Model Pembelajaran ‘Problem Based Learning’ sebagai cara guru mengaktifkan siswa

Selama tiga hari saya ada di Bojonegoro untuk bertemu dengan guru dari SMP dan SMA 1 Kalitidu untuk berdiskusi dan belajar bersama mengenai pembelajaran berbasis masalah.

P_20161012_145223

P_20161011_161738

Guru yang hadir adalah guru yang berasal dari mata pelajaran IPA, PAI dan Olah raga. Di awal pelatihan, saya sebagai fasilitator meminta peserta melakukan permainan top of mind, sebuah permainan dimana seseorang diminta mengingat hal apa saja yang paling ia ingat ketika sesorang menyebutkan sebuah hal. Hal yang dimaksud bisa berupa benda, istilah atau nama tempat. Ketika fasilitator menyebutkan Problem Based Learning, peserta diminta untuk menyebutkan kata kata apa yang terlintas. Peserta kemudian menyebutkan kata-kata yang ada hubungannya dengan PBL adalah

Antara lain :
Solusi Masalah, Pendekatan ilmiah, tahapan, fase,  kontekstual, Belajar aktif,  RPP, identifikasi, Pemecahan masalah,  Hasil belajar,  penyelidikan, kontekstual, analisa dan motivasi belajar

Kata-kata diatas sangat penting dalam upaya membuat guru ingat dan dengan gampang menghubungkan dirinya dengan tahapan dalam pembelajara berbasis masalah.

Baca lebih lanjut

4 kiat sukses mengajar di SMP

  Buat saya selalu ada perasaan yang unik ketika berinteraksi dengan guru SMP. Sensasi yang sama saya dapatkan ketika bergaul atau berinteraksi dengan guru TK. 

Ada hal memang yang hampir sama yang berlaku antara guru TK dan guru SMP.

1. Sama-sama kedepankan ‘kesabaran’ dan ‘rasa mengerti’ diatas segala-galanya. 

2. Sama-sama berhadapan dengan anak-anak yang berproses secara kritis menuju tahap selanjutnya.

Dunia anak di umur siswa SMP memang tidak mudah hal ini dikarenakan buat merek rasa yang utama adalah perasaan diterima oleh lingkungan tempat dimana ia berada. Jika anda saat ini sedang mengajar di SMP, berikut ini adalah tips suksesnya

1. Jadilah suporter dan mentor pada saat bersamaan. Siswa anda sedang memerlukan dengan sangat orang dewasa yang bisa berperan seperti itu di sekitar mereka. 

2. Anda boleh mengajar apa saja, namun ingat siswa yang anda ajar adalah siswa umur belasan. Setengah dari skill anda adalah sebagai guru BK atau bimbingan konseling. 

3. Mengajar kelas 7 adalah masa yang paling berat bagi semua guru SMP karena peralihan dari situasi di SD, ikuti tips nomor 1 jika anda ingin berhasil.

4. Di kelas anda akan berhadapan dengan siswi yang sedang mencoba berdandan saat di sekolah. Ijin pada kepala sekolah untuk membuka kelas ‘keputrian’ di sekolah, isinya membahas apa hal yang penting dan seharusnya dilakukan sebagai seorang gadis dari segala sisi. Program keputrian akan sangat berarti bagi siswi yang dirumahnya tidak ada figur yang bisa ia contoh.

Semoga sukses dengan tips diatas, ingat hanya di kelas 9 anda boleh full ngebut dengan aspek akademis, sementara di kelas 7-8, jadikan kelas anda sebagai kelas yang didalamnya siswa merasa ‘dianggap sudah besar’ diberi kepercayaan sambil saat yang sama jadi suporter dan mentor yang kritis untuk mereka. 

Panduan bagi guru baru: Apa yang kepala sekolah inginkan dari guru baru?

Sebagai guru dan karyawan baru, penting kiranya untuk tahu betul apa keinginan kepala sekolahnya. Secara umum ini yang kepala sekolah inginkan dari guru baru.

1. Aktif saat rapat dan datang rapat tepat waktu

2. Bersedia membantu setiap ada event sekolah

3. Hormat pada guru senior sewajarnya.

4. Datang tepat waktu

5. Tidak untung rugi saat diminta kerjakan pekerjaan di sekolah

6. Tertib administrasi

7. Tepat waktu jika diminta mengumpulkan ini dan itu demi keperluan dinas

8. Mau berkomunikasi jika ada masalah di lapangan

9. Selektif saat berakrab akrab dengan sesama guru

10. Bersikap profesional kepada orang tua

11. Berpakaian rapih

12. Bersikap sewajarnya pada anak didik

Dua belas hal diatas sangat baik untuk dilakukan sebagai guru baru. Saatnya guru baru sukses ditahun tahun pertamanya sebagai pendidik!

