7 Nilai lebih guru bertipe kepribadian Introvert

Apa yang dimaksud dengan introvert? Introvert adalah jenis kepribadian yang cenderung lebih fokus kepada perasaan dan pikiran yang berasal dari dalam diri.

Apakah anda sebagai guru punya ciri dibawah ini?

  1. Panas dingin saat acara ambil raport tiba, dikarenakan akan bertemu dengan orang tua siswa.
  2. Tahun ajaran baru deg degan dengan jenis orang tua apa yang akan menjadi mitra selama satu tahun ajaran kedepan
  3. Panas dingin ketika diminta berbicara depan rapat besar.

Jika iya selamat anda adalah guru bertipe introvert.

Tiga hal diatas adalah bukti bahwa sebagai guru, karier anda terus bertumbuh. Rasa tidak enak, deg degan datang karena anda sedang masuk ke hal yang baru. Bayangkan jika seorang guru dalam karirnya tidak ada tantangan, maka yang terjadi ia akan masuk ke zona nyaman dan tidak mau mencoba hal baru.

Namun sadar bahwa diri anda adalah guru bertipe kepribadian introvert juga merupakan hal yang penting dikarenakan titik tolak kesuksesan seorang pendidik datang dari mengerti dengan baik perihal lebih dan kurang dirinya sebagai pribadi.

Saat yang sama jangan sedih dahulu karena sebagai guru yang introvert anda punya kelebihan lho

  1. Sangat baik dalam berbicara dengan orang tua siswa (one on one) alias bicara dari hati ke hati. kemampuan ini sangat khas kaum introvert ia mudah dekat dan akrab dengan orang perorang.
  2. Punya kemampuan yang baik dalam mengolah anak anak yang introverts
  3. Punya kemampuan yang baik dalam menelaah perasaan siswa anda
  4. Anda bukan guru yang pemalu. Menyebut diri anda sendiri sebagai pemalu adalah sebuah kesalahan besar, karena anda adalah seseorang yang penuh empati, senang berperan sebagai penghubung, dan sosok yang fleksibel yang analitis dan kreatif.
  5. Sosok pendengar yang baik, yang suka mendengarkan sebelum berbicara, dan seringkali memiliki ide terbaik setelah ngobrol ngalor ngidul
  6. Gemar memperhatikan anak-anak yang berkeliaran tanpa pengawasan saat di sekolah, dan para introvert juga yang seringnya berempati melihat kolega yang membutuhkan dukungan ekstra.
  7. Senang memberi perhatian yang detail dan menyenangkan. Karena guru bertipe ini memberikan penghargaan dengan memberi perhatian.

Menjadi guru yang introvert adalah sebuah kelebihan dan keberuntungan. Mereka adalah sosok yang tenang, gemar berintrospeksi, dan menyukai hubungan mendalam dan sebaliknya malah kelelahan oleh interaksi sosial yang berlebihan.

Dikarenakan udara sekolah menjadi tambah lengkap dan segar ketika anda hadir dengan empati dan rasa perhatian pada siswa dan rekan sekerja.
Anda mungkin tampak kikuk di keramaian namun saat sudah terlibat dengan obrolan dengan seseorang anda akan menjelma menjadi orang yang menarik dan enak dijadikan rekan diskusi.

Orang tua siswa pun senang karena punya guru bagi anaknya yang perhatian dan memberikan perhatian pada saat yang tepat dan dibutuhkan. Nah dalam mendidik generasi Z saat ini, dunia pendidikan bergantung dan mengharapkan konstribusi dari para guru yang introvert ini.

Resep sukses menjadi guru profesional dan berkarakter di era 4.0

Saat saya tidak punya judul untuk ditulis. Saya biasa melihat judul judul seminar yang ada di google. Alhasil judul tulisan kali ini seperti judul seminar bukan? Menjadi guru profesional adalah sebuah perjalanan. Dikarenakan ia memerlukan karakter baik yang menjadi energi sukses mencapai tujuan. Apa saja tipsnya? silakan dicermati sesuai judul diatas.

