Membungkus inovasi di sekolah dengan ‘branding’

CONTOH INOVASI SEKOLAH

Di sekolah sebuah inovasi diposisikan menjadi jawaban atau pemecahan sebuah masalah. Jika sekolah mempraktekkan asas inovasi dengan benar maka sebuah ancaman malah akan menjadi peluang. Sebuah inovasi hanya bisa lahir dari sebuah organisasi pembelajar yang berkomitmen bersama. Saat ini bukan saatnya lagi bahwa kepala sekolah adalah asal semua ide. Keberhasilan sebuah inovasi lahir karena team work antara semua pihak yang ada di sekolah , rasa percaya serta visi yang sama diantara semua pelaksana.

Sebuah Inovasi yang baik datang dari guru/warga sekolah itu sendiri, dengan maksud untuk menjawab kebutuhan atau penyelesaian masalah dengan menerapkan prinsip replikasi (ringan mudah ditiru) serta ditinjau secara berkala menggunakan prinsip POAC (Planning, Organizing, Actuating, and Controlling). Dengan demikian sekolah membiasakan dirinya untuk ‘Speak with data’, dengan cara sekolah melakukan audit internal dengan melibatkan team audit internal sekolah yang ditunjuk oleh kepala sekolah (terdiri dari guru senior dan orang yang dianggap mampu) untuk mengaudit program dan bukan melakukan audit terhadap orang per orang.

36C4ED70-AA39-6CB8-42D4-6D445C88527F

Aspek branding bisa membuat perubahan di sekolah menjadi lebih mudah dan cepat. Dengan cara memberikan penamaan yang menarik pada program-program inovasi sederhana yang berbasis sekolah yang dibuat demi menjawab kebutuhan penyelesaian masalah di sekolah.  Lanjutkan membaca “Membungkus inovasi di sekolah dengan ‘branding’”

Iklan

Apakah anda seorang guru yang pembelajar? temukan cirinya disini

“To become a teacher isn’t just to begin teaching it’s also to set off on a new journey with your own learning”

Menjadi seorang guru bukan soal mengajar saja, namun bersiaplah untuk memulai petualangan/perjalanan anda sendiri sebagai seorang pembelajar.

“A good teacher can inspire hope, ignite the imagination, and instill a love of learning”

“Seorang guru yang baik bisa menginspirasi harapan, menyalakan imajinasi, dan menanamkan cinta belajar”

“A teacher’s enthusiasm for learning is infectious. It’s a good bug to catch!”

“Antusias seorang guru untuk belajar menular. Ini adalah peluang yang bagus untuk ditangkap! “

“Don’t be the teacher people are waiting ro retire. Always be learning new things”

“Jangan menjadi guru yang hanya menunggu untuk menjadi pensiun. Selalulah belajar hal baru “

Lanjutkan membaca “Apakah anda seorang guru yang pembelajar? temukan cirinya disini”

3 panduan saat memilih perwakilan komite sekolah

komite-infografis1

Memilih komite sekolah berarti memilih mitra bekerja sama. Bukan saatnya lagi memilih komite hanya untuk menjadi stempel sekolah alias orang yang diminta untuk selalu setuju dengan semua kebijakan yang sekolah ambil. Beberapa panduan dibawah ini akan membantu anda dalam memilih orang tua siswa yang akan dijadikan komite sekolah.

1. Punya waktu, pertemanan yang luas serta punya pendapatan yang baik. Tidak mesti seorang yang kaya raya namun perlu dipilih orang yang tidak lagi perlu mencari nafkah dengan susah payah. Pertemanan yang luas penting agar
kebijakan sekolah bisa dibantu disebarluaskan dengan cara yang baik dan elegan.

2. Peduli pada kedisplinan sekolah. Saat sekolah ingin terapkan kebijakan pendidikan kedisiplinan atau karakter, komite perlu diberitahukan agar mencegah pengaduan dari pihak yang jelas jelas salah atau mencoba mengambil keuntungan dari konflik antara orang tua siswa dengan sekolah mengenai kedisiplinan.

