Resep mudah mewacanakan perubahan di sekolah

B2zgrJGIIAAM8CY.jpg

Sekolah yang baik adalah sekolah yang berkembang. Berkembang berarti berubah dan hanya dengan berubah lah sebuah organisasi bisa hadapi tantangan jaman. Saat yang sama ada saja keluhan jika sebuah sekolah kerap atau sering melakukan perubahan. Siapapun dia yang ada didalam lembaga sekolah akan menolak berubah apabila perubahan tanpa dikomunikasikan dan terburu-buru.Perubahan bisa dalam hal apa saja misalnya, kurikulum, cara mengajar sampai perilaku. kesemuanya pasti demi sekolah yang makin dipercaya masyarakat.

Mengapa kami sulit untuk berubah, begini kira-kira jawaban setiap peran yang ada di sekolah

  1. yayasan (pemilik sekolah): “duh saya lelah mewacanakan perubahan, impian saya banyak dan luas tapi tidak ada yang bisa membumikan pikiran saya”
  2. kepala sekolah: “perubahan? wow ini tugas berat saya dalam melaksanakan perubahan. Hal yang pasti mudah bagi saya untuk mengajak guru berubah adalah bila perubahan datangnya dari dinas pendidikan (pemerintah) namun jika perubahan datang dari yayasan atau dari saya, pasti deh pada mikir mikir dulu”.
  3. guru: “wacana perubahan yang sampai ke guru kebanyakan hanya dalam tataran why saja, kami ini kan praktisi yang bekerja di kelas, yang kami perlukan yang aplikatif (langsung bisa diterapkan di kelas) aja deh”.
  4. orang tua siswa: ” eh iya, sekolah anak saya ada banyak sih perubahan, tapi kebanyakan mendadak dan kami para orang tua ngga diajak bicara dahulu”

Baca lebih lanjut

13 perubahan yang layak dilakukan di sekolah

cpyk3t4usaqlnfs

cc8uv3rw8aesrpb

Perubahan di sekolah termasuk hal yang cukup sulit untuk dilakukan. Kebanyakan orang ingin ada di dunia pendidikan dikarenakan jam kerja yang fleksibel dan beban pekerjaan yang dipandang ringan. Padahal dengan tantangan pendidikan saat ini, hal tadi justru akan membuat dunia pendidikan jalan di tempat.

Perubahan yang dipandang menantang untuk dilakukan di sekolah adalah perubahan menuju kepada:

Baca lebih lanjut

3 hal yang perlu dilakukan di sekolah yang ingin maju

B7wUjRbCMAEg7fm.png

Sekolah yang efektif menyandarkan dirinya pada middle management.  Middle management yang saya maksud adalah

  1. Wakil kepala sekolah
  2. Para koordinator

Tugas kepala sekolah  adalah melakukan segala cara agar pole kepemimpinan efektif dan berjalan dengan baik dalam rangka mensukseskan semua program dan hal yang rutin di sekolah.

Beberapa prinsip yang bisa dilakukan agar sekolah bisa maju adalah;

  1. Komunikasi yang efektif
  2. Pendelegasian tugas yang disertai kontrol
  3. Semua atasan melakukan prinsip coaching kepada bawahan saat membina.

Beberapa kesalahan yang biasa terjadi di sekolah dan menimbulkan masalah adalah

  1. Kepala sekolah tidak melakuan tugasnya dengan baik dikarenakan jiwa kepimpinannya tidak digunakan
  2. Kepala sekolah susah berkomunikasi atau kurang efektif berkomunikasi dengan semua pihak
  3. Rapat kurang efektif dan tidak terjadwal
  4. Banyak hal penting yang diputuskan di depan umum dan tidak ada koordinasi internal antar pimpinan

 

Kepala sekolah sebagai sosok kunci dalam menilai kinerja guru

 

