8 peran kepala sekolah yang berhasil

012a00c909b3284f1d1cb5e0f35802df

Saat mengarahkan perubahan di sekolah, seorang kepala sekolah mesti punya kemampuan memimpin (lead) dan bukan sekedar kemampuan mengelola (manage). Manajemen sekolah yang menjadi bawahannya langsung pun adalah juga sekelompok orang yang mesti punya kemampuan memimpin dan menjadi follower (pengikut yang supportif).

Peran kepemimpinan seperti apa yang kepala sekolah mesti miliki dalam menghadapi tantangan abad 21 ini?

Baca lebih lanjut

8 sinyal sebuah sekolah perlu perubahan

CFPe1A2WMAAOp4U

Saat ini hampir semua sekolah sudah terdapat keinginan untuk lakukan perubahan, hanya saja masing masing sekolah punya tantangan sendiri-sendiri. Ada cara mudah untuk mengenali apakah sebuah sekolah mengalami kemandekan dan apakah perlu mereka untuk lakukan perubahan.

  1. Cek proses pembelajarannya di kelas, jika masih satu arah dan pembelajarannya tidak menarik (misalnya masih berpusat pada guru) pertanda sekolah sedang alami kemandekan.
  2. Perpustakaan, lab serta ruang pendukung kelimuan lain jarang digunakan, koleksinya ada namunn terkunci atau tidak tersentuh. Hal ini dikarenakan gurunya tidak mengerti bagaimana menggunakan dan memakainya.
  3. Rapat jarang diadakan atau hanya ada pada saat penentuan kenaikan kelas saja. Rapat menjadi hal yang jarang dilakukan, karena kepala sekolah hanya melakukan instruksi langsung kepada yang berkepentingan dan tidak melakukan rapat sebagai sarana menyatukan langkah dan melakukan update kemajuan
  4. Suara siswa jarang didengar. Suara siswa yang dimaksud adalah pendapat mereka melalui forum osis, akan sangat menarik jika secara rutin sekolah mendengarkan suara siswanya. Dipastikan semua aturan dan kebijakan akan tepat sasaran.
  5. Tidak ada keterlibatan dari orang tua siswa. Orang tua siswa dibiarkan tak terjamah dan dengan cepat diberi cap tidak peduli pada anaknya. Padahal orang tua perlu dididik juga lewat beragam acara dan kesempatan agar bisa tunjukkan support positif nya bagi sekolah.
  6. Displin kelas dan disiplin sekolah sama sama tidak mempunyai arah dan tujuan. Kelas alami jam kosong secara rutin dikarenakan komitmen kehadiran guru yang rendah. Disiplin di kelas juga tidak bernuansa positif dikarenakan kelas dipimpin oleh guru yang tidak mempunyai skill dalam mendisiplinkan siswa secara positf
  7. Sekolah punya aturan yang berlaku umum untuk semua siswa  namun hanya segelintir guru yang menegakkan. Guru akhirnya menjelma jadi sosok sosok yang punya gaya disiplinnya sendiri sendiri. Hal ini sangat berbahaya dikarenakan tidak adanya standar kedisplinan yang sama diantara guru.
  8. Sekolah berjalan tanpa adanya ekskul. Energi siswa tidak disalurkan dalam bentuk kegiatan setelah pulang sekolah yang bermakna dan memberikan dampak yang maksimal pada siswa saat belajar di kelas .

Baca lebih lanjut

Dokumen ‘Action Plan’ sebagai dokumen pencatat perubahan di sekolah

Action-Planning-1

Mengapa Action plan penting dalam pengembangan sekolah?

sekolah dapat mendapatkan persepsi masyarakat akan isu dan solusi potensial.
Sekolah bisa melibatkan partisipasi yang inklusif dan terpadu di seluruh bagian pengembangan sekolah.
Sekolah secara bersama bisa membangun konsensus tentang apa yang bisa dan harus dilakukan.
Sekolah bisa memformulasikan cara konkret di mana setiap bagian di sekolah dapat mengambil tindakan.

