8 Alasan mengapa guru malas berinovasi di sekolah

Guru juga manusia sebuah hal yang sering didengar saat ingin memaklumi guru yang terbatas kemampuannya. Sejatinya semua guru ingin berbuat yang terbaik
bahkan ditengah keterbatasan.

Ada banyak cerita guru sukses yang ada di daerah SM3 T. Namun di kota besar yang melimpah fasilitas dan sarana ada juga guru yang biasa biasa saja bahkan marah ketika diingatkan soal inovasi

Guru memang tugasnya untuk melakukan yang terbaik dan memang ketika menjadi guru pastinya ingin membeikan yang terbaik bagi siswanya. Ada banyak situasi yang membuat guru malas berinovasi atau malah senang melakukan kebiasaan baik yang berujung pada inovasi.

Sebenarnya apa yang membuat guru malas berinovasi?

  1. Tipe pimpinannya. Mengapa seorang pemimpin bisa membuat anak buah malas berinovasi? ada dua kemunginan besar. Entah kepala sekolahnya memang anggap inovasi itu tidak penting atau terlalu fokus pada inovasinya sendiri dan cenderung semata mata mengajak saja tanpa mendelegasikan.
  2. Tidak ada peta atau arah yang jelas. Guru kesulitan mengacu kemana ketika mereka kebingungan akan arah perubahan
  3. Guru hanya diminta berbuat tapi minim pengakuan. Seorang pemimpin yang inovatif dalam dunia pendidikan senang mengatakan terima kasih, maaf dan tolong saat meminta team nya bergerak.
  4. Tujuannya kurang ambisius. Tujuannya masih standar standar saja. Memang akan banyak halangan dan memang itu kegunaan dari sebuah inovasi yaitu membuat yang tidak mungkin jadi mungkin
  5. Guru tidak diberikan kebebasan dan otoritas dalam menjalankan inovasinya. Guru hanya disuruh ini dan itu.
  6. Kemajuan tidak diukur. Sehingga guru kehilangan indikator sudah sampai mana kemajuan dan apa yang sudah diraih.
  7. Tidak ada kesenangan dalam melakukan perubahan. Padahal guru sangat menikmati jika ada lomba kecil kecilan atau kompetisi yang bisa memamerkan perubahan walau sedikit.
  8. Aktor perubahan kurang dirawat dan dipelihara. Perlakukan dengan baik orang orang yang bersedia pertama berubah (early adopter). Dijamin ia akan mendukung inoasi sepenuhnya.

Berinovasi berarti mengarahkan segenap daya dan upaya kepada satu titik. Diperlukan pimpinan yang bersedia mendengar dan saba terhadap arah perubahan yang kemudian berhasil melakukan transformasi.

4 prinsip agar inovasi di sekolah berbuah prestasi

Ada kemiripan dan perbedaan saat kita mendengar kata inovasi dan prestasi. Inovasi asal katanya dari innovation yang berarti

  1. pembaruan
  2. kebaruan
  3. perubahan baru

Sedangkan prestasi biasa disebut ‘achievement’ dalam bahasa Inggris yang berarti

  1. prestasi, pencapaian, sukses, hasil yang dicapai, hasil yang diperoleh
    performance
  2. prestasi, pencapaian, penyelesaian, penyelenggaraan, kepandaian, kecakapan

Keduanya menunjukkan usaha dan hasil akhir. Sekolah sebagai sebuah lembaga sah sah saja memilih salah satunya. Dalam pengalaman saya kata prestasi lebih sering disebut daripada prestasi. Uniknya lagi yang menyebut biasanya adalah orang orang yang tidak terlibat langsung dalam proses mendidik dan dunia sekolah. Bisa juga disebut harapan atau keinginan agar bisa dilaksanakan oleh semua orang yag ada di sekolah, baik itu guru kepala sekolah dan siswa. Tidak ada yang salah dari keinginan berprestasi. Di sekolah yang disebut prestasi adalah juara ini dan itu atau pencapaian nilai yang paling tinggi dari sekolah lain. Pertanyaannya mengapa kata inovasi justru jarang disebut? Lalu apa jadinya ketika kata inovasi dan prestasi disandingkan bersama di sekolah?

