Tips dan trik menggunakan ‘games’ di kelas

  
Permainan atau games di kelas ibarat garam saat seorang koki membuat masakan. Jika terlalu banyak akan membuat masakan tidak enak, sebaliknya jika kurang akan membuat masakan menjadi hambar. 

Saat seorang guru menggunakan games di kelas tujuannya bisa bermacam-macam

1. Membuat suasana yang tadinya kaku menjadi cair.

2. Membuat kelas menjadi hidup.

3. Membuat siswa menjadi lebih paham dengan cara belajar dengan bermain.

4. Alat untuk membagi siswa dalam kelompok. 

5. Membuat siswa menjadi fokus kembali

6. Sarana untuk lakukan review

atau refleksi pembelajaran sebelumnya atau yang baru saja dilakukan.

7. Membuat siswa belajar arti kerja sama sportivitas dan kejujuran.

Beberapa kesalahan guru dalam penggunaan games di kelas adalah

1. Berharap agar kelas menjadi hidup hanya dengan games. Padahal pembelajaran yang kreatif lah yang bisa membuat kelas menjadi hidup.

2. Terlalu banyak menguras tenaga siswa. Jadinya siswa menjadi kehilangan energi saat harus melanjutkan belajar.

3. Mengganggu kelas lain dengan suara atau keributan. Ini terjadi karena tidak ada kesepakatan sebelumnya.

4. Menggunakan games tanpa memberikan insight setelah kegiatan berlangsung.

Ada lagi guru yang bahkan tidak mau sama sekali menggunakan games di kelas karena:

1. Dianggap menghilangkan waktu belajar siswa dan waktu mengajar guru.

2. Orientasi guru yang terlalu mengajarkan text book alias mengejar aspek kognitif.

3. Guru memisahkan antara belajar dan bermain. Padahal trend terbaru dalam dunia pendidikan adalah keterpaduan antara keduanya dengan guru sebagai fasilitator

Berikut ini adalah kumpulan website mengenai games di kelas
http://surabaya.tribunnews.com/2012/09/18/cra-kreatif-membentuk-kelompok-di-kelas
http://cybraryman.com/gamesined.html

8 cara mudah membuat kelas anda menjadi ‘hidup’.

Display yang bagus untuk dipajang di kelas anda. AIH singkatan dari (academic intervention hours)

Sebuah kelas di sebuah sekolah adalah sebuah kumpulan dari siswa (dengan tingkatan usia tertentu) diajar oleh seorang dewasa dengan perannya sebagai seorang guru, pendidik, pengajar dan saat ini adalah seorang fasilitator. Merupakan sebuah keinginan dari semua guru untuk menjadikan kelasnya menjadi kelas yang ideal, menyenangkan dan anak-anak senang belajar di dalamnya. Dalam prakteknya guru dimana saja masih berjuang untuk bisa mencapai hal diatas. Seorang rekan saya di facebook memberi istilah kelas yang ‘hidup’ untuk kelas dengan gambaran diatas.

Lantas bagaimana caranya untuk membuat kelas yang ‘hidup’

