5 cara membuat guru serius ikut pelatihan

Dalam sebuah diskusi untuk guru di sebuah forum guru di aplikasi telegram, saya membuat survey sederhana dengan pertanyaan mengapa guru bisa ‘ogah-ogahan menerapkan hasil pelatihan. Jawabannya ada pada gambar diatas.

Pelatihan sangat diperlukan oleh guru. Guru senang dan merasa diperhatikan jika sekolah menyediakan pelatihan bagi dirinya. Sebuah pelatihan yang baik membuat guru makin semangat dan cinta pada pekerjaan nya. Pelatihan yang bermanfaat bagi guru bukan yang isinya sekedar menunjukkan apa yang salah dan keliru namun juga membuat guru merasa antusias dan ingin melakukan yang terbaik .

Harus diakui bahwa pelatihan bagi guru biasanya kurang mengadopsi sistem atau gaya pelatihan orang dewasa atau biasa disebut andragogy

Untuk itu sebagai pendidik professional ada hal yang bisa dilakukan berkenaan dengan bagaimana mengefektifkan hasil pelatihan

Sebagai seorang guru belajar adalah kewajiban setelah mengajar. Mengikuti pelatihan adalah hal yang hampir pasti dialami oleh seorang pendidik profesional. Tips dibawah ini akan membuat anda serius dalam mengikuti pelatihan.

  1. Mengikuti pelatihan berarti berani mengosongkan gelas kita. Artinya berani membuat pemikiran kita terbuka seluas luasnya demi menerima ilmu baru
  2. Tidak semua pelatihan kita hadiri karena kita niat utk ikut. Bisa saja karena kita menggantikan orang lain atau mendadak ditunjuk. Lakukan riset kecil kecilan mengenai tema dan pembicara, dijamin akan bertemu pertanyaan yang dahsyat untuk ditanyakan pada pemateri.
  3. Bertanyalah yang banyak saat pelatihan. Ada kata kunci yg mesti ada saat anda bertanya yaitu..” bagaimana cara penerapannya di kelas?” Dijamin pemateri tidak akan terlalu asyik berteori.
  4. Guru mesti punya tujuan pribadi sebelum mengikuti sebuah pelatihan.
  5. Niatkan berbagi ilmu setelah pelatihan kepada sesama rekan guru, dijamin anda akan bersemangat mengikuti pelatihan. Tulis hasil pelatihan di blog atau status updates media sosial

Saat guru mengikuti pelatihan dan ia merasa banyak mendapat manfaat, maka godaan selanjutnya adalah ia merasa perlu menularkan pada rekan sesama guru. Padahal tidak semua rekan guru punya minat yang sama. Saran saya jadilah seseorang yang asyik melaksanakan hasil pelatihan sambil mendokumentasikannya. Dengan demikian biarkan orang lain mengamati baru kemudian bisa terinspirasi sehingga virus ‘best practices akan cepat tersebar.

Iklan

Penilaian autentik dalam Kurikulum 2013

Penilaian dalam proses pembelajaran merupakan faktor penentu keberhasilan belajar seorang siswa. Dengan demikian tugas guru adalah memastikan bahwa penilaian yang dilakukan terencana dengan baik sehingga penilaian yang dilakukan akan efektif dan bermakna dalam membantu perkembangan siswa.

Pada kurikulum 2013 guru sangat didorong untuk dapat melakukan penilaian autentik yaitu penilaian langsung terhadap perilaku yang ditunjukkan siswa dalam proses belajar dan menilai kondisi perkembangan siswa apa adanya. Dengan demikian tugas guru adalah membuat perencanaan penilaian sejak awal sebelum pembelajaran dilaksanakan yaitu pada saat guru membuat silabus dan RPP. Guru perlu memikirkan mengenai teknik penilaian apa yang sesuai untuk menilai ketercapaian sebuah indikator berdasarkan kompetensi dasar yang telah ditentukan.

Untuk itu guru guru perlu belajar mengenai apa itu penilaian autentik mulai dari jenis penilaian, teknik teknik dan instrumen penilaian sampai pada bagaimana mengolah nilai serta menganalisa hasilnya untuk dijadikan laporan perkembangan belajar siswa. Jika guru sudah mengerti apa itu penilaian autentik serta sudah memiliki keterampilan bagaimana memilih dan menggunakan teknik dan instrumen penilaian maka diharapkan hasil belajar siswanya pun akan meningkat.