  1. Jadikan mengajar sebagai misi anda. Akan ada bedanya sesorang yang menjadikan mengajar sebagai misi dan seseorang yang menjadikan profesi mengajar sebagai murni pekerjaan sekedar cari uang. Apa misi anda? mendidik anak bangsa kah atau membuat siswa punya daya saing di masa depan. Hanya anda yang tahu. Hal yang pasti harus sebuah hal yang positif dan terhubung dengan masa depan anak didik. Buat brand anda sendiri di media sosial sebagai guru profesional. Caranya hati hati saat bermedsos dan bagikan hal yang sudah pasti bermanfaat bagi orang lain saja.
  2. Refleksikan kembali bagaimana cara anda melalui hari hari sulit anda dalam berkarier. Hari hari sulit yang saya maksud bisa macam macam. Dari diomeli oleh orang tua siswa sampai mendapatkan siswa yang bermasalah dengan perilaku. Percayalah bahwa cara anda mengendalikan pikiran dan perasaan adalah yang paling penting. Fokus pada apa yang bisa anda bisa kontrol dan segera cari bantuan agar masalah anda lekas selesai.
  3. Perlahan mengubah karakter diri sendiri. Miliki tujuan dalam karier dan arahkan kesana semua daya dan upaya. Namun semua upaya anda dalam mewujudkan karakter diri akan percuma saat bertemu dengan orang yang toksik. Ciri mereka adalah: Membuat kita merasa bersalah. Manipulatif. Tak pernah meminta maaf. Tidak konsisten. Selalu menciptakan drama.
  4. Bagaimana cara menghindarinya? Putuskan percakapan. Berani katakan ‘Tidak’. Abaikan. Pergi saat mereka bahas topik negatif. Jika ia adalah atasan anda buang semua perkataannya dari pikiran anda dan lanjutkan hidup. Jangan Biarkan mereka memengaruhi anda secara emosional. Jangan terlalu banyak memberi penjelasan kepada orang tipe toksik.
  5. Hadapi tantangan. Jalani hari hari dimana semua terasa sulit. Tabah saat menghadapi apapun yang ada didepan jalan yang sedang ditempuh demi kebaikan. Mundur sedikit tak apa untuk kemudian maju dengan pesat dengan ilmu dan perspektif yang baru.
  6. Menerima kritik. Segera cari apa yang bisa dilakukan dengan saran yang diterima. Jadikan masukan sebagai tangga menuju pencapaian berikutnya. Menempatkan sekolah dan siswa di atas diri sendiri. Terobsesi untuk mencari solusi pada masalah belajar mengajar dan menjadi guru profesional, bukan masalah pribadi.
  7. Hati hati dan pandai memilih teman. Hindari menjadikan sesama guru yang hanya berorientasi materi dan sedang alami kelelahan jiwa (burn out) sebagai teman. Ciri cirinya adalah orang tersebut apatis, selalu berburuk sangka pada keadaan serta frustasi. Ingat pikiran dan perilaku jelek akan menular.
  8. Perilaku siswa tidak ada hubungannya dengan pribadi atau harga diri anda. Bersikaplah tenang saat siswa ada yang bermasalah dengan perilaku. Pelajari dan cari tahu dari guru guru yang pernah mengajarnya agar anda dapatkan resep dalam menimbulkan sisi baik anak tersebut.
  9. Perhatikan penampilan. Terlalu modis juga jangan. Pastikan bahwa orang lain nyaman berada didekat anda. Mari berpenampilan profesional saat yang sama juga tetap enak dilihat dan sesuai dengan di tingkat apa anda mengajar.
  10. Bersikap waspada dan hati hati saat di keramaian dan saat bersama dengan orang lain di tempat umum di sekolah. Bisa di ruang guru atau dalam acara di sekolah. Lakukan observasi terlebih dahulu sebelum mengambil tindakan. Amati kebiasaan dan cara orang orang yang ada di sekitar anda agar tidak salah langkah. Hindari memonopoli barang atau alat kerja milik bersama.
  11. Stop membandingkan diri dengan orang lain. Guru yang lain akan terlihat lebih sukses kalau yang dibandingkan adalah masa kerja atau jabatan. Bandingkan diri anda dalam kaca mata inovasi. Jika anda terbiasa berinovasi maka orang lain akan melihat kinerja dan pencapaian yang anda berikan pada sekolah dan bukan siapa anda dan sudah berapa lama anda mengajar.
  12. Pintar memotivasi diri sendiri. Saat anda kelelahan dan tidak punya motivasi. Ingat ingat murid anda di masa lalu yang karena anda sikap dan perilakunya sudah berbeda atau bahkan menjadi orang yang berhasil. Syukuri bahwa anda adalah bagian dari sebuah keberhasilan orang yang anda didik.

Pekerjaan seorang guru sebenarnya sangat simpel. Ada prinsip Mark (nilai), Plan (rencanakan) dan Teach (ajarkan). Ketiga prinsip tadi yang anda harus terus latih, poles dan refleksikan terus sudah sebaik apa anda melakukannya.

