Merencanakan rapat kerja di sekolah

image

Sebuah rapat kerja adalah sebuah hal yang sebenarnya biasa saja di sekolah. Saking biasanya jadi banyak guru yang anggap tak penting. Gawat jika kepala sekolah juga anggap urusan rapat kerja tidak penting, yang terjadi adalah komunikasi hanya beredar di kalangan orang terdekat saja atau papan pengumuman yang belum tentu dilihat oleh guru-guru.

Mengapa guru sering anggap rapat kerja tidak penting

  • seringnya bersifat satu arah berupa briefing saja dari kepsek dan sebenarnya bisa dibagikan saja lewat grup WA atau foto kopian
  • berlangsung lama seharian dan membuat kantuk
  • tidak ada penyegaran semua berisi intruksi dan intruksi
  • tidak mencerahkan pemikiran demi pendidikan atau berikan hal dan wawasan baru

bagaimana cara mencegahnya

  • berikan agenda dan undangan jauh-jauh hari
  • adakan PIC tiap satu sesi, ia bertugas menyiapkan keperluan sesi itu
  • lakukan kombinasi topik, ada briefing kepala sekolah, motivasi dari sesama guru sampai mungkin senam atau games bersama guru olah raga dan meeting dengan sesama unit kecil

semakin efektif rapat semakin maju sebuah sekolah

Paket liburan menarik untuk siswa sekolah

Saat sekolah ingin hadirkan nuansa pembelajaran yang berbeda, LDSILVER TRAVEL dengan senang hati bisa ikut mendampingi dan memberikan pengalaman baru

Study tour sangat baik membuat guru dan siswa belajar hal baru langsung di lapangan.

