Hadiri Diskusi Belajar Kreatif Selasa 16 Februari 2016

ESS invitation

Dalam 30 tahun ke depan, menurut UNESCO, lebih banyak siswa akan lulus sekolah daripada jumlah siswa yang telah lulus sepanjang sejarah. Hal ini disebabkan banyak faktor seperti loncatan populasi, kemajuan teknologi, faktor demografis, dll. Tiba-tiba saja, gelar tidak berarti apa-apa. Dulu, kalau kita lulus perguruan tinggi maka kita akan mendapat pekerjaan. Sekarang banyak anak yang telah lulus strata satu lalu pulang ke rumah dan melanjutkan bermain video game. Karena pekerjaan yang dulu membutuhkan lulusan strata satu sekarang telah mensyaratkan strata dua (sebagai penyaringan karena begitu banyaknya lulusan strata satu dan dengan kualitas biasa-biasa saja). Sedangkan pekerjaan yang membutuhkan diploma, sekarang mensyaratkan strata satu. Telah terjadi apa yang disebut inflasi akademis. Telah terjadi pergolakan radikal dalam sistem pendidikan kita.(Sir Ken Robinson)
Education Sharing Session kali ini akan menghadirkan Beng Rahadian seorang komikus yang karyanya sudah banyak dibukukan. Perjalanan kreatif nya menarik untuk dipandang dan dibandingkan dari sisi proses kreatif yang terjadi di kelas-kelas ditempat para guru mengajar. Saatnya guru belajar dari pakar dari bidang lain. Dan kreativitas sebenarnya hal yang paling dekat dengan dunia pendidikan. Sayangnya belum semua pendidik sadar bahwa keterampilan yang paling penting bagi siswa untuk menghadapi dunia yang cepat sekali berubah ini adalah untuk belajar berfikir secara kreatif dan belajar untuk belajar sendiri (independen) atau Learning how to learn.”

silahkan share undangan ini atau datang dan nikmati diskusinya

15 Kesalahan Umum Guru Saat melakukan Pembelajaran Kooperatif (berkelompok) – dan Solusinya

9eaca1ff742e5cec4ee50cbcc7a8a387

Menurut banyak penelitian pembelajaran kooperatif sangat baik dalam mengembangkan kemampuan sosial dan dengan cepat meningkatkan pengetahuan siswa, namun dalam pelaksanaannya ternyata tidak mudah untuk dilaksanakan karena guru sering melakukan kesalahan sebagai berikut:

1. Ukuran kelompok terlalu besar
Dibutuhkan banyak keterampilan bagi siswa untuk mengelola kelompok dengan anggota 4 orang atau lebih. Sebaliknya, menjaga ukuran kelompok kecil: 2 atau 3 adalah yang terbaik.

2. Siswa tidak mempersiapkan diri (dan dipersiapkan) untuk bekerja dalam kelompok (kooperatif).
Jelaskan kepada siswa mengapa Anda sebagai guru menggunakan pembelajaran kooperatif, lakukan aktivitas pembelajaran kooperatif singkat atau simulasi, kemudian minta mereka menjelaskan ulang dan lakukan sampai mereka jelas.

3. Tidak membekali siswa keterampilan berinteraksi antar sesamanya.
Penting bagi seorang guru untuk meminta siswa untuk berkontribusi pada kelompoknya dengan perilaku yang sesuai dan dianjurkan oleh guru . Contoh: fokus pada tugas, bersedia menyumbangkan ide, membantu orang lain untuk belajar, mendorong semua orang berpartisipasi, mendengarkan orang lain, menghormati orang lain. Guru mesti menuliskan didepan kelas daftar perilaku yang diinginkan

4. Siswa dibiarkan memilih kelompok mereka sendiri.
Kita sendiri sebagai orang dewasa akan memilih teman-teman kita sendiri untuk bekerjasama jika diberi pilihan. Padahal siswa perlu mengembangkan hubungan kerja yang positif dengan semua anggota kelas tanpa terkecuali. Lakukan penetapan secara acak dengan siapa siswa mendapatkan teman untuk kelompoknya.

5. Tidak melakukan kegiatan bekerja sama cukup sering bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan bekerja sama .
Mintalah siswa melakukan sesuatu teknik pembelajaran kooperatif di setiap sesi kelas untuk memperkuat kebiasaan bekerjasama yang positif. Minimal terbiasa untuk berbagi apa yang mereka ketahui lewat diskusi dengan teman yang ada di sebelahnya.