Cara terbaik adalah gunakan teknologi, kerjakan hal yang sulit dahulu dengan relaks dan fokus. Pahami diri anda sendiri dan punya ukuran khusus diri anda sendiri mengenai sosok guru yang sukses dalam mendidik dan terbuka untuk masukan dari siapapun. Dijamin anda akan menjadi guru yang profesional dan berkarakter. Selamat mencoba

3 Solusi sukses mengajar kelas secara bersamaan (online dan offline)

Hampir semua guru saat ini diminta untuk mengajar kelas online dan offline secara bersamaan. Situasinya adalah separuh siswa menghadiri kelas secara langsung dan secara virtual. Guru di kelas secara susah payah berusaha memenuhi kebutuhan siswa di kelas dan online secara bersamaan. Guru sering merasa bersalah karena mereka tahu satu kelompok siswa lebih banyak menyita waktu dan perhatian. Seringkali, siswa di kelas memonopoli waktu dan perhatian guru karena mereka dapat mengajukan pertanyaan secara langsung.

Permasalahan yang sering timbul

1. Bagaimana mengelola pembelajaran dalam dua situasi. Pembelajaran luring dengan siswa yang ada di sekolah dan daring dengan siswa yang ada di rumah

2. Membagi perhatian kepada siswa secara bersamaan

3. Siswa yang kurang perhatian dan tidak tertarik

4. Waktu yang tidak cukup dalam melakukan kegiatan pembelajaran dengan siswa (dalam grup dan individu)

Berikut ini adalah solusinya:

Solusi dalam merencanakan pembelajaran. (untuk waktu silahkan disesuaikan)

Guru membagi waktu selama jam pelajaran dengan pembagian sebagai berikut. 1. Pembukaan pembelajaran dengan quiz singkat atau pemaparan materi 15 menit.

2. Dilanjutkan dengan 15-30 menit guru melakukan teknik Present-Pause-Discuss. Tiga tahap yang berarti guru menerangkan (present), guru berhenti menerangkan dengan mengecek pemahaman (pause). Dilanjutkan dengan guru mendiskusikan materi pembelajaran (discuss).

3. 15- 20 menit guru memberikan pemaparan materi dan memberikan kesempatan siswa untuk mengerjakan dengan bimbingan. Siswa boleh bertanya dan guru memberikan konsultasi.Siswa juga diberikan kesempatan untuk mengerjakan secara mandiri.

4. Selama 15-20 menit. Guru dalam mengatur apakah siswa bekerja dalam kelompok yang ditentukan oleh uru berdasarkan kemampuan, campuran (agar siswa bisa belajar dari rekannya) atau grup yang sudah ditentukan untuk sebuah project tertentu.

5. Melakukan 5 menit refleksi pembelajaran dengan bertanya pada siswa. Guru bisa bertanya Apa 3 poin yang kamu ambil dari pelajaran hari ini? Apa hal yang masih kamu ingin pelajari ? Bagaimana kamu menceritakan pelajaran hari ini dengan teman mu yang tidak masuk?

Solusi mengaktifkan siswa.

1. Menggunakan teknik mengajar siswa dalam kelompok. Buat 3 kelompok. Ditiap kelompok siapkan penugasan bagi siswa. Lalu lakukan rotasi tiap 10 menit atau sesuai waktu yang anda miliki. Persiapkan dengan baik dan variasikan tugas tiap kelompok. Siapkan pekerjaan bagi siswa yang selesai lebih cepat.

2. Guru membuat video atau mengambil video yang cocok di youtube. Video berisi penjelasan guru mengenai materi pembelajaran. Lakukan penjelasan dahulu sebelum meminta siswa memutar video. Berikan siswa waktu untuk melihat dan mencermati video. Setelah itu lakukan kegiatan pasca siswa menonton video. Gunakan grouping seperti di point sebelumnya.

3. Guru memberikan semacam menu (playlist) yang berisi urutan perintah kegiatan pembelajaran yang bisa siswa akses dan lakukan secara mandiri. Guru menyediakan urutan kegiatan yang berisi aktivitas pembelajaran yang beragam dari awal hingga akhir. Dengan demikian siswa tetap sibuk dan terkendali oleh guru.

4. Menggunakan papan pilihan atau hyperdocs. Manfaat Papan Pilihan: Siswa senang saat diminta memilih akan mengerjakan tugas yang mana dulu. Siswa melakukan tugas yang berbeda beda. Siswa belajar dengan kecepatan mereka sendiri. Guru dengan rileks memonitor siswa dan bisa dengan santai berdiskusi dengan siswa.