Lanjutkan membaca “3 panduan saat memilih perwakilan komite sekolah”

6 sebab mengapa sebuah sekolah swasta kurang berkembang

coe_hp_newPerubahan di sekolah swasta punya banyak tantangan yang menarik untuk dibahas. Sebuah sekolah swasta sebenarnya mengandalkan betul pada kualitas dan kreativitas guru, sayangnya sekolah terjebak untuk sekedar menuruti kewajiban dari pihak dinas pendidikan semata tanpa terpikir untuk mengembangkan kekhasan nya sendiri. Bicara mengenai kekhasan sebuah sekolah, sejatinya di tiap tahun ajaran sekolah punya tantangan sendiri dalam mengembangkan jati diri.

Lewat tulisan ini saya ingin memberikan gambaran apa saja ciri sekolah swasta yang masih belum menemukan jati diri dalam mengembangkan visi dan misi sebagai sebuah lembaga pendidikan

1. menjadikan buku teks sebagai satu satunya sumber pembelajaran, yang berimbas pada proses belajar mengajar yang monoton dan konvensional.
2. kerja sama antar guru yang minim
3. Semangat pengelola hanya mensejaterahkan guru atau sebaliknya terlalu hitung-hitungan untung rugi pada gurunya.
4. Disibukkan dengan perilaku siswanya yang cenderung tidak disiplin. Biasanya terjadi di SMK.
5. Banyak guru yang tidak tetap atau menyambi di sekolah lain.
6. Cengkeraman yayasan yang luar biasa hingga mematikan kreativitas pengelola atau sebalik nya Yayasan tak begitu punya cara untuk mengontrol kinerja .
Lanjutkan membaca “6 sebab mengapa sebuah sekolah swasta kurang berkembang”

9 prinsip yang penting dalam memasarkan sekolah anda.

Ada banyak teori mengenai bagaimana memasarkan sekolah swasta atau lembaga pendidikan swasta. Ada juga sekolah-sekolah yang tidak terlalu peduli dengan teori, yang lebih penting bagi mereka adalah cetak sebanyak-banyaknya spanduk/banner/poster/brosur dan diletakkan ditempat strategis dengan harapan menjaring calon orang tua siswa.

Desain alat promosinya pun hampir pasti bisa ditebak dengan foto kegiatan di kelas, field trip dan tak lupa discount yang menarik perhatian. Calon orang tua siswa jaman now saat ini memang masih tertarik dengan alat promosi, namun saat yang sama mereka andalkan pertimbangan orang lain lewat media sosial atau biasa disebut sebagai ‘world of mouth’.

Sila cermati prinsip dibawah ini, semoga membantu anda dalam merencanakan promosi.

