Memberdayakan (empowerment) atau melibatkan (engaging) siswa di kelas? mana yang lebih penting.

25165a515b6edf392226b9973c88dda8

 

“Bapak sih cara mengajarnya enak, tidak seperti guru saya yang sekarang, kami disuruh kerjakan tugas terus. Ngajar kami lagi dong paak..”

Siapa yang tak ‘meleleh’ hatinya jika mantan murid berkata demikian. Dari hasil refleksi saya pribadi, jika guru tidak hati hati ada ‘jebakan Batman’ dibalik pernyataan siswa diatas. Apakah itu?

1. Bisa disimpulkan bahwa keberhasilan guru saat mengajar lebih pada berhasil ‘menghibur’ siswa.
2. ‎Sudah merupakan fitrahnya bahwa siswa senang diajak bersenang senang. Senang pada guru yang asyik saat bercerita dan menyenangkan saat berbicara.
3. Guru masih menempatkan siswa nya sebagai pembelajar yang pasif dan belum menempatkan siswanya sebagai sosok yang bisa diberdayakan sesuai umur dan tingkatan perkembangan.
4. Guru masih membiarkan siswanya dalan zona nyaman dengan cara ‘menyuapi’ dengan materi pembelajaran dan belum menempatkan siswa sebagai sosok yang sebenarnya bisa menunjukkan hal/materi yang ia kuasai dengan cara yang berbeda.

DEc8pwaV0AEGtDu

Tidak ada yang salah dengan pernyataan diatas. Bahkan banyak sekolah yang secara rutin membuat ajang pemilihan guru favorit tiap tahun, yang menumbuh suburkan pernyataan diatas.

Tentu kita semua sebagai pendidik setuju bahwa sebagai guru mestinya kita berikan apa yang siswa butuhkan dan bukan yang siswa inginkan. Hal yang siswa inginkan adalah ‘having fun always’ dan guru merasa tak enak hati jika kurang jadi sosok yang menyenangkan. Lanjutkan membaca “Memberdayakan (empowerment) atau melibatkan (engaging) siswa di kelas? mana yang lebih penting.”

Iklan

Keseimbangan antara aspek akademis dan pembinaan karakter adalah kunci sekolah menjadi unggul dan inovatif.

IMG_4509

Sekolah yang berniat menjadi sekolah yang unggul dan inovatif mesti sudah bisa mengatakan dirinya selesai (move on) pada hal yang sifatnya kecil-kecil (remeh temeh). Masalah kedisiplinan, kerapihan seragam, motivasi siswa serta semua bentuk masalah kedisiplinan khas siswa adalah hal yang bisa saja dianggap ‘kecil’. Kecil jika dibandingkan dengan tantangan masa depan yang berat dan penuh tantangan di abad 21 ini. Kedisiplinan guru juga mesti dianggap kecil oleh kepala sekolah yang dirinya fokus pada pengembangan sekolahnya, dikarenakan ia punya segudang cara untuk menundukkan guru yang bermasalah.

Jika sekolah masih dipusingkan oleh hal yang kecil, membuat sekolah menjadi tidak fokus mempersiapkan siswa. Saatnya kerja bersama semua pihak di sekolah dalam mengentaskan hal tersebut dengan kepemimpinan kepala sekolah yang menggunakan tipe kepemimpinan Pedagogical leadership dijamin pasti berdampak pada perubahan kinerja siswa dan guru.

Lanjutkan membaca “Keseimbangan antara aspek akademis dan pembinaan karakter adalah kunci sekolah menjadi unggul dan inovatif.”

Membungkus inovasi di sekolah dengan ‘branding’

CONTOH INOVASI SEKOLAH

Di sekolah sebuah inovasi diposisikan menjadi jawaban atau pemecahan sebuah masalah. Jika sekolah mempraktekkan asas inovasi dengan benar maka sebuah ancaman malah akan menjadi peluang. Sebuah inovasi hanya bisa lahir dari sebuah organisasi pembelajar yang berkomitmen bersama. Saat ini bukan saatnya lagi bahwa kepala sekolah adalah asal semua ide. Keberhasilan sebuah inovasi lahir karena team work antara semua pihak yang ada di sekolah , rasa percaya serta visi yang sama diantara semua pelaksana.

