dan dinamis.

Ketiga cara diatas adalah hal yang bisa dan mungkin dilakukan oleh sekolah dalam menciptakan pemimpin. Apapun cara yang ditempuh dalam memilih pemimpin utamakan tipe tipe pribadi seperti dibawah ini

  1. Tipe orang yang selalu mau meningkatkan kapasitas diri sendiri dan senang belajar hal baru
  2. Memprioritaskan hal yang utama sebagai insan pendidikan yaitu siswa
  3. Bersedia mengakui kesalahan jika keliru dan tidak bersikap defensif
  4. Mampu berpikir secara reflektif
  5. Mampu mengkomunikasikan visi. Menyederhanakan hal yang rumit sehingga mudah dikomunikasikan kepada khalayak ramai di sekolah.
  6. Manajemen diri yang baik dalam penampilan, menata emosi dan mengatur sikap sebagai pemimpin di depan semua pemangku kepentingan di sekolah.
  7. Pendengar yang baik
  8. Bersedia memimpin di depan, mendampingi di samping dan mendorong dari belakang bagi orang orang yang dipimpinnya.
  9. Punya kecerdasan emosi yang baik
  10. Mampu melakukan koneksi dengan tingkatan yang berbeda saat memimpin .

Pentingnya relasi guru dengan siswa sebagai penentu kesuksesan mengajar

Guru di lapangan masih sering kesulitan mendahulukan antara menjadi ‘dekat’ dengan siswa atau berusaha keras membelajarkan siswa (mengajarkan matpel yang menjadi tanggung jawab).

Dekat dengan siswa disini bisa berarti:

1. Peduli
2. Antusias
3. Mengerti
4. Menghormati
5. Percaya
6. Memotivasi
7. Bersedia berusaha ekstra

Faktor diatas perlu dilihat dalam cara pandang sebagai guru abad 21. Karena jika dilihat dalam kacamata pendidik jaman ‘old’ pastinya banyak faktor diatas adalah justru tugas nya siswa kepada gurunya.

Guru mestinya mengusahakan dan mengutamakan kedekatan dan keterlibatan siswa sebagai hal yang utama sementara pencapaian serta hasil prestasi siswa adalah hal kedua. Sebuah hal yang tidak mudah bukan?

Lanjutkan membaca “Pentingnya relasi guru dengan siswa sebagai penentu kesuksesan mengajar”

