4 cara agar sekolah punya akuntabilitas (refleksi NEC 2017 Sampoerna University)

AboutUs

extIstilah Akuntabilitas di sekolah adalah situasi dimana sekolah diminta untuk jadi sekolah yang bisa dipercaya. Rasa percaya hadir dari pembuktian. Pembuktian yang terbaik adalah dengan melibatkan banyak metode dan hasil dari keikut sertaan semua pihak yang ada di sekolah. Rasa percaya juga bisa hadir dikarenakan batas batas kekakuan sudah terlewati.

Baca lebih lanjut

Manajemen sekolah sebagai tulang punggung perwujudan visi dan misi

 

173bfc48c251583788da491e0ce45219

Sebagai sebuah organisasi pembelajar, penting bagi sekolah untuk mempunyai sebuah team yang menjadi suporter bagi perubahan. Mereka adalah manajemen sekolah, sebenarnya  siapa saja yang bisa disebut sebagai manajemen sekolah :

  1. Kepala Sekolah
  2. Wakasek Kesiswaan
  3. Wakasek Kurikulum
  4. Wakasek Humas
  5. Wakasek Sarana Prasarana
  6. Kepala TU atau tata usaha
  7. Koordinator Jenjang
  8. Koordinator BK

Penting bagi team diatas untuk punya bayangan mengenai bagaimana sebenarnya sekolah yang ideal atau sekolah impian itu seperti yang biasa tergambar dalam visi dan misi. Berikut ini adalah gambaran sekolah yang impian dengan 3 faktor utama sebagai kunci.

Baca lebih lanjut

6 Perubahan yang mesti diantisipasi oleh sekolah sebagai institusi pendidikan

85579eea127470c30ae9f82990c93a55

Di luar dunia persekolahan ada banyak hal yang terjadi, kata perubahan sepertinya sudah jadi makanan sehari- hari dari para pelaku bisnis. Sedihnya sekolah masih melakukan praktek praktek yang sama tanpa sedikitpun terpapar atau masuk ke perubahan yang sekarang sedang menderu deru diluar sana. Semua bidang saat ini sedang melakukan usaha terbaiknya agar bisa bertahan. Dalam dunia persekolahan, dunia sedang memasuki apa yang disebut sebagai era  6 C, yaitu:

Baca lebih lanjut

8 peran kepala sekolah yang berhasil

012a00c909b3284f1d1cb5e0f35802df

Saat mengarahkan perubahan di sekolah, seorang kepala sekolah mesti punya kemampuan memimpin (lead) dan bukan sekedar kemampuan mengelola (manage). Manajemen sekolah yang menjadi bawahannya langsung pun adalah juga sekelompok orang yang mesti punya kemampuan memimpin dan menjadi follower (pengikut yang supportif).

Peran kepemimpinan seperti apa yang kepala sekolah mesti miliki dalam menghadapi tantangan abad 21 ini?

Baca lebih lanjut

8 sinyal sebuah sekolah perlu perubahan

CFPe1A2WMAAOp4U

Saat ini hampir semua sekolah sudah terdapat keinginan untuk lakukan perubahan, hanya saja masing masing sekolah punya tantangan sendiri-sendiri. Ada cara mudah untuk mengenali apakah sebuah sekolah mengalami kemandekan dan apakah perlu mereka untuk lakukan perubahan.

  1. Cek proses pembelajarannya di kelas, jika masih satu arah dan pembelajarannya tidak menarik (misalnya masih berpusat pada guru) pertanda sekolah sedang alami kemandekan.
  2. Perpustakaan, lab serta ruang pendukung kelimuan lain jarang digunakan, koleksinya ada namunn terkunci atau tidak tersentuh. Hal ini dikarenakan gurunya tidak mengerti bagaimana menggunakan dan memakainya.
  3. Rapat jarang diadakan atau hanya ada pada saat penentuan kenaikan kelas saja. Rapat menjadi hal yang jarang dilakukan, karena kepala sekolah hanya melakukan instruksi langsung kepada yang berkepentingan dan tidak melakukan rapat sebagai sarana menyatukan langkah dan melakukan update kemajuan
  4. Suara siswa jarang didengar. Suara siswa yang dimaksud adalah pendapat mereka melalui forum osis, akan sangat menarik jika secara rutin sekolah mendengarkan suara siswanya. Dipastikan semua aturan dan kebijakan akan tepat sasaran.
  5. Tidak ada keterlibatan dari orang tua siswa. Orang tua siswa dibiarkan tak terjamah dan dengan cepat diberi cap tidak peduli pada anaknya. Padahal orang tua perlu dididik juga lewat beragam acara dan kesempatan agar bisa tunjukkan support positif nya bagi sekolah.
  6. Displin kelas dan disiplin sekolah sama sama tidak mempunyai arah dan tujuan. Kelas alami jam kosong secara rutin dikarenakan komitmen kehadiran guru yang rendah. Disiplin di kelas juga tidak bernuansa positif dikarenakan kelas dipimpin oleh guru yang tidak mempunyai skill dalam mendisiplinkan siswa secara positf
  7. Sekolah punya aturan yang berlaku umum untuk semua siswa  namun hanya segelintir guru yang menegakkan. Guru akhirnya menjelma jadi sosok sosok yang punya gaya disiplinnya sendiri sendiri. Hal ini sangat berbahaya dikarenakan tidak adanya standar kedisplinan yang sama diantara guru.
  8. Sekolah berjalan tanpa adanya ekskul. Energi siswa tidak disalurkan dalam bentuk kegiatan setelah pulang sekolah yang bermakna dan memberikan dampak yang maksimal pada siswa saat belajar di kelas .