Solusi membuat siswa mau bertanya dan mendapatkan jawaban selama pembelajaran.

1. Lakukan strategi ‘3 before me’, atau bertanya kepada 3 hal/orang sebelum bertanya kepada guru. Langkah pertama: Minta siswa bertanya dahulu kepada Google atau melakukan pencarian jawaban mereka secara online. Langkah kedua : mencari jawaban lewat tutorial video YouTube. Langkah ketiga: bertanya pada teman sekelas (yang sedang online di rumah atau teman yang ada di kelas. Bagaimana jika belum juga ditemukan jawabannya? baru bertanya pada guru.

2. Jika siswa masih belum menemukan jawaban. Siswa bisa menggunakan aplikasi seperti Padlet, google forms atau ClassroomQ untuk bertanya agar guru dan siswa lain bisa membantu menjawabnya.

Situasi saat ini memerlukan guru yang senang mencoba dan belajar dari pengalaman yang ia lalui. Guru kreatif memaknai teknologi hanya sebagai alat. Dalam diri guru kreatif sudah lekat dengan keinginan untuk selalu menghadirkan pengalaman belajar bermakna bagi anak didiknya.

Selamat mencoba.

47Amalya, Iha Ikha and 45 others10 Comments20 SharesLikeCommentShare

Exit ticket : sebuah cara mengakhiri kelas dengan sukses

Seorang guru dalam mengakhiri kelas yang menjadi tanggung jawabnya mesti punya cara dan taktik. Alih alih siswa yang jika ditanyakan ‘apakah ada pertanyaan?’ pasti akan menjawab tidak ada. Ada istilah exit ticket yang berarti tiket yang guru berikan kepada siswa saat ia akan keluar dari kelas.

Saatnya guru mempunyai cara untuk membuat siswanya berpikir mengenai materi atau kegiatan yang ia ajarkan. Dibawah ini adalah pertanyaan yang bisa memandu guru dalam bertanya kepada siswa saat mengakhiri kelas yang ia ampu.

  1. Apa kata atau istilah baru yang kamu baru dengar hari ini?
  2. Sebutkan satu hal yang akan kamu ubah atau tambahkan dari pelajaran hari ini?
  3. Apa yang kamu rasakan dari pelajaran hari ini?
  4. Jika kita semua akan melakukan kuis di pertemuan berikutnya, apa hal yang kamu ingin lakukan/persiapkan?
  5. Bagaimana kamu akan menceritakan pelajaran hari ini kepada teman sekelas yang tidak hadir?
  6. Apa bagian favorit mu dari pelajaran hari ini?
  7. Apa yang mengejutkan mu tentang kelas hari ini?
  8. Hal apa yang kamu inginkan saya sebagai guru untuk mengubah di kelas ?
  9. Jika kamu diminta memberikan tambahan pertanyaan pada kuis hari ini, pertanyaan apa yang akan kamu tambahkan?
  10. Bagaimana cara mu membantu teman sekelas yang masih belum mengerti pelajaran hari ini?
  11. Sebutkan satu hal yang ingin kamu pelajari lebih lanjut?
  12. Apa bagian termudah dari pelajaran di kelas hari ini?
  13. Bagaimana pelajaran hari ini berhubungan dengan pelajaran sebelumnya?
  14. Menurut mu pelajaran selanjutnya akan membahas apa?
  15. Apa bagian tersulit dari kelas hari ini?

Diharapkan dengan guru mempunyai tehnik bertanya seperti diatas. Maka siswa akan keluar ruangan dengan niat dan pertanyaan baru dibenaknya. Guru pun akan lebih siap dalam mengajar di kelas dan kesempatan berikutnya dikarenakan mendapatkan umpan balik dari siswa.

Penilaian formatif tipe tanpa teknologi dan menggunakan teknologi. Mana yang cocok untuk anda?

Penilaian Formatif mengacu pada proses berkelanjutan yang dilakukan siswa dan guru ketika mereka:

  1. Fokus pada tujuan pembelajaran.
  2. Mengambil tolak ukur dan mencatat di mana hasil pekerjaan siswa saat ini dalam kaitannya dengan tujuan akhir pembelajaran.
  3. Mengambil tindakan yang diperlukan untuk bergerak lebih dekat ke tujuan pembelajaran.