Selamat memilih

ldbrochure

flyerpromo1

flyerpromo2

silver2bcard1

Whatsapp / SMS : 0896-2035-1588
Email : info@ldsilvertravel.com

Pembelajaran Seumur Hidup

safe_image
#KOMPASkariersabtu, 12 Maret 2016,
Eileen Rachman & Emilia Jakob
EXPERD
CHARACTER BUILDING ASSESSMENT & TRAINING
Seorang pimpinan perusahaan begitu bangga dengan tim IT nya dan menganggap bahwa kemampuan teknologi informasi perusahaannya sudah sangat canggih dan mumpuni. Namun dalam suatu seminar, pimpinan ini terkejut, karena ternyata banyak perusahaan lain mempunyai kekuatan IT yang sama, bahkan lebih canggih. Ketika meninjau kembali manajemennya, ia baru menyadari bahwa tim IT yang merasa sudah canggih ini, ternyata tidak mempelajari sistem baru dan tidak memperbaharui pengetahuannya. Beberapa bahasa bahkan masih menggunakan versi lama. Bisakah kita bertahan bekerja dengan pengetahuan yang diperoleh lebih dari 10 tahun lalu ini? Mungkin untuk beberapa sistem yang memang sangat statis, pengetahuan ‘old school’ ini masih bisa digunakan. Tetapi menjawab tantangan dan tuntutan pasar yang semakin besar, kompleks dan tak jelas, pastinya membutuhkan pengetahuan yang paling mutakhir. Bisakah kita menjaga keingintahuan, semangat belajar, pembaruan kompetensi di lingkungan perusahaan kita, sementara kita juga perlu mengejar target dan tetap berproduksi?
Di Google, 20 % dari kegiatan perusahaan dipergunakan untuk merancang prototip baik untuk produk baru, pembenahan interior ruang atau bahkan untuk mendesain kursi taman kantor baru. Menurut Larry Page, founder Google, “Yang penting ada unsur kotak katik dalam benak karyawan, tidak hanya desain, tetapi juga mencakup implementasi, aplikasi, dan terealisasikan secara fisik”. Kegiatan ini diperlukan untuk membuat aktivitas berfikir karyawan selalu berada dalam keadaan siaga. Tidak bisa kita menganut faham penyebaran benih, ”Let a thousand flowers bloom, and we’ll see what happens” lagi. Saat ini kita selalu perlu berfikir dengan berbagai fokus, serta memperbaharui proses yang sedang berjalan. Bahkan sebenarnya kita perlu menjaga ‘sikap oposisi’ terhadap produk yang tadinya adalah ide cemerlang kita. Tuntutan belajar dalam organisasi sudah bukan main-main. Bila tidak dijaga dan dipasarkan dengan baik di internal, maka kita akan menemukan karyawan yang meskipun masih muda, tetapi berpandangan ‘jadul’, keras kepala, dan tidak percaya pada perubahan, merasa tidak bisa dan tidak mau mempelajari sesuatu dalam proses bekerjanya. Bahkan dalam organisasi yang secara teratur mengirimkan karyawannya ke luar negeri untuk meraih gelar S2 bahkan S3 pun, gejala kealotan pemikiran ini bisa tetap terjadi.
Belajar informal
Apakah pembelajaran memang sudah berganti rupa? Masih bisakah kita menyuntikkan kegiatan belajar dengan cara konvensional? Matthias Malessa, Chief Human Resources Officer Adidas, merasa pembelajaran di dalam kelas sudah tidak lagi berdampak signifikan. Ia mencari cara, bagaimana pembelajaran dapat menjadi “light, desirable, dan fun.” Matthias percaya, bahwa mengalami sendiri, melakukan kesalahan, adalah cara pembelajaran yang paling efektif. Mereka percaya bahwa 80% pembelajaran terjadi secara informal. “Corporate University’ terasa menjadi tempat belajar yang sempit untuk mengakomodir karyawan yang ingin belajar dengan santai. Itulah sebabnya Adidas, mencari cara agar belajar bisa terjadi sepanjang hari, 24/7. Bahan pembelajaran diperluas menjadi bacaan koran, video, internet, quiz-quiz, termasuk ‘sharing’ untuk mengakses sumber sumber eksternal seperti TED, You tube, blog-blog. Mereka mengikuti prinsip : MOOC’s (Massive Open Online Courses). Para karyawan yang dibesarkan oleh You Tube, Pinterest dan Instagram ini perlu dirangsang pembelajarannya melalui media media ini pula. Agenda pembelajaran menjadi agenda setiap orang dalam organisasi, tidak terkecuali para pemimpin. Pemimpinlah yang menjadi komandan dan provokator pembelajaran. Hal ini juga dilakukan oleh sebuah perusahaan kosmetik lokal di negara kita, di mana pemilik, suami-istri, anak-mantu, semua percaya bahwa belajar bisa di mana saja, kapan saja, dari siapa saja, dan dengan media apa saja. Organisasi perlu mencari cara pembelajaran yang ‘self driven’ dan ‘sexy’ bagi karyawannya, menjadikan inovasi sebagai ‘way of thinking’ sehari-hari di lingkungan pekerjaannya. Pemimpin yang menganggap pembelajaran adalan kegiatan pra atau pasca, ataupun di samping kegiatan utama, akan mengalami perlambatan yang signifikan di organisasinya.
Quantum Leap Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran perlu didesain secara seksama, dengan tujuan dan ‘dashboard’ alias parameter pengukuran keberhasilan yang jelas. Menurut para pimpinan Adidas, “Kita paling tidak, perlu melakukan ‘quantum leap” sebanyak 10 kali lipat, dan mencetak laba 10 kali lipat lebih besar. Tidak lagi mengharapkan pertumbuhan mainstream 10 % saja secara biasa”. Mengapa harus demikian? Kenyataannya dengan lompatan 10 kali lipat, kita meninggalkan kompetitor. Karyawanpun menjadi lebih ambisius, dan ingin menginspirasi satu sama lain. Atmosfir seperti ini pastinya akan menarik dan individu yang suka tantangan, rajin belajar dan gemar berpikir untuk bergabung dengan perusahaan pembelajar ini. Budaya inovasi akan terwujud nyata dalam organisasi, tidak hanya menjadi kutipan manis yang tergantung pada plakat budaya perusahaan semata. Dan di sini, pemimpin tidak memiliki pilihan lain selain berpikir ‘why not?’

 

‘Koor’ dikelas, ini 4 cara guru menghindarinya

koor

Koor di kelas yang saya maksud bukan koor paduan suara. Namun koor yang dilakukan siswa saat meneruskan apa yang guru katakan.  Misalnya saat menerangkan pelajaran IPA guru mengatakan begini, “semua mahluk hidup memerlukan oksigen untuk hiiiiii…?” dan murid akan menjawab “duuuuuupppp…”

“Ini adalah cara tradisional guru dalam meminta partisipasi siswa.”