  1. guru mesti berperan sebagai orang dewasa yang matang dan menyesuaikan peran dan cara pendidikan dan pengajaran sesuai dengan tingkatan usia siswa yang diajarnya. Untuk itu jika anda guru TK -SD cantumkan di RPP, kisaran umur atau usia murid anda. Atur sikap kapan berperan sebagai orang tua bagi mereka, kapan bersikap sebagai rekan yang kritis atau guru yang mengayomi keingin tahuan mereka.
  2. Atur kata-kata anda selama di kelas saat berinteraksi dengan siswa. Caranya simpel saja, selalu gunakan kata positif, titik beratkan pada perbuatan yang anda ingin siswa anda lakukan dan bukan perbuatan yang anda larang siswa anda untuk lakukan.
  3. lakukan scanning pada siswa anda. Lakukan penggolongan pada anak yang bertipe introvert dan ekstrovert. Lakukan juga pengamatan mana siswa yang belajar dengan cara visual, kinestetik (tactile), auditori, dan logis. Jika semua siswa sudah terdeteksi anda makin punya urat sabar yang panjang terhadap siswa anda.
  4. manfaatkan 6 minggu pertama anda sebagai saat untuk melakukan pembiasaan pada prosedur dan tingkah laku. Buat kesepakatan dan saat yang sama buat konsekuensi. Minta siswa membubuhkan tanda tangan dan tempel di kelas kesepakatan. Lakukan pembuatan konsekuensi dan kesepakatan bersama-sama dengan seluruh murid di hari pertama anda mengajar di tahun ajaran baru. Terapkan tanpa pandang bulu, toh ini konsekuensi dan bukan hukuman, jauh lebih gampang terapkan konsekuensi daripada hukuman. Beri pujian jika siswa sudah lakukan hal yang menjadi kesepakatan.
  5. guru mengerti kapan mesti mengelompokkan siswa, kapan mesti membuat siswa belajar secara individu. Lakukan kedua hal tersebut dengan melihat situasi di kelas.
  6. lakukan perencanaan sekeras dan sedetil mungkin yang anda bisa. semakin anda bisa kejam kepada diri sendiri sebagai guru di kelas dalam melakukan perencanaan, peluang sukses anda sebagai guru yang kreatif semakin besar.
  7. Atur interaksi anda dengan murid di kelas. Hindari berusaha akrab dan menjadi teman mereka. Bersikap standar dan profesional saja pada siswa. Saat yang sama habiskan energi anda dalam perencanaan dan penilaian pembelajaran. Siswa akan langsung dekat dan cinta pada tipe guru seperti ini. Saat yang sama tinggalkan sikap standar dan segeralah berubah menjadi guru yang penuh perhatian, jika ada siswa yang perlu dukungan, perlu support karena hal-hal ada hal buruk yang  terjadi diluar dirinya (kondisi di rumah, kondisi orang tua dll).
  8. Terapkan pendekatan saintifik dikelas dalam konteks pembelajaran walaupun hanya 45 menit, apalagi jika bisa diterapkan dalam 4 sampai 6 minggu. kelas akan hidup dan hiruk pikuk oleh keaktifan siswa.

Penjelasan pendekatan saintifik

Jadi tunggu apalagi terapkan hal diatas dan saya yakin kelas anda akan ‘hidup’, atau punya tips lain sepanjang karir anda sebagai pendidik. Silahkan berbagi di kolom komentar.

Guru melek IT sadar profesi.

IMG_8850

IMG_9448

Bukan merupakan hal yang wah saat ini melihat seorang guru mengoperasikan laptop atau melihatnya aktif di media sosial. Dua buah hal yang saat ini menjadi hal yang wajar mengingat kemajuan teknologi. Profesi guru saat ini sadar atau tidak sadar ada di persimpangan jalan. Sebagai sumber pengetahuan perannya disaingi oleh mesin pencari informasi di internet yang akan memberikan informasi apa saja dalam hitungan detik dan bahkan bisa menawarkan alternatif ilmu pengetahuan lewat tayangan gambar bergerak dan lain sebagainya.

Tulisan ini bukan untuk guru yang defensif jika berbicara soal IT sambil keluh kesah soal listrik dan lain sebagainya yang belum menjangkau sekolahnya. Sebagai guru selalu ada hal yang berada di luar jangkauan kita. Soal kemajuan yang jadi tanggung jawab pemerintah misalnya. Sayang sekali jika kita memilih untuk marah besar pada keadaan dan mengkritik dengan pedas kepada orang yang mengabarkan tentang kemajuan dan hal apa yang bisa dilakukan lebih kepada muridnya sebagai orang yang akan menjadi pemimpin masa depan.

Jika diam saja terhadap perkembangan IT, guru akan terlena dan akan terlihat seperti mendiamkan saja potensi yang sangat besar yang bisa dimanfaatkannya untuk bisa lebih memperlancar tugas dan dedikasinya sebagai guru. Potensi yang saya maksud adalah.

1. Jika seorang guru sadar IT maka, ia mengerti sekali tidak akan berlomba dalam bidang skil dengan muridnya karena pasti kalah jauh, ia akan lebih mengedepankan bagaimana mengajari dan memberi contoh muridnya tentang etika di dunia maya.