Sebuah Inovasi yang baik datang dari guru/warga sekolah itu sendiri, dengan maksud untuk menjawab kebutuhan atau penyelesaian masalah dengan menerapkan prinsip replikasi (ringan mudah ditiru) serta ditinjau secara berkala menggunakan prinsip POAC (Planning, Organizing, Actuating, and Controlling). Dengan demikian sekolah membiasakan dirinya untuk ‘Speak with data’, dengan cara sekolah melakukan audit internal dengan melibatkan team audit internal sekolah yang ditunjuk oleh kepala sekolah (terdiri dari guru senior dan orang yang dianggap mampu) untuk mengaudit program dan bukan melakukan audit terhadap orang per orang.

36C4ED70-AA39-6CB8-42D4-6D445C88527F

Aspek branding bisa membuat perubahan di sekolah menjadi lebih mudah dan cepat. Dengan cara memberikan penamaan yang menarik pada program-program inovasi sederhana yang berbasis sekolah yang dibuat demi menjawab kebutuhan penyelesaian masalah di sekolah.  Lanjutkan membaca “Membungkus inovasi di sekolah dengan ‘branding’”

Resep guru agar nyaman, betah dan loyal mengajar di sekolah (2)

Image result for teachers edchatMembuat guru betah di sebuah sekolah swasta adalah tugas dari kepala sekolah. Seorang guru yang betah mengajar akan menghasilkan kinerja yang baik dan kesenangan pada profesinya. Secara singkat sekolah yang baik memerlukan guru yang merasa dirinya dibutuhkan oleh sekolah tempat ia mengajar dengan cara yang wajar dan win win situation.

Pada banyak kesempatan ada sekolah yang sangat bersemangat untuk mempertahankan guru-gurunya dengan cara

1. membelikannya seragam aneka rupa dan aneka ragam.
2. Mengajak guru bersenang-senang di akhir semester dan tahun ajaran.
3. Memberikan fasilitas ini dan itu.
4. Memberikan bonus akhir tahun yang lumayan.
5. Membuatkan koperasi demi kesejahteraan guru
6. Memberikan perumahan.
7. Menaikkan gaji tiap tahun ajaran (sesuai dengan inflasi)

Sayangnya ujian dari itu semua adalah pada saat pemerintah daerah setempat membuka lowongan CPNS. Ada sekolah yang sampai kekurangan guru saat mendadak pemda setempat ada lowongan CPNS. Adalah hak setiap guru untuk menurutkan keinginan hati demi kesejahteraan yang lebih baik. Pertanyaannya sekarang kenapa lowongan CPNS bisa menggerus jumlah guru di sekolah swasta yang dengan susah payah berjuang agar gurunya betah? Lanjutkan membaca “Resep guru agar nyaman, betah dan loyal mengajar di sekolah (2)”

Kepemimpinan kepala sekolah sebagai syarat mutlak penciptaan sekolah yang inovatif

Image result for boss leader edchat

Tulisan kali ini mengenai sosok kepala sekolah. Kepala sekolah terbukti menjadi ujung tombak perubahan sebuah sekolah menjadi lebih baik. Semua pendidik yang pernah mengajar di sekolah pasti bisa menceritakan sosok kepala sekolah yang inspiratif yang pernah dirasakan kepemimpinannya.

Dalam hadapi tantangan pendidikan saat ini diperlukan pemimpin yang bertipe ‘pemimpin dan bukan sekedar seorang boss’. Keduanya mensyaratkan hal yang berbeda. Dalam kepemimpinan sebuah sekolah memang dimungkinkan seorang pemimpin berperan sebagai manager. Ciri manager adalah memastikan semuanya dilakukan dengan benar. Sebaliknya ada lagi tipe pemimpin yang lebih memastikan bahwa semuanya   dilakukan dengan arah yang benar.