Mengapa koor tidak dianjurkan saat guru mengajar?
• Kelas akan menjadi ribut
• Siswa tidak terlatih untuk berpikir dalam (HOTS atau High Order Thinking Skills) atau berpikir kritis

Koor di kelas bukan strategi dan itu hanyalah cara, sayangnya cara yang sudah ketinggalan jaman. Nah jika guru ingin menghindarinya seperti ini caranya

  1. Guru memulai perencanaan pengajaran dengan pertanyaan atau ‘essential question’ misalnya dalam pelajaran ini apa saja pertanyaan yang cocok diberikan. Saat anda membahas bencana alam di Indonesia berikut ini adalah pertanyaan yang bisa diajukan: ‘apa saja bencana alam yang terjadi di Indonesia?’, ‘berikan contoh bencana alam yang diakibatkan oleh ulah manusia?’ atau ‘bagaimana cara berlindung dari bencana?’. Dengan mendahulukan pertanyaan guru jadi tidak punya beban untuk menjelaskan karena pertanyaan membuat guru jadi tahu siswa mesti menguasai keterampilan atau pengetahuan apa saja
  2. Lakukan ramuan 80:20. aktivitas berjalan 80 persen dan penjelasan guru 20 persen. Jika guru menjelaskan 80 persen maka yang terjadi anda akan jadi guru yang membosankan dan cenderung berceramah panjang lebar.
  3. Latihan mesti dilakukan terus menerus dengan cara mengemukakan kalimat dengan utuh dan disesuaikan dengan tingkatan umur siswa (aspek pedagogis).
  4. Koor di kelas bisa terjadi karena tingginya waktu guru dalam menjelaskan dan guru cenderung hanya mengetahui bahwa cara terbaik mengajar adalah dengan melakukan penjelasan panjang lebar. Guru masih belum mengetahui strategi lain dalam menjelaskan. Saatnya guru belajar kembali mengenai pembelajaran dengan bekerja sama (cooperative learning)

Menjelaskan siswa dengan cara berceramah adalah hanya salah satu cara dalam meraih partisipasi siswa di kelas. Koor bukan berarti siswa anda mengerti atau setuju, koor hanya akan membuat siswa berbicara tanpa berpikir dan jauh sekali dari membuat siswa berpikir kritis.

Saatnya guru mengemukakan penjelasan kepada siswa tanpa membuat siswa membeo atau hanya tinggal meneruskan kalimat saja.

Ragam pelatihan bagi guru kreatif

tegal

karawang

Guru abad 21 itu adalah sosok yang senang meningkatkan diri. Ia adalah sosok yang dengan tekun mendengarkan penjelasan nara sumber, bahkan jika yang dikatakan nara sumber sudah ia ketahui atau bersifat teoritis. Ia dengan otomatis membuka begitu saja pikirannya ketika ia tahu bahwa ada hal yang ada hubungannya dengan ‘passion’ nya sedang diperbincangkan atau dibahas. Apalagi jika bahasannya bisa langsung ia bisa terapkan di kelas dimana ia mengajar dan menginspirasi muridnya.

Guru abad 21 adalah guru yang anggap dirinya adalah seorang pembelajar, yang menganggap alam semesta ini sebagai kelas dan setiap orang yang ia temui adalah ‘guru’ dan setiap hari adalah hari yang menyenangkan untuk belajar kembali.
Rekan pendidik berikut ini adalah rangkaian event kependidikan hanya untuk anda.

Hubungi nama dan kontak yang tertera di flyer jika ternyata cocok dengan passion anda miliki

 

12784763_1236879086327007_1754971807_n

onno

Waspadai 10 aktivitas yang habiskan waktu mengajar anda di kelas

CV1i_K5WcAEExXJ

Guru senang mengeluh bahwa waktunya sering kurang saat mengajar, eits nanti dulu, beda tipis antara waktu yang kurang dan kurang bisa mengatur waktu. Jam mengajar dalam satu jam pelajaran berkisar 30 sampai 45 menit. Dalam dua jam pelajaran sebenarnya sangat cukup untuk bisa mengahantarkan materi dan membuat siswa senang melakukan kegiatan di kelas. Ada beberapa kegiatan yang sadar tidak sadar menyita waktu guru. Kegiatan dibawah ini mungkin saja pernah atau masih anda lakukan, padahal lumayan menghabiskan waktu