Pembelajaran Seumur Hidup

safe_image
#KOMPASkariersabtu, 12 Maret 2016,
Eileen Rachman & Emilia Jakob
EXPERD
CHARACTER BUILDING ASSESSMENT & TRAINING
Seorang pimpinan perusahaan begitu bangga dengan tim IT nya dan menganggap bahwa kemampuan teknologi informasi perusahaannya sudah sangat canggih dan mumpuni. Namun dalam suatu seminar, pimpinan ini terkejut, karena ternyata banyak perusahaan lain mempunyai kekuatan IT yang sama, bahkan lebih canggih. Ketika meninjau kembali manajemennya, ia baru menyadari bahwa tim IT yang merasa sudah canggih ini, ternyata tidak mempelajari sistem baru dan tidak memperbaharui pengetahuannya. Beberapa bahasa bahkan masih menggunakan versi lama. Bisakah kita bertahan bekerja dengan pengetahuan yang diperoleh lebih dari 10 tahun lalu ini? Mungkin untuk beberapa sistem yang memang sangat statis, pengetahuan ‘old school’ ini masih bisa digunakan. Tetapi menjawab tantangan dan tuntutan pasar yang semakin besar, kompleks dan tak jelas, pastinya membutuhkan pengetahuan yang paling mutakhir. Bisakah kita menjaga keingintahuan, semangat belajar, pembaruan kompetensi di lingkungan perusahaan kita, sementara kita juga perlu mengejar target dan tetap berproduksi?
Di Google, 20 % dari kegiatan perusahaan dipergunakan untuk merancang prototip baik untuk produk baru, pembenahan interior ruang atau bahkan untuk mendesain kursi taman kantor baru. Menurut Larry Page, founder Google, “Yang penting ada unsur kotak katik dalam benak karyawan, tidak hanya desain, tetapi juga mencakup implementasi, aplikasi, dan terealisasikan secara fisik”. Kegiatan ini diperlukan untuk membuat aktivitas berfikir karyawan selalu berada dalam keadaan siaga. Tidak bisa kita menganut faham penyebaran benih, ”Let a thousand flowers bloom, and we’ll see what happens” lagi. Saat ini kita selalu perlu berfikir dengan berbagai fokus, serta memperbaharui proses yang sedang berjalan. Bahkan sebenarnya kita perlu menjaga ‘sikap oposisi’ terhadap produk yang tadinya adalah ide cemerlang kita. Tuntutan belajar dalam organisasi sudah bukan main-main. Bila tidak dijaga dan dipasarkan dengan baik di internal, maka kita akan menemukan karyawan yang meskipun masih muda, tetapi berpandangan ‘jadul’, keras kepala, dan tidak percaya pada perubahan, merasa tidak bisa dan tidak mau mempelajari sesuatu dalam proses bekerjanya. Bahkan dalam organisasi yang secara teratur mengirimkan karyawannya ke luar negeri untuk meraih gelar S2 bahkan S3 pun, gejala kealotan pemikiran ini bisa tetap terjadi.
Belajar informal
Apakah pembelajaran memang sudah berganti rupa? Masih bisakah kita menyuntikkan kegiatan belajar dengan cara konvensional? Matthias Malessa, Chief Human Resources Officer Adidas, merasa pembelajaran di dalam kelas sudah tidak lagi berdampak signifikan. Ia mencari cara, bagaimana pembelajaran dapat menjadi “light, desirable, dan fun.” Matthias percaya, bahwa mengalami sendiri, melakukan kesalahan, adalah cara pembelajaran yang paling efektif. Mereka percaya bahwa 80% pembelajaran terjadi secara informal. “Corporate University’ terasa menjadi tempat belajar yang sempit untuk mengakomodir karyawan yang ingin belajar dengan santai. Itulah sebabnya Adidas, mencari cara agar belajar bisa terjadi sepanjang hari, 24/7. Bahan pembelajaran diperluas menjadi bacaan koran, video, internet, quiz-quiz, termasuk ‘sharing’ untuk mengakses sumber sumber eksternal seperti TED, You tube, blog-blog. Mereka mengikuti prinsip : MOOC’s (Massive Open Online Courses). Para karyawan yang dibesarkan oleh You Tube, Pinterest dan Instagram ini perlu dirangsang pembelajarannya melalui media media ini pula. Agenda pembelajaran menjadi agenda setiap orang dalam organisasi, tidak terkecuali para pemimpin. Pemimpinlah yang menjadi komandan dan provokator pembelajaran. Hal ini juga dilakukan oleh sebuah perusahaan kosmetik lokal di negara kita, di mana pemilik, suami-istri, anak-mantu, semua percaya bahwa belajar bisa di mana saja, kapan saja, dari siapa saja, dan dengan media apa saja. Organisasi perlu mencari cara pembelajaran yang ‘self driven’ dan ‘sexy’ bagi karyawannya, menjadikan inovasi sebagai ‘way of thinking’ sehari-hari di lingkungan pekerjaannya. Pemimpin yang menganggap pembelajaran adalan kegiatan pra atau pasca, ataupun di samping kegiatan utama, akan mengalami perlambatan yang signifikan di organisasinya.
Quantum Leap Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran perlu didesain secara seksama, dengan tujuan dan ‘dashboard’ alias parameter pengukuran keberhasilan yang jelas. Menurut para pimpinan Adidas, “Kita paling tidak, perlu melakukan ‘quantum leap” sebanyak 10 kali lipat, dan mencetak laba 10 kali lipat lebih besar. Tidak lagi mengharapkan pertumbuhan mainstream 10 % saja secara biasa”. Mengapa harus demikian? Kenyataannya dengan lompatan 10 kali lipat, kita meninggalkan kompetitor. Karyawanpun menjadi lebih ambisius, dan ingin menginspirasi satu sama lain. Atmosfir seperti ini pastinya akan menarik dan individu yang suka tantangan, rajin belajar dan gemar berpikir untuk bergabung dengan perusahaan pembelajar ini. Budaya inovasi akan terwujud nyata dalam organisasi, tidak hanya menjadi kutipan manis yang tergantung pada plakat budaya perusahaan semata. Dan di sini, pemimpin tidak memiliki pilihan lain selain berpikir ‘why not?’