2. Jika seorang guru sadar IT maka semua muridnya akan punya kesempatan berbicara dan curah pendapat. Seorang anak pendiam dan tertutup pun akan jadi ekspresif dan terbuka jika sudah menggunakan teknologi.
Baca lebih lanjut

Ciri –ciri guru yang memegang kendali atas pembelajarannya di kelas

Guru yang memegang kendali di kelasnya adalah guru yang bisa dengan tenang menjalankan tugasnya dan bisa dengan percaya diri hadir di depan kelas mengajar dengan penuh kreativitas dan perhatian pada muridnya

Berikut ini adalah ciri guru yang memegang kendali terhadap hal yang

Terhadap LKS atau lembar kerja siswa

  • Ia jadi sosok yang bersedia susun soal-soalnya sendiri, ia tidak anti pada buku teks atau LKS buatan orang lain namun kritis dalam menampilkan mana yang terbaik untuk siswanya. LKS adalah petunjuk belajar, semua kata-kata yang ada dalam lembaran adalah cara guru menerangkan tambahan info lewat LKS bukan latihan soal, LKS yg baik bukan cuma berisi latihan soal saja.
  • Bersedia bekerja dalam MGMP sibuk membentuk tim, menyusun sendiri  materi pembelajaran yang terbaik untuk siswa
  • Ia akan jadikan LKS itu sarana utk sampaikan konsep, smntara ‘soal’ itu instrumen utk ukur ketercapaian belajar
  • Ia menganggap LKS dan buku teks, kesemuanya sebenarnya pekerjaan sehari2 seorang guru yg dibukukan

Terhadap orang tua siswa

  • Ia akan terus berinovasi di kelas, tujuannya agar siswa senang belajar dan ortu siswa senang ada perubahan dari anaknya.
  • Ia akan bersinergi dengan ortu siswa, menggunakan cara pandang mereka pada anaknya, yaitu selalu melihat ‘kekuatan’ sambil memperkuat kelemahan
  • Selalu berusaha mengajak ortu siswa berpikir ulang bahwa nilai akhir bukan segalanya, usaha siswa jauh lebih penting
  • Ia berusaha mengajar dengan kreatif dan semampunya, karena ia yakin ortu siswa senang lihat usaha guru anaknya

Terhadap sekolah tempat ia mengajar

  • Menomor satukan budaya sekolah artinya ia akan siap jadi orang yang bersikap positif dan berperasaan positif dalam memandang pekerjaan dan rekan satu profesi di sekolah yg sama.
  • Berusaha jadi orang yang bagus dalam berkomunikasi di sekolah adalah selesaikan dan sampaikan hal pada orang tua siswa sebelum semuanya jadi ‘besar’
  • Bersemangat dalam tiap pelatihan dan program pengembangan guru yang diadakan oleh sekolahnya

Terhadap sesama guru

  • Gemar berbagi ilmu dan berbagi tips pada sesama guru, karena ia sadar bahwa ia bekerja demi siswa dan siswa berhak mendapat pengajaran yang baik dari guru mana saja di sekolah
  • Ia sadar ukuran guru saat ini adalah seberapa bisa ia bekerja sama, memberi inspirasi pada sesama guru
  • Ia melakukan siklus belajar seorang guru; eksplorasi, coba, gagal, coba lagi, sukses, bagikan pada sesama guru
  • Ia memilih dengan selektif pertemanan dengan sesama guru, karena ia sadar dengan siapa ia berteman akan menentukan karir dan cara pandang terhadap dunia pendidikan

Serba serbi penggunaan buku teks di sekolah

Buku teks adalah mitra saat guru mengajar di kelas. Bagi orang tua siswa buku teks adalah sarana untuk mengukur apa yang anaknya lakukan di sekolah. Tidak jarang orang tua siswa berang apabila buku teks yang sudah dibeli dengan harga mahal tidak terisi penuh. Padahal tugas guru bukan mengabdi pada buku teks. Tugas guru yang sebenarnya adalah mengajar dengan startegi belajar yang menarik dan terkini sehingga murid senang belajar bersamanya. Buku teks mesti di kembalikan kepada porsinya yaitu sebagai mitra guru mengajar dan bukan hal yang utama. Banyak buku teks yang bagus namun untuk ajarkan konsep, guru tetap mesti gunakan alat peraga dan bukan sekedar buku teks.