Ada dua cara dalam melakukan Penilaian Formatif. Ada dengan teknologi yang minim serta teknologi Jarak Jauh yang dapat mempermudah pengumpulan data terkait Penilaian Formatif.

Penilaian formatif minim teknologi.

Berikut ini cara berteknologi rendah yang berbeda untuk mengukur pemahaman siswa:

  1. Pemeriksaan Siswa Individu-Ini bisa sangat bagus tidak hanya untuk penilaian formatif tetapi juga untuk kondisi sosial-emosional siswa .
  2. Breakout room-Penilaian formatif dapat memberi tahu kita banyak tentang apa yang siswa pahami tentang pembelajaran dan mana yang dilakukan. Sekarang dengan breakout room kelompok di Zoom, Teams, dan Google Meet, Anda tidak hanya dapat mengidentifikasi apa yang dibutuhkan siswa, tetapi juga memberikan lebih banyak instruksi langsung kepada kelompok yang lebih kecil.
  3. Tiket Masuk/Keluar-Memiliki form sederhana yang dapat Anda minta agar siswa menjelaskan apa yang mereka pelajari hari itu atau pembelajaran apa yang masih mengalami kesulitan dapat menjadi alat yang berharga dalam pembelajaran jarak jauh.
    Ide Tiket Masuk
    – Identifikasi 3 poin yang Anda ingat dari pelajaran kemarin
    – Hal yang paling menarik minat saya tentang topik ini sejauh ini adalah__
    – Saat ini saya merasa _ tentang pelajaran ini karena saya __
    Ide Tiket Keluar
    – Apa 3 poin yang Anda ambil dari pelajaran hari ini?
    – Apa 3 hal yang masih kamu ragukan?
    – Apa yang Anda harapkan untuk dipelajari dalam pelajaran kita berikutnya?

Penilaian formatif dengan menggunakan teknologi.

Plickers adalah alat pembelajaran gratis, dapat diakses, dan menarik yang digunakan oleh jutaan guru di seluruh dunia untuk menilai siswa mereka dan mengumpulkan hasil secara instan di kelas. Sebagai guru, Anda akan memiliki akses ke akun Plickers gratis.

Padlet. Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengumpulkan tanggapan individu terhadap sebuah pertanyaan, mengurutkannya ke dalam kategori, dan membuat representasi dari kurasi yang kemudian dapat dibagikan kepada siswa? Padlet dapat menyelesaikan tugas seperti itu dalam waktu kurang dari satu menit! Siswa dapat mengetik tanggapan mereka (secara anonim atau terkait dengan nama mereka) untuk sebuah pertanyaan atau prompt, yang kemudian muncul di Padlet (papan buletin virtual). Guru dapat memperbarui tampilan secara real-time dan mencari masukan siswa untuk mengkategorikan tanggapan atau menunjukkan hubungan.

Tiktok. Sesuai untuk siswa sekolah menengah (yang mungkin sudah mengunduh aplikasi populer di perangkat seluler mereka), guru dapat menugaskan siswa untuk membuat video TikTok berdurasi 60 detik atau kurang untuk menunjukkan pemahaman mereka. Siswa dapat membuat simulasi, sandiwara, analogi, atau ilustrasi pada aplikasi serbaguna dan mudah digunakan ini.

Formative, yang juga dikenal sebagai GoFormative, adalah alat berbasis web yang memungkinkan guru membuat penilaian, tugas, atau tugas formatif digital yang mudah diakses dari perangkat elektronik apa pun: laptop, tablet, atau smartphone

Poll Everywhere adalah layanan online yang memungkinkan guru mengajukan pertanyaan kepada siswanya. Siswa menjawab pertanyaan menggunakan ponsel, Twitter, atau browser web mereka. Baik pertanyaan maupun tanggapan siswa ditampilkan secara langsung di Keynote, PowerPoint, dan/atau di web.

Socrative adalah sistem respons siswa berbasis cloud yang dikembangkan pada tahun 2010 oleh siswa sekolah pascasarjana yang berbasis di Boston. Hal ini memungkinkan guru untuk membuat kuis sederhana yang dapat dilakukan siswa dengan cepat di laptop – atau, lebih sering, melalui komputer tablet kelas atau ponsel cerdas mereka sendiri

Nearpod adalah alat online yang memungkinkan guru menggunakan pengajaran berbasis slide baik di kelas maupun dari jarak jauh (hybrid). Guru dapat membuat banyak sumber belajar interaktif berbeda yang memungkinkan siswa untuk terlibat dan belajar melalui perangkat mereka atau satu layar di dalam ruangan

9 cara mengembalikan motivasi siswa pasca belajar di rumah.

