10 Resep mengembangkan guru agar mampu menjadi guru yang inovatif

D02hbD6XgAEAX-e

Merekrut guru adalah sebuah seni tersendiri. Proses perekrutan memerlukan kesiapan dari segenap pihak di sekolah untuk mencari orang yang berkarakter, karena skill atau keterampilan bisa dipelajari, sementara karakter adalah hal yang tidak akan bisa ditingkatkan karena merupakan sifat asli.

Proses perekrutan guru sangat berbahaya jika tujuan nya adalah mencari guru yang mau dibayar rendah. Tidak ada yang salah saat sekolah mencari guru yang bisa dibayar minim dikarenakan keuangan yayasan pasti akan aman sentosa. Hal yang tidak disadari adalah dampaknya akan kemana mana. Guru guru akan seperlunya saja berinovasi, keluhan orang tua siswa bahwa guru anaknya berganti ganti itu pasti dikarenakan tingkat turn over yang tinggi.

Dampak lain nya situasi ini akan menciptakan guru yang bertipe pasrah. Guru tipe pasrah adalah guru yang bersedia bertahan karena sudah PW (posisi wuenak) dikarenakan rumahnya dekat, sudah terlanjur akrab sama rekan sekerja sampai sudah malas mencari lowongan di sekolah swasta lain. Tipe guru pasrah dan tipe guru batu loncatan hanya akan membuat sekolah jalan ditempat. Dikarenakan sekolah berisi staf pengajar yang pasrah dan menjadi lupa caranya berinovasi dikarenakan semua perintah inovasi datangnya dari atas.

Dengan demikian jika semua faktor diatas tidak terjadi di sekolah anda, artinya sekolah sudah punya sistem dan standar dalam perekrutan, maka kerja selanjutnya adalah mengembangkan guru hasil perekrutan. Bagaimana cara terbaik mengembangkan guru? Lanjutkan membaca “10 Resep mengembangkan guru agar mampu menjadi guru yang inovatif”

Iklan

4 ciri pendidik yang mengajar dengan hati.

Menjadi pendidik adalah sebuah perjalanan, jika anda berada didalamnya seberapa pun beratnya tugas yang diemban selalu ada perasaan ingin memperbaiki diri demi siswa. Mengajar dengan hati adalah seni dikarenakan tiada rumus pasti dalam menjalankannya. Ijinkan saya memberikan gambaran mengenai aturan bagaimana menjadi pendidik yang mengajar dengan hati.

  1. Berprasangka baiklah dengan semua pihak. Kepada siswa yang diajar, kepada sesama guru, pimpinan sampai orang tua siswa. Berbaik sangka adalah upaya untuk mendahulukan rasa percaya lebih dahulu sebelum menghakimi atau memberikan label negatif. Dengan berbaik sangka akan membuat hidup seorang pendidik jauh lebih ringan tanpa beban dan terhindar dari rasa sensi, dan punya kemampuan dengan jernih melihat semua hal sebagai kesempatan melakukan perubahan demi meningkatkan diri. Dengan berpikiran terbuka dengan mudah ia menjadi suporter nomor satu bagi keberhasilan siswanya, obrolan dengan siswanya isinya adalah dialog yang mencerahkan dan memotivasi.
  2. Membuka diri dan berpikiran terbuka. Setiap kelas punya masalah nya masing masing. Guru yang mengajar dengan hati melihat semua tantangan sebagai cara terbaik untuk menguji cobakan strategi dan metode. Berpikiran terbuka membuat guru santai saja ketika metode atau strategi nya belum berhasil. Ia juga tak segan mencoba hal yang kecil dan sederhana sebagai wujud keinginan nya untuk menghadirkan sesuatu yang baru bagi kelasnya. Hal yang berbahaya adalah jika dari tahun ke tahun guru hanya gunakan strategi yang itu itu saja padahal tantangan kelas yang ia ajar berubah sesuai dengan jaman.
  3. Ia adalah sosok yang cinta pada matpel yang diampu, ia sibuk merencanakan dan membuat administrasi namun juga ingin selalu memberikan kejutan pada siswa. Sebuah kejutan akan menimbulkan rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu ini yang membuat kelas menjadi gaduh karena dinamis, membuat pikiran siswa ingin belajar dan ingin tahu lebih. Sebuah kejutan di kelas yang memancing rasa ingin tahu dimulai dengan aktivitas/eksperimen/percobaan yang matang dalam hal perencanaan. Guru yang piawai dalam merencanakan akan sedikit sekali berceramah dikarenakan ia berada dalam posisi melaksanakan skenario dan bukan sekedar menyampaikan/mentransfer pengetahuan. Tidak heran jika kelasnya sibuk, hidup dan bermakna. Jika itu terjadi. maka guru akan lupa kelelahannya membuat RPP, instrumen penilaian dan semua administrasi pengajaran.
  4. Ia adalah guru yang mumpuni dalam hal pedagogi. Ia sadari perbedaan antara membingungkan dan kompleks. Antara diferensiasi dan pembelajaran yang dipersonalisasi. Antara pembelajaran berbasis proyek, dan belajar melalui proyek. Antara kesulitan dan ketelitian. Dengan demikian kelas nya berisi kegiatan yang beragam, bermakna dan tepat sasaran.