Beberapa tanda bahwa sekolah dan guru terlalu menggantungkan diri pada buku teks adalah;

  • Keputusan soal pemilihan buku teks tidak melibatkan guru, padahal guru adalah orang yang mestinya bertanggung jawab penuh atas pengajaran di kelas.
  • Guru kadang merasa bahwa buku teks terlalu susah untuk diajarkan atau bahkan terlalu mudah bagi murid-muridnya dan kurang menantang bagi siswanya
  • Siswa yang  kritis dan kreatif, biasanya senang jika gurunya tampil kreatif di kelas, dan akan  mengeluh jika cuma diminta kerjakan buku teks, ‘bosan’ katanya.
  • Masuk kelas guru langsung mengatakan, “anak-anak buka dan kerjakan halaman ……” tanpa menerangkan lebih lanjut dan langsung meminta anak-anak menghapal atau mengerjakan halaman yang ditentukan.
  • Saat kurikulum KTSP tematik untuk SD kelas 1-3 diluncurkan oleh diknas di tahun 2006, alih-alih guru jadi bekerja sama untuk membuat unit pembelajaran, yang terjadinya  guru malah cuma ganti buku teks. Hal yang sama bisa saja terjadi di kurikulum tahun 2013

Akibat dari ketergantungan antara guru dan buku teks yang akan dirasakan oleh guru dan sekolah adalah

  • Pembelajaran di sekolah jadi kurang kreatif dan ‘kurang menggigit’ serta sekolah jadi tidak punya ciri khas. Hal ini benar adanya mengingat pembelajaran antara satu sekolah dengan sekolah yang lain akan sama saja jika mereka menggunakan buku teks yang sama
  • Guru jadi manja dan kurang mau bereksplorasi, padahal ciri guru professional adalah ia seorang sosok yang gemar mencari ide baru dan keluar dari pakem yang selama ini ada demi memuaskan rasa ingin tahu siswanya
  • Orang tua siswa akan stress sendiri melihat buku teks yang materinya terkadang sulit dan membuat orang tua siswa kesulitan mengajarkan kepada anaknya.
  • Sekolah akan stress sendiri dikejar-kejar oleh orang tua siswa yang mengukur keberhasilan belajar anaknya bukan dari pemahaman dan perubahan pengetahuan atau sikap namun dari penuh tidaknya buku teks milik anaknya.
  • Siswa akan terlihat bisa mengerjakan sebuah soal di buku teks namun akan kebingungan jika bentuk soalnya diganti
  • Di rumah bersama guru lesnya, siswa akan dilatih untuk mengerjakan soal di buku teks, bahkan melingkari tipis-tipis atau menghapalkan jawabanya duluan untuk kemudian ia akan terlihat bisa mengerjakan ketika ada di kelas

Untuk mengatasi ketergantungan yang tidak sehat guru terhadap buku teks berikut ini adalah hal yang mesti dilakukan oleh sekolah

  • Minta guru untuk berkelompok dan membentuk komite yang menulis sendiri kurikulum (scope and sequence)nya. Bisa mulai dari bidang studi inti seperti ; IPA, IPS, Matematika, Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia.  Dengan demikian guru punya kemampuan untuk menulis sendiri pembelajarannya. Manfaatnya akan terjadi tahap dan kesesuaian dalam setiap tingkatan kelas. Dan di sekolah akan tercipta guru yang kreatif, yang  pandai memodifikasi buku teks, sebab ia tahu pasti kemampuan dan kualitas siswanya sendiri
  • Sekolah mesti adakan pelatihan mengenai startegi belajar mengajar agar guru punya koleksi strategi yang banyak dalam mengajar siswanya.
  • Saat membuat silabus, guru mesti menghindari untuk hanya berpatokan dengn buku teks siswa agar supaya indicator, SK dan KD nya selaras

Saatnya guru jadikan buku teks hanya sebagai salah satu sumber rujukan,sebagai seorang professional  ia tetap punya proyek pembelajaran dengan muridnya. Buku teks bukan kurikulum, buku teks berisi penafsiran pembuatnya terhadap kurikulum, sebagai seorang professional anda juga bisa lho. Kurikulum terbuka untuk ditafsirkan dipetakan saatnya jadikan buku teks sebagai salah satu mitra dan rujukan dalam mengajar.

 

Mental guru yang positif ciri sekolah yang efektif

Guru yang bermental positif itu sulit dicari namun mudah dibentuk. Kebanyakan guru akan memulai niatnya dengan mencari nafkah untuk diri dan keluarganya,sebuah hal yang sangat manusiawi. Dalam perjalanannya sekolah dengan sistem nya akan membentuknya menjadi guru yang bermental seperti apa, apakah guru yang bermental negatif atau positif.

