15 langkah melakukan bedah kurikulum

Sejarah-Kurikulum-Indonesia

Bedah kurikulum adalah sebuah hal yang wajib sekolah lakukan dalam upaya menaikkan standar proses dan standar isi dalam kaitannya dengan peningkatan mutu belajar mengajar. Sayang sekali sebuah sekolah jika inginnya hanya menjalankan proses dari itu ke itu saja. Tidak ada peningkatan apalagi upaya untuk menajamkan pelayanan kepada anak didik melalui guru sebagai aktor utamanya.

Mengapa bedah kurikulum itu penting?

  •  Sekolah adalah lembaga pendidikan yang mestinya punya standar yang baik dalam hal proses dan isi (kurikulum)
  • Guru mesti terus mengupdate dirinya sendiri dalam menghadapi tantangan jaman. Terbukti ketika ada perubahan kurikulum 2013 dari pemerintah, guncangannya sangat luar biasa. Hal ini dikarenakan sekolah terbiasa berjalan dengan rutinitas dari itu ke itu saja. Ketika ada perubahan semua shock dan semua pihak tidak terbiasa mengelola perubahan.
  • Guru mesti dibiasakan melakukan dan menjalankan apa yang ia rencanakan dan bukan apa yang orang lain buat. Buku teks memang bagus untuk dijadikan sarana mengajar, namun lebih tinggi lagi tingkatan guru yang mengajar dengan menyarikan dari buku teks yang ada dikarenakan ia yang tahu muridnya tipe seperti apa dan bagaimana cara belajar siswanya sendiri di kelas

Banyak sekali timbul masalah akhir-akhir ini mengenai buku teks yang bahasanya vulgar, mengajarkan pornografi sampai yang salah dalam pembuatan soal serta jawabannya. Ada banyak penerbit buku teks bermutu saat yang sama ada banyak penerbit buku teks yang asal-asalan. Sekolah malah memanfaatkan hal ini dengan malah membeli buku teks dari penerbit yang kurang bermutu yang menawarkan rabat atau diskon dalam julmah yang besar, dengan harapan uangnya bisa masuk ke sekolah.

Bedah kurikulum dalam pelaksanaanya berjalan paling cepat satu tahun ajaran dengan mekanisme sebagai berikut:

  1. Sekolah mengumumkan kepada guru-gurunya bahwa akan ada upaya membedah kurikulum
  2. Sekolah membuat time line pengerjaan bedah kurikulum
  3. Sekolah mengangkat seorang koordinator, untuk menjadi pihak yang mengawasi dan mengingatkan guru mengenai jadwal.
  4. Sekolah membentuk komite, komite terdiri dari guru yang mempunyai minat atau berasal dari lulusan bidang studi terkait. Komite yang dibentuk adalah komite bahasa Indonesia/inggris, matematika, IPS dan Agama. Sekolah bisa juga membentuk komite bidang studi lain yang dianggap perlu. Komite terdiri dari beberapa orang guru, tiga orang paling sedikit.
  5. Sekolah menyediakan format yang sama. Format berisi kolom kapan pengajaran di lakukan , kompetensi dasar, karakter apa yang sekolah inginkan, pertanyaan kunci, contoh kegiatan yang bisa dilakukan, indikator, penilaian dan sumber belajar yang digunakan.
  6. Sekolah mengadakan pelatihan bagaimana cara mengisinya dan menyediakan banyak buku teks sebagai acuan. Guru juga bisa mencari kurikulum dari negara lain di internet, menggunakan kata kunci ‘scope and sequence’.
  7. Pengerjaan dimulai oleh komite yang telah ditentukan. Guru berkumpul dan bekerja dihari yang telah ditentukan
  8. Sekolah perlu mempunyai waktu yang bisa dilakukan oleh guru untuk mengerjakan kurikulum yang menjadi tanggung jawabnya. Sekolah mengatur waktu agar guru bisa mengerjakan pekerjaan bedah kurikulum ini dengan waktu yang terukur dan terencana.
  9. Kepala sekolah sering mengecek pada tiap perwakilan komite dan kepada koordinator kurikulum mengenai jalannya bedah kurikulum di tiap komite.
  10. Di pertengahan tahun sekolah mengagendakan satu hari khusus untuk semua komite berpresentasi mengenai kurikulum yang telah dibuat.
  11. Jika sudah selesai sekolah membukukan dan mencetaknya untuk diletakkan di ruang kepala sekolah dan ditaruh di ruang guru. Semua guru memegang ‘soft copy’.
  12. Pada dokumen kurikulum dibagian foot note ada bulan dan tahun kurkulum disahkan serta tanggal kapan kurikulum tersebut akan ditinjau kembali.
  13. Ditampilkan pada komite orang tua, perwakilan tiap komite kurikulum hadir orang tua dijelaskan mengenai arah kurikulum
  14. Ditinjau tiap dua tahun sekali
  15. Menjelang dua tahun, kepala sekolah mengumumkan kepada seluruh guru mengenai akan adanya perubahan dan peninajauan kembali.

