9 prinsip yang penting dalam memasarkan sekolah anda.

Ada banyak teori mengenai bagaimana memasarkan sekolah swasta atau lembaga pendidikan swasta. Ada juga sekolah-sekolah yang tidak terlalu peduli dengan teori, yang lebih penting bagi mereka adalah cetak sebanyak-banyaknya spanduk/banner/poster/brosur dan diletakkan ditempat strategis dengan harapan menjaring calon orang tua siswa.

Desain alat promosinya pun hampir pasti bisa ditebak dengan foto kegiatan di kelas, field trip dan tak lupa discount yang menarik perhatian. Calon orang tua siswa jaman now saat ini memang masih tertarik dengan alat promosi, namun saat yang sama mereka andalkan pertimbangan orang lain lewat media sosial atau biasa disebut sebagai ‘world of mouth’.

Sila cermati prinsip dibawah ini, semoga membantu anda dalam merencanakan promosi.

  1. Memasarkan sekolah saat ini menjadi kewajiban semua pihak di sekolah. Sekolah swasta memang punya kewajiban mesti memasarkan sekolahnya, sayangnya sering dibebankan hanya pada kepala sekolah dan bagian admission sekolah.Sekolah dan orang tua siswa akan mendapatkan malapetaka jika ada salah konsep saat bagian admission memasarkan sekolah. Bayangkan jika memasarkan sekolah kepada orang tua siswa layaknya seperti memasarkan property, dengan diskon antar pembeli yang berbeda tergantung nego keras atau lembut dari si orang tua siswa. Ujung-ujungnya antar orang tua siswa akan saling membandingkan berapa diskon yang didapat. Diperlukan ketegasan dalam menentukan aspek keuangan biaya masuk.
  2. Inti dari sebuah sekolah adalah kegiatan belajar dan mengajar, silakan sekolah mulai berpromosi mengenai sekolahnya dari kegiatan inti tsb. Kegiatan lain serta sarana dan prasarana hanya jadi pelengkap saja, pemanis yang bisa membuat calon orang tua siswa tertarik.
  3. Saat memasarkan sekolah, arti ‘brand’ menjadi sangat penting, lakukan evaluasi/refleksi diri, sekarang ini saat disebutkan nama sekolah anda apa yang orang lain pikirkan? jika masih ada perbedaan atau malah kebanyakan persepsi negatif nya saatnya sekolah anda mawas diri.
  4. Apa Tagline sekolah anda? Brand lembaga pendidikan saat ini bagus bagus, coba tebak tag line ini, ‘Berprestasi tinggi dan berakhlak terpuji’. Lembaga pendidikan apakah yang punya tag line tadi? sekolah atau bimbel?
  5. Jika sebuah sekolah swasta serius dalam mengelola lembaga pendidikannya, itu berarti ia mesti berfokus dan berorientasi pada bagaimana menghadirkan ‘pengalaman belajar yang mendidik dan bermakna’ bagi setiap pemangku kepentingan di sekolahnya (siswa, guru dan orang tua siswa). Orang tua siswa mungkin akan tertarik oleh gambar fasilitas yang ‘wah’ di brosur sekolah anda, namun ketertarikan akan berubah jadi keluhan tak ada ujung ketika mutu guru yang rendah, miskin ilmu mendidik serta pembelajaran di kelas yang konvensional.
  6. Banyak sekolah yang sdh punya akun di medsosdan rajin berpromosi, dengan cerdik melakukan soft selling dgn unggah kegiatan sekolahnya. Sebuah itikad yang baik, pertanyaan selanjutnya adalah apa guru-gurunya di medsos juga lakukan hal yg sama? Nah dari sini bisa diungkap dari sudut bagaimana cara menjual sekolah yang terbaik. Menjual dengan cara ‘Soft Selling’ sangat dianjurkan dalam membuat calon orang tua siswa tertarik. Sekolah bisa melakukannya lewat serangkaian kegiatan beberapa kali dalam satu tahun ajaran. Kegiatannya bisa seminar orang tua mengenai bagaimana mendidik dengan baik dan lain sebagainya, pelatihan guru yang difasilitasi oleh guru setempat yang mengundang guru guru di sekolah sekitar untuk jadi peserta. Intinya semua kegiatan yang bisa membuat orang tua siswa yang menyekolahkan anaknya merasa menyekolahkan di tempat yang tepat. Dikarenakan guru-gurunya update dengan isu terkini, tak sayang berbagi ilmu dengan sesama guru dan orang tua siswa serta sederet perasaan positif lain yang timbul karena kegiatan yang bermakna. Memang konsep soft selling dalam memasarkan sekolah mengandalkan sekali peran serta guru-guru. Soft selling akan muncul saat guru selesaikan keluhan orang tua siswa, menjadi rekan sharing orang tua siswa saat memilih sekolah dan sederet hal lain yang ada hubungannya dengan pendidikan Ujung dari semua kegiatan ini adalah komentar serta support yang positif dari orang tua siswa yang sudah ada. Ingat mereka lah agen pemasar terbaik. Pertanyannya sekarang apakah sekolah sudah cukup membuat guru guru nya mampu berbagi ilmu dan percaya diri dalam berbagi dan selesaikan masalah. Diperlukan atmosfir yang positif di sekolah hingga semua guru merasa ‘berharga’ dan diperhatikan sebagai guru sekaligus karyawan. Dengan demikian mereka jadi senang berbagi dan berpartisipasi dalam semua event marketing sebagai seorang yang profesional.
  7. “Teachers should be on the front lines of any marketing effort” kata Rob Norman, pakar marketing sekolah. Sudahkah kita berikan tanggung jawab yang sama pada para guru untuk ikut mendukung promosi sekolah, atau diam-diam guru bicara negatif soal sekolah di postingan medsos mereka. Sesungguhnya kualitas sebuah sekolah ditentukan oleh kualitas percakapan guru-gurunya di media sosial.
  8. Anda pemilik sekolah, pengurus yayasan atau kepala sekolah swasta? sudahkah anda duduk satu meja dengan semua guru, paparkan bagaimana strategi sekolah dalam menjaring calon siswa baru? atau para guru anggap persoalan marketing sekolah menjadi tanggung jawab kepsek sendirian. Di sekolah swasta sangat wajar apabila ada kesepakatan bersama bahwa banyak siswa akan mempengaruhi tingkat kesejahteraan guru.
  9. Anda pemilik sekolah, pengurus yayasan atau kepala sekolah swasta? saatnya cantumkan di surat kontrak bagi karyawan/guru baru bahwa, ‘bersedia membantu memasarkan sekolah dgn cara mengajar dan bersikap profesional sekaligus ikut serta dalam event marketing”.