Ada juga guru yang dari sana nya bermental positif, ia menjalani keseharian nya sebagai pengajar dengan mental positif, bebas dari buruk sangka dan mau menang sendiri.

Sebenarnya ciri guru yang bermental positif itu apa saja ya, silakan simak poin di bawah ini

  • mudah diajak kerja sama, baginya semua orang punya keunggulan di bidang masing-masing, saatnya sebagai guru anggap guru yang lain juga punya potensi
  • senang mempertanyakan namun mudah untuk diyakinkan. Demi kemajuan ia senang mempertanyakan sesuatu namun ia mudah diyakinkan jika alasannya masuk akal. Jika yang ia tanyakan belum terwujud ia dengan senang hati membantu
  • menjaga hati-hati harga diri dan perasaan orang lain, dalam bekerja sama ia tidak menganggap diri nya paling benar dan menganggap kesalahan orang lain sebagai ‘kiamat’
  • punya empati pada orang lain, empati berarti memperingatkan orang lain akan potensi kesalahan yang akan ia buat atau membantu se bisa dan semampu yang ia bisa jika ada hal yang menurutnya layak untuk dibenahi.
  • berprasangka baik terhadap seseorang. seperti kata pepatah “Gajah di pelupuk mata tidak terlihat, semut di seberang lautan terlihat” yang artinya kesalahan diri sendiri tidak terlihat, kesalahan orang lain terlihat. Berprasangka baik berarti membuat perasaan kita tidak dalam posisi iri dan dengki terhadap orang lain.
  • Mudah meminta maaf. Ia adalah sosok yang mudah meminta maaf dan menghindari sikap defensif jika terjadi masalah. Bersikap defensif bisa juga diartikan sebagai mau menang sendiri dan merasa benar. Mungkin memang bukan kesalahan kita namun lebih dahulu meminta maaf akan langsung meredakan masalah.

Sekarang apa yang bisa sekolah lakukan agar mempunyai guru yang bermental positif?

  • membuat sistem evaluasi guru yang tidak hanya menekankan pada kemampuan mengajar namun juga sikap guru sebagai individu dalam keseharian
  • meyakinkan semua guru bahwa menjadi guru yang ahli di bidangnya memang bagus namun lebih bagus jika jadi guru yang senang berbagi pengetahuan dan berempati pada sesama guru
  • berkonsentrasi paa budaya kerja. Budaya kerja terbentuk karena pembiasaan, contoh dan pengawasan serta supervisi. Jika sekolah biasa berkonsentrasi pada budaya yang positif maka guru akan merasa bahwa dirinya dihargai karena kontribusi dan bukan karena lama atau seberapa seniornya ia di sekolah tersebut.
  • membuat sistem berbentuk peraturan dan perundangan yang membuat guru selalu bersikap positif dengan membuat ‘code of conduct’ Isinya mengatur apa yang boleh dan tidak boleh guru lakukan kepada sesamanya. Dalam kata, sikap dan perbuatan

Akhirnya sudah saatnya guru bersikap yang sama seperti ia berharap pada muridnya. Jika ia harapkan murid senang berbagi dan bekerja sama, seperti itulah yang mesti ia lakukan pada sesama guru, serta sederet sikap dan karakter positif yang ia inginkan terjadi pada muridnya mesti juga ia terapkan pada rekan nya sesama guru.

Jadi selamat bersikap, bertingkah laku menjadi guru yang positif.

Kurikulum 2013 saatnya sekolah dan guru berubah

Perhatikan jam pelajaran mana yang berubah dan jam pelajarannya

Dalam kurikulum 2013 di sekolah dasar sebenarnya pelajaran IPA dan IPS tetap ada, hanya saja kompetensi dasar kedua mata pelajaran tersebut masuk ke dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Pada awal pemberitaan mengenai dibuatnya kurikulum 2013 beberapa waktu yang lalu, pers mem’blow up’ bahwa pemerintah menghilangkan pelajaran sains pada sekolah dasar, padahal ungkapan yang tepat seharusnya adalah mengintegrasikan.

Kurikulum 2013 benar-benar merupakan penafsiran Diknas terhadap perubahan dunia ke masa depan. Tugas pemerintah memang memberikan arahan lewat kompetensi dasar yang ada di kurikulum 2013, sedangkan tugas guru adalah mengajarkan dengan cara yang kreatif.