  1. Memasarkan sekolah saat ini menjadi kewajiban semua pihak di sekolah. Sekolah swasta memang punya kewajiban mesti memasarkan sekolahnya, sayangnya sering dibebankan hanya pada kepala sekolah dan bagian admission sekolah.Sekolah dan orang tua siswa akan mendapatkan malapetaka jika ada salah konsep saat bagian admission memasarkan sekolah. Bayangkan jika memasarkan sekolah kepada orang tua siswa layaknya seperti memasarkan property, dengan diskon antar pembeli yang berbeda tergantung nego keras atau lembut dari si orang tua siswa. Ujung-ujungnya antar orang tua siswa akan saling membandingkan berapa diskon yang didapat. Diperlukan ketegasan dalam menentukan aspek keuangan biaya masuk.
  2. Inti dari sebuah sekolah adalah kegiatan belajar dan mengajar, silakan sekolah mulai berpromosi mengenai sekolahnya dari kegiatan inti tsb. Kegiatan lain serta sarana dan prasarana hanya jadi pelengkap saja, pemanis yang bisa membuat calon orang tua siswa tertarik.
  3. Saat memasarkan sekolah, arti ‘brand’ menjadi sangat penting, lakukan evaluasi/refleksi diri, sekarang ini saat disebutkan nama sekolah anda apa yang orang lain pikirkan? jika masih ada perbedaan atau malah kebanyakan persepsi negatif nya saatnya sekolah anda mawas diri.
  4. Apa Tagline sekolah anda? Brand lembaga pendidikan saat ini bagus bagus, coba tebak tag line ini, ‘Berprestasi tinggi dan berakhlak terpuji’. Lembaga pendidikan apakah yang punya tag line tadi? sekolah atau bimbel?
  5. Jika sebuah sekolah swasta serius dalam mengelola lembaga pendidikannya, itu berarti ia mesti berfokus dan berorientasi pada bagaimana menghadirkan ‘pengalaman belajar yang mendidik dan bermakna’ bagi setiap pemangku kepentingan di sekolahnya (siswa, guru dan orang tua siswa). Orang tua siswa mungkin akan tertarik oleh gambar fasilitas yang ‘wah’ di brosur sekolah anda, namun ketertarikan akan berubah jadi keluhan tak ada ujung ketika mutu guru yang rendah, miskin ilmu mendidik serta pembelajaran di kelas yang konvensional.
  6. Banyak sekolah yang sdh punya akun di medsosdan rajin berpromosi, dengan cerdik melakukan soft selling dgn unggah kegiatan sekolahnya. Sebuah itikad yang baik, pertanyaan selanjutnya adalah apa guru-gurunya di medsos juga lakukan hal yg sama? Nah dari sini bisa diungkap dari sudut bagaimana cara menjual sekolah yang terbaik. Menjual dengan cara ‘Soft Selling’ sangat dianjurkan dalam membuat calon orang tua siswa tertarik. Sekolah bisa melakukannya lewat serangkaian kegiatan beberapa kali dalam satu tahun ajaran. Kegiatannya bisa seminar orang tua mengenai bagaimana mendidik dengan baik dan lain sebagainya, pelatihan guru yang difasilitasi oleh guru setempat yang mengundang guru guru di sekolah sekitar untuk jadi peserta. Intinya semua kegiatan yang bisa membuat orang tua siswa yang menyekolahkan anaknya merasa menyekolahkan di tempat yang tepat. Dikarenakan guru-gurunya update dengan isu terkini, tak sayang berbagi ilmu dengan sesama guru dan orang tua siswa serta sederet perasaan positif lain yang timbul karena kegiatan yang bermakna. Memang konsep soft selling dalam memasarkan sekolah mengandalkan sekali peran serta guru-guru. Soft selling akan muncul saat guru selesaikan keluhan orang tua siswa, menjadi rekan sharing orang tua siswa saat memilih sekolah dan sederet hal lain yang ada hubungannya dengan pendidikan Ujung dari semua kegiatan ini adalah komentar serta support yang positif dari orang tua siswa yang sudah ada. Ingat mereka lah agen pemasar terbaik. Pertanyannya sekarang apakah sekolah sudah cukup membuat guru guru nya mampu berbagi ilmu dan percaya diri dalam berbagi dan selesaikan masalah. Diperlukan atmosfir yang positif di sekolah hingga semua guru merasa ‘berharga’ dan diperhatikan sebagai guru sekaligus karyawan. Dengan demikian mereka jadi senang berbagi dan berpartisipasi dalam semua event marketing sebagai seorang yang profesional.
  7. “Teachers should be on the front lines of any marketing effort” kata Rob Norman, pakar marketing sekolah. Sudahkah kita berikan tanggung jawab yang sama pada para guru untuk ikut mendukung promosi sekolah, atau diam-diam guru bicara negatif soal sekolah di postingan medsos mereka. Sesungguhnya kualitas sebuah sekolah ditentukan oleh kualitas percakapan guru-gurunya di media sosial.
  8. Anda pemilik sekolah, pengurus yayasan atau kepala sekolah swasta? sudahkah anda duduk satu meja dengan semua guru, paparkan bagaimana strategi sekolah dalam menjaring calon siswa baru? atau para guru anggap persoalan marketing sekolah menjadi tanggung jawab kepsek sendirian. Di sekolah swasta sangat wajar apabila ada kesepakatan bersama bahwa banyak siswa akan mempengaruhi tingkat kesejahteraan guru.
  9. Anda pemilik sekolah, pengurus yayasan atau kepala sekolah swasta? saatnya cantumkan di surat kontrak bagi karyawan/guru baru bahwa, ‘bersedia membantu memasarkan sekolah dgn cara mengajar dan bersikap profesional sekaligus ikut serta dalam event marketing”.