image212525202525281252529

6. Tidak merencanakan pelajaran kooperatif dengan hati-hati.
Banyak guru bingung melakukan pembelajaran dengan kelompok atau menggunakan prinsip pembelajaran kooperatif. Mereka sudah menempatkan siswa dalam kelompok, memberitahusiswa untuk bekerja sama, dan ujung-ujungnya bertanya-tanya mengapa pembelajaran dengan kelompok di kelasnya tidak berhasil. Padahal pembelajaran kooperatif mesti memiliki lima unsur penting (saling ketergantungan positif, tanggung jawab individu, promotif interaksi tatap muka, keterampilan sosial dan pengolahan informasi) mesti diterapkan dengan hati-hati ke dalam setiap pelajaran untuk mengajar para siswa untuk belajar dengan baik secara bersama-sama. Guru mesti tidak kenal menyerah dan mau terus mencoba Continue reading “15 Kesalahan Umum Guru Saat melakukan Pembelajaran Kooperatif (berkelompok) – dan Solusinya”

6 langkah sukses guru melakukan pembelajaran kooperatif

resize

Pembelajaran dengan bekerja sama  ada dalam lingkup pembelajaran dengan berkolaborasi atau simpelnya disebut dengan ‘pembelajaran berkelompok’. Dalam tipe pembelajaran seperti ini, guru mesti menyiapkan penugasan yang terstruktur dan dalam kelompok yang kecil. Mengapa dalam kelompok kecil? (5 paling banyak) Hal ini dikarenakan siswa jadi lebih mudah untuk berbagi kekuatan, mengembangkan keterampilan interpersonal dan yang terpenting belajar menangani konflik.

13034faea6b2ef5a4fc389cb2e460f24

Continue reading “6 langkah sukses guru melakukan pembelajaran kooperatif”

8 strategi mengaktifkan siswa pada kegiatan pembelajaran

BsXfUpVCIAAxsL-Membuat siswa di kelas tetap senang belajar selama berjam-jam memang bukan perkara yang mudah. Hanya guru yang baik dalam merencanakan akan berusaha sekuat tenaga agar siswanya masih punya antusiasme setelah berjam-jam belajar. Jika guru mau mencoba ada banyak startegi yang bisa guru lakukan agar siswa tetap antusias saat belajar di kelas. Cara terbaik adalah buat kegiatan belajar yang beragam, sambil terus dicek pemahaman siswanya. Belajar bukan Cuma membaca buku, mengerjakan LKS dan presentasi ada banyak kegiatan belajar yang bisa dilakukan oleh guru. Berikut ini adalah delapan strategi mengaktifkan siswa dengan meminta mereka bekerja dalam kelompok atau berpasangan.

1. Clocks buddy:

clock buddyDimaksudkan untuk menjadi cara cepat dan mudah untuk membuat pasangan untuk kegiatan bermitra sambil menghindari masalah anak-anak selalu memiliki mitra yang sama. Ide dasarnya adalah bahwa setiap siswa memiliki salinan sendiri dari lembaran Jam Buddies , dengan nama-nama 4 atau 12 teman sekelas pada angka yang ada di jam.

Continue reading “8 strategi mengaktifkan siswa pada kegiatan pembelajaran”

Cara mengatasi siswa yang ribut saat belajar (resep 5 menit pertama)

 

Siswa memang dari sananya ada yang senangnya ribut, senangnya belajar dan bahkan ada yang senangnya main. Semua guru TK/SD pasti mengerti mengenai hal ini. Jika satu kelas anda merasakan menjadi ribut saat anda mengajar barulah anda mesti bertanya kedalam hati hal apa yang anda sudah lakukan sehingga membuat situasi tidak terkendali. Ada beberapa hal yang penting saat ingin mengatasai keriuhan atau ribut saat anda sedang mengajar di kelas

FAKTA

• Siswa gaduh saat kembali dari kegiatan luar ruang, entah itu olah raga atau kegiatan lainnya yang berlangsung di luar kelas
• Siswa ribut karena siswa sedang ngobrol kepada sesamanya
• Guru merasakan siswa ribut karena ia ingin langsung mengajar memberikan materi saat masuk kelas
• Siswa gaduh saat terkejut, misalnya anda masuk kelas dan langsung katakan “yak kita ulangan” tanpa pemberitahuan sebelumnya.

SOLUSI : LAKUKAN SISTEM 5 MENIT PERTAMA YANG BERNILAI

• 5 menit pertama yang bernilai. Ini adalah istilah yang membuat seorang guru langsung bisa tahu apakah siswanya siap atau tidak untuk mengajar. Berlakukan hal ini, sisihkan waktu 5 menit pertama untuk biarkan siswa habiskan pembicaraannya dengan temannya. Sambil menunggu anda juga bisa hampiri meja satu atau dua orang anak yang introvert, bicara dan sapalah ia.
• Hindari memaksakan langsung mengajar saat masuk ke kelas, atau lakukan hal-hal yang jadul misalnya mengabsen satu persatu padahal anda bisa bertanya “siapa ya yang hari ini tidak hadir?” kepada seluruh siswa.
• 5 menit pertama guru tetap menghitung siapa siswa yang terlambat, bukan berarti 5 menit adalah waktu yang membiarkan siswa yang terlambat tetap dianggap tepat waktu.
• 3 menit terakhir katakan “yak saya kan memulai kelas dalam hitungan menit!” perkataan tadi akan membuat siswa menyiapkan dirinya sendiri untuk siap menerima pelajaran.