Prinsip diatas membantu anda fokus pada bagaimana melakukan promosi dengan cerdas dan efektif. Intinya adalah sebagai sebuah sekolah anda punya team pemasar (marketer) yang hebat, mereka adalah para guru. Cukup minta mereka mengajar dengan baik. profesional bermakna dan bersikap profesional di medsos maka semua barang cetakan anda untuk promosi (yang biayanya tidak murah) akan makin efektif dan efisien dalam menarik calon orang tua siswa.

Iklan

12 prinsip penerapan Full Day School

full-day-school-3

Full day school (selanjutnya disebut FDS)  erat kaitannya dengan berapa lama waktu siswa berada di sekolah. Sebuah sekolah yang membuat guru dan siswa berada di sekolah lebih dari 7 jam bisa dikatakan sebagai full day school. Terlepas dari kontroversi yang terjadi serta konsep FDS yang ingin diterapkan pemerintah, tulisan ini akan membahas prinsip full day school jika sekolah anda ingin menerapkannya

Jam masuk sekolah

jam masuk sekolah

Dari tabel di atas jelaslah bahwa ekstra kurikuler sangat diperlukan dalam membuat pembelajaran siswa menjadi seimbang. Dengan jumlah jam yang cukup dan ditempatkan di akhir hari diharapkan siswa menjadi punya saluran dalam meregangkan kepenatan setelah belajar seharian.

Lanjutkan membaca “12 prinsip penerapan Full Day School”

7 cara menyeleksi guru baru lewat media sosialnya

Penekanan agar guru selalu mengangkat semangat plurasime,kesetaraan, demokrasi dsb dalam proses pembelajaran ternyatadalam keseharian di medsos tidak seperti itu. guru takut membicarakan perbedaan yang berkaitan dengan SARA. Khawatir menyebabkan salah satu pihak ada yang merasa tersinggung apabila membicarakan sesuatu yang berbau SARA.