Inovasi dalam konteks sekolah berarti perbaikan terus menerus. Prinsipnya adalah discover, engineer dan transform. Inovasi bisa juga disebut sebagai tindakan yang dilakukan agar ada nilai tambah dari praktek yang biasa terjadi di sekolah. Apakah itu tentunya adalah proses belajar mengajar serta hal lain yang membuat siswa berhasil di masa depannya lewat peran serta semua pemangku kepentingan.

Bagaimana dengan prestasi? ia ada hubungannya dengan input siswa sebuah sekolah. Sekolah yang inputnya bagus akan lebih mudah mencetak sebuah prestasi. Di sebuah sekolah yang input siswanya bagus semua inovasi besar atau kecil akan dilahap oleh siswa yang memang bahan bakunya sudah siap untuk dikembangkan.

Bagaimana jika input sekolah anda biasa saja. Apalagi dengan sistem zonasi sekolah anda yang dahulu mendapatkan siswa yang tinggalnya jauh dari sekolah dan mempunyai nilai yang tinggi saat ini tidak bisa lagi. Sebaliknya jika sekolah anda dekat dengan pasar yang isinya anak anak dari keluarga yang pas pasan dan cenderung bukan ‘bahan baku’ yang baik. Anak anak itulah yang wajib masuk ke sekolah anda. Tentuya ada saja pendidik yang menyayangkan karena input yang bagus tidak bisa didapatkan kembali. Namun kita semua seperti disadarkan oleh sistem zonasi tersebut bahwa mendidik berarti memberikan pencerahan kepada siapa saja baik ia siswa dengan input yang bagus atau bukan.

Dari kedua hal tadi jika sebuah sekolah ingin secara berkesinambungan berprestasi dalam jangka panjang maka inovasi lah jawabannya.
Apa saja prinsip inovasi di sekolah agar menelurkan prestasi dan tidak bergantung pada input siswa yang anda dapatkan?

  1. Perbaiki visi misi. Pastikan ia sejalan dengan tantangan zaman. Pastikan semua pihak tahu kemana arah visi misi sekolah anda. Boleh juga punya target yang ambisius untuk menjadikan semua elemen di sekolah bersemangat sambil terus lakukan pelacakan data apa saja yang belum dan sudah terjadi dan dikerjakan. Dengan demikian guru sebagai ujung tombak merasa punya kewajiban untuk berkarya dan berbuat sebaik baiknya
  2. Berikan pilihan pilihan bagi staf untuk dikerjakan. Semua orang adalah juara, biarkan semua orang mencari jalan keluar dan berinovasi semampunya dan sebisanya. Pastikan sekolah menjadi lingkungan yang ramah dan suportif bagi mereka yang ingin bereksperimen dalam kebaikan.
  3. Hargai mereka yang telah mencoba. Bangun empati serta komunikasi yang terbuka dan transparan dikarenakan keberhasilan adalah milik semua yang telah mencoba walau gagal sekalipun. Minta mereka berbagi kisahnya dalam berproses kepada yang lain. Sekolah yang inovatif adalah sekolah yang guru gurunya terbuka dan bersedia bekerja sama satu dan lainnya.
  4. Buat situasi semua orang punya otonomi untuk mengerjakan sesuatu sambil pimpinan melakukan monitoring dan coaching terhadap proses dan hasil kerja. Tugas pimpinan mencari blind spot dalam setiap rencana inovasi. Fokus pada agen agen perubahan di sekitar anda. Stop untuk melayani drama dari orang yang menolak untuk berubah dan berinovasi. Pandang semua staf sebagai orang yang punya potensi untuk lakukan perubahan.

Dalam berinovasi semua pihak perlu terus bertanya pada diri sendiri untuk apa perubahan dilakukan. Tahapan inovasi dan prosentasi fokus serta usaha ada dibawah ini.

  1. Adakah hal yang baik selama ini dan bisa diteruskan atau bahkan diperkuat. (70 persen)
  2. Adakah hal yang ada didepan mata dan sangat mungkin untuk dikembangkan menjadi lebih baik? (20 persen)
  3. Hal baru apa yang bisa dilakukan (10 persen)

5 Jenis pernyataan warga sekolah yang menolak untuk ikut arus perubahan

Sekolah sebagai sebuah lembaga pendidikan punya karakter yang unik. Didalamnya ada warga yang terdiri dari berbagai macam latar belakang kepentingan serta keinginan. Ada pimpinan, guru serta orang tua siswa dan masyarakat. Harusnya nama lain dari sekolah adalah organisasi pembelajar, sebuah label yang malah banyak diadopsi oleh organisasi bisnis.