 Sekali sekolah mempunyai kurikulum maka jalan sekolah menjadi mudah. Karena yang sekolah harus lakukan hanyalah meninjau saja hal-hal yang kiranya perlu diubah dan ditambahkan dari penggunaanya selama dua tahun.

6 alasan mengapa membuat raport narasi itu sulit

 

gambar raport

Membuat raport narasi? Ah seperti guru TK saja! Begitu kira-kira jawaban yang saya sering dengar dari guru yang mengajar di SD sampai SMA ketika saya berbicara mengenai raport narasi. Raport narasi adalah rapor yang isinya tidak hanya angka namun juga komentar atau narasi guru kepada muridnya.

Sudah bukan jamannya lagi seorang guru di raport hanya menulis ‘pertahankan prestasimu..!’ kepada muridnya yang sebenarnya punya banyak aspek untuk dikomentari dan disemangati. Namun mengapa menjadi tantangan yang sangat besar bagi seorang guru untuk menulis raport narasi? Berikut ini adalah kemungkinan jawabannya

  1. Sekolahnya belum mewajibkan dan menjadikan raport narasi sebagai format pelaporan kepada orang tua siswa
  2. Sekolah tidak tau jenis raport lain selain raport angka yang sudah sangat lama dipakai dan dipergunakan sebagai standar umum
  3. Sekolah sudah pernah ingin menggunakan namun kalah gertak oleh guru yang mengatakan tidak mungkin dan nonsense mengomentari tiap siswa.
  4. Jumlah murid yang guru ajar ada banyak sekali. Satu guru bidang studi bisa saja mengajar 100 lebih siswa.
  5. Guru tidak punya kemampuan ‘mengata-ngatai’ atau membuat komentar terhadap siswanya
  6. Guru merasa akan jadi masalah jika begitu saja memberi komentar pada anak yang berkelakuan buruk dan punya prestasi akademis yang rendah. ‘nanti orang tuanya akan marah besar jika saya tulis komentar yang sesungguhnya di rapor’ begitu pikir sang guru

Hal diatas membuat sekolah makin menjauh untuk menerapkan raport yang ada narasinya. Kenapa? Karena pihak sekolah pun tidak cukup percaya diri dalam menggunakan. Pikir mereka sepanjang pengawas tidak mewajibkan yaaa..buat apa menerapkan. Simak obrolan di grup milik organisasi guru di facebook.

Ini petikan Pedoman Penilaian terbaru SMP: ‘Penilaian sikap dilakukan dengan menggunakan teknik observasi oleh guru mata pelajaran (selama proses pembelajaran pada jam pelajaran), guru bimbingan konseling (BK), dan wali kelas (selama siswa di luar jam pelajaran) yang ditulis dalam buku jurnal (yang selanjutnya disebut jurnal). Jurnal berisi catatan anekdot (anecdotal record), catatan kejadian tertentu (incidental record), dan informasi lain yang valid dan relevan. Jurnal tidak hanya didasarkan pada apa yang dilihat langsung oleh guru, wali kelas, dan guru BK, tetapi juga informasi lain yang relevan dan valid yang diterima dari berbagai sumber. Selain itu, penilaian diri dan penilaian antarteman dapat dilakukan dalam rangka pembinaan dan pembentukan karakter siswa, yang hasilnya dapat dijadikan sebagai salah satu data konfirmasi dari hasil penilaian sikap oleh pendidik.’ SIAP SIAP YA GURU MAPEL DAN WALI KELAS JADI MALAIKAT RAKIB DAN ATID, hahaha .