Bukannya menyalahkan sikap seperti ini, namun sebagai pribadi yang dewasa dengan profesi yang sama dan tahu batas-batas etika diskusi, mestinya justru lebih enak dalam menyampaikan opini secara terbuka, mendiskusikannya bahkan berdebat beradu pendapat dan argumentasi serta opini.

Dari beberapa contoh kontra produktif di atas, yang paling saya herankan dan saya sayangkan serta sangat disesalkan adalah masih banyaknya teman guru yang melakukan copas artikel, istilah, gambar, konten milik orang lain (dengan penuh kebanggaan), bahkan ada juga yang gemar menyebar HOAX dan tanpa tahu bahwa itu adalah HOAX serta apaitu HOAX (Karena baru beberapa bulan pegang android yang akun WA-nya dibuatkan oleh pelayan konter).

#Mohon maaf yang sebesar-besarnya nih teman-teman guru, saya buka sedikit dapur kita

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/maarif_setyo_nugroho/guru-medsos-dan-sikap-politik_5915e033c222bd9b538300b8

images (1)

Cuplikan artikel diatas saya sarikan dari diskusi mengenai penggunaan medsos atau media sosial untuk guru. Ingatan saya langsung terbayang saat saya meminta guru di sekolah yang pernah saya pimpin untuk ‘membereskan’ media sosial nya. Itu terjadi sekitar 3 tahun lalu dari sekarang. Jauh dari situasi dimana media sosial dianggap telah terjerumus jadi ajang fitnah. Saya minta guru untuk menampilkan jati dirinya sebagai guru. Cara yang sama juga saya terapkan saat akan menyeleksi guru.

Lanjutkan membaca “7 cara menyeleksi guru baru lewat media sosialnya”

Saatnya sekolah memberi ‘nilai lebih’ saat proses akreditasi di sekolah

DSC_0462_1478664252
Suasana saat akreditasi. (sumber: http://sma2-jkt.tarakanita.or.id/)

Mempersiapkan akreditasi sekolah bukanlah kemudian membuat sekolah dalam suasana ‘perang’ dan membuat sekolah tidak nyaman. Akreditasi adalah sarana sekolah lakukan refleksi diri. Secara singkat refleksi bisa berarti sekolah membuka diri ditelaah oleh pihak ketiga dalam hal ini dinas pendidikan setempat. Saat ditelaah sekolah mesti ada bukti. Sebuah bukti yang baik bukan berisi print kertas yang berlembar lembar namun juga bisa lewat yang namanya website sampai bukti komunikasi internal di sekolah lewat email dll.

Lewat artikel ini saya akan mengulas hal yang bisa menjadi nilai lebih saat sekolah diakreditasi lewat ukuran 8 Standar Nasional Pendidikan. Tentunya ulasan saya melengkapi instrumen dari dinas pendidikan

Lanjutkan membaca “Saatnya sekolah memberi ‘nilai lebih’ saat proses akreditasi di sekolah”

2 dokumen penting untuk membuat sekolah jadi berkualitas

0fca166adad1e724c56f1d3d118dfb7e

Dalam menyelenggarakan sekolah agar menjelma menjadi sekolah yang efektif diperlukan beberapa elemen yang penting. Elemen ini berfungsi agar dalam pelaksanaannya semua pihak yang ada di sebuah sekolah sebagai komunitas pendidikan dapat bekerja sama dan bisa secara penuh berkontribusi demi kemajuan sekolah.

  1. Kebijakan dan prosedur.

Adalah upaya sekolah untuk mengedepankan dirinya lewat dokumen tertulis yang berupa kebijakan. Kebijakan berguna dalam meredam hal hal yang menjadi perdebatan ‘abadi’ di sekolah misalnya

  • seragam
  • perihal pemberian PR
  • penggunan bahasa Inggris (di sekolah yang bilingual)
  • menilai kinerja guru
  • pelaksanaan field trip
  • keterlambatan siswa
  • bullying (perundungan di sekolah)
  • tata cara komunikasi dengan orang tua siswa.

daftar diatas akan lebih banyak lagi sesuai dengan hal yang dihadapi sekolah dalam pelaksanaannya. Tidak heran hal ini disebabkan kebijakan sekolah sifatnya ‘meredam’ permasalahan agar sekolah punya ‘gigi’ atau kekuatan sebagai sebuah lembaga. Kebijakan ini bersifat mengikat bagi semua komponen di sekolah (siswa, guru, pimpinan dan orang tua siswa). Sebuah kebijakan bisa ditinjau tiap dua tahun sekali. Saat sebuah kebijakan akan dibuat dan disyahkan atau akan ditinjau ulang, semua pihak akan terlibat, dari komite sekolah sampai guru akan dimintakan pendapatnya.