Sebagai organisasi pembelajar mestinya sekolah menjadi organisasi yang lincah dalam menyesuaikan diri terhadap perubahan. Namun tidak semua setuju akan hal ini. Menjadi sebuah kewajaran dikarenakan ada banyak tipe individu yang ada di sekolah. Semuanya punya sikap tersendiri dalam memandang perubahan. Salah satu cara untuk menilai apakah ia setuju atau tidak dengan perubahan adalah dengan mencermati pendapatnya . Ada beberapa tipe pendapat yang bisa saya bahas

  1. Pernyataannya: “Saya ingin melihat dulu datanya”. Artinya: Perlu data yang cukup hingga orang ini mau ikut arus perubahan. Itulah sebabnya semua perubahan perlu didokumentasikan dan disiapkan rasional atau alasan kuat dibaliknya.
  2. Pernyataan: “Bukan cara itu yang biasa dilakukan disini”. Artinya: Perlu dijelaskan bahwa perubahan tidak sekedar mengganti cara lama namun justru memperkuat sesuai dengan tantangan jaman.
  3. Pernyataan: “Sudah biasa seperti ini”. Artinya: Perlu dijelaskan lagi tantangan kedepan seperti apa dan apa konsekuensi sebuah organisasi jika memilih untuk melakukan praktek yang lama.
  4. Pernyataan: “Saya sebenarnya mendukung, tapi saya ingin melihat dari jauh saja”. Artinya: Ia adalah tipe wait and see. Pastikan selama ia ada di luar sistem ia tetap netral dan tidak menjadi bagian dari masalah.
  5. Pernyataan: “Saya kok masih belum mengerti”. Artinya masalah bukan pada anda sebagai pemimpin tapi ada mental block yang menghalangi ia untuk bisa mendalami dan mengerti lebih jauh. Sepanjang anda sudah cukup menjelaskan dan memastikan support yang cukup bagi semua orang maka anda tidak perlu khawatir dengan orang jenis ini.

Sikap dan perkataan diatas adalah sebuah hal yang dipilih oleh individu saat berhadapan dengan perubahan. Sudah menjadi kewajiban bagi kepala sekolah untuk kuatkan dasar alasan perubahan termasuk visi misi kemana perubahan akan dibawa. Jika semua sudah dikuatkan maka semua jenis dan tipe kepribadian akan melihat fondasi untuk kemudian mereka akan memilih juga akan mulai darimana untuk ikut dalam laju perubahan. Atau jika mereka memilih untuk diam di tempat asalkan tidak mengganggu bukan lah menjadi masalah bagi organisasi.

4 cara membuat siswa punya motivasi dalam pembelajaran jarak jauh

Di tingkat SMP dan SMA dalam pembelajaran jarak jauh guru sering mengeluh bahwa siswanya diam saja selama pembelajaran. Mengapa hal ini terjadi? ada banyak alasan yang mendasari situsi ini.

  1. Intruksi dan pertanyaan anda tidak jelas. Daripada mendadak menanyakan pada siswa “siapa yang mau bertanya”. Lebih baik sampaikan seperti ini “Sebentar lagi, saya akan mengajukan pertanyaan. Mohon kalian berpikir dengan tenang tentang jawaban yang kira kira kalian miliki. Kemudian saya akan meminta tiga sukarelawan untuk membagikan jawabannya kepada kelompok.” Dengan gaya bertanya seperti itu maka mental siswa akan lebih siap dan akan lebih banyak siswa yang bersedia berpartisipasi.
  2. Standar guru masih sama seperti pada saat pembelajaran tatap muka. Banyak guru yang merasa bahwa pembelajaran jarak jauh akan mengaktifkan siswa. Dikarenakan situasi yang baru dan menggunakan teknologi yang dirasa akan akan mengaktifkan siswa. Namun kenyataannya tidak dikarenakan pada siswa timbul kebosanan. Maka salah satu solusi agar siswa aktif adalah melakukan think pair share. Caranya adalah guru memberikan pertanyaan kepada siswa dan meminta mereka berpikir kemudian mengupload di Google Docs jawabannya dengan cara mengetik atau merekam suara mereka. Kemudian guru meminta sukarelawan siswa berbagi dengan semua anggota kelas.
  3. Guru belum mengoptimalkan tools (perangkat) pada media pembelajaran jarak jauh. Zoom dan Google Meet keduanya punya perangkat seperti chat, gambar tangan, stiker dan lain lain yang bisa digunakan sebagai alat untuk meminta siswa menjawab pertanyaan. Cukup meminta siswa menjawab dengan stiker atau gambar tangan yang menunjukkan bahwa mereka masih aktif dan mengikuti pelajaran. Dengan fasilitas chat guru juga bisa memberikan pertanyaan kemudian siswa memberikan reaksi dengan cara menulis B (Benar), S (Salah) atau SS (sangat setuju), STS (sangat tidak setuju) dan lain sebagainya.
  4. Guru membagikan semua materi disaat yang sama pada saat pembelajaran berlangsung. Alih alih siswa akan aktif yang ada siswa akan merasa tidak bisa mengikuti dan berujung pada sikap mereka yang pasif. Untuk mengatasi ini guru bisa merekam dirinya dalam menjelaskan sebuah konsep atau pembelajaran. Guru kemudian membagikan sebelum pelajaran dilakukan dan memberikan kesempatan agar siswa melihat dan mencermati. Guru juga bisa meminta mereka menjawab pertanyaan yang singkat dan pasti mereka bisa jawab. Saat pelajaran dimulai guru bisa membahasnya sedikit dan meminta beberapa perwakilan siswa berikan tanggapan. Dengan demikian siswa akan aktif selama pembelajaran dikarenakan mereka merasa siap dengan jawaban.

