4 ide mengakhiri tahun ajaran dengan menyenangkan

quote-keep-calm-school-is-almost-over1

Satu tahun ajaran bukan waktu yang lama namun juga bukan waktu yang sebentar. Diperlukan nafas yang panjang dan kesadaran agar selamat sampai di akhir tahun ajaran. Sepanjang pengalaman saya sebagai guru kelas atau wali kelas ada beberapa momen yang pastinya memerlukan ketahanan diri dan emosi saat menjalani satu tahun ajaran, saat itu adalah:

  1. Tahun ajaran baru dimulai dan mulai menghitung, berapa anak yang perlu dukungan. Semua guru langsung membagi jadi siswa yang cepat, biasa dan yang lambat belajarnya.
  2. Memetakan jenis orang tua siswa yang ada di kelas kita. Hal yang pasti terjadi guru langsung membuat daftar tipe tipe orang tua siswa yang mesti dijaga karena kritis, atau yang perlu dilakukan pendekatan karena cuek terhadap perkembangan anaknya.
  3. Saat pembuatan raport. Guru terkadang baru sadar bahwa masih ada siswa yang belum memenuhi standar.
  4. Saat siswa perlu bepergian dalam rangka karya wisata atau ada acara rutin sekolah yang melibatkan penampilan, jika guru yang jadi pengelolanya dijamin konsentrasi mengajar mesti dibagi dengan pelaksanaan acara.
  5. Peristiwa peristiwa kecil dan besar selama satu tahun ajaran yang pasti menguras tenaga dan emosi.

Baca lebih lanjut

Sekolah sebagai tempat menciptakan siswa yang ‘cinta belajar’

Chart_SmartBriefSurvey

Ada sebutan yang saat ini melekat pada institusi sekolah sebagai lembaga pendidikan, sebutan itu adalah sekolah sebagai organisasi pembelajar. Dikarenakan saat ini peran sekolah bukan lagi semata mata mengurusi proses belajar mengajar namun juga menambah fokus yang kuat pada siswa sebagai pembelajar.

Ada banyak kerugian ketika sekolah hanya berkutat di proses pembelajaran. Jika itu terjadi berarti sekolah dengan semua elemennya hanya persiapkan siswanya untuk ujian dan tes demi tes. Proses belajar di kelas pun menjadi terkendala dikarenakan nilai menjadi tujuan, padahal sekolah mesti bisa menyiapkan warganya untuk bisa sukses di kehidupan sebagai warga negara yang bertanggung jawab.

Beberapa hal yang pasti terjadi jika sekolah hanya berfokus pada mengurusi proses belajar tanpa fokus pada bagaimana cara belajar.

1. Proses yang PAIKEM malah tidak akan terjadi dikarenakan semua guru sibuk menghabiskan target kurikulum dan mencapai KKM. Proses PAIKEM di kelas perlu guru yang rileks dan percaya diri bukan guru yang dibawah tekanan.

2. Kepala sekolah dan segenap wakanya akan sibuk dari rutinias ke rutinitas lainnya, dengan harapan dari sekian banyak muridnya syukur syukur ada siswa yang sukses saat sudah lulus. Tanpa pernah ada usaha yang serius dan terencana menyiapkan siswa sebagai individu dengan segala kelebihan, kekurangan dan potensi yang dimiliki.

Cara terbaik dalam menghindari agar sekolah tidak hanya mempersiapkan siswanya dari tes ke tes lainnya adalah dengan:

  1. Adakan eskul yang berkualitas. Sebaik-baiknya eskul adalah yang diisi sendiri oleh guru guru yang masing masing pasti punya sesuatu untuk dibagi pada siswanya
  2. lakukan pelatihan internal untuk guru. Buat acara berbagi ilmu antar guru dalam satu mata pelajaran atau pelatihan yang menguatkan guru guru sebagai guru profesional. Sebaik-baiknya pelatihan adalah mengenai ‘belajar cara belajar’ atau learning how to learn.
  3. minta guru untuk membuat program yang menarik bagi siswanya. Diluar jam pelajaran yang bentuknya bisa lomba serta kegiatan lain yang bisa mengasah kecintaan siswa pada kegiatan belajar dan ilmu pengetahuan yang diajarkan oleh gurunya.