Baca lebih lanjut

3 tips jadikan sekolah anda semarak sekaligus efektif

Cvw7qxcVIAAW6GyJika mendengar kata semarak yang ada di bayangan adalah sekolah yang sibuk dan banyak acara ini dan itu. Sementara jika mendengar kata efektif adalah semua halterencana terkoordinasi dan bermakna.

Ambil contoh ilustrasi berikut ini

Sebuah sekolah adakan acara field trip atau acara dimana siswa berkunjung dan belajar diluar kelas. Dari jauh hari guru sudah persiapkan dikarenakan ini kegiatan yang mesti ada tiap semester. Orang tua siswa dikabari dan diajak berembuk. Anggaran disusun, guru menulis proposal dan sekolah mengeluarkan uang untuk kegiatan berdasar proposal. Hari H berlangsung, siswa pergi dan belajar di luar kelas. Sepulang dari kegiatan guru diminta menyusun pertanggungjawaban Keuangan dan menulis artikel untuk news letter sekolah yang rutin terbit. Orang tua siswa senang dikarenakan anaknya bisa bervariasi kegiatannya di sekolah.

Bayangkan ilustrasi diatas, sepertinya semua berlangsung dengan efektif dan jika secara rutin dilakukan sekolah akan terasa semarak.

Namun jika ditelisik lebih jauh ada beberapa faktor yang tidak tampak dipermukaan dan akan berpeluang untuk menimbulkan ketidak efektifan dalam pelaksanaan. Apa saja kah faktor Itu?

  1. Jika sekolah tidak menempatkan tanggal field trip dalam calender akademis. Guru cenderung mempersiapkannya dengan mendadak.
  2. Proposal yang guru ajukan formatnya tidak didefinisikan. Sehingga proposal kegiatan seringnya malah dikembalikan oleh pihak sekolah dan tujuan kegiatan kebanyakan mesti guru sendiri yang menjelaskan kepada pihak sekolah melalui kepala sekolah. Kebanyakan guru agak segan menjelaskan panjang lebar, maunya mereka sekolah langsung begitu saja menyetujui.
  3. Sekolah tidak punya middle management, atau kepemimpinan level menengah, dengan demikian di dalam tiap kegiatan akan berpeluang konflik antara guru sebagai pelaksana dan kepala sekolah atau yayasan sebagai pengambil keputusan. Middle management sangat berguna di sekolah salah satunya sebagai penengah antara guru yang ‘berkeringat’ di lapangan dan para pengambil keputusan. Middle management adalah kepala department atau faculty di Sekolah menengah atau koordinator kelas di sekolah dasar. Guru sebagai pelaksana sering merasa kecewa jika ada hal yang tidak dipenuhi, mengingat semua yang dilakukan semata demi siswa. Di sisi lain para pengambil keputusan sering kurang mampu menjelaskan dikarenakan urusan yang banyak. Perlu penengah dalam hal ini yang bisa memfasilitasi.
  4. Sekolah tidak punya sistem keuangan yang sehat, ada tata usaha atau admin yang membantu guru dalam pelaksanaan, namun uang turun untuk kegiatan mepet menjelang acara. Hal ini dikarenakan sekolah tidak punya perencanaan anggaran yang sehat dan terencana.

Baca lebih lanjut

Strategi penegakan disiplin di SMP dan SMA

Saya Setuju dengan anda bahwa tidak ada anak yang nakal, namun mungkin latar belakang tertentu yang membuat mereka menjadi seperti itu.
saya adalah guru BK di salah satu MTs Swasta yang mana dalam Yayasan juga terdapat pondok pesantrennya, di sekolah putra dan putri dipisah kelas dan gedung, namun perilaku anak didik di sini sangat memprihatinkan, baik putra maupun putri. saya tau banyak faktor yang mempengaruhi perilaku mereka, namun ketika saya mencoba untuk membantu dan memperhatikan mereka mereka merasa enggan, dan mengatai saya yang tidak tidak padahal itu kan tugas saya sebagai guru BK. Namun ada juga yang menganggap saya seperti teman sendiri, dan akhirnya malah mereka jika berbicara tidak ada sopan santunnya layaknya dengan guru lain padahal saya memperlakukan mereka tidak jauh berbeda dengan guru lain. Dan lebih parahnya lagi tidak hanya perkataan mereka namun sikap dan perbuatan mereka juga seperti itu. Ketika saya nasehati saya dibilang cerewet dll. Ketika saya tidak berkomentar atau berkomentar seperlunyapun mereka masih marah-marah. Saya pernah memakai metode dari yang paling kalem sampai yang sedikit kasar tetap tidak ada perubahan. dari hukuman sampai memanggil wali murid, dan reward bagi yang berperilaku baik, namun tetap belum ada perubahan.
Menurut anda bagaimana solusi terbaiknya..?
Terimasih!!

