Resep sukses wujudkan program prestasi di sekolah.

Di dinding Facebook saya beredar kesibukan sahabat rekan kepala sekolah dan guru dalam mengiringi siswa nya dI ajang O2SN dan FLS2N. Tulisan ini akan mengiringi semua rekan pendidik yang terlibat.

Semua kompetisi adalah saat semua elemen ‘mengalami’. Guru sebagai pelatih mengalami bagaimana perjalanan persiapan sampai pertandingan dan siswa pun akan berkembang jika diajak berefleksi dari pengalamannya. Ada hal yang umum saya temui di sekolah sekolah yang langganan mendapat juara dalam kompetisi nasional dan internasional.

Saya memperhatikannya sebagai cara dalam membuat sekolah sukses melahirkan atlet dan sosok yang berprestasi dibidang akademik dan non akademik.
Silakan mencermati.

Iklan

4 ciri pendidik yang mengajar dengan hati.

Menjadi pendidik adalah sebuah perjalanan, jika anda berada didalamnya seberapa pun beratnya tugas yang diemban selalu ada perasaan ingin memperbaiki diri demi siswa. Mengajar dengan hati adalah seni dikarenakan tiada rumus pasti dalam menjalankannya. Ijinkan saya memberikan gambaran mengenai aturan bagaimana menjadi pendidik yang mengajar dengan hati.

  1. Berprasangka baiklah dengan semua pihak. Kepada siswa yang diajar, kepada sesama guru, pimpinan sampai orang tua siswa. Berbaik sangka adalah upaya untuk mendahulukan rasa percaya lebih dahulu sebelum menghakimi atau memberikan label negatif. Dengan berbaik sangka akan membuat hidup seorang pendidik jauh lebih ringan tanpa beban dan terhindar dari rasa sensi, dan punya kemampuan dengan jernih melihat semua hal sebagai kesempatan melakukan perubahan demi meningkatkan diri. Dengan berpikiran terbuka dengan mudah ia menjadi suporter nomor satu bagi keberhasilan siswanya, obrolan dengan siswanya isinya adalah dialog yang mencerahkan dan memotivasi.
  2. Membuka diri dan berpikiran terbuka. Setiap kelas punya masalah nya masing masing. Guru yang mengajar dengan hati melihat semua tantangan sebagai cara terbaik untuk menguji cobakan strategi dan metode. Berpikiran terbuka membuat guru santai saja ketika metode atau strategi nya belum berhasil. Ia juga tak segan mencoba hal yang kecil dan sederhana sebagai wujud keinginan nya untuk menghadirkan sesuatu yang baru bagi kelasnya. Hal yang berbahaya adalah jika dari tahun ke tahun guru hanya gunakan strategi yang itu itu saja padahal tantangan kelas yang ia ajar berubah sesuai dengan jaman.
  3. Ia adalah sosok yang cinta pada matpel yang diampu, ia sibuk merencanakan dan membuat administrasi namun juga ingin selalu memberikan kejutan pada siswa. Sebuah kejutan akan menimbulkan rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu ini yang membuat kelas menjadi gaduh karena dinamis, membuat pikiran siswa ingin belajar dan ingin tahu lebih. Sebuah kejutan di kelas yang memancing rasa ingin tahu dimulai dengan aktivitas/eksperimen/percobaan yang matang dalam hal perencanaan. Guru yang piawai dalam merencanakan akan sedikit sekali berceramah dikarenakan ia berada dalam posisi melaksanakan skenario dan bukan sekedar menyampaikan/mentransfer pengetahuan. Tidak heran jika kelasnya sibuk, hidup dan bermakna. Jika itu terjadi. maka guru akan lupa kelelahannya membuat RPP, instrumen penilaian dan semua administrasi pengajaran.
  4. Ia adalah guru yang mumpuni dalam hal pedagogi. Ia sadari perbedaan antara membingungkan dan kompleks. Antara diferensiasi dan pembelajaran yang dipersonalisasi. Antara pembelajaran berbasis proyek, dan belajar melalui proyek. Antara kesulitan dan ketelitian. Dengan demikian kelas nya berisi kegiatan yang beragam, bermakna dan tepat sasaran.