6 alasan mengapa membuat raport narasi itu sulit

 

gambar raport

Membuat raport narasi? Ah seperti guru TK saja! Begitu kira-kira jawaban yang saya sering dengar dari guru yang mengajar di SD sampai SMA ketika saya berbicara mengenai raport narasi. Raport narasi adalah rapor yang isinya tidak hanya angka namun juga komentar atau narasi guru kepada muridnya.

Sudah bukan jamannya lagi seorang guru di raport hanya menulis ‘pertahankan prestasimu..!’ kepada muridnya yang sebenarnya punya banyak aspek untuk dikomentari dan disemangati. Namun mengapa menjadi tantangan yang sangat besar bagi seorang guru untuk menulis raport narasi? Berikut ini adalah kemungkinan jawabannya

  1. Sekolahnya belum mewajibkan dan menjadikan raport narasi sebagai format pelaporan kepada orang tua siswa
  2. Sekolah tidak tau jenis raport lain selain raport angka yang sudah sangat lama dipakai dan dipergunakan sebagai standar umum
  3. Sekolah sudah pernah ingin menggunakan namun kalah gertak oleh guru yang mengatakan tidak mungkin dan nonsense mengomentari tiap siswa.
  4. Jumlah murid yang guru ajar ada banyak sekali. Satu guru bidang studi bisa saja mengajar 100 lebih siswa.
  5. Guru tidak punya kemampuan ‘mengata-ngatai’ atau membuat komentar terhadap siswanya
  6. Guru merasa akan jadi masalah jika begitu saja memberi komentar pada anak yang berkelakuan buruk dan punya prestasi akademis yang rendah. ‘nanti orang tuanya akan marah besar jika saya tulis komentar yang sesungguhnya di rapor’ begitu pikir sang guru

Hal diatas membuat sekolah makin menjauh untuk menerapkan raport yang ada narasinya. Kenapa? Karena pihak sekolah pun tidak cukup percaya diri dalam menggunakan. Pikir mereka sepanjang pengawas tidak mewajibkan yaaa..buat apa menerapkan. Simak obrolan di grup milik organisasi guru di facebook.

Ini petikan Pedoman Penilaian terbaru SMP: ‘Penilaian sikap dilakukan dengan menggunakan teknik observasi oleh guru mata pelajaran (selama proses pembelajaran pada jam pelajaran), guru bimbingan konseling (BK), dan wali kelas (selama siswa di luar jam pelajaran) yang ditulis dalam buku jurnal (yang selanjutnya disebut jurnal). Jurnal berisi catatan anekdot (anecdotal record), catatan kejadian tertentu (incidental record), dan informasi lain yang valid dan relevan. Jurnal tidak hanya didasarkan pada apa yang dilihat langsung oleh guru, wali kelas, dan guru BK, tetapi juga informasi lain yang relevan dan valid yang diterima dari berbagai sumber. Selain itu, penilaian diri dan penilaian antarteman dapat dilakukan dalam rangka pembinaan dan pembentukan karakter siswa, yang hasilnya dapat dijadikan sebagai salah satu data konfirmasi dari hasil penilaian sikap oleh pendidik.’ SIAP SIAP YA GURU MAPEL DAN WALI KELAS JADI MALAIKAT RAKIB DAN ATID, hahaha .

Komentar diatas sebenarnya adalah jawaban dari artikel saya ini. Kecuali bagian guru menjadi malaikat Rakib dan Atid ya hahahaha. Jika guru ingin mahir membuat  narasi mengenai siswanya ada beberapa data yang mesti ada dan harus dijadikan landasan dalam membuat narasi penilaian kepada siswa, dan ini berlaku untuk semua guru bidang studi apa saja. Baca lebih lanjut

3 cara mengaktifkan siswa yang introvert

6358333374711548401687227426_Introvert-quote

Tugas guru yang utama adalah melejitkan potensi apapun jenis kepribadian muridnya. Sebagai guru ada banyak tantangan yang melingkupi dirinya sebagai seorang profesional. Sayangnya di kelas yang ia ajar isinya tidak melulu siswa yang ‘ideal’. Siswa yang biasanya ideal menurut pandangan guru adalah siswa yang cepat tanggap, antusias, mau bertanya (jika diminta) dan cepat serta teliti dalam bekerja sesuai dengan apa yang guru suruh.