Guru akhirnya akan diminta untuk terus menyesuaikan diri dan sedikit mengubah cara dengan tetap memperhatikan tanggapan siswa untuk kemudian terus mencoba mana cara yang efektif. Tujuannya agar jangan lagi guru hanya berceramah dan siswa mendengarkan namun kelas akan terasa hidup dikarenakan ada ‘percakapan’ yang berkualitas antara guru dan siswa serta siswa dan siswa. Siswa yang aktif bukan menjadi tujuan. Tugas guru adalah mencari sebanyak banyak nya metode agar siswa senang terlibat dengan sukarela dan tidak ada paksaan.

Bahasa guru mempengaruhi kinerja siswa

Menjadi guru berarti menjadi panutan dalam bersikap dan berkata-kata. Sebuah kata lahir dari pikiran yang ada pada seseorang. Sebuah pikiran lahir dari cara pandang. Sementara jika cara pandangnya ingin benar maka mindset nya juga mesti benar. Mindset guru adalah bagaimana dirinya menjadi sosok yang menstimulasi siswanya.

The mediocre teacher tells,
Good teacher explains,
Superior teacher demonstrates,
Great teacher inspires.

Guru yang biasa-biasa saja hanya berkata kata saja,
Guru yang baik menjelaskan,
Guru yang unggul mendemonstrasikan,
Guru yang hebat menginspirasi.

Anda ingin jadi guru yang memberi inspirasi? pasti bisa caranya adalah dengan ubah cara anda berkata kata dan berkomunikasi agar kata kata anda bisa menginspirasi. Tentunya sebagai guru anda ingin kelas yang aktif dan siswa yang tinggi motivasi belajarnya. Berikut ini adalah cara agar kata kata anda bisa menginspirasi siswa anda.

  1. Daripada: “Saya ingin kalian bertanya tentang materi ini”. Lebih baik: “Kelas kita akan makin seru jika kalian bersedia berbagi ide, tanggapan atau pertanyaan, silakan”.

2. Daripada: Berkata “Terima kasih ya kamu sudah mau bertanya dan memberikan tanggapan. Lalu meneruskan dengan kata kata, “Ayo siapa lagi yang mau berikan pertanyaan?” Lebih baik: Guru bersikap menjadi pendengar yang baik dan di akhir pemaparan siswa ia berterima kasih dan meminta siswa menunjuk rekannya agar memberikan pendapat.

3. Daripada: Guru mengatakan: “Oke berikan saya pertanyaan yang bagus mengenai materi ini” Lebih baik mengatakan “ayo siapa yang punya tanggapan atau pertanyaan untuk dibagikan?”