Guru dengan empat ciri diatas tidaklah sulit ditemukan disekitar kita. Ia adalah guru percaya diri yang tak mengeluh bahwa target pembelajarannya tidak sampai saat sekolahnya sedang banyak kegiatan kesiswaan. Ia adalah orang yang selalu senang dan aktif saat ikut pelatihan saat yang sama di media sosial ia aktif berteman dan belajar dengan sesama pendidik.

Silakan pilih satu dari empat hal diatas untuk memulai menjadikan diri sendiri sebagai guru yang mengajar dengan hati.

Jika berkenan mohon berbagi hal apa dari faktor diatas yang sampai saat ini masih menjadi tantangan.

4 Resep agar sekolah bisa membuat gurunya menjadi kreatif

Kreatifitas di sekolah punya makna yang luas. Masing masing pihak di sekolah baik itu guru, siswa, kepala sekolah, dan orang tua siswa punya sendiri makna kreativitas. Jika dilihat dari kepentingannya makna kreativitas di sekolah bisa digolongkan menjadi

  1. kreatif dalam mengajar dan menggunakan strategi/metode pembelajaran
  2. kreatif dalam membuat program-program sekolah
  3. kreatif dalam membuat eskul sekolah
  4. kreatif dalam menangani perilaku siswa.
  5. kreatif dalam mengelola kelas
  6. Kreatif dalam menghias kelas
  7. kretif dalam membuat permainan (games) yang membuat siswa senang dan terhibur.
  8. kreatif dalam menilai (menggunakan instrumen penilaian) siswa.

Semua kreativitas di atas memerlukan usaha bersama di sekolah agar bisa dilihat dan dirasakan di kelas dan dalam level sekolah secara keseluruhan. Kepala sekolah sering merasa belum mengetahui cara membuat gurunya bersedia dan mau menjadi kreatif. Padahal bagaimana sebuah sekolah dinilai bagus atau tidaknya ada dari situasi pembelajaran di kelas serta seberapa bermakna nya kegiatan yang terjadi di sekolah.

Kepala sekolah mesti punya indra keenam dalam mengembangkan sekolahnya agar bisa sukses dengan cara memberikan kesempatan guru untuk berkembang mulai dari yang ia bisa.

Seorang guru bisa saja merupakan sosok pribadi yang:

  1. Senang kegiatan luar ruang atau olahraga
  2. Senang kegiatan seni
  3. Senang kegiatan keagamaan
  4. Senang kegiatan sosial
  5. Senang kegiatan yang menggunakan IT atau teknologi
  6. Senang berkompetisi
  7. senang dunia menulis
  8. senang dengan dunia kerajinan tangan
  9. Dan lain sebagainya

Kesemuanya merupakan aset bagi sekolah. Apalagi jika sekolah bisa mengemasnya bersama kreativitas.

Berikut ini hal yang bisa sekolah lakukan untuk membuat semua guru menjadi guru kreatif di sekolahnya.

  1. sekolah bisa melakukan pemetaan kompetensi dan minat guru. ‘Siapa minatnya apa’ yang dari pemetaan itu bisa dilihat apa saja yang menjadi nilai lebih dari tiap pribadi guru yang ada di sekolah.
  2. meminta guru melakukan suatu inovasi yang kecil, sederhana dan mulai dari hal yang mereka suka. kemudian dibagikan tips nya saat rapat rutin. Misalnya meminta guru yang menyukai seni membuat dekorasi pada acara kemerdekaan di sekolah, atau guru yang punya inovasi di bidang matematika melakukan games singkat dengan siswanya di kelas. Minta guru lain memfoto atau memvideokan, minta guru yang membuat melakukan presentasi singkat 5 menit saat rapat rutin.
  3. sekolah melibatkan media sosial sebagai cara membuat guru senang dan bangga karyanya diketahui orang lain. Ada jenis guru yang tidak terlalu suka narsis atau show off, untuk itu tugaskan satu guru yang senang pada dunia TIK atau media sosial dan bisa menulis untuk menjadi reporter sekolah. Tugaskan ia untuk membuat liputan yang bisa di forward oleh guru lain. Minta semua guru mempunyai akun di IG atau facebook agar mudah di ‘tag’.
  4. Sekolah membuat rapat rutin yang terstruktur dan terjadwal. Rapat seperti ini sangat berpengaruh dalam membuat guru merasa punya lingkungan yang mendukung bagi kreativitas. Untuk level SD, sekolah bisa meminta guru paralel untuk bertemu seminggu sekali, membicarakan hal apa saja yang akan dilakukan di minggu depannya di kelas dalam pembelajaran. Di tingkat SMP dan SMA, pertemuan internal sekolah MGMP akan membuat adanya dialog antar guru mengenai inovasi yang dilakukan di kelas. Semua obrolan akan berujung pada inovasi jika sekolah mendukung dan memonitor.