Guru dengan empat ciri diatas tidaklah sulit ditemukan disekitar kita. Ia adalah guru percaya diri yang tak mengeluh bahwa target pembelajarannya tidak sampai saat sekolahnya sedang banyak kegiatan kesiswaan. Ia adalah orang yang selalu senang dan aktif saat ikut pelatihan saat yang sama di media sosial ia aktif berteman dan belajar dengan sesama pendidik.

Silakan pilih satu dari empat hal diatas untuk memulai menjadikan diri sendiri sebagai guru yang mengajar dengan hati.

Jika berkenan mohon berbagi hal apa dari faktor diatas yang sampai saat ini masih menjadi tantangan.

Menimbang format pelaksanaan peningkatan kompetensi guru, antara workshop dan seminar

Kepala sekolah mestinya adalah sosok yang sangat peduli dengan kapasitas guru-gurunya. Dikarenakan semua keberhasilan maupun kegagalan seorang guru akan bermuara kepadanya. Cara yang terbaik dalam meningkatkan kompetensi guru adalah dengan pelatihan dan pendampingan. Kurikulum bisa saja berganti, namun guru lah tetap sebagai sosok pelaksana dan aktor lapangan yang menafsirkan dan melaksanakan.

Untuk itu budaya belajar bagi seorang guru sangat diperlukan. Kepala sekolah perlu membuat budaya belajar menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari seorang guru. Saat ini budaya belajar sangat terdukung oleh kemajua teknologi dan banyaknya sumber belajar.
Pembahasan berikut ini akan membantu anda melihat format apa saja yang bisa sekolah lakukan sebagai organisasi pembelajar demi meningkatkan kompetensi guru-gurunya.

Berikut adalah tabel perbandingannya.

Teknis menulis Jurnal refleksi yang efektif

Saat ini sudah semakin banyak guru guru yang sadar untuk melakukan refleksi terhadap kinerjanya setelah menyelesaikan tugas mengajar di kelas. Hal ini merupakan tanda yang positif mengingat bahwa melakukan refleksi merupakan satu keharusan bagi seorang guru karena kegiatan refleksi akan memberikan dampak yang positif bagi peningkatan kinerja guru.

Namun kegiatan refleksi bukan sebatas menuliskan jurnal refleksi pada RPP yang dibuat guru dan sudah dilaksanakan kegiatan pembelajarannya namun jauh lebih penting adalah bagaimana guru dapat menjadikan catatan refleksi itu sebagai bahan untuk memperbaiki kesalahan atau kekurangan dalam mengajar.

Untuk itu maka guru perlu mengetahui teknik penulisan jurnal refleksi yang efektif. Pada kesempatan ini saya memperkenalkan teknik 4M yang akan memandu guru dalam menuliskan refleksinya. Adapun yang dimaksud 4M adalah bahwa guru mengikuti langkah langkah sebagai berikut.

M1 adalah guru menuliskan laporan secara umum bagaimana kegiatan pembelajaran berlangsung seperti hal positif apa yang terjadi serta bagaimana kegiatan berjalan secara keseluruhan.

M2 adalah guru merespon atau mengungkapkan perasaannya setelah kegiatan belajar terlaksana. Termasuk bagaimana perasaan siswanya.