  1. Mengabsen murid satu persatu. Apalagi jika murid anda banyak kelas pun jadi ribut dan jadi kurang kondusif. Guru bisa saja mengatakan siapa yang tidak masuk, atau langsung mendayagunakan siswa untuk melakukan absensi, biasanya siswa senang betul jika disuruh.
  2. Siswa menggeser meja kursi membentuk kelompok. Apalagi jika kursi dan mejanya berat. Buatlah meja kursi dalam kelompok, jika kelas anda dipakai bergantian minta guru yang terakhir gunakan kelas anda untuk menggeser kursi dan meja seperti semula (berkelompok)
  3. Guru membelakangi siswa untuk menulis di papan tulis. Ini yang juga akan membuat lama dan membuang waktu guru. Saat guru membelakangi siswa, hampir dapat dipastikan murid akan langsung gaduh dan tidak terkontrol. Sebelum mengajar guru bisa membuat tulisan di kertas besar mengenai materinya, masuk kelas guru tinggal menempelkannya saja atau jika belum ingin menunjukkannya pada siswa, guru bisa menutup kertas terlebih dahulu.
  4. Siswa membentuk kelompok. Ini juga hampir pasti menghabiskan waktu. Latih terus menerus murid kita untuk membuat kelompok dengan cepat dan efisien. Ada guru yang tidak mau susah, ia langsung tentukan kelompok siswanya, akibatnya murid jadi bosan karena ia tahu persis siapa temannya dalam kelompok. Hal ini malah akan membuat suasana dalam kerja kelompok tidak kondusif.
  5. Guru memasang peralatan. Lebih baik minta siswa secara rutin jadi petugas untuk memasangkan LCD dengan komputer anda misalnya. Latih mereka terus menerus agar mereka cepat dalam memasang dan bisa membantu anda
  6. Murid menyalin tulisan guru (belum tentu jelas). Guru sering terlalu percaya diri menulis dengan tulisan tangan di papan tulis, padahal belum tentu tulisannya jelas dan bisa dibaca oleh siswa. Sudah tulisannya kurang jelas, ia minta murid untuk menyalin, maka makin banyaklah waktu yang tersisa. Sediakan waktu untuk membuat slide atau menulis dengan tulisan yang baik di kertas dan langsung menempel saat akan menerangkan.
  7. Guru mendiamkan siswa. Guru perlu punya teknik mendiamkan siswa dengan cepat, lebih bagus lagi jika guru berkeliling, ia bisa langsung mendekati siswa yang jadi sumber keributan.
  8. Mendiamkan anak yang bermasalah. Ada di setiap kelas, siswa yang haus perhatian, guru sebaiknya memfokuskan diri dan melakukan semua hal di luar jam pelajaran untuk mengatasi anak ini. Mengatasi anak ini saat jam pelajaran malah akan membuat ia senang mendapatkan perhatian dari seisi kelas.
  9. Guru mengulang instruksi berkali-kali. Ini akibat guru lanjut saja menjelaskan ketika anak masih belum sepenuhnya mengerti, akibatnya anak yang senang diperhatikan akan suka sekali melakukan konfirmasi kepada gurunya, celakanya guru malah menjelaskan instruksinya satu persatu kepada anak yang kurang kelas. Bayangkan jika ada separuh jumlah siswa yang kurang jelas, ada baiknya guru berhenti menjelaskan ketika ia melihat sebagian siswa tidak jelas.
  10. Guru meminta tiap kelompok untuk presentasi. Bayangkan jika ada 5 grup dalam satu kelas, saya jamin waktu anda akan habis. Belum lagi jika ada siswa ekstrovert dan senang bicara maka seperti diberikan panggung rasanya bagi ia ketika diminta presentasi. Cara untuk menghindari ini adalah, minta siswa menuliskan jawaban saja di kertas, lalu minta setiap kelompok untuk menempel jawabannya di kelas.

Waktu sangat berharga jika anda memang ingin hadirkan hal yang terbaik untuk siswa. Masalah waktu memang akan tetap jadi masalah bagi guru yang kreatif. Secara umum biasakan untuk selalu menghitung mundur saat menugaskan sesuatu kepada siswa anda atau selalu katakan berapa waktu yang diperlukan untuk anak bisa melakukan kegiatan yang ada suruh, dengan demikian siswa jadi fokus dan merasa bahwa waktu adalah berharga.

 

15 langkah melakukan bedah kurikulum

Sejarah-Kurikulum-Indonesia

Bedah kurikulum adalah sebuah hal yang wajib sekolah lakukan dalam upaya menaikkan standar proses dan standar isi dalam kaitannya dengan peningkatan mutu belajar mengajar. Sayang sekali sebuah sekolah jika inginnya hanya menjalankan proses dari itu ke itu saja. Tidak ada peningkatan apalagi upaya untuk menajamkan pelayanan kepada anak didik melalui guru sebagai aktor utamanya.

Mengapa bedah kurikulum itu penting?