BehaviourIsCommunication-3 (1)

Tulisan menarik dari salah satu pembaca blog ini dikolom komentar. Perasaan yang sama mungkin juga sedang anda alami sebagai guru. Perasaan dimana sepertinya guru sulit membina disiplin dan karakter siswa.

Tulisan ini akan memberikan gambaran bagaimana sebaiknya melakukan pengaturan perilaku siswa utamanya di usia belasan. Peneliti Johns Hopkins University Gary D. Gottfredson dan Denise C. Gottfredson pernah menganalisis data dari lebih dari 600 sekolah menengah di Amerika, mereka menemukan bahwa masalah yang dialami sekolah terkait dengan masalah disiplin disebabkan oleh:

  • Aturan tidak jelas atau dianggap sebagai tidak adil dan tidak konsisten ditegakkan
  • siswa tidak percaya pada aturan
  • guru dan manajemen sekolah sering tidak tersosialisasikan dengan baik mengenai peraturan kedisplinan atau kebanyakan tidak setuju pada respons yang tepat mengatasi kesalahan siswa
  • kerjasama guru dan manajemen sekolah kurang atau tidak aktif
  • guru cenderung memiliki sikap menghukum; kesalahan diabaikan; dan sekolah yang jumlah muridnya besar atau kekurangan sumber daya yang memadai untuk mengajar (dikutip dalam Gottfredson 1989).

Bagaimana sekolah bisa menurunkan perilaku ketidak disiplinan siswa ?

  • Pertama, aturan dan konsekuensi dari melanggar mereka harus jelas ditentukan dan dikomunikasikan kepada staf, siswa, dan orang tua dengan cara seperti newsletter, OSIS, dan buku pegangan. Meyers dan Pawlas (1989) merekomendasikan secara berkala meninjau ulang aturan, setiap dua tahun ajaran.
  • Setelah aturan telah dikomunikasikan, penegakan adil dan konsisten membantu menjaga rasa hormat siswa terhadap sistem disiplin sekolah.
  • Sekolah menyediakan proses sidang bagi siswa jika ada hal pelanggaran serius terhadap aturan sekolah untuk memberikan versi cerita dan membangun proses pencarian fakta juga akan meningkatkan persepsi siswa dan orang tua siswa akan keadilan terhadap proses penegakan disiplin.

Kebijakan disiplin harus membedakan antara kategori pelanggaran. pelanggaran kecil dapat diselesaikan secara fleksibel, tergantung pada keadaan, sementara konsekuensi karena pelanggaran serius mesti diatur oleh sekolah dengan sebaik baiknya. Tingkatan nya bahkan bisa berujung kepada pemecatan siswa atau melibatkan aparat hukum.

Dengan upaya bersama dan meyeluruh dari seluruh komponen sekolah dalam rangka penegakan aturan dan disiplin, diharapkan tidak ada lagi guru yang merasa lelah jiwa raga (burn out) dalam mengelola perilaku siswa. Hal ini dikarenakan sekolah mengatur dan melindungi siswa dan guru dalam menegakkan disiplin. Tanpa aturan yang disepakati bersama, penegakan disiplin hanya akan membuat masing masing pihak mengambil jalan sendiri-sendiri. Orang tua siswa akan membalas perilaku guru kepada anaknya, guru akan cenderung menghukum atau masa bodoh pada perilaku siswa sementara siswa akan selalu mengambil celah dari aturan yang ditetapkan.