Ada dua tipe motivasi siswa yang wajib guru ketahui. Motivasi dari dalam dan dari luar. Motivasi dari dalam (intrinsik) didefinisikan sebagai siswa tergerak untuk bertindak untuk kesenangan dirinya atau tantangan daripada karena dihargai guru atau diberikan iming iming hadiah. Sementara motivasi dari luar (ekstrinsik) adalah ketika siswa menunjukkan perilaku positif karena penyebab luar seperti menghindari hukuman atau menerima hadiah. Walaupun demikian terkadang motivasi intrinsik dan ekstrinsik pada siswa dapat bekerja sama untuk membantu menyelesaikan tugas.

Sudah banyak penelitian yang membuktikan bahwa motivasi dari dalamlah yang akan membuat siswa menjadi orang yang sukses dan mandiri di masa depan. Lalu apa peran guru dalam menumbuhkan tipe motivasi tersebut?. Guru memang bukan tukang sulap dan sihir. Hal yang dapat dilakukan guru adalah menciptakan lingkungan dimana tumbuh motivasi siswa dalam belajar di sekolah dengan kesadaran dan suka rela. Tentu bukan perkara yang mudah apalagi pasca hampir 2 tahun siswa belajar di rumah.

Berikut ini adalah cara yang bisa anda lakukan dalam menumbuhkan motivasi siswa.

1. Aktivitas pembelajaran yang beragam. Pembelajaran yang pasif atau membuat siswa duduk diam lama mendengarkan adalah cara terbaik untuk membuat siswa bosan dan berpikir untuk kembali belajar online. Variasikan metode belajar anda. Dijamin siswa akan merasa bahwa dirinya diterima untuk belajar kembali dengan cara yang fun bersama anda sebagai gurunya.

2. Lakukan gamifikasi. Gamifikasi adalah menambahkan mekanisme permainan (ada skor, ada kelompok dan ada penghargaan) ke dalam lingkungan belajar untuk meningkatkan partisipasi siswa. Tujuan gamification adalah untuk menginspirasi siswa berkolaborasi, berbagi, dan berinteraksi.

3. Guru memberikan instruksi yang jelas. Membuat pembelajaran yang menarik tanpa instruksi yang terstruktur dan jelas hanya akan membuat siswa kebingungan. Untuk itu tantang mereka dengan pembelajaran yang menarik dan dengan instruksi yang jelas dan bertahap.

4. Berikan umpan balik dan bukan sekedar nilai. Sebuah angka nilai kurang memberikan dampak. Umpan balik serta saran konstruktif dari guru lah yang akan memperbaiki mutu pekerjaan siswa.

5. Buat skenario pembelajaran berbasis proyek. Pembelajaran berbasis proyek akan membuat pembelajaran menjadi autentik. Hasil karya siswa tak akan sama dan menantang siswa senang untuk tampil berkarya sebaik yang ia bisa.

6. Rayakan pencapaian siswa. Merayakan sesuatu tidak harus dengan makan bersama. Bisa saja dengan menyebut nama siswa yang berubah makin baik sikapnya. Siswa yang mengumpulkan tugas tepat waktu disebut namanya keras keras di depan kelas sambil diberikan pujian.

7. Percaya pada kemampuan siswa. Berikan motivasi dan penguatan serta afirmasi positif. Siswa yang sering diberikan penguatan akan senang berbagi pengetahuan sesama rekannya. Meminta siswa berpresentasi di depan kelas akan membuatnya timbul rasa percaya bahwa dirinya adalah sosok yang bisa diandalkan.

8. Kenali siswa dan ingat namanya. Apalagi jika ini saat pertama mereka masuk kelas dan mengenal anda sebagai gurunya. Sebuah kelas bukan sebuah panggung untuk guru saja. Berikan kesempatan siswa untuk bersosialisasi sesamanya dengan cara yang sopan dan bebas tekanan.

9. Buat kelas anda menyenangkan. Sampaikan selalu kepada siswa anda lewat bahasa lisan dan tulisan bahwa kelas anda adalah kelas yang menyenangkan bagi semua yang ada didalamnya. Semua punya kesempatan untuk maju dengan positif lewat caranya masing masing.

Menerima siswa kita kembali masuk sekolah adalah bagaikan menerima titipan harta yang paling berharga dari Tuhan. Rencanakan semua kegiatan agar siswa merasa bahwa guru gurunya telah berubah.