Target dari sebuah kegiatan pembelajaran adalah bahwa siswa akan berkembang potensinya baik dari aspek kognitif, afektif dan psikomotoriknya. Guru perlu dibekali dengan pengetahuan mengenai bagaimana melakukan penilaian diagnostik, formatif dan sumatif. Sehingga jelas sudah bahwa pengetahuan dan keterampilan guru mengenai bagaimana melakukan penilaian yang efektif sangat diperlukan agar sukses dalam penerapan kurikulum 2013.

Saat ini tantangan bagi guru guru lebih berat lagi karena dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan bangsa kita pemerintah mengharapkan agar guru guru di sekolah dapat melaksanakan pembelajaran yang mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi pada siswa (Higher Order of Thinking Skills).

Jadilah guru yang selalu semangat belajar, mempersiapkan pengetahuan dan keterampilannya sebelum membimbing siswa belajar.

4 Resep agar sekolah bisa membuat gurunya menjadi kreatif

Kreatifitas di sekolah punya makna yang luas. Masing masing pihak di sekolah baik itu guru, siswa, kepala sekolah, dan orang tua siswa punya sendiri makna kreativitas. Jika dilihat dari kepentingannya makna kreativitas di sekolah bisa digolongkan menjadi

  1. kreatif dalam mengajar dan menggunakan strategi/metode pembelajaran
  2. kreatif dalam membuat program-program sekolah
  3. kreatif dalam membuat eskul sekolah
  4. kreatif dalam menangani perilaku siswa.
  5. kreatif dalam mengelola kelas
  6. Kreatif dalam menghias kelas
  7. kretif dalam membuat permainan (games) yang membuat siswa senang dan terhibur.
  8. kreatif dalam menilai (menggunakan instrumen penilaian) siswa.

Semua kreativitas di atas memerlukan usaha bersama di sekolah agar bisa dilihat dan dirasakan di kelas dan dalam level sekolah secara keseluruhan. Kepala sekolah sering merasa belum mengetahui cara membuat gurunya bersedia dan mau menjadi kreatif. Padahal bagaimana sebuah sekolah dinilai bagus atau tidaknya ada dari situasi pembelajaran di kelas serta seberapa bermakna nya kegiatan yang terjadi di sekolah.

Kepala sekolah mesti punya indra keenam dalam mengembangkan sekolahnya agar bisa sukses dengan cara memberikan kesempatan guru untuk berkembang mulai dari yang ia bisa.

Seorang guru bisa saja merupakan sosok pribadi yang:

  1. Senang kegiatan luar ruang atau olahraga
  2. Senang kegiatan seni
  3. Senang kegiatan keagamaan
  4. Senang kegiatan sosial
  5. Senang kegiatan yang menggunakan IT atau teknologi
  6. Senang berkompetisi
  7. senang dunia menulis
  8. senang dengan dunia kerajinan tangan
  9. Dan lain sebagainya

Kesemuanya merupakan aset bagi sekolah. Apalagi jika sekolah bisa mengemasnya bersama kreativitas.

Berikut ini hal yang bisa sekolah lakukan untuk membuat semua guru menjadi guru kreatif di sekolahnya.

  1. sekolah bisa melakukan pemetaan kompetensi dan minat guru. ‘Siapa minatnya apa’ yang dari pemetaan itu bisa dilihat apa saja yang menjadi nilai lebih dari tiap pribadi guru yang ada di sekolah.
  2. meminta guru melakukan suatu inovasi yang kecil, sederhana dan mulai dari hal yang mereka suka. kemudian dibagikan tips nya saat rapat rutin. Misalnya meminta guru yang menyukai seni membuat dekorasi pada acara kemerdekaan di sekolah, atau guru yang punya inovasi di bidang matematika melakukan games singkat dengan siswanya di kelas. Minta guru lain memfoto atau memvideokan, minta guru yang membuat melakukan presentasi singkat 5 menit saat rapat rutin.
  3. sekolah melibatkan media sosial sebagai cara membuat guru senang dan bangga karyanya diketahui orang lain. Ada jenis guru yang tidak terlalu suka narsis atau show off, untuk itu tugaskan satu guru yang senang pada dunia TIK atau media sosial dan bisa menulis untuk menjadi reporter sekolah. Tugaskan ia untuk membuat liputan yang bisa di forward oleh guru lain. Minta semua guru mempunyai akun di IG atau facebook agar mudah di ‘tag’.
  4. Sekolah membuat rapat rutin yang terstruktur dan terjadwal. Rapat seperti ini sangat berpengaruh dalam membuat guru merasa punya lingkungan yang mendukung bagi kreativitas. Untuk level SD, sekolah bisa meminta guru paralel untuk bertemu seminggu sekali, membicarakan hal apa saja yang akan dilakukan di minggu depannya di kelas dalam pembelajaran. Di tingkat SMP dan SMA, pertemuan internal sekolah MGMP akan membuat adanya dialog antar guru mengenai inovasi yang dilakukan di kelas. Semua obrolan akan berujung pada inovasi jika sekolah mendukung dan memonitor.