4 tips melibatkan kepala sekolah, guru dan siswa sebagai ‘marketing’ sekolah

Ketika suatu sekolah sudah berdiri dan berjalan selebihnya adalah di tangan pelaksana lapangan yaitu kepsek dan guru.. Sebagai marketing terbesar..karena output merupakan “bukti real” pelayanan

Dari Bu Julima di kolom komentar blog ini

 

C6UPMRxXQAAj92X

Kata kata diatas sangat menarik jika dilekatkan pada bagaimana sekolah memasarkan dirinya. Saatnya semua staff di sekolah jadi orang yang dengan sadar memasarkan sekolahnya. Tugas utama kepala sekolah dan guru di sekolah adalah mendidik dan mengajar siswa. Namun dalam kaitannya dengan memasarkan sekolah, semua pihak mesti bahu membahu. Orang tua siswa suka sekali dengan cerita yang otentik mengenai sebuah sekolah. Apa yang guru dan kepala sekolah ceritakan mengenai sekolahnya bisa saja dikatakan sebagai usaha untuk mempengaruhi namun konsumen sekarang bisa bedakan mana cerita asli autentik atau cerita yang dibuat dalam rangka promosi.

Baca lebih lanjut

​6 Tips melakukan seleksi kepala sekolah dari internal sekolah

Artikel ini hanya akan relevan dalam lingkup Sekolah swasta. Di sebuah sekolah swasta yang  mapan, akan banyak tersedia guru guru yang masa mengajarnya cukup lama dan mumpuni. Apalagi jika sekolah Itu sehat bisa membayar dengan pantas gaji guru yang bekerja di dalamnya. Biasanya ada banyak guru yang bertahan mengajar bahkan sejak sekolah itu berdiri. 
Lalu datanglah saat sekolah memerlukan pemimpin baru dikarenakan pemimpin lama pensiun atau pindah memimpin di sekolah lain. Jika yayasan ingin memilih kepala sekolah dari dalam ini tipsnya.

  1. Pilih guru yang punya masa kerja lebih dari 5 tahun. Masa kerja penting untuk mengukur kesetiaan.
  2. Berikan waktu 2 minggu untuk masa pendaftaran. Menjadi kepala sekolah adalah keputusan yang besar dalam hidup seorang guru yang begitu mencintai kelas dan murid yang ia ajar. Kandidat juga perlu meyakinkan orang terdekat bahwa keputusan yang ia ambil Benar.
  3. Lakukan wawancara semua kandidat, sekolah mungkin punya kandidat namun sekolah wajib mewawancarai semua orang yang berminat. Waktu wawancara paling lama 1 jam.
  4. Gender bisa guru pria atau guru wanita, semua punya hak yang sama. Kecuali jika sekolah anda beranggapan lain.
  5. Pilih yang rekam jejaknya baik, ia adalah sosok yang bisa menempatkan diri. Jika ia masih terhitung muda perhatikan cara ia bergaul dan menempatkan diri. Apakah ia bisa bersinar karena menginjak orang lain? Jangan pilih anak muda yang pintar dan bagus cara mengajarnya namun bersedia korbankan orang lain demi kecemerlangannya. Hindari juga memilih guru senior yang cakap dalam bekerja namun ‘batu’ dalam sifat dan cara berpikir. 
  6. Silakan pilih orang yang ambisius. Tinggal  pertimbangkan, apakah ambisinya demi kemaslahatan bersama atau sekedar demi kepentingannya pribadi.

Memilih kepala sekolah dari ‘dalam’, bukan berarti sekolah meniadakan aspek publikasi. Pasang iklan secara internal dan eksternal. Secara internal sekolah bisa umumkan lewat email internal, atau simpel saja, print tempel atau bagikan pada semua guru. Secara eksternal pasang iklan di situs lowongan kerja online atau surat kabar. Biarkan mereka yang berminat berpikir bahwa ini   kompetisi yang adil dan terbuka.