Waspada, ini penyebab murid Sekolah swasta jadi berkurang

Dalam blog ini saya sering ditanya mengenai cara menaikkan angka pendaftaran di sekolah swasta. Menariknya alih alih si pengelola sekolah konsentrasi pada penyebab turunnya jumlah siswa, ini malah mengutamakan naiknya jumlah pendaftaran siswa. Padahal lebih baik konsentrasi pada penyebab saja dahulu, nantinya grafik atau angka pendaftar otomatis akan terdongkrak. Berikut ini apa penyebab siswa menurun di sebuah sekolah swasta.

  1. Perbedaan pandangan antara pemilik dan pengelola. Pemilik adalah generasi lama, pengelola adalah generasi baru. Bagi generasi lama, pengelola sering banyak kurangnya.
  2. Kasus demografis, angka kelahiran yang menurun, atau wilayah yang tergusur dan ditinggal oleh penghuni.
  3. Kalah oleh berita miring yang dihembuskan oleh orang tua siswa yang tidak puas.
  4. Sekolah miskin inovasi, ditambah gurunya cuek dan tidak berjiwa pendidik.
  5. Kebijakan SPP yang tidak transparan, ada siswa yang dapat diskon dan ada yang tidak. 
  6. Pemilik sekolah swasta yang kebanyakan janji surga, sebagian besar gagal diwujudkan.

Jika ada tertarik silakan melanjutkan diskusi ini dalam kolom komentar. Saya akan membahas sesuai tanggapan. Beberapa hal yang menjadi jawaban sudah ada dalam ilustrasi diatas.

Iklan

Rasa percaya dan kepercayaan diri, adalah dua modal menjadi guru profesional

 

IMG_1170

Salah satu modal menjadi guru yang kreatif dan profesional adalah rasa percaya dan sikap percaya diri. Keduanya mungkin bukan hal yang mudah, namun sangat ampuh bagi guru guru yang baru terjun atau bahkan guru yang sudah makan asam garam di dunia pendidikan. Jika seorang guru senang dengan dunia pendidikan yang ia geluti maka seperti bidang lainnya akan ada tantangan untuk diselesaikan. Biasanya tantangan yang ada adalah:

  • sikap sesama rekan guru yang kurang mendukung
  • sikap kepala sekolah yang belum bisa berperan sebagai pemimpin
  • sikap orang tua siswa atau masyarakat yang menyerahkan semua pendidikan anaknya ke sekolah dan guru.
  • fasilitas sekolah yang kurang memadai
  • cara belajar siswa yang lambat
  • sikap siswa yang tidak semangat dalam belajar
  • kompetensi guru yang kurang.

 

Lanjutkan membaca “Rasa percaya dan kepercayaan diri, adalah dua modal menjadi guru profesional”

Membahas ‘pil pahit’ di dunia pendidikan

miris-pendidikan-di-indonesia-hanya-sekelas-ghana-oman

Membicarakan kenyataan dalam dunia pendidikan selalu menarik. Anda bisa mulai dari mana saja, dari masalah infrastruktur sampai mutu guru. Semua hal yang berhubungan dengan dunia pendidikan seperti tak ada habisnya untuk diperbincangkan. Dari sisi kebijakan (policy) atau pelaksanaan kesemuanya punya kenyataan di lapangan yang layak dijadikan bahan analisa.

Tulisan ini akan membahas realita atau kenyataan dari sisi hal yang sifatnya aplikatif dari sisi saya sebagai pelaksana di dunia pendidikan.
Lanjutkan membaca “Membahas ‘pil pahit’ di dunia pendidikan”

Inovasi adalah obat mujarab bagi sekolah agar bisa terus relevan

DDXcmi1XkAMNoKy

Sekolah swasta atau negeri yang di tahun 80 atau 90 an awal menjadi sekolah favorit, di masa sekarang mengalami dua jenis keadaan, bertahan seadanya atau ditinggalkan sama sekali. Untuk sekolah negeri sepertinya tidak akan terjadi dikarenakan dengan dana pemerintah yang ada, sekolah punya daya tarik menjadi sekolah yang gratis dari segi pembayaran.Bagi sekolah swasta tidak ada jalan lain jika ingin bertahan mesti dengan inovasi. Namun pertanyaannya mengapa sekolah swasta ‘jadul’ bisa menjadi tidak relevan lagi dimasa sekarang. Beberapa faktor bisa saya ungkap disini.

  • Sekolah terlalu berat sebelah mengutamakan aspek kognitif.
  • Disiplin yang diterapkan bukan disiplin yang positif, lebih kepada upaya mengekang siswa agar bisa dibatasi dan dibentuk.
  • Guru masih konvensional, mudah marah jika merasatidak dihormati siswa
  • Sekolah kurang mendahulukan pelatihan dan pengembangan kompetensi guru. Kesejahteraan mungkin diperhatikan namun kompetensi kurang diperhatikan.

Faktor diatas lah yang membuat sekolah jadi kurang relevan hadapi tantangan abad 21. Saat yang sama ada sekolah yang semata andalkan muatan ‘agama’ agar bisa bertahan. Sebuah hal yang tidak salah namun seperti hidangan, serasa belum lengkap jika sekolah tidak mengedepankan hal yang aplikatif dan mempersiapkan keterampilan hidup siswanya.Sebenarnya apa hal yang membuat sebuah sekolah bisa terus relevan. Jawabannya sederhana saja yaitu ‘inovasi’. Bagaimana membuat inovasi bisa menjadi ruh bagi sebuah sekolah sebagai komunitas pembelajar.