Kreativitas di sekolah adalah gabungan antara keberanian membuat sebuah hal yang berbeda dilandaskan keinginan yang besar untuk menyajika sesuatu yang baru untuk siswa. Peran sekolah melalui kepala sekolah adalah membuat guru berani mencoba, melakukan supervisi dan selalu menghargai tiap pencapaian atau inovasi walaupun kecil dan sederhana.

Sekolah ‘Ramah Orang Tua’

Sebuah sekolah akan maju jika program program sekolahnya maju dan kekinian. Kekinian bagi siapa? tentunya bagi siswa yang menjadi tujuan mengapa sekolah itu ada. Uniknya di sekolah swasta sering terjadi sekolah berubah, bergerak karena di komplain oleh orang tua siswa sebagai pemangku kepentingan (yang utama).

Bagi anda yang ada di sekolah swasta tentu pernah mendengar kata kata ‘management by complain’. Artinya sekolah berubah dan mau mendengar jika wujudnya adalah keluhan dari orang tua siswa. Lupakan sejenak yang namanya Renstra atau rencana strategis atau malah progam pendidikan yang bermakna, karena di sekolah swasta bisa saja sebuah sarana dan prasarana ada dan terbeli dikarenakan orang tua siswa yang meminta serta yayasan kemudian mengiyakan tanpa berkonsultasi pada manajemen pelaksana apakah diperlukan atau tidak.

Memang sebuah keluhan dari orangtua bisa saja datang demi kemajuan siswa, atau dikarenakan orang tua siswa membandingkan sekolah anaknya dengan sekolah lainnya (dengan SPP yang sama). Namun di mata guru sebuah kebijakan yang diambil karena keluhan akan membuat manajemen sekolah menjadi tidak ada wibawanya.

Guru memang akan sangat kritis dengan kebijakan manajemen sekolah dikarenakan mereka lah yang melihat bagaimana manajemen bersikap dan merencanakan sebuah perubahan. Saatnya sekolah punya daya tahan dari keluhan dengan cara sebagai berikut;

  1. Ambil posisi menyerang, hal ini adalah istilah yang berarti manajemen sekolah melakukan pendekatan kepada orang tua siswa lewat beragam cara dan kesempatan. Cara terbaik adalah dengan membuat event yang menarik bagi orang tua siswa.
  2. Membekali guru dengan kemampuan komunikasi yang baik dengan demikian tidak semua keluhan lari ke kepala sekolah dan yayasan
  3. Manajemen sekolah punya Dewan Sekolah (School Board) dan Persatuan orang tua guru dan siswa sampai Class parent alias WOTK (Wali orang tua kelas) sebagai saluran bagi orang tua siswa dalam berpendapat demi kemajuan sekolahnya.

Sekolah yang efektif punya Action plan atau Renstra (Rencana Strategis) yang dikomunikasikan dan berlaku 1 sampai 3 tahun. Sekolah akan tenang hidupnya jika punya rencana dan program yang kesemuanya demi siswa. Hindari untuk membiarkan orang tua siswa berasumsi dan menebak nebak kemana arah sekolah akan berjalan.

Lakukan perubahan terus menerus dalam skala kecil atau besar, program pendidikan unggulan segala matpel, pembelian alat sumber belajar, pelatihan guru dan sebagainya. Semua demi membuat orang tua siswa merasa tanpa diminta, sekolah sudah tahu dan mengerti kemana mesti berubah dan melangkah.