Kreativitas di sekolah adalah gabungan antara keberanian membuat sebuah hal yang berbeda dilandaskan keinginan yang besar untuk menyajika sesuatu yang baru untuk siswa. Peran sekolah melalui kepala sekolah adalah membuat guru berani mencoba, melakukan supervisi dan selalu menghargai tiap pencapaian atau inovasi walaupun kecil dan sederhana.

Teknis menulis Jurnal refleksi yang efektif

Saat ini sudah semakin banyak guru guru yang sadar untuk melakukan refleksi terhadap kinerjanya setelah menyelesaikan tugas mengajar di kelas. Hal ini merupakan tanda yang positif mengingat bahwa melakukan refleksi merupakan satu keharusan bagi seorang guru karena kegiatan refleksi akan memberikan dampak yang positif bagi peningkatan kinerja guru.

Namun kegiatan refleksi bukan sebatas menuliskan jurnal refleksi pada RPP yang dibuat guru dan sudah dilaksanakan kegiatan pembelajarannya namun jauh lebih penting adalah bagaimana guru dapat menjadikan catatan refleksi itu sebagai bahan untuk memperbaiki kesalahan atau kekurangan dalam mengajar.

Untuk itu maka guru perlu mengetahui teknik penulisan jurnal refleksi yang efektif. Pada kesempatan ini saya memperkenalkan teknik 4M yang akan memandu guru dalam menuliskan refleksinya. Adapun yang dimaksud 4M adalah bahwa guru mengikuti langkah langkah sebagai berikut.

M1 adalah guru menuliskan laporan secara umum bagaimana kegiatan pembelajaran berlangsung seperti hal positif apa yang terjadi serta bagaimana kegiatan berjalan secara keseluruhan.

M2 adalah guru merespon atau mengungkapkan perasaannya setelah kegiatan belajar terlaksana. Termasuk bagaimana perasaan siswanya.

M3 adalah guru menjelaskan bagian mana yang dirasakan merupakan masalah atau kendala yang dialami oleh siswa ketika mengikuti kegiatan termasuk bagaimana siswa memahami materi. Guru menjabarkan secara detail apa yang menjadi kesulitannya saat memimpin pembelajaran dan kesulitan yang dihadapi siswa.

M4 adalah guru memikirkan rencana tindak lanjut atau hal hal yang akan diperbaiki Jika harus mengajarkan materi yang sama.


Demikianlah tips bagaimana menulis jurnal refleksi untuk guru. Semoga guru guru mau mencoba untuk disiplin dalam melakukan refleksi setelah mengajar dimana salah satu caranya adalah dengan menulis jurnal. Dengan demikian maka kinerja guru dalam mengajar akan menjadi lebih baik.

Untuk para kepala sekolah sebaiknya mendorong dan memastikan guru guru menuliskan jurnal refleksi di RPPnya.

3 Solusi Menjadi Sekolah yang Kreatif

Kreativitas di sekolah adalah sebuah hal yang erat kaitannya dengan sikap berpikiran terbuka dan keberanian untuk mengatakan bahwa bisa saja yang selama ini dianggap benar belum tentu masih relevan. Ada banyak salah paham mengenai kreativitas selama ini di sekolah, jika dirasakan memang ada semacam batas antara kreativitas dan semua praktek pelaksanaan pembelajaran sehari hari di sekolah. Hal ini dikarenakan salah paham yang mengatakan bahwa:

  1. Kreativitas hanya milik dari seseorang yang berada dalam dunia seni dan pertunjukan
  2. Kreativitas memerlukan biaya yang banyak
  3. Kreativitas memerlukan waktu yang banyak dalam penerapannya
  4. Kreativitas bertentangan dengan kurikulum
  5. Kreativitas adalah ledakan ekspresi sesaat yang akan hilang dengan sendirinya

