Menimbang format pelaksanaan peningkatan kompetensi guru, antara workshop dan seminar

Kepala sekolah mestinya adalah sosok yang sangat peduli dengan kapasitas guru-gurunya. Dikarenakan semua keberhasilan maupun kegagalan seorang guru akan bermuara kepadanya. Cara yang terbaik dalam meningkatkan kompetensi guru adalah dengan pelatihan dan pendampingan. Kurikulum bisa saja berganti, namun guru lah tetap sebagai sosok pelaksana dan aktor lapangan yang menafsirkan dan melaksanakan.

Untuk itu budaya belajar bagi seorang guru sangat diperlukan. Kepala sekolah perlu membuat budaya belajar menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari seorang guru. Saat ini budaya belajar sangat terdukung oleh kemajua teknologi dan banyaknya sumber belajar.
Pembahasan berikut ini akan membantu anda melihat format apa saja yang bisa sekolah lakukan sebagai organisasi pembelajar demi meningkatkan kompetensi guru-gurunya.

Berikut adalah tabel perbandingannya.

Iklan

4 Resep agar sekolah bisa membuat gurunya menjadi kreatif

Kreatifitas di sekolah punya makna yang luas. Masing masing pihak di sekolah baik itu guru, siswa, kepala sekolah, dan orang tua siswa punya sendiri makna kreativitas. Jika dilihat dari kepentingannya makna kreativitas di sekolah bisa digolongkan menjadi

  1. kreatif dalam mengajar dan menggunakan strategi/metode pembelajaran
  2. kreatif dalam membuat program-program sekolah
  3. kreatif dalam membuat eskul sekolah
  4. kreatif dalam menangani perilaku siswa.
  5. kreatif dalam mengelola kelas
  6. Kreatif dalam menghias kelas
  7. kretif dalam membuat permainan (games) yang membuat siswa senang dan terhibur.
  8. kreatif dalam menilai (menggunakan instrumen penilaian) siswa.

Semua kreativitas di atas memerlukan usaha bersama di sekolah agar bisa dilihat dan dirasakan di kelas dan dalam level sekolah secara keseluruhan. Kepala sekolah sering merasa belum mengetahui cara membuat gurunya bersedia dan mau menjadi kreatif. Padahal bagaimana sebuah sekolah dinilai bagus atau tidaknya ada dari situasi pembelajaran di kelas serta seberapa bermakna nya kegiatan yang terjadi di sekolah.

Kepala sekolah mesti punya indra keenam dalam mengembangkan sekolahnya agar bisa sukses dengan cara memberikan kesempatan guru untuk berkembang mulai dari yang ia bisa.

Seorang guru bisa saja merupakan sosok pribadi yang:

  1. Senang kegiatan luar ruang atau olahraga
  2. Senang kegiatan seni
  3. Senang kegiatan keagamaan
  4. Senang kegiatan sosial
  5. Senang kegiatan yang menggunakan IT atau teknologi
  6. Senang berkompetisi
  7. senang dunia menulis
  8. senang dengan dunia kerajinan tangan
  9. Dan lain sebagainya

Kesemuanya merupakan aset bagi sekolah. Apalagi jika sekolah bisa mengemasnya bersama kreativitas.

Berikut ini hal yang bisa sekolah lakukan untuk membuat semua guru menjadi guru kreatif di sekolahnya.