Teknis menulis Jurnal refleksi yang efektif

Saat ini sudah semakin banyak guru guru yang sadar untuk melakukan refleksi terhadap kinerjanya setelah menyelesaikan tugas mengajar di kelas. Hal ini merupakan tanda yang positif mengingat bahwa melakukan refleksi merupakan satu keharusan bagi seorang guru karena kegiatan refleksi akan memberikan dampak yang positif bagi peningkatan kinerja guru.

Namun kegiatan refleksi bukan sebatas menuliskan jurnal refleksi pada RPP yang dibuat guru dan sudah dilaksanakan kegiatan pembelajarannya namun jauh lebih penting adalah bagaimana guru dapat menjadikan catatan refleksi itu sebagai bahan untuk memperbaiki kesalahan atau kekurangan dalam mengajar.

Untuk itu maka guru perlu mengetahui teknik penulisan jurnal refleksi yang efektif. Pada kesempatan ini saya memperkenalkan teknik 4M yang akan memandu guru dalam menuliskan refleksinya. Adapun yang dimaksud 4M adalah bahwa guru mengikuti langkah langkah sebagai berikut.

M1 adalah guru menuliskan laporan secara umum bagaimana kegiatan pembelajaran berlangsung seperti hal positif apa yang terjadi serta bagaimana kegiatan berjalan secara keseluruhan.

M2 adalah guru merespon atau mengungkapkan perasaannya setelah kegiatan belajar terlaksana. Termasuk bagaimana perasaan siswanya.

M3 adalah guru menjelaskan bagian mana yang dirasakan merupakan masalah atau kendala yang dialami oleh siswa ketika mengikuti kegiatan termasuk bagaimana siswa memahami materi. Guru menjabarkan secara detail apa yang menjadi kesulitannya saat memimpin pembelajaran dan kesulitan yang dihadapi siswa.

M4 adalah guru memikirkan rencana tindak lanjut atau hal hal yang akan diperbaiki Jika harus mengajarkan materi yang sama.


Demikianlah tips bagaimana menulis jurnal refleksi untuk guru. Semoga guru guru mau mencoba untuk disiplin dalam melakukan refleksi setelah mengajar dimana salah satu caranya adalah dengan menulis jurnal. Dengan demikian maka kinerja guru dalam mengajar akan menjadi lebih baik.

Untuk para kepala sekolah sebaiknya mendorong dan memastikan guru guru menuliskan jurnal refleksi di RPPnya.

3 Solusi Menjadi Sekolah yang Kreatif

Kreativitas di sekolah adalah sebuah hal yang erat kaitannya dengan sikap berpikiran terbuka dan keberanian untuk mengatakan bahwa bisa saja yang selama ini dianggap benar belum tentu masih relevan. Ada banyak salah paham mengenai kreativitas selama ini di sekolah, jika dirasakan memang ada semacam batas antara kreativitas dan semua praktek pelaksanaan pembelajaran sehari hari di sekolah. Hal ini dikarenakan salah paham yang mengatakan bahwa:

  1. Kreativitas hanya milik dari seseorang yang berada dalam dunia seni dan pertunjukan
  2. Kreativitas memerlukan biaya yang banyak
  3. Kreativitas memerlukan waktu yang banyak dalam penerapannya
  4. Kreativitas bertentangan dengan kurikulum
  5. Kreativitas adalah ledakan ekspresi sesaat yang akan hilang dengan sendirinya

Dari faktor diatas jelas sekali bahwa ada keengganan dari sekolah untuk mau bertindak dan berpikir kreatif. Padahal kreativitas bisa muncul dari macam segi penerapan dan wujudnya.
Secara singkat hal yang diperlukan sebuah sekolah agar kreativitas menjadi gaya hidup dan kebiasaan adalah

  1. sosok kepala sekolah atau pimpinan supportif yang mengatakan bahwa sebuah ide layak dicoba dan bersedia menjadi sosok yang mengawal perubahan akibat pelaksanaan ide tersebut
  2. suasana sekolah yang ramah pada kegagalan yang mengakibatkan guru/siswa tak takut mencoba hal yang baru.
  3. tidak adanya senioritas, jika hal ini ada maka suasana sekolah akan sangat menjemukan karena jika ide bukan dari seseorang yang dituakan atau senior maka bukan sebuah ide yang bagus. Sesuai kebiasaan maka ide yang baru jarang dari sosok yang senior dan sudah nyaman di tempatnya.