4. Daripada: Guru mengatakan “Anak anak saya berharap kalian semua kerjakan …”, Lebih baik: Guru ucapkan “Tantangan kalian berikutnya adalah …”

5. Daripada: Guru berkata “Saya ingin kalian…”, Lebih baik: Guru mengatakan “Apa tujuanmu …”

6. Daripada guru mengatakan “Ini tiga hal yang harus kalian lakukan …”, Lebih baik “Anak anak berikut ini tiga hal yang kalian mesti coba …”

7. Daripada Guru mengatakan “Saya telah membuat beberapa pilihan untuk kalian …”, Lebih baik: “Anak anak kalian memiliki beberapa pilihan untuk kalian pertimbangkan …”

Kita semua ingin siswa kita merasa dirinya dan harga dirinya aman, mampu berkolaborasi dengan baik dengan orang lain, merasa memiliki proses pembelajaran mereka sendiri, dan terlibat dalam pekerjaan mereka dengan gembira. Namun praktek yang guru lakukan di kelas bisa saja malah menjauhkan dari keadaan itu semua. Cara terbaik lepas dari belenggu praktek yang membuat anak menjadi diam saja adalah dengan mengubah cara berbahasa dari berorientasi guru kepada berorientasi kepada siswa. Bahkan intonasi juga memainkan peranan penting. Intinya bagaimana menyuruh siswa tanpa mereka merasa diperintah. Bahasa dan intonasi guru yang membuat kondisi siswa merasa senang berkata kata dan aktif di kelas yang kita ajar.

4 Hikmah yang bisa guru ambil dari situasi mengajar di era pandemi

Menjadi guru di era saat ini sangat menantang dan berbeda dengan era sebelumnya. Saat sekolah mulai menggunakan metode pembelajaran jarak jauh tidak ada pendidik yang menyangka akan sepanjang ini waktu mereka harus melakukan metode ini sampai ke semester 2

Hal ini membuat semua pendidik berusaha mereposisikan dirinya dengan situasi dimana pembelajaran tatap belum boleh dilakukan dan guru mesti belajar hal hal baru agar tugasnya lancar. Lantas apa yang mesti guru lakukan ditengah situasi ini?

  1. Menganggap situasi ini adalah sebuah ‘lari marathon’ yang memerlukan nafas panjang dikarenakan jarak yang panjang. Just do your best semampunya dan sedapatnya.
  2. Punya waktu untuk diri sendiri dan keluarga. Menjadi pendidik rawan sekali untuk terbawa urusan pekerjaann kedalam urusan sehari hari.
  3. Ingat terus bahwa mendidik adalah sebuah proses relasi antar guru dan murid. Dengan demikian semua metode, pendekatan serta strategi akan mengikuti dan sukses dilaksanakan jika relasi sudah terbangun dan positif.
  4. Ambil senangnya saja. Jika harus belajar hal baru ambil keseruannya. Jika ada hal baru yang tidak berjalan dengan sebagaimana mestinya lihat sisi apa yang bisa diambil sebagai area peningkatan diri terus menerus.

Silakan menjadi guru yang memaknai semua dengan baik dan sukses dalam menjalani keseharian menjadi guru dengan situasi yang tidak biasa ini

3 Tipe kepala sekolah dalam menghadapi disrupsi dalam dunia pendidikan

Ada penggolongan jenis kepala sekolah dalam menghadapi perubahan dan situasi dalam dunia pendidikan. Beberapa hal yang saya cermati dalam kaitannya dengan perubahan dalam dunia pendidikan beberapa tahun ini.

  1. perubahan kurikulum
  2. perubahan akibat pandemi
  3. perubahan akibat permintaan pasar (biasanya di sekolah swasta)
  4. perubahan kebijakan

Perubahan diatas lah yang sudah mengharu biru dunia pendidikan di indonesia dalam 5 tahun terakhir ini. Dalam diskusi pendidikan dan obrolan disela sela pertemuan para pendidik kerap menjadi bahan perbicangan. Disrupsi menjadi kata yang akrab ditelinga. DIsrupsi bukan sekedar perubahan karena ketika dialami oleh dunia pendidikan akan terasa keras kejam dan tanpa ampun.

Teori disruption pertama kali dikenalkan oleh Christensen. Disruption menggantikan “pasar lama” industri dan teknologi untuk menghasilkan kebaruan yang lebih efisien dan menyeluruh. Ia bersifat destruktif dan creative. Kata disrupsi akhir-akhir ini muncul beriringan dengan istilah era Industri 4.0. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata “disrupsi” diartikan sebagai “hal tercabut dari akarnya”.