 

5 jenis kelas berdasarkan tingkat kebisingan dan solusinya

original-293843-1 57c20d07256bf0cd49eca88fbe12a045

Dalam hal suara di kelas ada beberapa istilah dalam bahasa Indonesia yang bisa menerangkan. Ada istilah kelas yang ribut, kelas yang gaduh, kelas yang riuh, kelas yang berdengung dan kelas yang sunyi. Bahasa adalah soal rasa, perlu jam terbang  untuk bisa membedakan. Saya akan coba membantu anda mengasah rasa dalam soal bahasa.

Kelas yang ribut adalah kelas yang tidak ada aturan, dengan demikian suara yang ditimbulkan dari kelas seperti ini adalah suara yang tidak beraturan (ribut). Suara bersahut-sahutan. Biasanya hal ini dimulai dari guru yang senang memotong kata saat menjelaskan. Seperti misalnya, “anak-anak kita semua tinggal di negaraaa trooo..? Lalu siswa meneruskan pissssssss.

Kelas yang gaduh adalah kelas yang menghasilkan suara yang bercampur antara suara siswa bersahut-sahutan dan  suara pergerakan siswa selama di kelas. Biasanya karena ukuran siswa yang banyak, bangku meja yang besar membuat siswa sulit untuk bergerak. Siswa yang tidak sabar memilih untuk naik ke bangku atau meja saat bergerak.

Kelas yang riuh adalah kelas yang kedatangan guru yang pandai melucu atau membuat siswa tertawa karena humornya. Kelas yang riuh sering membuat orang salah paham, dikarenakan sepertinya kelas yang baik adalah kelas yang seperti itu, padahal tidak selalu. Jika riuhnya kebangetan maka kelas akan berubah menjadi kelas yang ribut. Apalagi jika kelas sudah mulai mengganggu kelas yang lain.

Lanjutkan membaca “5 jenis kelas berdasarkan tingkat kebisingan dan solusinya”

Tulis refleksi pada RPP anda setelah digunakan, jadilah guru yang reflektif

reflective practice 3

Refleksi adalah sebuah cara bagi seorang guru untuk melihat sejauh mana ia sudah berpraktek dengan baik sebagai pendidik.

reflective practice 4

Banyak guru mengeluh soal kewajiban administrasi yang banyak saat menjalani karir sebagai guru. Padahal semua berakar dari ada tidaknya kebiasaan reflektif.

Bayangkan situasi ini:

Seorang guru merencanakan sebuah pembelajaran untuk dua jam pelajaran dalam bentuk RPP. Ia masuk kelas dan mulai mengajar, waktu berlalu dan banyak kejadian pada saat ia mengajar. Kejadiannya bervariasi dan kebanyakan kesemuanya bisa diambil kesimpulan bahwa pembelajarannya hari dan jam itu tidak berhasil. Meleset target dan sebagai guru ia tidak puas. Sebagai manusia biasa ia akan berusaha melupakan apa yang terjadi hari itu. Memang buat apa mengingat ingat hal yang tidak enak. Jadi lebih baik lanjutkan mngajar, toh tidak setiap hari kegagalan terjadi.