Berikut adalah penjelasan lengkap dari situs  https://www.thoughtco.com/draft-effective-policy-and-procedures-319457

Menulis kebijakan dan prosedur untuk sekolah merupakan bagian dari tugas seorang administrator (kepala sekolah dan manajemen). Kebijakan dan prosedur sekolah pada dasarnya adalah dokumen dimana sekolah   dioperasikan. Adalah penting bahwa kebijakan dan prosedur di sebuah sekolah selalu dimutakhirkan. Setiap dua tahun harus ditinjau dan direvisi seperlunya, dan kebijakan dan prosedur baru harus ditulis sesuai kebutuhan.

Panduan berikut adalah tip dan saran yang perlu dipertimbangkan saat   mengevaluasi kebijakan dan prosedur lama atau menulis yang baru.

MENGAPA EVALUASI KEBIJAKAN DAN PROSEDUR SEKOLAH PENTING?

Setiap sekolah memiliki buku pegangan siswa, buku pegangan guru dan staf , dan buku pegangan staf bersertifikat yang dilengkapi dengan kebijakan dan prosedur. Ini adalah bagian penting setiap sekolah karena mereka mengatur kejadian sehari-hari yang terjadi di sekolah.

BAGAIMANA  MENULIS KEBIJAKAN YANG AKAN MENJADI SOLUSI BAGI PERMASALAHAN DI SEKOLAH?

Kebijakan dan prosedur biasanya ditulis dengan target  tertentu, Ini termasuk siswa, guru, administrator, staf pendukung, dan bahkan orang tua.

Kebijakan dan prosedur harus ditulis agar audiens target mengerti apa yang diminta atau diarahkan pada mereka. Misalnya, sebuah kebijakan yang ditulis untuk buku pegangan siswa sekolah menengah harus ditulis di tingkat sekolah menengah dan dengan terminologi yang rata-rata akan dimengerti oleh siswa sekolah menengah.

BAGAIMANA MEMBUAT SEBUAH KEBIJAKAN MENJADI JELAS

Kebijakan Sekolah bersifat informatif dan langsung artinya informasinya tidak ambigu, dan selalu langsung ke pokok permasalahan, jelas dan ringkas. Kebijakan yang ditulis dengan baik tidak akan menimbulkan kebingungan. Kebijakan yang bagus juga selalu update. Misalnya, kebijakan yang berhubungan dengan teknologi (IT) mungkin perlu diperbarui seiring dengan pesatnya evolusi industri teknologi itu sendiri. Kebijakan yang jelas mudah dimengerti. Pembaca kebijakan seharusnya tidak hanya memahami makna kebijakan tapi juga memahami nada dan alasan yang mendasari kebijakan itu ditulis.

KAPAN  MENAMBAH KEBIJAKAN BARU ATAU MEREVISI SEBUAH KEBIJAKAN?

Kebijakan harus ditulis dan / atau direvisi sesuai kebutuhan. Buku pegangan siswa dan semacamnya harus ditinjau setiap tahun. Pimpinan sekolah harus didorong untuk menyimpan dokumentasi semua kebijakan dan prosedur yang mereka rasa perlu ditambahkan atau direvisi saat tahun ajaran berjalan. Ada saatnya sekolah perlu  menerapkan kebijakan baru atau revisi yang berlaku segera dalam tahun ajaran, namun sebagian besar waktu, kebijakan baru atau revisi harus mulai berlaku pada tahun ajaran berikutnya atau dua tahun sekali.

Lanjutkan membaca “2 dokumen penting untuk membuat sekolah jadi berkualitas”

Makna ‘Nilai’ akademis bagi orang tua siswa

​Saya tanya, sikap apa yang akan kalian ambil…..Jika kamu tau ada diantara teman2mu membicarakan dengan nyinyir dan membandingkan (dibelakangmu) anakmu yang notabene memiliki nilai akademik dibawah rata2 ….Sementara kamu menerima & sangat memahami karakter anak2mu sendiri dan jujur tidak malu menyembunyikan, mengakui segala kelebihan & kekurangan mereka sebab setiap anak memiliki talenta yg berbeda sekalipun saudara sekandung, dan karena pemahaman tersebut kamu juga tidak ingin membicarakan kekurangan anak2 orang lain….. #cumananya

Di Facebook ada banyak status yang menarik, yang saya copas disini adalah jeritan hati ibu yang tidak terima atas perlakuan orang tua anak lainnya. Buat saya hal diatas terjadi karena ada beban yang ada di pundak orang tua siswa disebabkan masalah nilai akademis anaknya. Setiap pengambilan rapor guru akan menghindari berdebat dengan orang tua siswa yang kritis perihal nilai. 