  1. sekolah bisa melakukan pemetaan kompetensi dan minat guru. ‘Siapa minatnya apa’ yang dari pemetaan itu bisa dilihat apa saja yang menjadi nilai lebih dari tiap pribadi guru yang ada di sekolah.
  2. meminta guru melakukan suatu inovasi yang kecil, sederhana dan mulai dari hal yang mereka suka. kemudian dibagikan tips nya saat rapat rutin. Misalnya meminta guru yang menyukai seni membuat dekorasi pada acara kemerdekaan di sekolah, atau guru yang punya inovasi di bidang matematika melakukan games singkat dengan siswanya di kelas. Minta guru lain memfoto atau memvideokan, minta guru yang membuat melakukan presentasi singkat 5 menit saat rapat rutin.
  3. sekolah melibatkan media sosial sebagai cara membuat guru senang dan bangga karyanya diketahui orang lain. Ada jenis guru yang tidak terlalu suka narsis atau show off, untuk itu tugaskan satu guru yang senang pada dunia TIK atau media sosial dan bisa menulis untuk menjadi reporter sekolah. Tugaskan ia untuk membuat liputan yang bisa di forward oleh guru lain. Minta semua guru mempunyai akun di IG atau facebook agar mudah di ‘tag’.
  4. Sekolah membuat rapat rutin yang terstruktur dan terjadwal. Rapat seperti ini sangat berpengaruh dalam membuat guru merasa punya lingkungan yang mendukung bagi kreativitas. Untuk level SD, sekolah bisa meminta guru paralel untuk bertemu seminggu sekali, membicarakan hal apa saja yang akan dilakukan di minggu depannya di kelas dalam pembelajaran. Di tingkat SMP dan SMA, pertemuan internal sekolah MGMP akan membuat adanya dialog antar guru mengenai inovasi yang dilakukan di kelas. Semua obrolan akan berujung pada inovasi jika sekolah mendukung dan memonitor.

Kreativitas di sekolah adalah gabungan antara keberanian membuat sebuah hal yang berbeda dilandaskan keinginan yang besar untuk menyajika sesuatu yang baru untuk siswa. Peran sekolah melalui kepala sekolah adalah membuat guru berani mencoba, melakukan supervisi dan selalu menghargai tiap pencapaian atau inovasi walaupun kecil dan sederhana.

Sekolah ‘Ramah Orang Tua’

Sebuah sekolah akan maju jika program program sekolahnya maju dan kekinian. Kekinian bagi siapa? tentunya bagi siswa yang menjadi tujuan mengapa sekolah itu ada. Uniknya di sekolah swasta sering terjadi sekolah berubah, bergerak karena di komplain oleh orang tua siswa sebagai pemangku kepentingan (yang utama).

Bagi anda yang ada di sekolah swasta tentu pernah mendengar kata kata ‘management by complain’. Artinya sekolah berubah dan mau mendengar jika wujudnya adalah keluhan dari orang tua siswa. Lupakan sejenak yang namanya Renstra atau rencana strategis atau malah progam pendidikan yang bermakna, karena di sekolah swasta bisa saja sebuah sarana dan prasarana ada dan terbeli dikarenakan orang tua siswa yang meminta serta yayasan kemudian mengiyakan tanpa berkonsultasi pada manajemen pelaksana apakah diperlukan atau tidak.

Memang sebuah keluhan dari orangtua bisa saja datang demi kemajuan siswa, atau dikarenakan orang tua siswa membandingkan sekolah anaknya dengan sekolah lainnya (dengan SPP yang sama). Namun di mata guru sebuah kebijakan yang diambil karena keluhan akan membuat manajemen sekolah menjadi tidak ada wibawanya.

Guru memang akan sangat kritis dengan kebijakan manajemen sekolah dikarenakan mereka lah yang melihat bagaimana manajemen bersikap dan merencanakan sebuah perubahan. Saatnya sekolah punya daya tahan dari keluhan dengan cara sebagai berikut;

  1. Ambil posisi menyerang, hal ini adalah istilah yang berarti manajemen sekolah melakukan pendekatan kepada orang tua siswa lewat beragam cara dan kesempatan. Cara terbaik adalah dengan membuat event yang menarik bagi orang tua siswa.
  2. Membekali guru dengan kemampuan komunikasi yang baik dengan demikian tidak semua keluhan lari ke kepala sekolah dan yayasan
  3. Manajemen sekolah punya Dewan Sekolah (School Board) dan Persatuan orang tua guru dan siswa sampai Class parent alias WOTK (Wali orang tua kelas) sebagai saluran bagi orang tua siswa dalam berpendapat demi kemajuan sekolahnya.

Sekolah yang efektif punya Action plan atau Renstra (Rencana Strategis) yang dikomunikasikan dan berlaku 1 sampai 3 tahun. Sekolah akan tenang hidupnya jika punya rencana dan program yang kesemuanya demi siswa. Hindari untuk membiarkan orang tua siswa berasumsi dan menebak nebak kemana arah sekolah akan berjalan.