 18758828536_eb383fba17_o

Di kelas manapun di dunia ini isinya bisa dikatakan isinya adalah siswa yang bisa digolongkan sebagai siswa yang cepat belajar, sedang dan yang lambat dalam menerima pembelajaran. Semua itu digolongkan berdasarkan kecepatan belajarnya. Namun sekarang ada lagi hal yang menarik dan bisa dijadikan acuan dalam menggolongkan siswa. Dari diskusi saya dengan banyak pendidik, mereka mulai menggolongkan siswa dari beberapa segi

  • Cara atau gaya belajar; auditori, visual dan kinestetik
  • Tipe kecerdasan atau kecerdasan majemuk

Dan yang akan saya bahas adalah tipe kepribadian introvert dan ekstrovert. Tipe ekstrovert adalah tipe kepribadian terbuka dan senang bersosialisasi sedangkan tipe introvert sebaliknya. Tipe ekstrovert cenderung tidak banyak dikeluhkan guru, sejauh ini yang saya sering dengar adalah guru merasa tipe seperti ini adalah yang mesti diarahkan dalam situasi pembelajaran. Mengingat sifatnya yang ingin segera sampaikan sesuatu jika ia tahu dan senang bersosialisasi sampai membuat kelas menjadi gaduh.

Nah sekarang bagaimana dengan siswa yang bertipe introvert? Berikut ini adalah hal yang kerap dikeluhkan oleh guru mengenai tipe siswa ini

  • Pendiam dan tidak berbicara jika tidak ditanya
  • Sedikit temannya dan cenderung pemilih dalam berteman
  • Hobinya unik dan sering punya pendapat atau hasil karya yang menarik namun cenderung tidak mau mengatakannya di depan kelas

275b369f7cb06a9e0b00242f4fbf3bf8

Dari semua prasangka atau dugaan diatas yang sering terjadi adalah tipe seperti ini sering disangka sebagai tipe siswa yang rendah motivasi dan tidak tertarik pada pelajaran. Padahal tidak demikian. Berikut ini adalah beberapa pengertian mengenai anak tipe introvert yang mungkin bisa membuat anda makin punya solusi dalam tetap mengaktifkan mereka pelajaran anda

  • Pendiam dan tidak berbicara jika tidak ditanya

SOLUSI:

Anak introvert mesti dengan pendekatan satu banding satu. Artinya jika ingin mengajak mereka berbicara lakukan tidak didepan orang lain apalagi di depan satu kelas. Tanya yang umum-umum saja, karena mereka cenderung pemilih jika bicara hal-hal yang sifatnya pribadi dan tidak mudah percaya pada orang lain. Jika anda sedang mengajar dan ingin mereka bicara maka minta mereka menuliskan saja di kertas apa yang mereka rasakan dan pikirkan, dijamin mereka mau berpendapat, jadi hindari meminta mereka berpendapat secara lisan.

  • Sedikit temannya dan cenderung pemilih dalam berteman

SOLUSI

Jangan paksa mereka untuk berteman dengan banyak orang. Jika anda wali kelasnya cukup cek saja, misalnya dengan bertanya, ‘gimana nak. Siapa teman mu di kelas ini?” dengan demikian ia tidak merasa dipaksa untuk bersosialisasi, dan jika belum katakan, ‘ayo berteman dengan siapa saja yang menurutmu asyik diajak bermain”. Tidak menjadi masalah jika seorang anak introvert hanya punya satu saja teman dekat yang selalu bersama.

  • Hobinya unik dan sering punya pendapat atau hasil karya yang menarik namun cenderung tidak mau mengatakannya di depan kelas

SOLUSI:

Apresiasi secara personal apa yang menjadi hobinya, dan hindari menunjukkannya di depan umum atau di depan kelas jika ia belum siap. Arahkan membuat konten online karena dalam dunia online seseorang bisa tetap memamerkan karyanya tanpa mesti menunjukkan identitasnya atau anonim. Jika mesti lakukan pementasan di kelas atau di depan umum bebaskan ia jika ternyata memilih untuk berada di belakang layar. Sebagai guru tugas anda untuk memaksimalkan peran mereka dibelakang layar.