Dari yang dulunya hanya minta didengar menjadi suka mendengarkan secara aktif. Dari yang tadinya senang memberikan tugas banyak banyak tanpa dinilai menjadi guru yang memberikan pembelajaran lewat proyek yang menarik untuk dikerjakan karena diberikan umpan balik demi perbaikan.

Saatnya guru tidak lagi mempertanyakan motivasi siswa. Justru dirinya lah yang punya tanggung jawab untuk membuat lingkungan dimana siswa senang belajar dan merasa diterima.

7 pertimbangan dalam memfasilitasi prinsip ‘merdeka belajar’ di era pembelajaran campuran (Blended learning)

Prinsip merdeka belajar dalam penerapannya berarti unit pendidikan yaitu sekolah, guru-guru dan muridnya punya kebebasan. Kebebasan untuk berinovasi, kebebasan untuk belajar dengan mandiri dan kreatif. Dalam upayanya prinsip merdeka belajar mempunyai tantangan baru yaitu bagaimana menyelaraskannya dengan prinsip pembelajaran campuran (Blended learning).

Berikut adalah tujuh hal yang mesti dipertimbangkan dalam menyelaraskan prinsip merdeka belajar dan pembelajaran campuran.

1. Siswa. Guru yang profesional sudah punya pemetaan siswanya. Bisa pemetaan gaya belajar sampai kecepatan belajar. Siswa senang belajar dikarenakan ia merasa menemukan penugasan yang sesuai dengan kapasitas dirinya. Tidak lain dikarenakan guru sudah mempunyai data siswa dengan lengkap. Siswa juga merasa didengar dikarenakan guru selalu meminta umpan baliknya (feedback) di akhir pembelajaran. Secara rutin ia juga diminta mengisi self assessment atau penilaian terhadap diri sendiri.

2.Proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Guru memberikan siswanya fleksibilitas dalam pemberian tugas. Dari segi waktu, pengerjaan dan hasil akhir. Guru membuat goal setting atau merencanakan tujuan akhir pembelajaran bersama dengan siswa.

  1. Penyelarasan dengan assessment nasional. Asesmen Nasional.
    Berbasis Komputer (ANBK) adalah program penilaian terhadap mutu setiap sekolah. Mutu satuan pendidikan dinilai berdasarkan hasil. Prinsip merdeka belajar jika dikaitkan dengan ANBK ini maka menjadi tugas sekolah untuk bersama sama semua pihak menaikkan standar bersama sama agar hasil pemetaan nya positif. Sekolah mempunyai program untuk melakukan perbaikan sambil terus berinovasi.

4. Manajemen sekolah. Dari sisi manajemen sekolah mesti sadar tugas fungsi bagaimana mengelola 8 standar nasional pendidikan agar lingkungan belajar yang ada bisa menjawab tantangan era digital learning. Manajemen sekolah memfasilitasi guru agar dibekali metode dan keterampilan terkini. Diperlukan kemampuan kewirausahaan (berinovasi) dari manajemen sekolah agar bisa sukses menyelaraskan antara merdeka belajar dan pembelajaran campuran.

5. Kurikulum. Untuk mensukseskan merdeka belajar dari segi kurikulum, sekolah diharapkan untuk tidak lagi kaku. Sekolah punya keleluasaan dalam mengembangkan kurikulum yang dikerjakan oleh tim gurunya. Hal ini agar sekolah punya kurikulum yang punya target yang jelas dan kekinian. Pilihan terbaik ada pada Project Based Learning atau pembelajaran berbasis proyek.

6. Sistem penilaian siswa. Sistem penilaian proses belajar hasil siswa yang dimodifikasi. Sekolah tidak bisa lagi kaku dalam menilai. Apalagi hanya menyasar siswanya saat menilai. Tanpa guru itu sendiri berefleksi mengenai penugasan yang ia berikan. Guru bertanya pada diri sendiri. Apakah penilaian ini mengenai hasil akhir atau prosesnya? Apakah pendapat siswa diperhatikan (feedback) mengenai mutu penugasan yang diberikan?

7. Peran komunitas sekolah. Apakah orang tua siswa di sekolah anda mengetahui perubahan ini? Seberapa besar mereka terinformasikan mengenai arah kebijakan terbaru dari Kementrian. Support dan pendampingan apa yang bisa diharapkan dari orang tua siswa. Apakah komite sekolah masih cukup efektif dalam mewujudkan tujuan pendidikan dan membantu sekolah dalam berinovasi?