Di banyak sekolah ukuran kasta’ seorang siswa diukur dari nilai akademis. Sebuah hal yang sangat membuat miris. Gejala itu diperparah dengan sikap guru yang mau terima beres saja. Inginnya kalau bisa semua siswa dikelasnya lancar dan cepat menguasai pembelajaran yang diberikan. Coba lihat siswa TK saat mereka tiba di sekolah, mereka begitu rileks dikarenakan di usia emas itu yang mereka pikirkan hanyalah berkarya dan bersenang senang di sekolah tanpa khawatir berapa nilai yang akan ia dapatkan.

Apa yang bisa sekolah lakukan agar orang tua siswa bisa seimbang dalam memandang nilai atau pencapaian putra putrinya. 

1. Sekolah menjalankan fungsinya sebagai lembaga pendidikan dengan cara lakukan hal sebagai berikut:

• Buat pertemuan awal tahun ajaran yang dilakukan per kelas.

• Buat buletin sekolah

• Adakan acara seminar orang tua sekali per tiga bulan. Undang orang yang berkenan berbagi dan bukan seleb atau motivator yang dibayar mahal.

2. Guru diberikan pelatihan dan pembekalan cara untuk:

• Berkomunikasi efektif dengan orang tua siswa.

• Penilaian autentik ala kurikulum 2013

• Melakukan penilaian dengan banyak variasi.

3. Kepala sekolah 

• Membuat kebijakan penilaian yang autentik yang mesti dipatuhi oleh guru dan diketahui oleh orang tua siswa

• Membuat format raport yang bentuknya campuran antara nilai angka dan narasi.

• Berbicara dalam setiap rapat yang dihadiri oleh orang tua bahwa nilai adalah gabungan antara usaha siswa dan sejauh mana guru berusaha membuat siswanya paham

• Membuat sistem pengambilan rapor yang efektif, sehingga semua orang tua mendapatkan gambaran yang menyeluruh mengenai anaknya.

• Mengharuskan guru fokus pada penggunaan teknik penilaian formatif.

Diharapkan dengan langkah diatas akan tercipta komunitas di sekolah yang menghargai usaha dan tidak semata berorientasi nilai. Saat yang sama menganggap nilai yang baik adalah konsekuensi kerja keras dan antusiasme siswa dalam mempelajari sebuah pengetahuan. 

​5 kesalahan yang biasa sekolah lakukan saat lakukan rapat di awal tahun ajaran baru.

Sekolah sebagai sebuah komunitas pembelajar perlu memulai awal tahun ajaran baru dengan tepat. Jika tidak maka sekolah akan kehilangan momentum awali tahun ajaran baru dengan pijakan yang kuat untuk menjalani setahun penuh tahun ajaran.

Di saat yang sama sekolah banyak lakukan kekeliruan saat mengawali tahun ajaran antara lain:

1. Memulai tahun ajaran baru tidak dengan paparan kepala sekolah mengenai kondisi terkini sekolah. Dari sisi jumlah siswa sampai apa saja hal yang sudah atau belum tercapai dalam rangka pemenuhan visi misi sekolah. Kepala sekolah mesti bicara semua aspek penyelenggaraan sekolah. Kepsek boleh saja ajak kepala TU saat ada bahasan soal keuangan serta pejabat terkait lain sesuai bidang.

2. Memulai tahun ajaran baru langsung kerjakan administrasi pengajaran untuk satu tahun ke depan. Padahal administrasi pengajaran adalah sebuah dokumen kerja yang perlu dilakukan sepanjang satu tahun ajaran. Lebih baik sekolah minta guru untuk membuat perencanaan untuk satu atau dua minggu pertama di tahun ajaran.

Lanjutkan membaca “​5 kesalahan yang biasa sekolah lakukan saat lakukan rapat di awal tahun ajaran baru.”