Sebuah hal yang tidak mengenakkan bukan? apalagi jika pendidik masih terpesona dengan gambaran masa lalu. Dimana guru dengan mudahnya digugu dan ditiru. Padahal anak sekarang akan bertanya lagi; “guru macam apa dulu anda?”

Ada 3 hal yang menjadi kesalahan umum yang terjadi saat kepala sekolah menghadapi disrupsi ini

  1. terlalu slow untuk beradptasi dan memberikan respon. Dalam kasus pandemi misalnya, sayang sekali jika sekolah belum mempersiapkan pengajarnya agar bisa mengajar dalam dua dunia. Antara tatap muka dan virtual. Walaupun bisa dimengerti bahwa semua orang berharap pandemi hanya berlangsung sebentar. Namun tetap diperlukan kemampuan dalam beradaptasi terhadap situasi yang baru tanpa menunggu nunggu hingga situasi normal
  2. terlalu reaktif. biasanya hal ini diikuti oleh pengambilan keputusan tanpa melibatkan pemangku kepentingan di sekolah. Bahayanya jenis respon seperti ini jika membuat msalah baru. Kepala sekolah akan dianggap sebagai pemain tunggal dan tidak kolaboratif dalam menghadapi perubahan.
  3. terlalu defensif. Menolak atau terlalu cepat melakukan keputusan. Cara terbaik sekolah bisa menjadikan semua perubahan ini sebagai cara untuk lakukan pembenahan semampunya dan sebisanya

Tiga hal diatas adalah kewajaran dalam sebuah organisasi dalam menghadapi disrupsi dalam dunia pendidikan. Mari ambil keuntungan dari setiap situasi. Sesuaikan visi misi dengan kadaan dan kondisikan semua warga sekolah agar tahu bahwa disrupsi bukan sebuah hal yang bisa ditolak atau dicegah. Disrupsi dalam dunia pendidikan adalah kenicsayaan dan pasti terjadi. Sepanjang semua usaha adalah demi memeprsiapkan siswa kenapa tidak untuk dilakukan, diubah atau malah sekalian diganti dan disesuaikan.

7 Tips bagi kepala sekolah berinovasi tanpa ‘drama’

Semua sekolah ingin berinovasi. Inovasi berarti perbaikan dan perubahan. Namun tidak semua inovasi akan berlangsung mulus. Inovasi erat kaitannya dengan perubahan. Jika tidak hati hati perubahan dan inovasi akan tidak sejalan dan menjadi tidak menyeluruh bahkan akan menimbulkan masalah baru. Biasanya orang akan menyebutnya sebagai drama. Jika sebuah sekolah ingin berinovasi maka landasan serta akan tujuan akhirnya harus jelas. Dalam proses menuju tujuan akhir maka manajemen perubahan akan menjadi dasar bagi transformasi.

Semua sekolah ingin berinovasi namun tidak semua sekolah tahan terhadap drama yang terjadi. Drama apa saja yang biasanya terjadi di sekolah saat sekolah sedang ingin melakukan inovasi

  1. Drama antara guru senior dan guru yunior
  2. Drama mengenai permintaan upah tambahan
  3. Drama guru yang tidak mau ikut dan memberikan pengaruh buruk pada rekannya
  4. Drama mengenai komunikasi, biasanya karena komunikasi belum efektif

Jika ingin melakukan inovasi di sekolah tanpa drama, berikut ini adalah tips yang mesti dilakukan.

  1. Pemimpin perlu mengetahui situasi sekolah dimana ia ingin melakukan inovasi. Petakan siapa saja pemimpin formal dan informal.
  2. Pemimpin memastikan pelaksana di lapangan paham dan mengerti arah inovasi. Bekali mereka dengan dasar teori atau bacaan yang bisa membantu mereka mengerti kemana arah inovasi.
  3. Pemimpin tidak mulai dari awal. Sebuah inovasi bisa saja hanya memperbaiki atau memoles praktek yang selama ini sudah ada.
  4. Lakukan pemetaan jika ternyata sebuah hal yang saat ini dilakukan masih bisa diteruskan lebih baik diteruskan
  5. Buat inovasi menjadi terstruktur dan melibatkan semua pihak. Melibatkan berarti mengajak semua mengerti dan terlibat serta tidak sekedar menyuruh begitu saja.
  6. Jadikan inovasi sebagai sebuah kebutuhan bagi semua. Cari dahulu musuh atau problem bersama untuk diselesaikan. Dengan demikian semua merasa bahwa inovasi adalah kepentingan nya juga.
  7. Ikat inovasi dengan kebijakan tertulis. Hal ini penting agar minimal inovasi anda bertahan selama 2 tahun sesuai kesepakatan umur kebijakan.