Ingatlah kembali dulu saat KTSP pertama kali diterapkan, semua guru terbelalak oleh istilah-istilah yang ruwet, semoga hal itu tidak terjadi di kurikulum 2013. Kini saatnya sekolah-sekolah di Indonesia untuk berproses. Sekolah-sekolah yang punya budaya ‘Komunitas belajar’ akan mampu menghadapi kurikulum 2013 dengan kepala tegak.

Tiap perubahan pasti membawa guncangan, kini saatnya sekolah-sekolah menolong guru-gurunya mengimplementasikan kurikulum 2013 dengan baik. Sekolah sebagai komunitas belajar, akan meminta guru-gurunya untuk mengkaji kurikulum 2013 sekaligus meminta mereka bersikap fleksibel.

Perubahan yang paling mendasar sebenarnya adalah bagaimana cara melatih guru-guru mengaplikasikan kurikulum 2013. Tips dan trik serta strategi cara menggunakan kurikulum 2013 adalah yang lebih diperlukan oleh guru. Bagi guru yang gemar menjadikan buku teks sebagai satu-satunya sumber belajar, maka baginya kurikulum 2013 akan terasa sama maknanya dengan kurikulum-kurikulum sebelumnya.

Kurikulum 2013 terbuka untuk disiasati. Guru perlu belajar mengembangkan kurikulum 2013 dengan cara mengembangkan indikator-indikator yang ada menjadi kegiatan yang bermakna. Hampir pasti bisa ditebak, kegiatan pertama ditahun ajaran disekolah-sekolah adalah mereview standar kompetensi dan kompetensi dasar yang ada di kurikulum 2013.

Kompetensi guru professional adalah gabungan dari empat aspek, yaitu; komunikator, kurikulum, strategi belajar, dan assessment yang jitu. Kelas yang baik bukan cuma dilhat dari urusan kurikulum, sumber belajar, dan fasilitas, tapi juga hubungan antar manusianya. Mengajar sesuai dengan kurikulum memang penting, apalagi jika ditambah dengan guru yang mau melakukan eksplorasi terhadap kurikulum 2013. Kurikulum 2013 berguna sebagai peta, kreativitas guru adalah energy untuk menapakinya.

Tugas guru ajarkan siswa sesuai target kurikulum, sambil mempersiapkan mereka dengan ketrampilan hidup. Kurikulum yang padat membuat guru merasa berharga tapi setelah itu kebingungan sendiri, semoga pada kurikulum 2013 hal itu tidak terjadi lagi. Sekolah yang efektif, memberikan keleluasaan waktu bagi gurunya bersama-sama untuk membedah dan menelaah kurikulum 2013. Jika konten kurikulum terlalu banyak dan menghimpit, guru cenderung kembali ke pola lama, yaitu chalk and talk.

Murid stres bukan karena beban kurikulum, ia stres karena cara komunikasi dan interaksi gurunya. Maka guru harus menganggap kurikulum 2013 itu sebagai kompas, ia memberikan arah apa yang mesti siswa kuasai. Para guru sebaiknya mengatur dan mengelola waktunya dengan efektif, daripada mengeluh tentang kurikulum yang gonta-ganti. Jangan sedikit-sedikit beralasan target kurikulum, sebab siswa juga perlu tahu kenapa mereka mesti belajar hal yang guru ajarkan.

Kurikulum di Indonesia sudah bagus, terlalu bagus malah, tapi bagaimana memprosesnya ketika dikelas itu yang menjadi masalah. Sebenarnya kurikulum ya itu-itu saja, tinggal bagaimana cara guru berusaha agar siswanya paham itulah yang jauh lebih penting. Buat apa target kurikulum tercapai, tapi siswa tidak enjoy yang pada akhirnya guru juga akan merasa kosong.

Guru sering melewatkan banyak moment yang berharga dari siswanya saat mengajar hanya karena mengejar target kurikulum. Padahal tidak ada kurikulum yang berat, yang ada adalah guru yang kurang terampil mengelola waktu. Pada kurikulum 2013 diperlukan guru yang terbiasa berkolaborasi dan bekerja sama, bahkan saat menentukan bahan ajar. Pada kurikulum 2013 diperlukan guru dan sekolah yang mempunyai keahlian meracik kurikulum secara terpimpin dan bertanggung jawab.

 http://wrogz.wordpress.com/2012/12/02/kurikulum-2013/

Artikel ini dikutip dari kumpulan tweet @gurukreatif