Komentar diatas sebenarnya adalah jawaban dari artikel saya ini. Kecuali bagian guru menjadi malaikat Rakib dan Atid ya hahahaha. Jika guru ingin mahir membuat  narasi mengenai siswanya ada beberapa data yang mesti ada dan harus dijadikan landasan dalam membuat narasi penilaian kepada siswa, dan ini berlaku untuk semua guru bidang studi apa saja. Baca lebih lanjut

3 cara mengaktifkan siswa yang introvert

6358333374711548401687227426_Introvert-quote

Tugas guru yang utama adalah melejitkan potensi apapun jenis kepribadian muridnya. Sebagai guru ada banyak tantangan yang melingkupi dirinya sebagai seorang profesional. Sayangnya di kelas yang ia ajar isinya tidak melulu siswa yang ‘ideal’. Siswa yang biasanya ideal menurut pandangan guru adalah siswa yang cepat tanggap, antusias, mau bertanya (jika diminta) dan cepat serta teliti dalam bekerja sesuai dengan apa yang guru suruh.

 18758828536_eb383fba17_o

Di kelas manapun di dunia ini isinya bisa dikatakan isinya adalah siswa yang bisa digolongkan sebagai siswa yang cepat belajar, sedang dan yang lambat dalam menerima pembelajaran. Semua itu digolongkan berdasarkan kecepatan belajarnya. Namun sekarang ada lagi hal yang menarik dan bisa dijadikan acuan dalam menggolongkan siswa. Dari diskusi saya dengan banyak pendidik, mereka mulai menggolongkan siswa dari beberapa segi

  • Cara atau gaya belajar; auditori, visual dan kinestetik
  • Tipe kecerdasan atau kecerdasan majemuk

Dan yang akan saya bahas adalah tipe kepribadian introvert dan ekstrovert. Tipe ekstrovert adalah tipe kepribadian terbuka dan senang bersosialisasi sedangkan tipe introvert sebaliknya. Tipe ekstrovert cenderung tidak banyak dikeluhkan guru, sejauh ini yang saya sering dengar adalah guru merasa tipe seperti ini adalah yang mesti diarahkan dalam situasi pembelajaran. Mengingat sifatnya yang ingin segera sampaikan sesuatu jika ia tahu dan senang bersosialisasi sampai membuat kelas menjadi gaduh.

Nah sekarang bagaimana dengan siswa yang bertipe introvert? Berikut ini adalah hal yang kerap dikeluhkan oleh guru mengenai tipe siswa ini

  • Pendiam dan tidak berbicara jika tidak ditanya
  • Sedikit temannya dan cenderung pemilih dalam berteman
  • Hobinya unik dan sering punya pendapat atau hasil karya yang menarik namun cenderung tidak mau mengatakannya di depan kelas

275b369f7cb06a9e0b00242f4fbf3bf8

Dari semua prasangka atau dugaan diatas yang sering terjadi adalah tipe seperti ini sering disangka sebagai tipe siswa yang rendah motivasi dan tidak tertarik pada pelajaran. Padahal tidak demikian. Berikut ini adalah beberapa pengertian mengenai anak tipe introvert yang mungkin bisa membuat anda makin punya solusi dalam tetap mengaktifkan mereka pelajaran anda

  • Pendiam dan tidak berbicara jika tidak ditanya

SOLUSI:

Anak introvert mesti dengan pendekatan satu banding satu. Artinya jika ingin mengajak mereka berbicara lakukan tidak didepan orang lain apalagi di depan satu kelas. Tanya yang umum-umum saja, karena mereka cenderung pemilih jika bicara hal-hal yang sifatnya pribadi dan tidak mudah percaya pada orang lain. Jika anda sedang mengajar dan ingin mereka bicara maka minta mereka menuliskan saja di kertas apa yang mereka rasakan dan pikirkan, dijamin mereka mau berpendapat, jadi hindari meminta mereka berpendapat secara lisan.

  • Sedikit temannya dan cenderung pemilih dalam berteman

SOLUSI

Jangan paksa mereka untuk berteman dengan banyak orang. Jika anda wali kelasnya cukup cek saja, misalnya dengan bertanya, ‘gimana nak. Siapa teman mu di kelas ini?” dengan demikian ia tidak merasa dipaksa untuk bersosialisasi, dan jika belum katakan, ‘ayo berteman dengan siapa saja yang menurutmu asyik diajak bermain”. Tidak menjadi masalah jika seorang anak introvert hanya punya satu saja teman dekat yang selalu bersama.