CqVhTTPXEAAOxdw

Guru yang profesional dinilai kinerjanya tiap tahun ajaran selama satu semester sekali. Kepala sekolah lah yang berperan dalam menilai kinerja guru dikarenakan

  1. Peran kepala sekolah sebagai lead learner atau pemimpin para pembelajar
  2. Kepala sekolah sebagai penjamin mutu pendidik yang ada di sekolahnya
  3. Kepala sekolah adalah orang yang bertugas menjadi coach bagi guru gurunya
  4. Kepala sekolah adalah orang yang memastikan guru gurunya mengajar dengan baik

Menilai kinerja guru mempunyai beberapa prinsip

  1. Keterbukaan dengan kriteria penilaian yang terbuka dan bisa dengan gampang diakses
  2. Berlandaskan dengan 4 kompetensi guru
  3. Mengutamakan prinsip guru yang baik adalah guru yang efektif dan kreatif dalam mengajar dan berjiwa profesional dalam membawakan diri sebagai guru
  4. Kepala sekolah melihat dan mengobservasi guru saat mengajar dengan perjanjian (tidak mendadak)
  5. Ada sesi feed back
  6. Ada raport guru yang bersifat narasi (dikeluarkan setahun dua kali)
  7. Bukan berdasarkan kedekatan dengan pimpinan
  8. Berujung pada (berdampak) perubahan kesejahteraan

Kinerja guru bukan sekedar pada seberapa baiknya ia mengajar, buat apa ia bagus mengajar jika;

  1. Tidak efektif dalam berkomunikasi dengan sesama rekan dan orang tua siswa
  2. Malas membantu jika sekolah ada keperluan dan acara
  3. Galak atau membully kepada guru baru
  4. Pelit berbagi ilmu

Menilai kinerja guru adalah tugas suci kepala sekolah, hasilnya akan membuat guru makin semangat mengajar karena ia tahu bahwa jerih payahnya dihargai.

 

 

Panduan bagi guru baru: Apa yang kepala sekolah inginkan dari guru baru?

Sebagai guru dan karyawan baru, penting kiranya untuk tahu betul apa keinginan kepala sekolahnya. Secara umum ini yang kepala sekolah inginkan dari guru baru.

1. Aktif saat rapat dan datang rapat tepat waktu

2. Bersedia membantu setiap ada event sekolah

3. Hormat pada guru senior sewajarnya.

4. Datang tepat waktu

5. Tidak untung rugi saat diminta kerjakan pekerjaan di sekolah

6. Tertib administrasi

7. Tepat waktu jika diminta mengumpulkan ini dan itu demi keperluan dinas

8. Mau berkomunikasi jika ada masalah di lapangan

9. Selektif saat berakrab akrab dengan sesama guru

10. Bersikap profesional kepada orang tua

11. Berpakaian rapih

12. Bersikap sewajarnya pada anak didik

Dua belas hal diatas sangat baik untuk dilakukan sebagai guru baru. Saatnya guru baru sukses ditahun tahun pertamanya sebagai pendidik!

4 cara menuju Kelas yang kondusif

B7tkCn9CQAAYLa0

Hampir semua guru mengatakan bahwa kelas yang kondusif erat kaitannya dengan masalah motivasi. Ini sesuai dengan penemuan saya terhadap banyak sekali perbincangan mengenai bagaimana meningkatkan motivasi siswa di kelas ketika sebuah kelas ingin menjadi kreatif dan inovatif.

Mari keluar dari ‘kotak’ dan kembali ‘ke dalam’ adakah hal lain yang berperan dalam menciptakan kelas yang kondusif.