Berbahaya sekali jika sebuah sekolah dipimpin oleh seseorang yang belum menjadikan aspek kepemimpinan oleh bos, maka ini yang akan terjadi:

1. Guru jadi takut ambil inisiatif, takut kepala sekolah tidak setuju, semuanya mesti apa kata kepala sekolah. Lanjutkan membaca “Kepemimpinan kepala sekolah sebagai syarat mutlak penciptaan sekolah yang inovatif”

Image result for teaching edchatKarakter anak zaman ‘now’sudah sangat berbeda dengan karakter kita saat masih bersekolah dahulu. Adapun karakteristik dari siswa kita saat ini adalah

  1. Menyukai tantangan
  2. Menyukai gratifikasi instan alias ketika mengerjakan sesuatu ingin segera dapat hasil

Dua hal diatas adalah hal yang ada hubungannya dengan proses pmbelajaran di kelas. Nah kebanyakan dari kita masih melakukan semuanya secara konvensional. Misalnya saat ada ulangan. Siswa perlu waktu seminggu untuk mengetahui hasilnya. Padahal saat mereka main gadget atau main game di smartphone, hasilnya bisa mereka ketahui langsung. Dan mereka bisa mulai lagi tanpa ada rasa takut gagal. Sementara sistem pendidikan dan pembelajaran kita masih bergantung 100 persen ke guru sebagai pengatur laku. Nah hal inilah yang menurut saya bertentangan antara sistem pembelajaran dan karakteristik siswa saat ini.

Padahal untuk bisa kalahkan tantangan abad 21 seseorang mesti punya karakter

  1. Pemecah masalah dan berpikir kritis
  2. Mampu berkolaborasi dengan orang lain dan pandai memimpin
  3. Mampu dengan cepat beradaptasi
  4. Punya inisiatif dan kewirausahaan
  5. Mampu dengan cepat mengakses dan menganalisa
  6. Punya rasa ingin tahu dan imajinasi

Penting bagi seorang guru untuk punya kemampuan dalam menumbuhkan hal diatas. Kuncinya adalah dengan memasukkannya kedalam proses pembelajaran. Banyak saya jumpai guru yang menemukan siswanya yang tidak punya motivasi dikarenakan penyebab diluar sekolah (faktor keluarga dan lain sebagainya) malah ikut larut dalam masalah siswanya. Saat yang sama lupa untuk meningkatkan mutu dari proses belajar mengajarnya di kelas. Padahal motivasi internal hanya bisa tumbuh dan ditumbuhkan lewat proses belajar mengajar yang baik. Ada 19 cara untuk memunculkan motivasi siswa kita Lanjutkan membaca “”

Apakah anda seorang guru yang pembelajar? temukan cirinya disini

“To become a teacher isn’t just to begin teaching it’s also to set off on a new journey with your own learning”

Menjadi seorang guru bukan soal mengajar saja, namun bersiaplah untuk memulai petualangan/perjalanan anda sendiri sebagai seorang pembelajar.

“A good teacher can inspire hope, ignite the imagination, and instill a love of learning”

“Seorang guru yang baik bisa menginspirasi harapan, menyalakan imajinasi, dan menanamkan cinta belajar”

“A teacher’s enthusiasm for learning is infectious. It’s a good bug to catch!”

“Antusias seorang guru untuk belajar menular. Ini adalah peluang yang bagus untuk ditangkap! “

“Don’t be the teacher people are waiting ro retire. Always be learning new things”

“Jangan menjadi guru yang hanya menunggu untuk menjadi pensiun. Selalulah belajar hal baru “

Lanjutkan membaca “Apakah anda seorang guru yang pembelajar? temukan cirinya disini”