  • Hobinya unik dan sering punya pendapat atau hasil karya yang menarik namun cenderung tidak mau mengatakannya di depan kelas

SOLUSI:

Apresiasi secara personal apa yang menjadi hobinya, dan hindari menunjukkannya di depan umum atau di depan kelas jika ia belum siap. Arahkan membuat konten online karena dalam dunia online seseorang bisa tetap memamerkan karyanya tanpa mesti menunjukkan identitasnya atau anonim. Jika mesti lakukan pementasan di kelas atau di depan umum bebaskan ia jika ternyata memilih untuk berada di belakang layar. Sebagai guru tugas anda untuk memaksimalkan peran mereka dibelakang layar.

Punya siswa yang introvert bukanlah akhir dari segalanya atau anda malah melupakan kalau mereka ada. Perlu seorang guru yang mengajar dengan hati yang mengerti betul bahwa input siswa di kelasnya beragam dan berasal dari bermacam latar belakang keluarga. Jika bisa mengaktifkan mereka kelas anda akan berubah menjadi kelas yang aktif, kondusif dan siap melejitkan semua tipe kepribadian.

9 kesalahan guru saat menilai siswa dan solusinya

Desirable Characterisitics of authentic assessment

Menilai berarti memberikan umpan balik. Jika guru ingin penilaiannya kepada siswa menjadi bermakna, penting kiranya untuk mengetahui hal apa saja yang biasa terjadi dalam proses penilaian terhadap siswa.

  1. Siswa jarang dinilai usahanya
  2. Jika siswa dinilai usahanya biasanya dikarenakan nilai akademisnya tidak memenuhi standar dan baru kemudian guru menilai usaha atau karakter siswa
  3. Karakter atau cara siswa bekerja hanya menjadi pelengkap
  4. Siswa jarang mendapatkan umpan balik yang positif.
  5. Guru merasa hanya harus berperan sebagaui hakim dan bukan sebagai ‘pelatih’ yang memulai semuanya dari hal yang siswa mampu dan bisa
  6. Penilaian bersifat tertutup dan hanya menjadi kewenangan guru saja
  7. Guru jarang merujuk pada apa sebenarnya yang ingin dinilai dari pembelajaran ini (indikator) dan cenderung merujuk pada bentuk dari penugasan itu sendiri (laporan, presentasi dll)
  8. Penilaian dan penugasan cenderung dari itu ke itu saja (macamnya hanya pilihan ganda atau essay) alasan guru biar gampang memeriksanya
  9. Guru jarang melibatkan siswa dalam menilai, ia sendirian menilai semua karya siswanya, sehingga waktunya banyak habis untuk mengoreksi

Berikut ini adalah solusi yang nisa dilakukan oleh seorang guru untuk meminimalisir kesalahan diatas Baca lebih lanjut

Hadiri Diskusi Belajar Kreatif Selasa 16 Februari 2016

ESS invitation

Dalam 30 tahun ke depan, menurut UNESCO, lebih banyak siswa akan lulus sekolah daripada jumlah siswa yang telah lulus sepanjang sejarah. Hal ini disebabkan banyak faktor seperti loncatan populasi, kemajuan teknologi, faktor demografis, dll. Tiba-tiba saja, gelar tidak berarti apa-apa. Dulu, kalau kita lulus perguruan tinggi maka kita akan mendapat pekerjaan. Sekarang banyak anak yang telah lulus strata satu lalu pulang ke rumah dan melanjutkan bermain video game. Karena pekerjaan yang dulu membutuhkan lulusan strata satu sekarang telah mensyaratkan strata dua (sebagai penyaringan karena begitu banyaknya lulusan strata satu dan dengan kualitas biasa-biasa saja). Sedangkan pekerjaan yang membutuhkan diploma, sekarang mensyaratkan strata satu. Telah terjadi apa yang disebut inflasi akademis. Telah terjadi pergolakan radikal dalam sistem pendidikan kita.(Sir Ken Robinson)
Education Sharing Session kali ini akan menghadirkan Beng Rahadian seorang komikus yang karyanya sudah banyak dibukukan. Perjalanan kreatif nya menarik untuk dipandang dan dibandingkan dari sisi proses kreatif yang terjadi di kelas-kelas ditempat para guru mengajar. Saatnya guru belajar dari pakar dari bidang lain. Dan kreativitas sebenarnya hal yang paling dekat dengan dunia pendidikan. Sayangnya belum semua pendidik sadar bahwa keterampilan yang paling penting bagi siswa untuk menghadapi dunia yang cepat sekali berubah ini adalah untuk belajar berfikir secara kreatif dan belajar untuk belajar sendiri (independen) atau Learning how to learn.”