Punya siswa yang introvert bukanlah akhir dari segalanya atau anda malah melupakan kalau mereka ada. Perlu seorang guru yang mengajar dengan hati yang mengerti betul bahwa input siswa di kelasnya beragam dan berasal dari bermacam latar belakang keluarga. Jika bisa mengaktifkan mereka kelas anda akan berubah menjadi kelas yang aktif, kondusif dan siap melejitkan semua tipe kepribadian.

15 Kesalahan Umum Guru Saat melakukan Pembelajaran Kooperatif (berkelompok) – dan Solusinya

9eaca1ff742e5cec4ee50cbcc7a8a387

Menurut banyak penelitian pembelajaran kooperatif sangat baik dalam mengembangkan kemampuan sosial dan dengan cepat meningkatkan pengetahuan siswa, namun dalam pelaksanaannya ternyata tidak mudah untuk dilaksanakan karena guru sering melakukan kesalahan sebagai berikut:

1. Ukuran kelompok terlalu besar
Dibutuhkan banyak keterampilan bagi siswa untuk mengelola kelompok dengan anggota 4 orang atau lebih. Sebaliknya, menjaga ukuran kelompok kecil: 2 atau 3 adalah yang terbaik.

2. Siswa tidak mempersiapkan diri (dan dipersiapkan) untuk bekerja dalam kelompok (kooperatif).
Jelaskan kepada siswa mengapa Anda sebagai guru menggunakan pembelajaran kooperatif, lakukan aktivitas pembelajaran kooperatif singkat atau simulasi, kemudian minta mereka menjelaskan ulang dan lakukan sampai mereka jelas.

3. Tidak membekali siswa keterampilan berinteraksi antar sesamanya.
Penting bagi seorang guru untuk meminta siswa untuk berkontribusi pada kelompoknya dengan perilaku yang sesuai dan dianjurkan oleh guru . Contoh: fokus pada tugas, bersedia menyumbangkan ide, membantu orang lain untuk belajar, mendorong semua orang berpartisipasi, mendengarkan orang lain, menghormati orang lain. Guru mesti menuliskan didepan kelas daftar perilaku yang diinginkan

4. Siswa dibiarkan memilih kelompok mereka sendiri.
Kita sendiri sebagai orang dewasa akan memilih teman-teman kita sendiri untuk bekerjasama jika diberi pilihan. Padahal siswa perlu mengembangkan hubungan kerja yang positif dengan semua anggota kelas tanpa terkecuali. Lakukan penetapan secara acak dengan siapa siswa mendapatkan teman untuk kelompoknya.

5. Tidak melakukan kegiatan bekerja sama cukup sering bagi siswa untuk mengembangkan keterampilan bekerja sama .
Mintalah siswa melakukan sesuatu teknik pembelajaran kooperatif di setiap sesi kelas untuk memperkuat kebiasaan bekerjasama yang positif. Minimal terbiasa untuk berbagi apa yang mereka ketahui lewat diskusi dengan teman yang ada di sebelahnya.

image212525202525281252529

6. Tidak merencanakan pelajaran kooperatif dengan hati-hati.
Banyak guru bingung melakukan pembelajaran dengan kelompok atau menggunakan prinsip pembelajaran kooperatif. Mereka sudah menempatkan siswa dalam kelompok, memberitahusiswa untuk bekerja sama, dan ujung-ujungnya bertanya-tanya mengapa pembelajaran dengan kelompok di kelasnya tidak berhasil. Padahal pembelajaran kooperatif mesti memiliki lima unsur penting (saling ketergantungan positif, tanggung jawab individu, promotif interaksi tatap muka, keterampilan sosial dan pengolahan informasi) mesti diterapkan dengan hati-hati ke dalam setiap pelajaran untuk mengajar para siswa untuk belajar dengan baik secara bersama-sama. Guru mesti tidak kenal menyerah dan mau terus mencoba Baca lebih lanjut

6 langkah sukses guru melakukan pembelajaran kooperatif

resize

Pembelajaran dengan bekerja sama  ada dalam lingkup pembelajaran dengan berkolaborasi atau simpelnya disebut dengan ‘pembelajaran berkelompok’. Dalam tipe pembelajaran seperti ini, guru mesti menyiapkan penugasan yang terstruktur dan dalam kelompok yang kecil. Mengapa dalam kelompok kecil? (5 paling banyak) Hal ini dikarenakan siswa jadi lebih mudah untuk berbagi kekuatan, mengembangkan keterampilan interpersonal dan yang terpenting belajar menangani konflik.

13034faea6b2ef5a4fc389cb2e460f24

Baca lebih lanjut