Sebaliknya

Suatu hari saat guru mengajar, ia merasakan hal yang luar biasa, semuanya berjalan lancar dan ia merasa sangat berhasil sebagai guru.

Lanjutkan membaca “Tulis refleksi pada RPP anda setelah digunakan, jadilah guru yang reflektif”

14 tanda bahwa kelas yang anda ajar monoton

level-of-engagements

Tidak ada guru yang yang ingin kelasnya menjadi kelas yang monoton. Jika boleh meminta setiap guru ingin kelasnya isinya adalah siswa yang baik, pintar secara akademis, punya karakter dan aktif saat gurunya mengajar. Jika boleh meminta maka guru juga akan meminta murid yang punya perhatian dan perasaan empati pada gurunya, ketika gurunya terlihat capek maka murid akan diam tidak bertanya dan menurut. Semantara jika gurunya terlihat segar dan siap mengajar maka siswa akan aktif seaktifnya, bertanya terus menerus pada gurunya.

Namun mengajar bukan soal keinginan guru. Mengajar di kelas adalah masalah kesiapan guru lewat perencanaan dan sikap reflektif belajar dari pengalaman sebelumnya. Hanya dengan kedua hal tadi guru akan berhasil di kelas.

Kembali lagi kepada judul diatas, guru sering tak sadar jika kelasnya sudah menjelma jadi kelas yang monoton. Beberapa hal dibawah ini menjadi tanda bahwa kelas anda adalah kelas yang monoton.

  1. Kelas anda hanya punya satu model dalam hal metode pembelajaran, metode komunikasi dan tingkat kebisingan. Bayangkan sebuah kelas yang ribut terus dan gurunya berceramah terus, atau kelas yang sepi terus, gurunya saja yang berbicara (itu juga kalau didengar) murid tenang bukan karena perhatian tapi karena malas dan skeptis.
  2. Anda lupa kapan terakhir memuji siswa. Siswa dipuji hanya pada saat pengambilan rapor (bagi yang baik nilainya) sementara murid yang biasa saja atau murid yang lambat jarang sekali atau bahkan tidak pernah dipuji.
  3. Tempat duduknya hanya berbanjar kebelakang. Murid yang pintar duduk didepan,  murid yang lambat belajar malah dibelakang
  4. Temboknya kosong tanpa pajangan, kalaupun ada hanyalah foto presiden atau beberapa foto pahlawan.
  5. Guru mengajar dengan kendalikan buku teks, guru akan marah sekali jika siswa tidak membawa buku teks.
  6. Pekerjaan siswa hanya menghabiskan atau menyelesaikan mengerjakan LKS
  7. Metode pembelajarannya hanya mengandalkan ceramah yang bersifat satu arah.
  8. Guru sering mengeluhkan siswanya, sebaliknya siswa tidak peduli pada gurunya.
  9. Seisi kelas melihat jam dinding menjelang jam istirahat atau jam pulang
  10. Guru hanya duduk dimejanya sepanjang jam pelajaran
  11. Semua siswa, baik yang cepat daya tangkapnya sampai yang lambat daya tangkapnya mengerjakan hal yang sama. dan mengerjakan lembar kerja yang sama
  12. Kelas tidak memungkinkan siswa untuk bekerja dalam kelompok
  13. kelas bernuansa masa lalu tidak ada penggunaan teknologi digital
  14. Siswa tidak punya bayangan kegiatan yang ia akan lakukan dari menit ke menit, dengan demikian siswa merasa mesti minta persetujuan guru terus menerus.

Empat belas tanda diatas bisa dihindari jika guru mengajar dengan hati yang diramu dengan strategi. Dijamin kelas akan kondusif dan bernuansa mengedepankan potensi siswa.

%d blogger menyukai ini: