6 alasan mengapa membuat raport narasi itu sulit

 

gambar raport

Membuat raport narasi? Ah seperti guru TK saja! Begitu kira-kira jawaban yang saya sering dengar dari guru yang mengajar di SD sampai SMA ketika saya berbicara mengenai raport narasi. Raport narasi adalah rapor yang isinya tidak hanya angka namun juga komentar atau narasi guru kepada muridnya.

Sudah bukan jamannya lagi seorang guru di raport hanya menulis ‘pertahankan prestasimu..!’ kepada muridnya yang sebenarnya punya banyak aspek untuk dikomentari dan disemangati. Namun mengapa menjadi tantangan yang sangat besar bagi seorang guru untuk menulis raport narasi? Berikut ini adalah kemungkinan jawabannya

  1. Sekolahnya belum mewajibkan dan menjadikan raport narasi sebagai format pelaporan kepada orang tua siswa
  2. Sekolah tidak tau jenis raport lain selain raport angka yang sudah sangat lama dipakai dan dipergunakan sebagai standar umum
  3. Sekolah sudah pernah ingin menggunakan namun kalah gertak oleh guru yang mengatakan tidak mungkin dan nonsense mengomentari tiap siswa.
  4. Jumlah murid yang guru ajar ada banyak sekali. Satu guru bidang studi bisa saja mengajar 100 lebih siswa.
  5. Guru tidak punya kemampuan ‘mengata-ngatai’ atau membuat komentar terhadap siswanya
  6. Guru merasa akan jadi masalah jika begitu saja memberi komentar pada anak yang berkelakuan buruk dan punya prestasi akademis yang rendah. ‘nanti orang tuanya akan marah besar jika saya tulis komentar yang sesungguhnya di rapor’ begitu pikir sang guru

Hal diatas membuat sekolah makin menjauh untuk menerapkan raport yang ada narasinya. Kenapa? Karena pihak sekolah pun tidak cukup percaya diri dalam menggunakan. Pikir mereka sepanjang pengawas tidak mewajibkan yaaa..buat apa menerapkan. Simak obrolan di grup milik organisasi guru di facebook.

Ini petikan Pedoman Penilaian terbaru SMP: ‘Penilaian sikap dilakukan dengan menggunakan teknik observasi oleh guru mata pelajaran (selama proses pembelajaran pada jam pelajaran), guru bimbingan konseling (BK), dan wali kelas (selama siswa di luar jam pelajaran) yang ditulis dalam buku jurnal (yang selanjutnya disebut jurnal). Jurnal berisi catatan anekdot (anecdotal record), catatan kejadian tertentu (incidental record), dan informasi lain yang valid dan relevan. Jurnal tidak hanya didasarkan pada apa yang dilihat langsung oleh guru, wali kelas, dan guru BK, tetapi juga informasi lain yang relevan dan valid yang diterima dari berbagai sumber. Selain itu, penilaian diri dan penilaian antarteman dapat dilakukan dalam rangka pembinaan dan pembentukan karakter siswa, yang hasilnya dapat dijadikan sebagai salah satu data konfirmasi dari hasil penilaian sikap oleh pendidik.’ SIAP SIAP YA GURU MAPEL DAN WALI KELAS JADI MALAIKAT RAKIB DAN ATID, hahaha .

Komentar diatas sebenarnya adalah jawaban dari artikel saya ini. Kecuali bagian guru menjadi malaikat Rakib dan Atid ya hahahaha. Jika guru ingin mahir membuat  narasi mengenai siswanya ada beberapa data yang mesti ada dan harus dijadikan landasan dalam membuat narasi penilaian kepada siswa, dan ini berlaku untuk semua guru bidang studi apa saja. Baca lebih lanjut

9 kesalahan guru saat menilai siswa dan solusinya

Desirable Characterisitics of authentic assessment

Menilai berarti memberikan umpan balik. Jika guru ingin penilaiannya kepada siswa menjadi bermakna, penting kiranya untuk mengetahui hal apa saja yang biasa terjadi dalam proses penilaian terhadap siswa.

  1. Siswa jarang dinilai usahanya
  2. Jika siswa dinilai usahanya biasanya dikarenakan nilai akademisnya tidak memenuhi standar dan baru kemudian guru menilai usaha atau karakter siswa
  3. Karakter atau cara siswa bekerja hanya menjadi pelengkap
  4. Siswa jarang mendapatkan umpan balik yang positif.
  5. Guru merasa hanya harus berperan sebagaui hakim dan bukan sebagai ‘pelatih’ yang memulai semuanya dari hal yang siswa mampu dan bisa
  6. Penilaian bersifat tertutup dan hanya menjadi kewenangan guru saja
  7. Guru jarang merujuk pada apa sebenarnya yang ingin dinilai dari pembelajaran ini (indikator) dan cenderung merujuk pada bentuk dari penugasan itu sendiri (laporan, presentasi dll)
  8. Penilaian dan penugasan cenderung dari itu ke itu saja (macamnya hanya pilihan ganda atau essay) alasan guru biar gampang memeriksanya
  9. Guru jarang melibatkan siswa dalam menilai, ia sendirian menilai semua karya siswanya, sehingga waktunya banyak habis untuk mengoreksi

Berikut ini adalah solusi yang nisa dilakukan oleh seorang guru untuk meminimalisir kesalahan diatas Baca lebih lanjut

Tips membuat siklus pembelajaran (learning cycle) yang bermakna

siklus pembelajaran

Sebuah siklus pembelajaran bukan lah sebuah siklus dimana siswa dibiarkan sibuk sendiri, mengerjakan apa yang guru perintahkan untuk kemudian guru merasa dirinya sudah mengajar. Sebuah siklus mengajar bukan juga sebuah siklus dimana  kegiatan yang ada adalah guru berceramah panjang lebar dan siswa mendengarkan sampai jam pelajaran habis.

TLC

Sebuah siklus mengajar mesti;

  • Punya arti, makna dan manfaat dari menit kemenitnya. Setiap saat bermakna dan punya tujuan, guru mengawal lewat RPP yang ia buat dan rencanakan. Siswa dibekali lembar kerja, urutan kegiatan dan sumber belajar.
  • Punya tujuan pasti di akhir pembelajaran: siswa bisa menguasai ….., siswa mampu melakukan…., siswa bisa tampil untuk …… serta sederet tujuan singkat yang jika dijalankan punya konsekuensi kegiatan yang banyak dan perencanaan yang matang.
  • Guru sering pastikan pengetahuan yang dimiliki siswanya lewat metode formatif assessment atau penilaian formatif.
  • Ada strategi belajar yang digunakan, guru bisa memilih ragam metode pembelajaran korporatif dan lain sebagainya.
  • Berazaskan pada kurikulum satu tahun penuh yang telah dibuat sebelumnya, dengan demikian menjaga alur agar pembelajaran tetap sesuai dengan tingkat dan kurikulum.

Baca lebih lanjut

Penilaian autentik sebagai cara untuk menilai siswa dengan adil

assessment 1

Siswa berhak dan layak untuk dinilai dengan adil. Guru sebagai orang dewasa adalah sosok yang diharapkan integritas nya saat hadir di kelas. Siswa sebagai elemen penting di kelas perlu dinilai kinerja, karakter dan pencapaian nya.

assessment 2

Apa yang terjadi jika guru tidak kreatif dalam menggunakan instrumen penilaian? Hal yang terjadi adalah siswa akan dinilai dengan asumsi. Hal ini berbahaya sekali karena siswa hanya akan dinilai berdasarkan anggapan dan prasangka bahkan lewat ingatan yang guru ingat tentang sosok siswa nya. Jika demikian hal yang terjadi siswa akan merugi karena siswa yang dianggap ‘nakal’ atau ‘lamban dalam belajar’ akan dinilai sama seterusnya tanpa melihat usaha yang dilakukan.

 assessment 7

Apa definisi penilaian autentik, berikut ini adalah pendapat para ahli

A form of assessment in which students are asked to perform real-world tasks that demonstrate meaningful application of essential knowledge and skills — Jon Mueller

“…Engaging and worthy problems or questions of importance, in which students must use knowledge to fashion performances effectively and creatively. The tasks are either replicas of or analogous to the kinds of problems faced by adult citizens and consumers or professionals in the field.” — Grant Wiggins — (Wiggins, 1993, p. 229).

“Performance assessments call upon the examinee to demonstrate specific skills and competencies, that is, to apply the skills and knowledge they have mastered.” — Richard J. Stiggins — (Stiggins, 1987, p. 34).

Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa untuk bisa menilai siswa dengan adil ada beberapa hal yang mesti guru lakukan;

  Baca lebih lanjut

Serba serbi penggunaan ragam penilaian autentik

assessment-of-for-and-as-learning
Menilai berarti mempertimbangkan dan melihat hasil proses atau kinerja. dalam penilaian autentik ada beberapa jenis penilaian yang bisa digunakan. Kapan dan bagaimana menggunakannya akan saya bahas secara singkat disini.

1. penilaian sikap
kapan digunakan:
– berguna untuk menilai sikap
– sikap yang dinilai biasanya menyatu dengan penilaian kinerja, pengetahuan dan keterampilan siswa.

Apa yang dinilai:
– sikap yang berhubungan dengan pekerjaan yang guru minta siswa lakukan. Misalnya jika guru meminta siswa berpresentasi maka sikap yang dinilai adalah: cara berkomunikasi, cara menjawab pertanyaan atau cara menerangkan.
– setiap sikap yang dinilai dalam setiap pekerjaan, boleh tidak sama tergantung jenis penugasan. Sikap yang dinilai dalam tugas presentasi akan berbeda dengan sikap yang akan dinilai dalam tugas membuat poster.

BsYf8oUCMAAa49j

2. Penilaian pengetahuan
kapan digunakan:
saat guru ingin menilai aspek pengetahuan. Penilaian autentik tidak meniadakan aspek penilaian pengetahuan, ia tetap ada namun dengan prinsip yang benar.

Apa yang dinilai:
isi pemaparan, jawaban siswa atau jawaban langsung saat siswa ditanya oleh gurunya. Hal yang bisa guru lakukan adalah membuat pilihan ganda, menilai pilihan benar-salah, ya-tidak, menjodohkan, dan sebab-akibat. Bisa juga guru meminta siswa memberi jawaban terdiri dari isian atau melengkapi, jawaban singkat atau pendek, dan uraian

3. Penilaian keterampilan
kapan digunakan :
Pada saat guru ingin melihat kinerja, penampilan dan hasil karya dari siswanya. Penilaian keterampilan memerlukan pengamatan dan pemilihan kriteria yang disesuaikan pada pembelajaran yang berlangsung. Jika guru mempergunakan pertimbangannya dengan baik maka ia bisa milih hal-hal apa saja yang ia ingin nilai dan kedepankan dari kegiatan yang terjadi. mengajak siswa untuk menentukan kriteria apa yang akan dinilai juga merupakan ide yang baik.

Baca lebih lanjut

Penilaian tradisional atau penilaian autentik, mana yang lebih cocok untuk siswa abad 21

11139ce

Seorang dewasa yang sekarang menjalani profesi sebagai guru, hampir pasti  dibesarkan atau mengalami dinilai dengan penilaian tradisional. Tidak heran saat ini guru sangat perlu diyakinkan untuk menggunakan penilaian autentik. Secara singkat dalam penilaian tradisional hanya ada satu jawaban benar dan yang lain salah jika isi jawaban sampai  titik koma nya tidak sama dengan apa yang guru inginkan.

Dalam penilaian tradisional hanya ada satu jawaban benar dan yang lain salah jika isi jawaban sampai titik koma nya tidak sama dengan apa yang guru inginkan.

Baca lebih lanjut

Alternatif penilaian siswa selain soal pilihan ganda

lucu-jawaban-ujian-anak-sd-7

Anda pasti akan tertawa jika melihat jenis pertanyaan dan jawaban yang mesti dipilih oleh siswa kita di kelas.
Ilmu untuk menilai siswa sudah demikian jauh berkembang, namun yang masih melekat di pikiran dan yang masih kerap digunakan guru adalah jenis penilaian pilihan berganda.

Beberapa hal yang sering didengar dari para guru mengenai alasan mengapa masih memilih pilihan ganda sebagai satu-satunya metode penilaian adalah;

1. Mudah untuk memeriksa pekerjaan siswa (apalagi bagi guru yang mengajar beberapa kelas atau guru bidang studi)
2. Dapat mengukur aspek yang sulit dan aspek yang mudah.
3. Bisa mengukur atau menguji beberapa pokok bahasan sekaligus (untuk itulah mengapa ujian nasional masih menggunakan pilihan berganda karena menguji pengetahuan yang dikuasai siswa dalam beberapa tahun kebelakang)

Padahal…

Baca lebih lanjut