M3 adalah guru menjelaskan bagian mana yang dirasakan merupakan masalah atau kendala yang dialami oleh siswa ketika mengikuti kegiatan termasuk bagaimana siswa memahami materi. Guru menjabarkan secara detail apa yang menjadi kesulitannya saat memimpin pembelajaran dan kesulitan yang dihadapi siswa.

M4 adalah guru memikirkan rencana tindak lanjut atau hal hal yang akan diperbaiki Jika harus mengajarkan materi yang sama.


Demikianlah tips bagaimana menulis jurnal refleksi untuk guru. Semoga guru guru mau mencoba untuk disiplin dalam melakukan refleksi setelah mengajar dimana salah satu caranya adalah dengan menulis jurnal. Dengan demikian maka kinerja guru dalam mengajar akan menjadi lebih baik.

Untuk para kepala sekolah sebaiknya mendorong dan memastikan guru guru menuliskan jurnal refleksi di RPPnya.

Pentingnya relasi guru dengan siswa sebagai penentu kesuksesan mengajar

Guru di lapangan masih sering kesulitan mendahulukan antara menjadi ‘dekat’ dengan siswa atau berusaha keras membelajarkan siswa (mengajarkan matpel yang menjadi tanggung jawab).

Dekat dengan siswa disini bisa berarti:

1. Peduli
2. Antusias
3. Mengerti
4. Menghormati
5. Percaya
6. Memotivasi
7. Bersedia berusaha ekstra

Faktor diatas perlu dilihat dalam cara pandang sebagai guru abad 21. Karena jika dilihat dalam kacamata pendidik jaman ‘old’ pastinya banyak faktor diatas adalah justru tugas nya siswa kepada gurunya.

Guru mestinya mengusahakan dan mengutamakan kedekatan dan keterlibatan siswa sebagai hal yang utama sementara pencapaian serta hasil prestasi siswa adalah hal kedua. Sebuah hal yang tidak mudah bukan?

Lanjutkan membaca “Pentingnya relasi guru dengan siswa sebagai penentu kesuksesan mengajar”

Teknik membuat siswa mampu bertanya saat pembelajaran.

C6z3YkiWwAECUbZ

Salah satu hal yang ditakutkan oleh seorang siswa selain berbicara di depan umum adalah takut untuk memberikan pertanyaan. Biasanya siswa takut memberikan pertanyaan dikarenakan khawatir disangka mengetes guru sampai khawatir dianggap bodoh. Padahal bertanya adalah inti dari pengetahuan dan tanda bahwa seseorang mau belajar.

Untuk itu guru strategi ini perlu dicoba;

1. Ajarkan pada siswa apa saja jenis pertanyaan. Caranya minta mereka menulis pertanyaan apa saja mengenai topik yang anda ajarkan. Pertanyaan apa saja boleh dan mohon tidak menghakimi mana pertanyaan benar dan salah, namun cukup pastikan bahwa mereka ‘bertanya’ dan bukan memberikan pernyataan.
2. Lalu jelaskan bahwa pertanyaan ada dua jenis, ada terbuka dan tertutup. Pertanyaan terbuka adalah Pertanyaan terbuka adalah pertanyaan yang memerlukan jawaban penuh yang menggunakan pengetahuan atau perasaan subjek itu sendiri. Pertanyaan terbuka bersifat objektif, tidak mengarahkan orang yang ditanyai, dan menghasilkan jawaban yang terdiri dari banyak kata. Sementara pertanyaan tertutup adalah yang membutuhkan jawaban yang pasti.

Lanjutkan membaca “Teknik membuat siswa mampu bertanya saat pembelajaran.”

Hari pertama, minggu pertama dan menit pertama di awal tahun ajaran baru adalah saat terbaik membuat kesepakatan kelas.

5643026_orig

Jika sebuah kelas tanpa diikat oleh kesepakatan maka tugas guru sebagai orang dewasa akan sangat berat dikarenakan dirinya akan menghadapi sifat dan perilaku dari setiap anak di kelasnya yang unik dan berbeda-beda . Setiap individu baik itu siswa dan guru mempunyai hak dan kewajiban yang sama untuk menjadikan kelas (tempat guru mengajar dan murid belajar) menjadi kelas yang kondusif dan mempunyai budaya serta kebiasaan yang positif bagi pembelajaran.

Lanjutkan membaca “Hari pertama, minggu pertama dan menit pertama di awal tahun ajaran baru adalah saat terbaik membuat kesepakatan kelas.”