  •  Sekolah adalah lembaga pendidikan yang mestinya punya standar yang baik dalam hal proses dan isi (kurikulum)
  • Guru mesti terus mengupdate dirinya sendiri dalam menghadapi tantangan jaman. Terbukti ketika ada perubahan kurikulum 2013 dari pemerintah, guncangannya sangat luar biasa. Hal ini dikarenakan sekolah terbiasa berjalan dengan rutinitas dari itu ke itu saja. Ketika ada perubahan semua shock dan semua pihak tidak terbiasa mengelola perubahan.
  • Guru mesti dibiasakan melakukan dan menjalankan apa yang ia rencanakan dan bukan apa yang orang lain buat. Buku teks memang bagus untuk dijadikan sarana mengajar, namun lebih tinggi lagi tingkatan guru yang mengajar dengan menyarikan dari buku teks yang ada dikarenakan ia yang tahu muridnya tipe seperti apa dan bagaimana cara belajar siswanya sendiri di kelas

Banyak sekali timbul masalah akhir-akhir ini mengenai buku teks yang bahasanya vulgar, mengajarkan pornografi sampai yang salah dalam pembuatan soal serta jawabannya. Ada banyak penerbit buku teks bermutu saat yang sama ada banyak penerbit buku teks yang asal-asalan. Sekolah malah memanfaatkan hal ini dengan malah membeli buku teks dari penerbit yang kurang bermutu yang menawarkan rabat atau diskon dalam julmah yang besar, dengan harapan uangnya bisa masuk ke sekolah.

Bedah kurikulum dalam pelaksanaanya berjalan paling cepat satu tahun ajaran dengan mekanisme sebagai berikut:

  1. Sekolah mengumumkan kepada guru-gurunya bahwa akan ada upaya membedah kurikulum
  2. Sekolah membuat time line pengerjaan bedah kurikulum
  3. Sekolah mengangkat seorang koordinator, untuk menjadi pihak yang mengawasi dan mengingatkan guru mengenai jadwal.
  4. Sekolah membentuk komite, komite terdiri dari guru yang mempunyai minat atau berasal dari lulusan bidang studi terkait. Komite yang dibentuk adalah komite bahasa Indonesia/inggris, matematika, IPS dan Agama. Sekolah bisa juga membentuk komite bidang studi lain yang dianggap perlu. Komite terdiri dari beberapa orang guru, tiga orang paling sedikit.
  5. Sekolah menyediakan format yang sama. Format berisi kolom kapan pengajaran di lakukan , kompetensi dasar, karakter apa yang sekolah inginkan, pertanyaan kunci, contoh kegiatan yang bisa dilakukan, indikator, penilaian dan sumber belajar yang digunakan.
  6. Sekolah mengadakan pelatihan bagaimana cara mengisinya dan menyediakan banyak buku teks sebagai acuan. Guru juga bisa mencari kurikulum dari negara lain di internet, menggunakan kata kunci ‘scope and sequence’.
  7. Pengerjaan dimulai oleh komite yang telah ditentukan. Guru berkumpul dan bekerja dihari yang telah ditentukan
  8. Sekolah perlu mempunyai waktu yang bisa dilakukan oleh guru untuk mengerjakan kurikulum yang menjadi tanggung jawabnya. Sekolah mengatur waktu agar guru bisa mengerjakan pekerjaan bedah kurikulum ini dengan waktu yang terukur dan terencana.
  9. Kepala sekolah sering mengecek pada tiap perwakilan komite dan kepada koordinator kurikulum mengenai jalannya bedah kurikulum di tiap komite.
  10. Di pertengahan tahun sekolah mengagendakan satu hari khusus untuk semua komite berpresentasi mengenai kurikulum yang telah dibuat.
  11. Jika sudah selesai sekolah membukukan dan mencetaknya untuk diletakkan di ruang kepala sekolah dan ditaruh di ruang guru. Semua guru memegang ‘soft copy’.
  12. Pada dokumen kurikulum dibagian foot note ada bulan dan tahun kurkulum disahkan serta tanggal kapan kurikulum tersebut akan ditinjau kembali.
  13. Ditampilkan pada komite orang tua, perwakilan tiap komite kurikulum hadir orang tua dijelaskan mengenai arah kurikulum
  14. Ditinjau tiap dua tahun sekali
  15. Menjelang dua tahun, kepala sekolah mengumumkan kepada seluruh guru mengenai akan adanya perubahan dan peninajauan kembali.

 Sekali sekolah mempunyai kurikulum maka jalan sekolah menjadi mudah. Karena yang sekolah harus lakukan hanyalah meninjau saja hal-hal yang kiranya perlu diubah dan ditambahkan dari penggunaanya selama dua tahun.