Pasti ada jalan agar sekolah jadi tempat yang bisa diingat oleh siswa sebagai individu. Seorang siswa hanya akan mengingat sedikit sekali hal yang diajar oleh guru-gurunya namun akan selalu ingat peristiwa peristiwa yang menarik sepanjang karirnya sebagai pembelajar.

4 tips strategis mikro teaching guru TIK

Mengajar matpel TIK memang sangat menantang. Di satu sisi siswa kita sekarang sangat terampil menggunakan TIK, di sisi lain siswa tetap perlu mendapatkan pembelajaran dari guru yang pandai menstimulasi dan membuat pembelajaran TIK menjadi bekal siswa dalam menjalani kariernya sebagai pembelajar.

Tulisan ini berguna jika anda mengajar TIK atau akan melakukan micro teaching TIK di sekolah yang anda lamar.

  1. Buat RPP sedetail mungkin, RPP bisa juga menyertakan mind map atau peta pikiran mengenai bagaimana tahap anda akan mengajar. Orang lain akan membayangkan bagaimana anda akan mengajar dengan membaca pemaparan anda di RPP. Buat RPP anda sendiri, menggunakan RPP orang lain hanya akan membuat anda tidak fasih dalam laksanakan proses pembelajaran.
  2. Selalu masukkan aspek pembelajaran kooperatif saat anda mengajar, apapun metode/strategi/ model yang digunakan selalu lakukan tahap ini

model-pembelajaran-kooperatif-11-638.jpg

3. Dalam pembelajaran TIK guru tidak bisa lagi andalkan dirinya sebagai satu satunya sumber. Ia mesti utamakan faktor eksplorasi. Untuk itu guru mesti gunakan cara seperti di bawah ini untuk lebih membuat siswa mengerti ada di tahap pengetahuan yang mana ia berada saat gurunya bertanya. Dengan seringnya guru mengecek pemahaman siswa maka siswa akan mudah dilacak sejauh mana siswa tahu bahwa ia ‘tidak tahu’.

376b57e6485c49e506c0292363014b01

4. Saat mengajar TIK penting bagi guru untuk mempunyai team ahli yang bisa membantu guru dalam memberikan masukan pada rekannya. Pilih siswa yang punya kemampuan lebih, caranya berikan kuis singkat dan pilih siswa yang bisa menjawab. Dengan mempunyai siswa yang bisa membantu, kelas akan menjelma jadi tempat dimana antar siswa terjadi transfer pengetahuan, tidak hanya dari guru ke siswa tapi juga siswa ke siswa.

3 penyebab pendidik merasa sulit menulis di blog

Ikatlah makna dengan menulis. Begitu kata para motivator bidang menulis bilang. Sebagai praktisi pendidikan mari kita bicara hal yang praktis dalam kaitannya dengan manfaat menulis. Menulis sebenarnya kegiatan yang biasa saja. Saat menulis RPP itu juga  bisa digolongkan kegiatan ‘menulis’. Atau saat guru lakukan ‘copas’ RPP pun sebenarnya ia sedang meramu tulisan.

Nah mengapa tidak sekalian saja menulis dijadikan kebiasaan. Dikarenakan besarnya manfaat dalam menulis bagi praktisi pendidikan. Tulisan ini akan membahas mudahnya menyebar ide dan insipirasi kepada sesama pendidik melalui blog. Menulis di blog bisa membuat seseorang menjadi guru, murid dan mentor saat bersamaan. Sebelumnya mari mendiskusikan dahulu cara menjadikan menulis sebagai kebiasaan dengan tips dari saya sebagai berikut:

1. Menulislah singkat singkat saja. Saya terinspirasi betul dengan Seth Godin yang tiap hari menulis diblognya dengan singkat namun padat pengetahuan dan intisari pengalaman.