Prinsip diatas membantu anda fokus pada bagaimana melakukan promosi dengan cerdas dan efektif. Intinya adalah sebagai sebuah sekolah anda punya team pemasar (marketer) yang hebat, mereka adalah para guru. Cukup minta mereka mengajar dengan baik. profesional bermakna dan bersikap profesional di medsos maka semua barang cetakan anda untuk promosi (yang biayanya tidak murah) akan makin efektif dan efisien dalam menarik calon orang tua siswa.

12 prinsip penerapan Full Day School

full-day-school-3

Full day school (selanjutnya disebut FDS)  erat kaitannya dengan berapa lama waktu siswa berada di sekolah. Sebuah sekolah yang membuat guru dan siswa berada di sekolah lebih dari 7 jam bisa dikatakan sebagai full day school. Terlepas dari kontroversi yang terjadi serta konsep FDS yang ingin diterapkan pemerintah, tulisan ini akan membahas prinsip full day school jika sekolah anda ingin menerapkannya

Jam masuk sekolah

jam masuk sekolah

Dari tabel di atas jelaslah bahwa ekstra kurikuler sangat diperlukan dalam membuat pembelajaran siswa menjadi seimbang. Dengan jumlah jam yang cukup dan ditempatkan di akhir hari diharapkan siswa menjadi punya saluran dalam meregangkan kepenatan setelah belajar seharian.

Lanjutkan membaca “12 prinsip penerapan Full Day School”

7 cara menyeleksi guru baru lewat media sosialnya

Penekanan agar guru selalu mengangkat semangat plurasime,kesetaraan, demokrasi dsb dalam proses pembelajaran ternyatadalam keseharian di medsos tidak seperti itu. guru takut membicarakan perbedaan yang berkaitan dengan SARA. Khawatir menyebabkan salah satu pihak ada yang merasa tersinggung apabila membicarakan sesuatu yang berbau SARA.

Bukannya menyalahkan sikap seperti ini, namun sebagai pribadi yang dewasa dengan profesi yang sama dan tahu batas-batas etika diskusi, mestinya justru lebih enak dalam menyampaikan opini secara terbuka, mendiskusikannya bahkan berdebat beradu pendapat dan argumentasi serta opini.

Dari beberapa contoh kontra produktif di atas, yang paling saya herankan dan saya sayangkan serta sangat disesalkan adalah masih banyaknya teman guru yang melakukan copas artikel, istilah, gambar, konten milik orang lain (dengan penuh kebanggaan), bahkan ada juga yang gemar menyebar HOAX dan tanpa tahu bahwa itu adalah HOAX serta apaitu HOAX (Karena baru beberapa bulan pegang android yang akun WA-nya dibuatkan oleh pelayan konter).

#Mohon maaf yang sebesar-besarnya nih teman-teman guru, saya buka sedikit dapur kita

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/maarif_setyo_nugroho/guru-medsos-dan-sikap-politik_5915e033c222bd9b538300b8

images (1)

Cuplikan artikel diatas saya sarikan dari diskusi mengenai penggunaan medsos atau media sosial untuk guru. Ingatan saya langsung terbayang saat saya meminta guru di sekolah yang pernah saya pimpin untuk ‘membereskan’ media sosial nya. Itu terjadi sekitar 3 tahun lalu dari sekarang. Jauh dari situasi dimana media sosial dianggap telah terjerumus jadi ajang fitnah. Saya minta guru untuk menampilkan jati dirinya sebagai guru. Cara yang sama juga saya terapkan saat akan menyeleksi guru.

Lanjutkan membaca “7 cara menyeleksi guru baru lewat media sosialnya”