silahkan share undangan ini atau datang dan nikmati diskusinya

15 Kesalahan Umum Guru Saat melakukan Pembelajaran Kooperatif (berkelompok) – dan Solusinya

9eaca1ff742e5cec4ee50cbcc7a8a387

Menurut banyak penelitian pembelajaran kooperatif sangat baik dalam mengembangkan kemampuan sosial dan dengan cepat meningkatkan pengetahuan siswa, namun dalam pelaksanaannya ternyata tidak mudah untuk dilaksanakan karena guru sering melakukan kesalahan sebagai berikut:

1. Ukuran kelompok terlalu besar
Dibutuhkan banyak keterampilan bagi siswa untuk mengelola kelompok dengan anggota 4 orang atau lebih. Sebaliknya, menjaga ukuran kelompok kecil: 2 atau 3 adalah yang terbaik.

2. Siswa tidak mempersiapkan diri (dan dipersiapkan) untuk bekerja dalam kelompok (kooperatif).
Jelaskan kepada siswa mengapa Anda sebagai guru menggunakan pembelajaran kooperatif, lakukan aktivitas pembelajaran kooperatif singkat atau simulasi, kemudian minta mereka menjelaskan ulang dan lakukan sampai mereka jelas.

3. Tidak membekali siswa keterampilan berinteraksi antar sesamanya.
Penting bagi seorang guru untuk meminta siswa untuk berkontribusi pada kelompoknya dengan perilaku yang sesuai dan dianjurkan oleh guru . Contoh: fokus pada tugas, bersedia menyumbangkan ide, membantu orang lain untuk belajar, mendorong semua orang berpartisipasi, mendengarkan orang lain, menghormati orang lain. Guru mesti menuliskan didepan kelas daftar perilaku yang diinginkan

4. Siswa dibiarkan memilih kelompok mereka sendiri.
Kita sendiri sebagai orang dewasa akan memilih teman-teman kita sendiri untuk bekerjasama jika diberi pilihan. Padahal siswa perlu mengembangkan hubungan kerja yang positif dengan semua anggota kelas tanpa terkecuali. Lakukan penetapan secara acak dengan siapa siswa mendapatkan teman untuk kelompoknya.

5. Tidak melakukan kegiatan bekerja sama cukup sering bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan bekerja sama .
Mintalah siswa melakukan sesuatu teknik pembelajaran kooperatif di setiap sesi kelas untuk memperkuat kebiasaan bekerjasama yang positif. Minimal terbiasa untuk berbagi apa yang mereka ketahui lewat diskusi dengan teman yang ada di sebelahnya.

image212525202525281252529

6. Tidak merencanakan pelajaran kooperatif dengan hati-hati.
Banyak guru bingung melakukan pembelajaran dengan kelompok atau menggunakan prinsip pembelajaran kooperatif. Mereka sudah menempatkan siswa dalam kelompok, memberitahusiswa untuk bekerja sama, dan ujung-ujungnya bertanya-tanya mengapa pembelajaran dengan kelompok di kelasnya tidak berhasil. Padahal pembelajaran kooperatif mesti memiliki lima unsur penting (saling ketergantungan positif, tanggung jawab individu, promotif interaksi tatap muka, keterampilan sosial dan pengolahan informasi) mesti diterapkan dengan hati-hati ke dalam setiap pelajaran untuk mengajar para siswa untuk belajar dengan baik secara bersama-sama. Guru mesti tidak kenal menyerah dan mau terus mencoba Baca lebih lanjut

Pembelajaran dengan bekerjasama dan pembelajaran kooperatif, apa bedanya?

3e063f693edb9641b513a961e7c18da6

Saya pribadi suka tertukar dengan dua istilah diatas. Ternyata keduanya punya karakter yang unik

PEMBELAJARAN DENGAN BERKOLABORASI (BEKERJA SAMA)

  • Bisa terjadi kapan saja, misal saat tidak sengaja siswa belajar bersama dirumah temannya
  • Tidak mesti dengan tugas yang khusus
  • Guru pun bisa meminta siswa melakukan tanpa persiapan khusu

PEMBELAJARAN KOOPERATIF Baca lebih lanjut