Wajar jika seorang guru sangat ingin segera memulai kelas apalagi jika ia sudah siap dengan setumpuk rencana, namun berbahaya jika ia terlalu memaksakan. Apalagi di jam rawan misalnya jam setelah istirahat, setelah makan siang atau saat di pagi hari. Guru yang berhasil adalah guru yang bisa membuat diri dan muridnya punya ikatan batin atau tiada prasangka antar siswa dan guru. 5 menit pertama sangat baik dilakukan untuk membuat kelas kondusif karena rasa saling percaya.

BAGAIMANA ANDA SEBAGAI GURU MEMBUAT KELAS MENJADI KONDUSIF DI MENIT PERTAMA JAM PELAJARAN? APAKAH MENURUT ANDA PENTING UNTUK MEMBINA RASA SALING PERCAYA ANTAR GURU DAN SISWA? SIAPA YANG SEBENARNYA MENJADI SUBYEK DAN OBYEK DALAM PEMBELAJARAN, APAKAH SISWA? APAKAH GURU?

 

5 jenis kelas berdasarkan tingkat kebisingan dan solusinya

original-293843-1 57c20d07256bf0cd49eca88fbe12a045

Dalam hal suara di kelas ada beberapa istilah dalam bahasa Indonesia yang bisa menerangkan. Ada istilah kelas yang ribut, kelas yang gaduh, kelas yang riuh, kelas yang berdengung dan kelas yang sunyi. Bahasa adalah soal rasa, perlu jam terbang  untuk bisa membedakan. Saya akan coba membantu anda mengasah rasa dalam soal bahasa.

Kelas yang ribut adalah kelas yang tidak ada aturan, dengan demikian suara yang ditimbulkan dari kelas seperti ini adalah suara yang tidak beraturan (ribut). Suara bersahut-sahutan. Biasanya hal ini dimulai dari guru yang senang memotong kata saat menjelaskan. Seperti misalnya, “anak-anak kita semua tinggal di negaraaa trooo..? Lalu siswa meneruskan pissssssss.

Kelas yang gaduh adalah kelas yang menghasilkan suara yang bercampur antara suara siswa bersahut-sahutan dan  suara pergerakan siswa selama di kelas. Biasanya karena ukuran siswa yang banyak, bangku meja yang besar membuat siswa sulit untuk bergerak. Siswa yang tidak sabar memilih untuk naik ke bangku atau meja saat bergerak.

Kelas yang riuh adalah kelas yang kedatangan guru yang pandai melucu atau membuat siswa tertawa karena humornya. Kelas yang riuh sering membuat orang salah paham, dikarenakan sepertinya kelas yang baik adalah kelas yang seperti itu, padahal tidak selalu. Jika riuhnya kebangetan maka kelas akan berubah menjadi kelas yang ribut. Apalagi jika kelas sudah mulai mengganggu kelas yang lain.

Continue reading “5 jenis kelas berdasarkan tingkat kebisingan dan solusinya”

Tulis refleksi pada RPP anda setelah digunakan, jadilah guru yang reflektif

reflective practice 3

Refleksi adalah sebuah cara bagi seorang guru untuk melihat sejauh mana ia sudah berpraktek dengan baik sebagai pendidik.

reflective practice 4

Banyak guru mengeluh soal kewajiban administrasi yang banyak saat menjalani karir sebagai guru. Padahal semua berakar dari ada tidaknya kebiasaan reflektif.

Bayangkan situasi ini:

Seorang guru merencanakan sebuah pembelajaran untuk dua jam pelajaran dalam bentuk RPP. Ia masuk kelas dan mulai mengajar, waktu berlalu dan banyak kejadian pada saat ia mengajar. Kejadiannya bervariasi dan kebanyakan kesemuanya bisa diambil kesimpulan bahwa pembelajarannya hari dan jam itu tidak berhasil. Meleset target dan sebagai guru ia tidak puas. Sebagai manusia biasa ia akan berusaha melupakan apa yang terjadi hari itu. Memang buat apa mengingat ingat hal yang tidak enak. Jadi lebih baik lanjutkan mngajar, toh tidak setiap hari kegagalan terjadi.

Sebaliknya

Suatu hari saat guru mengajar, ia merasakan hal yang luar biasa, semuanya berjalan lancar dan ia merasa sangat berhasil sebagai guru.

Continue reading “Tulis refleksi pada RPP anda setelah digunakan, jadilah guru yang reflektif”