Beberapa hal yang menyebabkan kelas menjadi tidak kondusif

  1. Kendali ada pada guru semata, siswa jarang diberikan pilihan dan kebebasan untuk ‘bersuara’
  2. Kelas banyak aturan dan kebanyakan berasal dari guru. Guru sering kirimkan pesan kepada siswanya, “ini kelas saya dan kamu mesti nurut sama saya!”
  3. Yang siswa ingat dari kelas yang ditempatinya adalah ‘hukuman’, dan bukan ‘support’. Guru semangatnya adalah ‘menangkap basah’ saat siswa berbuat salah dan bukan bagaimana memberikan dukungan saat siswa memerlukan
  4. Siswa merasa dirinya biasa saja saat di kelas, ia merasa gurunya tidak mengenalinya dengan baik dan guru pun tidak ada usaha agar lebih dekat dengan siswa.

CO5SS-JWUAAMxbX

Jika guru mau ia sebenarnya bisa membuat kelasnya menjadi kelas yang kondusif, caranya

  1. Buat kesepakatan dan bukan peraturan, jumlahnya pun 5 saja
  2. Utamakan dukungan terlebih dahulu kepada siswa baru nuansa ‘hukuman’
  3. Kenali siswa dengan segala cara, anda punya waktu setahun untuk bisa kenali siswa anda, perlakukan siswa anda sebagai orang yang berbeda dari siswa yang lainnya.
  4. Biasakan ada sesi brainstorming untuk minta ide dari siswa mengenai cara anda mengajar, biasanya guru lakukan ini di akhir tahun ajaran padahal waktu tersebut sudah terlambat.

Inti dari tulisan ini adalah bagaimana sebuah kelas saling mendukung dan mengutamakan proses yang baik saat kelas berlangsung. Guru hadir sebagai sosok yang mengutamakan siswanya dahulu baru konten pembelajarannya.

Mengurai 4 sumber kekusutan pengelolaan sekolah

071016006

Saya pernah mendengar lelucon ketika seorang pemilik sekolah berkata bahwa lebih mudah mengatur ribuan karyawannya di pabrik atau unit usahanya yang lain daripada mengatur belasan guru di sekolah yang ia miliki. Hal ini benar sekali dikarenakan sekolah sebagai sebuah lembaga punya karakteristik sendiri yang tidak dimiliki oleh lembaga lain.

Mendirikan sekolah swasta itu sebuah hal yang di masa sekarang cukup mudah untuk dilakukan. Apalagi bagi para pebisnis yang ingin mencoba peruntungannya dengan membuat sekolah swasta. Dengan modal yang tidak terlalu besar yang diiringi dengan sedikit ‘idealisme’ maka ‘jreeng’ jadilah sebuah sekolah. Idealismenya bisa apa saja, dari idealisme memajukan pendidikan anak bangsa, sampai mendirikan sekolah karena anaknya sendiri tidak bisa bersekolah ditempat yang baik dimana ia tinggal.

Pemerintah dalam hal ini sebagai masih mensyaratkan ukuran lahan dan bangunan sebagai syarat dasar dalam mendirikan sekolah. Belum ada pendampingan yang berarti dan menyeluruh bagi pihak swasta yang ingin berbisnis di dunia pendidikan. Saat yang sama pemilik sekolah swasta (baca pemilik modal) masih membawa ‘gayanya’ dalam mengelola usaha miliknya saat mengelola sekolah.. Tidak heran dikarenakan para pemilik sekolah swasta biasanya mempunyai bisnis lain sebelum memutuskan untuk mendirikan atau membuat sekolah. Gaya yang saya maksud antara lain, ‘gaya’ ketika mengelola anak buah yang dalam konteks di sekolah berarti guru-guru atau ‘gaya’ lain yang sedikit banyak akan berpengaruh dalam caranya mengelola sekolah.

Saya pernah mendengar lelucon ketika seorang pemilik sekolah berkata bahwa lebih mudah mengatur ribuan karyawannya di pabrik atau unit usahanya yang lain daripada mengatur belasan guru di sekolah yang ia miliki. Hal ini benar sekali dikarenakan sekolah sebagai sebuah lembaga punya karakteristik sendiri yang tidak dimiliki oleh lembaga lain.

Baca lebih lanjut