Lakukan perubahan terus menerus dalam skala kecil atau besar, program pendidikan unggulan segala matpel, pembelian alat sumber belajar, pelatihan guru dan sebagainya. Semua demi membuat orang tua siswa merasa tanpa diminta, sekolah sudah tahu dan mengerti kemana mesti berubah dan melangkah.

3 Solusi Menjadi Sekolah yang Kreatif

Kreativitas di sekolah adalah sebuah hal yang erat kaitannya dengan sikap berpikiran terbuka dan keberanian untuk mengatakan bahwa bisa saja yang selama ini dianggap benar belum tentu masih relevan. Ada banyak salah paham mengenai kreativitas selama ini di sekolah, jika dirasakan memang ada semacam batas antara kreativitas dan semua praktek pelaksanaan pembelajaran sehari hari di sekolah. Hal ini dikarenakan salah paham yang mengatakan bahwa:

  1. Kreativitas hanya milik dari seseorang yang berada dalam dunia seni dan pertunjukan
  2. Kreativitas memerlukan biaya yang banyak
  3. Kreativitas memerlukan waktu yang banyak dalam penerapannya
  4. Kreativitas bertentangan dengan kurikulum
  5. Kreativitas adalah ledakan ekspresi sesaat yang akan hilang dengan sendirinya

Dari faktor diatas jelas sekali bahwa ada keengganan dari sekolah untuk mau bertindak dan berpikir kreatif. Padahal kreativitas bisa muncul dari macam segi penerapan dan wujudnya.
Secara singkat hal yang diperlukan sebuah sekolah agar kreativitas menjadi gaya hidup dan kebiasaan adalah

  1. sosok kepala sekolah atau pimpinan supportif yang mengatakan bahwa sebuah ide layak dicoba dan bersedia menjadi sosok yang mengawal perubahan akibat pelaksanaan ide tersebut
  2. suasana sekolah yang ramah pada kegagalan yang mengakibatkan guru/siswa tak takut mencoba hal yang baru.
  3. tidak adanya senioritas, jika hal ini ada maka suasana sekolah akan sangat menjemukan karena jika ide bukan dari seseorang yang dituakan atau senior maka bukan sebuah ide yang bagus. Sesuai kebiasaan maka ide yang baru jarang dari sosok yang senior dan sudah nyaman di tempatnya.

Kreativitas lahir dari suasana sekolah yang supportif, dan situasi dimana semua ide ditantang untuk diwujudkan dengan pengawalan kepala sekolah yang mumpuni dan memaksa semua pihak detail merencanakan dan konsisten dalam menjalankan. Dikarenakan sebuah kreativitas bukan lah hal yang besar, megah dan mewah namun adalah sebuah niat kecil yang berbeda dengan sebelumnya namun direncanakan dengan matang yang konsisten dan komitmen.

Menjadi Kepala Sekolah yang ‘Memudahkan’.

Dear principal,
Your job is not to make people work harder.
Your responsibility to help your team achieve their goals, let them know that their work matters, and then recognize and reward those who consistently help the team deliver timely, high quality and positive outcomes.

Menjadi kepala sekolah adalah sebuah posisi tambahan. Sejatinya tiap orang yang ada di sekolah adalah guru. Kepala sekolah adalah sosok pemimpin yang membawahi semua guru yang ada di lingkungan sekolahnya. Seorang guru yang menjadi kepala sekolah hanya akan bisa memimpin dengan baik jika dirinya dahulu adalah seorang guru yang baik.

Seperti kata pepatah, kekuasaan bisa melenakan, jika seorang kepala sekolah lalai maka ia akan lupa bahwa dirinya ada sebagai pemimpin untuk memudahkan guru gurunya.
Bagaimana atau apa yang bisa ia lakukan untuk memudahkan guru sebagai bawahannya?

1. RPP.
Dalam pengumpulan RPP, lakukan pengumpulan secara mingguan saja. Minta guru membuat dua jenis dokumen. Pertama adalah semacam diary yang membuat guru mengisinya secara online (gunakan google docs) yang memuat kegiatan apa saja yang ia lakukan dengan kelas yang diajar. Dengan mengklik link nya kepala sekolah akan tahu gurunya mengajar di minggu ini.