B6sL-IlCIAARCme
Seth Godin

2. Jika sudah terbiasa menulis maka akan merasa kurang jika belum menutup hari dengan menulis.
3. Menuliskah dimana saja dan dengan alat apa saja. Saat saya menulis tulisan ini saya gunakan fasilitas notes di smart phone saya, sambil menikmati perjalanan berangkat kerja dengan komuter di pagi hari. Jadi tidak mesti menunggu berhadapan dengan laptop atau komputer baru menulis.

photo

Jika demikian mengapa bagi sebagian pendidik menulis di blog itu menjadi hal yang memberatkan, padahal dengan terampil dan menarik mereka menulis status di update media sosial mereka dengan tulisan menyentuh dan menggugah semangat? hal-hal berikut ini adalah bisa menjadi kemungkinan jawabannya

  1. menulis di blog perlu waktu lama untuk bisa dikenal publik atau bahkan bisa ‘tercium’ oleh mesin pencari google. Tidak ada instant gratification seperti kita menulis di facebook yang dalam waktu sekejap bisa dapatkan ‘jempol’ atau likes
  2. menulis di blog dianggap perlu punya latar belakang teori padahal tidak selalu. Blog lebih bernuansa ‘diary’ atau refleksi pengalaman.
  3. menulis blog dianggap seperti menulis makalah ilmiah yang membuat pendidik merasa mesti tampil ‘sempurna’. Jika pendidik itu kemudian berhasil menulis biasanya kemudian blognya menjadi lama diisi kembali dikarenakan energinya habis dan menjadi kehilangan selera untuk mengisinya kembali. Lebih baik menulis singkat. padat dan jelas daripada sekali menulis sempurna lalu setelah itu hilang.

Bayangkan jika semua pendidik berkenan berbagi pengalamannya lewat tulisan, singkat dan bersemangat, dijamin pendidikan Indonesia menjadi maju dan berkembang dalam waktu yang cepat. Hal ini dikarenakan cerita dari ‘lapangan’ bisa dibagi dan dibaca dan dijadikan inspirasi oleh si pembaca untuk diterapkan di sekolahnya masing-masing.

Guru profesional adalah sosok yang pandai berkolaborasi

Menarik sekali jika kita kaitkan makna kerjasama dengan profesi guru. Dari dulu guru hanya diminta sibuk di kelas. Urusannya cuma 4 tembok yg ada di kelasnya. Alias konsen ke hal yang itu-itu saja. Padahal dalam perkembangan terkini di dunia pendidikan ada istilah kerja sama, kolaborasi dan team work.

Mengapa kolaborasi atau kerjasama di sekolah menjadi sangat penting.

Pertama setiap murid kita sekarang akan jadi murid seseorang nantinya. Kedua. Tidak ada guru yang tidak perlu bantuan, bahkan guru yg sudah lama mengajar. Bahkan yang sudah lama mengajar makin lama malah makin jadi tukang perintah ini dan itu. Ketiga. Di sekolah guru bisa merasa bosan lelah bila ia tidak punya teman dekat atau relasi yang baik. Nah itu berarti memang pada dasarnya guru mesti bekerja sama. Jadi kata kolaborasi memang sangat mutlak jika sekolah mau menjadi besar.

Jadi jelas bahwa memang kolaborasi atau kerja sama itu jadi keterampilan abad 21 yg sayangnya tidak semua guru bisa dan sadar.

Dibawah ini adalah prinsip kolaborasi.

1. Seorang guru mesti punya ‘mentor’ nah sekolah yang sehat menempatkan seseorang untuk bisa jadi mentor bagi yg lain.

2. Keluar dari zona nyaman. Seorang guru pada dasarnya sadar mesti keluar dari zona nyaman. Sayangnya ia jadi tumpul ketika ia tahu mesti meminta tolong pada sesama guru.

3. Senang dan percaya diri saat lontarkan ide. Baik saat diskusi dan rapat. Seorang guru yang profesional adalah guru yang senang mencoba hal baru sendirian atau secara bersama -sama.

4. Sekolah mesti punya pekerjaan yang menantang atau pekerjaan internal yang memerlukan kerja sama semua pihak. Baik dalam skala kecil dan besar. Banyak sekolah malas dengan ‘drama’ yang timbul tiap sebuah event diselenggarakan. Jadinya cenderung tunjuk itu ke itu saja orangnya. Hal ini wajar karena sekolah lalai membiasakan guru gurunya bekerja sama. Padahal makin sering kerja sama dilakukan baik dalam skala kecil dan besar maka guru makin mahir menempatkan diri.

5. Jika sekolah mau berinovasi jangan harap kepsek kerja sendiri, dikarenakan inovasi kaitannya dengan kolaborasi. Bayangkan tingkat keberhasilannya adalah 81% menurut penelitian.