Berinovasi berarti menambah ‘value’ atau nilai tambah. Inovasi erat kaitannya dengan motivasi dan perasaan puas ketika seseorang yang melakukan perubahan dan merasa dirinya berhasil. Seorang kepala sekolah yang efektif akan menjadikan inovasi sebagai makanan sehari hari dengan cara menstrukturkan dan menjadikannya potongan kecil agar mudah dicerna oleh pengikutnya.

Tips melibatkan orang tua siswa dalam konsep pembelajaran jarak jauh

Sekolah mesti berterima kasih pada orang tua siswa di dalam situasi pembelajaran virtual seperti saat ini terjadi. Siswa yang didampingi orang tua punya kesempatan lebih banyak untuk bisa berhasil. Sayangnya tidak semua orang tua punya kesempatan .
Apa saja peran orang tua siswa dalam pembelajaran jarak jauh
1. berkomunikasi intens dengan guru
2. jika mungkin mengajar anaknya agar bisa mengerti sedikit banyak apa yang guru anaknya suruh mengerjakan.
3. memastikan bahwa tugas anak nya selesai tepat waktu.

Hal diatas bukan perkara mudah. Untuk itu guru dan sekolah perlu melakukan komunikasi yang intens dan bermakna. Sekaligus memberikan tambahan pengetahuan bagi orang tua siswa. Apa saja yang bisa dilakukan

1. pelatihan orang tua (mengenai kelas virtual)
2. mendatangkan ahli mengenai parenting
3. memberikan kesempatan bagi orang tua untuk usul apa saja bagi kemajuan pendidikan jarak jauh.
4. mengaktifkan paguyuban orang tua siswa
5. memberikan acara yang membuat orang tua siswa rileks dimasa situasi yang sulit ini

Hal diatas akan sangat membantu sekolah dalam melakukan pembelajaran jarak jauh. Sekolah yang efektif akan memastikan semua hal yang sudah baik selama pembelajaran jarak jauh akan dilakukan seterusnya jika keadaan kembali normal

10 Pondasi keberhasilan dalam pembelajaran jarak jauh

Memulai pembelajaran jarak jauh kembali setelah 6 bulan berlalu adalah sebuah hal yang tidak mudah. Saat semester ganjil hampir semua pendidik berharap bahwa situasi akan membaik di Januari 2021. Saat yang sama semua pemerintahan daerah dan kabupaten akhirnya dengan terpaksa melarang kembali pembelajaran tatap muka. Dikarenakan kesehatan adalah hal yang mesti diutamakan.

Pembelajaran jarak jauh diperkirakan akan semakin menjadi kelaziman sampai 4 tahun kedepan. Dikarenakan situasi yang masih belum memungkinkan. Sebenarnya apa yang mesti dijadikan pondasi agar semua hal yang menjadi akar sumber masalah di semester ganjil kemarin tidak terjadi lagi di semester genap ini.

Ada hal yang mesti disetujui bersama dahulu bahwa sekolah tidak “ditutup” di tengah lonjakan virus Corona yang melanda hampir setahun ini. Sekolah tetap buka hanya saja menggunakan dunia maya sebagai sarana interaksi. Ucapan terima kasih bagi semua guru yang bekerja tanpa lelah untuk mewujudkan pembelajaran jarak jauh. Sekolah adalah sebuah bentuk relasi atau hubungan antara guru dan murid, murid dan murid.

Hanya seorang guru yang sadar bahwa sebuah relasi adalah pondasi dari sebuah interaksi pembelajaran baik itu tatap muka maupun virtual yang akan berhasil melewati situasi sulit ini. Sebenarnya seperti apa relasi (hubungan) yang dianjurkan untuk terjadi selama pembelajaran jarak jauh ini. Jika pada saat pembelajaran tatap muka seorang guru adalah seorang yang tidak terlalu peduli pada kualitas hubungan guru dan murid maka di situasi pembelajaran jarak jauh ia adalah orang yang paling kerepotan membuat situasi pembelajarannya menjadi kondusif.

Bagaimana relasi, koneksi dan hubungan menjadi penting dalam situasi pembelajaran jarak jauh ini?