Baca lebih lanjut

Dokumen ‘Action Plan’ sebagai dokumen pencatat perubahan di sekolah

Action-Planning-1

Mengapa Action plan penting dalam pengembangan sekolah?

sekolah dapat mendapatkan persepsi masyarakat akan isu dan solusi potensial.
Sekolah bisa melibatkan partisipasi yang inklusif dan terpadu di seluruh bagian pengembangan sekolah.
Sekolah secara bersama bisa membangun konsensus tentang apa yang bisa dan harus dilakukan.
Sekolah bisa memformulasikan cara konkret di mana setiap bagian di sekolah dapat mengambil tindakan.

Baca lebih lanjut

3 tips jadikan sekolah anda semarak sekaligus efektif

Cvw7qxcVIAAW6GyJika mendengar kata semarak yang ada di bayangan adalah sekolah yang sibuk dan banyak acara ini dan itu. Sementara jika mendengar kata efektif adalah semua halterencana terkoordinasi dan bermakna.

Ambil contoh ilustrasi berikut ini

Sebuah sekolah adakan acara field trip atau acara dimana siswa berkunjung dan belajar diluar kelas. Dari jauh hari guru sudah persiapkan dikarenakan ini kegiatan yang mesti ada tiap semester. Orang tua siswa dikabari dan diajak berembuk. Anggaran disusun, guru menulis proposal dan sekolah mengeluarkan uang untuk kegiatan berdasar proposal. Hari H berlangsung, siswa pergi dan belajar di luar kelas. Sepulang dari kegiatan guru diminta menyusun pertanggungjawaban Keuangan dan menulis artikel untuk news letter sekolah yang rutin terbit. Orang tua siswa senang dikarenakan anaknya bisa bervariasi kegiatannya di sekolah.

Bayangkan ilustrasi diatas, sepertinya semua berlangsung dengan efektif dan jika secara rutin dilakukan sekolah akan terasa semarak.

Namun jika ditelisik lebih jauh ada beberapa faktor yang tidak tampak dipermukaan dan akan berpeluang untuk menimbulkan ketidak efektifan dalam pelaksanaan. Apa saja kah faktor Itu?

  1. Jika sekolah tidak menempatkan tanggal field trip dalam calender akademis. Guru cenderung mempersiapkannya dengan mendadak.
  2. Proposal yang guru ajukan formatnya tidak didefinisikan. Sehingga proposal kegiatan seringnya malah dikembalikan oleh pihak sekolah dan tujuan kegiatan kebanyakan mesti guru sendiri yang menjelaskan kepada pihak sekolah melalui kepala sekolah. Kebanyakan guru agak segan menjelaskan panjang lebar, maunya mereka sekolah langsung begitu saja menyetujui.
  3. Sekolah tidak punya middle management, atau kepemimpinan level menengah, dengan demikian di dalam tiap kegiatan akan berpeluang konflik antara guru sebagai pelaksana dan kepala sekolah atau yayasan sebagai pengambil keputusan. Middle management sangat berguna di sekolah salah satunya sebagai penengah antara guru yang ‘berkeringat’ di lapangan dan para pengambil keputusan. Middle management adalah kepala department atau faculty di Sekolah menengah atau koordinator kelas di sekolah dasar. Guru sebagai pelaksana sering merasa kecewa jika ada hal yang tidak dipenuhi, mengingat semua yang dilakukan semata demi siswa. Di sisi lain para pengambil keputusan sering kurang mampu menjelaskan dikarenakan urusan yang banyak. Perlu penengah dalam hal ini yang bisa memfasilitasi.
  4. Sekolah tidak punya sistem keuangan yang sehat, ada tata usaha atau admin yang membantu guru dalam pelaksanaan, namun uang turun untuk kegiatan mepet menjelang acara. Hal ini dikarenakan sekolah tidak punya perencanaan anggaran yang sehat dan terencana.

Baca lebih lanjut