2. Pengambilan rapor.
Gunakan metode ‘Student led conference’, dalam membuat guru dan orang tua siswa senang melakukan acara pengambilan rapor karena situasi yang terjadi adalah siswa yang akan berbicara mengenai kemajuan pembelajarannya dan komitmen apa yang ia ingin lakukan di semester depan.

Dua hal diatas dijamin bisa mengurangi stres guru. Saat yang sama juga akan membuat panik guru yang tidak siap. Ingat memudahkan bukan berarti memanjakan.

Kesuksesan Program adiwiyata bergantung pada budaya sekolah

772r8klqn8rcuqc6g

Program adiwiyata yang sering disebut sebagai sekolah berwawasan lingkungan bukan sekedar pengelolaan sampah dan menanam pohon di areal sekolah. Bagi sekolah untuk terjun ke program Adiwiyata merupakan sebuah hal yang menantang. Mengingat pemerintah tidak menyediakan anggaran khusus untuk program ini, dengan demikian sekolah mesti berusaha sendiri dalam penyelenggaraannya. Untuk itu penting menjadikan program Adiwiyata ini sebagai ‘nafas’ bagi sekolah dan bukan program tempelan demi mengejar status.

4 hal yang menjadi cikal bakal program adiwiyata

  1. Kebijakan Berwawasan Lingkungan;
  2. Pelaksanaan Kurikulum Berbasis Lingkungan;
  3. Kegiatan Lingkungan berbasis Partisipatif; dan.
  4. Pengelolaan Sarana Pendukung Ramah Lingkungan.

Program yang bisa dilakukan bersama dengan program adiwiyata adalah

• Creativitiy and student community service
• Problem based learning
• Project based learning
• Pengelolaan sampah
• RPP yang berkarakter lingkungan
• Akreditasi
• Youth entrepreneurship
• Kegiatan seni rupa misalnya mural dengan slogan lingkungan

Hal lain yang menjadi perhatian jika sekolah ingin sukses dalam penerapan program Adiwiyata adalah: Lanjutkan membaca “Kesuksesan Program adiwiyata bergantung pada budaya sekolah”

Memberdayakan (empowerment) atau melibatkan (engaging) siswa di kelas? mana yang lebih penting.

25165a515b6edf392226b9973c88dda8

 

“Bapak sih cara mengajarnya enak, tidak seperti guru saya yang sekarang, kami disuruh kerjakan tugas terus. Ngajar kami lagi dong paak..”

Siapa yang tak ‘meleleh’ hatinya jika mantan murid berkata demikian. Dari hasil refleksi saya pribadi, jika guru tidak hati hati ada ‘jebakan Batman’ dibalik pernyataan siswa diatas. Apakah itu?

1. Bisa disimpulkan bahwa keberhasilan guru saat mengajar lebih pada berhasil ‘menghibur’ siswa.
2. ‎Sudah merupakan fitrahnya bahwa siswa senang diajak bersenang senang. Senang pada guru yang asyik saat bercerita dan menyenangkan saat berbicara.
3. Guru masih menempatkan siswa nya sebagai pembelajar yang pasif dan belum menempatkan siswanya sebagai sosok yang bisa diberdayakan sesuai umur dan tingkatan perkembangan.
4. Guru masih membiarkan siswanya dalan zona nyaman dengan cara ‘menyuapi’ dengan materi pembelajaran dan belum menempatkan siswa sebagai sosok yang sebenarnya bisa menunjukkan hal/materi yang ia kuasai dengan cara yang berbeda.

DEc8pwaV0AEGtDu

Tidak ada yang salah dengan pernyataan diatas. Bahkan banyak sekolah yang secara rutin membuat ajang pemilihan guru favorit tiap tahun, yang menumbuh suburkan pernyataan diatas.

Tentu kita semua sebagai pendidik setuju bahwa sebagai guru mestinya kita berikan apa yang siswa butuhkan dan bukan yang siswa inginkan. Hal yang siswa inginkan adalah ‘having fun always’ dan guru merasa tak enak hati jika kurang jadi sosok yang menyenangkan. Lanjutkan membaca “Memberdayakan (empowerment) atau melibatkan (engaging) siswa di kelas? mana yang lebih penting.”