Kreativitas lahir dari suasana sekolah yang supportif, dan situasi dimana semua ide ditantang untuk diwujudkan dengan pengawalan kepala sekolah yang mumpuni dan memaksa semua pihak detail merencanakan dan konsisten dalam menjalankan. Dikarenakan sebuah kreativitas bukan lah hal yang besar, megah dan mewah namun adalah sebuah niat kecil yang berbeda dengan sebelumnya namun direncanakan dengan matang yang konsisten dan komitmen.

Pendidikan di tahun 2019, saatnya guru fasih menggunakan teknologi dalam mengajar

Di tahun 2018, nyata sekali media sosial menjadi tempat guru bersosialisasi secara online. Padahal dahulu di awal-awal dunia media sosial muncul, sekitar 10 tahun lalu adalah saat sebagian guru masih kesulitan membuat email karena sering lupa kata sandinya.

Saat ini hampir semua guru punya minimal satu media sosial yang disitu ia bisa lancar berekspresi. Ekspresinya bisa apa saja, dari pandangan politik, perasaan gairah dalam beragama sampai seperti biasa, curahan hati.

Hal yang menarik dalam tingkat internal sekolah secara umum di hampir semua sekolah yang saya datangi menggunakan aplikasi Whatsapp sebagai pilihan dalam berkomunikasi antar guru, guru dengan kepala sekolah. Banyak juga saya temui para wali kelas memilih aplikasi tadi sebagai pilihan dalam berkomunikasi dengan warga kelasnya.

Dalam situasi dimana aspek teknologi sudah masuk ke ruang kelas. Pilihan seorang guru jadi makin beragam dalam mengkomunikasikan perihal kemajuan anak didik atau dalam sekedar berkomunikasi dengan murid atau wali murid. Merupakan sebuah kemunduran jika sekolah masih merasa bahwa dunia komunikasi dan teknologi adalah gangguan, dikarenakan masih merasa sulit kendalikan sisi negatifnya.

Jika di tahun 2019 ini sekolah ingin masuk atau akrab kedalam jargon kekinian seperti ‘pembelajaran digital’, pendidikan 4.0 atau era industri 4.0 maka beberapa hal mendasar mesti sekolah lakukan.

1. Guru diberikan wawasan betapa teknologi memudahkan. Memberikan PR lewat email sampai mempunyai grup (kelas virtual) di facebook atau edmodo untuk menaruh bahan ajar dan berkomunikasi adalah sebuah kewajaran di jaman ini. Sudah saatnya guru membuat kuis di google forms dan kahoots yang membuat siswa senang dan merasa dirinya kekinian.

2. Atur kembali penggunaan hand phone di sekolah. Seperti bumi dan langit jika sebuah sekolah ingin masuk ke pembelajaran digital namun urusan pengaturan penggunaan HP tidak selesai selesai diatur dan dibicarakan dalam level pimpinan sekolah. HP perlu bukan hanya untuk berkomunikasi tetapi juga sebagai sarana belajar. Siswa bisa diminta mengerjakan kuis secara real time di situs situs gratis yang guru buat sebelum pertemuan.

Beberapa hal yang bisa sekolah dapatkan dari kemauan membuka diri terhadap teknologi adalah

1. guru dipaksa untuk terus belajar. Saat ini seorang guru dalam membuat update di IG maupun facebook, sampai berbelanja online sudah sangat mandiri. Bahkan saya mengenal guru yang juga pebisnis di dunia maya. Saatnya kemahirannya digunakan dalam membuat pembelajaran yang menarik dengan teknologi

2. Siswa merasa pembelajaran di sekolahnya kekinian, tidak ada lagi kisah mencatat  tulisan di papan tulis demi adanya kegiatan di kelas yang kelihatannya siswa ‘belajar’ padahal dengan teknologi semua jadi dipermudah.

3. Guru dan siswa tidak lagi menjadi liar (tidak beradab) di dunia media sosial dan teknologi hanya karena merasa bahwa dunia online dan dunia pembelajaran di kelas punya dinding yang membatasi. baik guru dan siswanya merasa harus berhati hati di media sosial (online).

Menggunakan teknologi saat ini merupakan kompetensi guru yang mesti dipenuhi. Tidak akan ada lagi guru yang mengatakan bahwa ia mengajar demi mempersiapkan masa depan, karena masa depan adalah sekarang.