6. Wajar jika kolaborasi timbulkan konflik, sekolah melalui manajemennya mesti siap jadi penengah, saat yg sama sekolah melalui para pemimpinnya mesti beri kepercayaan ‘its ok to be wrong’ or ‘fail’ atau dengan katakan ‘semua pendapat dihargai’ jadinya staff merasa tentram dalam utarakan pendapat, saat yang sama sekolah fasilitasi dengan sarana hingga guru gampang tukar ide antar departemen

Semoga dengan beberapa prinsip diatas menjadikan anda sebagai pendidik siap berkolaborasi dan tahan banting saat ada ‘drama’ yang timbul di perjalanan. Fokus saja pada tujuan akhir dan selalu bersemangat coba hal yang baru.

5 prinsip sukses berkomunikasi dengan orang tua siswa

  
Komunikasi di sekolah adalah bentuk lain dari rasa peduli guru pada siswanya. Komunikasi bisa berakibat buruk jika dibumbui oleh asumsi. Asumsi itu racun dari komunikasi. Bagi guru lebih baik berlebihan atau lebay dalam komunikasi daripada kurang. Apalagi jika sudah menyangkut orang tua siswa.

Guru perlu sadar untuk selalu melibatkan kepala sekolah diawal, bukan saat sesuatu masalah sudah besar. Karena jika sudah telat pasti kepsek akan lebih membela atau kelihatan lebih membela orang tua siswa.

Saran saya pada semua guru jika ingin lingkungan anda membela atau mensupport, usahakan utk jadi komunikator yg efektif.

 Beberapa prinsip komunikasi yang perlu dicermati sebagai guru.

1. Komunikasi lahir dari rasa percaya

2. Rasa percaya menghasilkan kenyamanan

3. Komunikasi bisa terjalin baik jika guru profesional, proaktif, terbuka, dan santun

4. Bahasa tulisan itu sangat sensitif dan guru mesti sangat berhati hati. Lebih baik gunakan bahasa formal pada saat komunikasi dgn parents. Bahasa tulisan rawan disalah artikan. 

5. Sekolah tidak boleh memberikan batasan kepada orangtua siswa yang mau complain atau curhat. Parents bebas memilih kepada siapa dia mau curhat. (Ingat prinsip nomor 1)

4 kiat sukses mengajar di SMP

  Buat saya selalu ada perasaan yang unik ketika berinteraksi dengan guru SMP. Sensasi yang sama saya dapatkan ketika bergaul atau berinteraksi dengan guru TK. 

Ada hal memang yang hampir sama yang berlaku antara guru TK dan guru SMP.

1. Sama-sama kedepankan ‘kesabaran’ dan ‘rasa mengerti’ diatas segala-galanya. 

2. Sama-sama berhadapan dengan anak-anak yang berproses secara kritis menuju tahap selanjutnya.

Dunia anak di umur siswa SMP memang tidak mudah hal ini dikarenakan buat merek rasa yang utama adalah perasaan diterima oleh lingkungan tempat dimana ia berada. Jika anda saat ini sedang mengajar di SMP, berikut ini adalah tips suksesnya

1. Jadilah suporter dan mentor pada saat bersamaan. Siswa anda sedang memerlukan dengan sangat orang dewasa yang bisa berperan seperti itu di sekitar mereka. 

2. Anda boleh mengajar apa saja, namun ingat siswa yang anda ajar adalah siswa umur belasan. Setengah dari skill anda adalah sebagai guru BK atau bimbingan konseling. 

3. Mengajar kelas 7 adalah masa yang paling berat bagi semua guru SMP karena peralihan dari situasi di SD, ikuti tips nomor 1 jika anda ingin berhasil.

4. Di kelas anda akan berhadapan dengan siswi yang sedang mencoba berdandan saat di sekolah. Ijin pada kepala sekolah untuk membuka kelas ‘keputrian’ di sekolah, isinya membahas apa hal yang penting dan seharusnya dilakukan sebagai seorang gadis dari segala sisi. Program keputrian akan sangat berarti bagi siswi yang dirumahnya tidak ada figur yang bisa ia contoh.

Semoga sukses dengan tips diatas, ingat hanya di kelas 9 anda boleh full ngebut dengan aspek akademis, sementara di kelas 7-8, jadikan kelas anda sebagai kelas yang didalamnya siswa merasa ‘dianggap sudah besar’ diberi kepercayaan sambil saat yang sama jadi suporter dan mentor yang kritis untuk mereka.