Dari faktor diatas jelas sekali bahwa ada keengganan dari sekolah untuk mau bertindak dan berpikir kreatif. Padahal kreativitas bisa muncul dari macam segi penerapan dan wujudnya.
Secara singkat hal yang diperlukan sebuah sekolah agar kreativitas menjadi gaya hidup dan kebiasaan adalah

  1. sosok kepala sekolah atau pimpinan supportif yang mengatakan bahwa sebuah ide layak dicoba dan bersedia menjadi sosok yang mengawal perubahan akibat pelaksanaan ide tersebut
  2. suasana sekolah yang ramah pada kegagalan yang mengakibatkan guru/siswa tak takut mencoba hal yang baru.
  3. tidak adanya senioritas, jika hal ini ada maka suasana sekolah akan sangat menjemukan karena jika ide bukan dari seseorang yang dituakan atau senior maka bukan sebuah ide yang bagus. Sesuai kebiasaan maka ide yang baru jarang dari sosok yang senior dan sudah nyaman di tempatnya.

Kreativitas lahir dari suasana sekolah yang supportif, dan situasi dimana semua ide ditantang untuk diwujudkan dengan pengawalan kepala sekolah yang mumpuni dan memaksa semua pihak detail merencanakan dan konsisten dalam menjalankan. Dikarenakan sebuah kreativitas bukan lah hal yang besar, megah dan mewah namun adalah sebuah niat kecil yang berbeda dengan sebelumnya namun direncanakan dengan matang yang konsisten dan komitmen.

Hari pertama, minggu pertama dan menit pertama di awal tahun ajaran baru adalah saat terbaik membuat kesepakatan kelas.

5643026_orig

Jika sebuah kelas tanpa diikat oleh kesepakatan maka tugas guru sebagai orang dewasa akan sangat berat dikarenakan dirinya akan menghadapi sifat dan perilaku dari setiap anak di kelasnya yang unik dan berbeda-beda . Setiap individu baik itu siswa dan guru mempunyai hak dan kewajiban yang sama untuk menjadikan kelas (tempat guru mengajar dan murid belajar) menjadi kelas yang kondusif dan mempunyai budaya serta kebiasaan yang positif bagi pembelajaran.

Lanjutkan membaca “Hari pertama, minggu pertama dan menit pertama di awal tahun ajaran baru adalah saat terbaik membuat kesepakatan kelas.”

Membungkus inovasi di sekolah dengan ‘branding’

CONTOH INOVASI SEKOLAH

Di sekolah sebuah inovasi diposisikan menjadi jawaban atau pemecahan sebuah masalah. Jika sekolah mempraktekkan asas inovasi dengan benar maka sebuah ancaman malah akan menjadi peluang. Sebuah inovasi hanya bisa lahir dari sebuah organisasi pembelajar yang berkomitmen bersama. Saat ini bukan saatnya lagi bahwa kepala sekolah adalah asal semua ide. Keberhasilan sebuah inovasi lahir karena team work antara semua pihak yang ada di sekolah , rasa percaya serta visi yang sama diantara semua pelaksana.

Sebuah Inovasi yang baik datang dari guru/warga sekolah itu sendiri, dengan maksud untuk menjawab kebutuhan atau penyelesaian masalah dengan menerapkan prinsip replikasi (ringan mudah ditiru) serta ditinjau secara berkala menggunakan prinsip POAC (Planning, Organizing, Actuating, and Controlling). Dengan demikian sekolah membiasakan dirinya untuk ‘Speak with data’, dengan cara sekolah melakukan audit internal dengan melibatkan team audit internal sekolah yang ditunjuk oleh kepala sekolah (terdiri dari guru senior dan orang yang dianggap mampu) untuk mengaudit program dan bukan melakukan audit terhadap orang per orang.

36C4ED70-AA39-6CB8-42D4-6D445C88527F

Aspek branding bisa membuat perubahan di sekolah menjadi lebih mudah dan cepat. Dengan cara memberikan penamaan yang menarik pada program-program inovasi sederhana yang berbasis sekolah yang dibuat demi menjawab kebutuhan penyelesaian masalah di sekolah.  Lanjutkan membaca “Membungkus inovasi di sekolah dengan ‘branding’”