  1. Sekolah mesti dipimpin oleh kepala sekolah yang pembelajar
  2. Sekolah punya kegiatan atau aktivitas andalan selain proses belajar mengajar yang konvensional
  3. Sekolah ‘memaksa’ guru-gurunya saling bekerja sama, lewat beragam cara dan siasat.
  4. Sekolah punya visi yang kuat, yang dijabarkan dalam bentuk action plan atau rencana aksi yang terstruktur dan punya jangka waktu
  5. Pembelajaran di sekolah bernuansa karya nyata berorientasi keterampilan hidup, dan bukan sekedar teori
  6. Guru terus ditingkatkan kompetensi nya lewat serangkaian pelatihan, bukan untuk agar mereka ‘pintar’ mengajar, namun agar supaya mereka fleksibel dalam menggunakan beragam metode dan punya mind set ke masa depan.

Berinovasi adalah persoalan budaya sekolah. Sungguh sangat sayang jika sebuah sekolah swasta jalan ditempat hanya karena punya budaya yang kurang kekinian. Relevansi berawal dari inovasi dan sebaik-baiknya inovasi adalah yang berasal dari guru guru yang diberdayakan dengan pelatihan terkini dan ‘dipaksa’ buat berkolaborasi.

 

4 tanda guru sebagai agen perubahan 

teacher-quote
Bukan perkara mudah menemukan guru yang siap jadi agen perubahan. Bahkan guru yang punya gelar berprestasi pun belum tentu sanggup jadi agen perubahan. Dikarenakan sebagai agen perubahan perlu mental, pola pikir dan strategi agar bisa membawa siswa, sesama guru bahkan sekolah ke arah yang lebih baik.

Berikut ini adalah hal yang mesti dimiliki oleh seorang guru yang boleh dikatakan sebagai agen perubahan.

Lanjutkan membaca “4 tanda guru sebagai agen perubahan “

12 prinsip penerapan Full Day School

full-day-school-3

Full day school (selanjutnya disebut FDS)  erat kaitannya dengan berapa lama waktu siswa berada di sekolah. Sebuah sekolah yang membuat guru dan siswa berada di sekolah lebih dari 7 jam bisa dikatakan sebagai full day school. Terlepas dari kontroversi yang terjadi serta konsep FDS yang ingin diterapkan pemerintah, tulisan ini akan membahas prinsip full day school jika sekolah anda ingin menerapkannya

Jam masuk sekolah

jam masuk sekolah

Dari tabel di atas jelaslah bahwa ekstra kurikuler sangat diperlukan dalam membuat pembelajaran siswa menjadi seimbang. Dengan jumlah jam yang cukup dan ditempatkan di akhir hari diharapkan siswa menjadi punya saluran dalam meregangkan kepenatan setelah belajar seharian.

Lanjutkan membaca “12 prinsip penerapan Full Day School”

7 cara menyeleksi guru baru lewat media sosialnya

Penekanan agar guru selalu mengangkat semangat plurasime,kesetaraan, demokrasi dsb dalam proses pembelajaran ternyatadalam keseharian di medsos tidak seperti itu. guru takut membicarakan perbedaan yang berkaitan dengan SARA. Khawatir menyebabkan salah satu pihak ada yang merasa tersinggung apabila membicarakan sesuatu yang berbau SARA.

Bukannya menyalahkan sikap seperti ini, namun sebagai pribadi yang dewasa dengan profesi yang sama dan tahu batas-batas etika diskusi, mestinya justru lebih enak dalam menyampaikan opini secara terbuka, mendiskusikannya bahkan berdebat beradu pendapat dan argumentasi serta opini.

Dari beberapa contoh kontra produktif di atas, yang paling saya herankan dan saya sayangkan serta sangat disesalkan adalah masih banyaknya teman guru yang melakukan copas artikel, istilah, gambar, konten milik orang lain (dengan penuh kebanggaan), bahkan ada juga yang gemar menyebar HOAX dan tanpa tahu bahwa itu adalah HOAX serta apaitu HOAX (Karena baru beberapa bulan pegang android yang akun WA-nya dibuatkan oleh pelayan konter).

#Mohon maaf yang sebesar-besarnya nih teman-teman guru, saya buka sedikit dapur kita

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/maarif_setyo_nugroho/guru-medsos-dan-sikap-politik_5915e033c222bd9b538300b8

images (1)

Cuplikan artikel diatas saya sarikan dari diskusi mengenai penggunaan medsos atau media sosial untuk guru. Ingatan saya langsung terbayang saat saya meminta guru di sekolah yang pernah saya pimpin untuk ‘membereskan’ media sosial nya. Itu terjadi sekitar 3 tahun lalu dari sekarang. Jauh dari situasi dimana media sosial dianggap telah terjerumus jadi ajang fitnah. Saya minta guru untuk menampilkan jati dirinya sebagai guru. Cara yang sama juga saya terapkan saat akan menyeleksi guru.

Lanjutkan membaca “7 cara menyeleksi guru baru lewat media sosialnya”