  1. Guru yang hebat memulai semester ini dengan melakukan koneksi dahulu kepada siswanya. Koneksi yang saya maksud adalah guru bersepakat dahulu dengan siswanya mengenai bentuk pembelajaran, mengapa kita perlu belajar ini dan itu. Bagaimana bentuk komunikasi jika siswa ingin bertanya dan guru ingin menilai mereka. Kapan murid bisa bertanya dan dimana saja pembelajaran virtual akan dilakukan. Semua membuat murid tahu bahwa guru ingin menjalin saling pengertian kepada muridnya. Menanamkan bahwa keberhasilan pembelajaran berasal dari dua belah pihak.
  2. Murid sulit untuk belajar dari orang yang ia tidak sukai. Siswa hanya mau belajar pada orang yang peduli pada mereka. Guru yang berhasil dalam pembelajaran jarak jauh ini adalah guru yang melihat siswanya secara individu.
  3. Saatnya guru berpikir apakah saya sudah berusaha yang terbaik untuk siswa saya? Seberapa sering saya menyerah terhadap situasi sulit sekarang ini? Seberapa sering juga saya bangkit, mencari bantuan dan mencoba sendiri di tengah ketidaktahuan akan metoda baru dan keterampilan baru untuk bisa bertahan dalam situasi pembelajaran jarak jauh ini.
  4. Pendidik yang masih mengeluhkan disiplin siswa dalam situasi pembelajaran jarak jauh ini mestinya berefleksi dahulu mengenai bagaimana kualitas hubungan dengan siswanya.
  5. Situasi pembelajaran jarak jauh memerlukan guru yang memang berniat memberikan umpan balik kepada siswanya dengan cara yang jernih dan langsung ke pokok permasalahan dikarenakan guru peduli dan ingin siswanya berhasil melalui situasi ini.
  6. Dalam pembelajaran jarak jauh guru bukan sekedar tutor atau fasilitator. Ia adalah seorang perancang (desainer) yang merancang bentuk interaksi, konten dan konteks pembelajaran sampai berpikir bagaimana membuat siswanya bersedia terus ‘terikat’ secara emosional dengan pembelajaran yang ia lakukan.
  7. Di kelas yang punya relasi yang baik, guru tidak pernah menyuruh ini dan itu. Ia membuat sebuah skenario sampai seorang murid tahu dan mengerti apa yang ia mesti kerjakan dan jelas proses apa yang mesti ia lakukan dan lalui. Guru menjadi seorang yang membuat alur dimana murid dengan sukarela dan tidak terasa berperan dalam situasi pembelajaran dengan pertanyaan pertanyaan serta diskusi yang mengasikkan.
  8. Demi sebuah relasi yang sehat antara guru dan siswanya, guru yang berhasil dalam sebuah pembelajaran jarak jauh tidak ragu untuk terus memodifikasi pembelajarannya. Ia tidak merngubah pembelajarannya karena dirinya ingin lebih berhasil dalam mengajar dan menghabiskan target kurikulum tapi karena ia ingin muridnya bisa aktif dalam pembelajaran.
  9. Guru yang berhasil adalah guru yang tahu dan mengamati perubahan yang terjadi pada siswanya. Ia sensitif dan sadar betul hal apa yang berubah dari siswanya. Ia menggunakan segala kemampuan dan cara agar ia mengetahui perubahan apa yang terjadi pada siswanya.
  10. Gunakan strategi ‘dua kali sepuluh’. Seorang guru membuat target untuk berbicara secara individual dengan siswa yang mengalami kesulitan selama dua menit selama 10 hari berturut turut. Interaksi yang cepat dan terfokus ini dapat membangun hubungan dan memberikan dorongan emosional kepada siswa yang mengalami kesulitan.

Apa bukti bahwa anda sudah sukses dan berhasil dalam sebuah situasi pembelajaran jarak jauh ini ? buktinya adalah sebagai guru anda tidak selalu kelelahan dan siswa pun tidak selalu stres. Sebuah relasi yang sehat dan baik dari sebuah kelas pembelajaran jarak jauh adalah menempatkan guru dan siswa dalam posisi yang sama dan sejajar. Jika guru mesti sehat mentalnya (bebas stress) demikian juga dengan siswanya. Hanya saja guru sering memposisikan pembelajarannya sebagai ‘menghantarkan pengetahuan’ dan bukan dengan segala cara dan merupakan sebuah ‘seni’ dalam membuat siswanya mengerti.