Tujuh hal diatas hanya bisa terjadi pada sebuah sekolah dimana guru dan manajemen sekolahnya terbuka pada saran dan masukan. Saat ini semua visi di sekolah mesti disesuaikan kembali dengan tantangan merdeka belajar dan pembelajaran digital. Semua elemen pemangku kepentingan di sekolah mesti duduk bersama dalam menulis kembali arah pengembangan sekolah.

The goal of innovation is not how to change education , but how education can change the world . Tujuan dari sebuah inovasi bukanlah bagaimana mengubah sebuah sistem pendidikan, tetapi bagaimana agar pendidikan itu sendiri dapat mengubah dunia

5 cara me’restart’ sekolah dan cara mengajar dalam menghadapi tantangan perubahan.

Apakah HP anda pernah ‘ngelag’? Itilah ngelag adalah bahasa murid kita sekarang ketika mereka main game dan game tersebut lambat/kurang responsif saat dimainkan. Jika mengalami hal seperti itu yang saya lakukan biasanya adalah merestart gawai saya.

Jika anda adalah guru atau kepala sekolah. Apa yang akan anda lakukan jika sekolah atau kelas anda ‘melambat’ kinerjanya?

Prof. Clayton Christensen, pencipta teori disrupsi, pada tahun 2014 memberikan prediksi : “50% dari seluruh universitas di AS akan bangkrut dalam 10-15 tahun ke depan.” Penyebabnya, karena universitas-universitas itu terdisrupsi oleh beragam terobosan inovasi seperti online learning dan MOOCs (Massive Online Open Courses). Pandemi yang sedang dialami dunia ternyata mempercepat ramalan ahli tersebut.

Pakar dan lembaga think tank global tersebut menjadi wake-up call bagi stakeholders pendidikan kita. Bahwa kalau dunia pendidikan dikelola dengan cara-cara yang BAU (business as usual) pada akhirnya akan menjadi obsolete (usang), tak relevan, dan akhirnya melapuk.

Mari melihat situasi dunia persekolahan kita saat ini. Selalu ada kekhawatiran namun ada juga optimisme. Apa yang membuat khawatir? Ada learning loss (Kehilangan Pembelajaran). Hal lain yang dikhawatirkan adalah menurunnya disiplin siswa karena lama tidak tersentuh oleh aturan. keduanya adalah akibat berhentinya pembelajaran tatap muka.

Hal apa yang masih membuat tetap optimis? kerja sama guru dan orang tua yang erat karena keharusan orang tua jadi guru anaknya di rumah. Guru guru yang makin terampil gunakan teknologi untuk mengajar jarak jauh. Dari grup whatsapp sampai menggunakan Learning Management System semacam kelas virtual.

Sekarang mari gabungkan keduanya. Demi untuk ‘merestart’ sekolah atau kelas anda. Berikut adalah lima caranya:

  1. jika anda adalah pemimpin di unit anda (kepala sekolah dll) tempatkan diri anda sebagai pembelajar. Pemimpin yang sejati tidak malu mengakui dirinya tidak tahu. Ia bahkan tampil mensupport bawahannya untuk lebih maju. Pemimpin tidak khawatir kehilangan pamor dan wibawa saat ada anak buahnya yang lebih pintar. Tugasnya malah menjadi lebih ringan jika anak buah nya lebih pintar darinya. Dengan demikian si pemimpin itu fokus saja pada nilai nilai prinsip yang menjadi proritas bagi perbaikan dan perubahan ke arah lebih baik.
  2. Sekolah sibuk menyadarkan beratnya tantangan didepan. Ada dua tipe sekolah sebagai lembaga pendidikan. Tipe pertama sekolah yang mempersiapkan muridnya untuk masa depan. Tipe kedua adalah sekolah yang memberikan kenyamanan bagi orang dewasa (guru) untuk hidup nyaman di ‘masa lalu’.
  3. Sekolah menggunakan gaya berjejaring (networking) dalam tata kelolanya. Dalam artikel Harvard Business Review 2012, John Kotter, memperkenalkan konsepnya mengenai network (jejaring) dalam organisasi. Terbukti membantu mengembangkan organisasi dengan lebih cepat dan gesit. Sebuah sekolah tentu saja tetap membutuhkan hierarki untuk “berjalan dan beroperasi”, tetapi gaya koordinasi ‘networking’ dapat membantu sekolah beradaptasi dan menghadapi tantangan jaman.
  4. Sekolah mengubah cara pandang mengenai nilai. Selama ini guru mendapatkan nilai dengan mencari kesalahan. Memberikan siswa masukan dengan cara mengkritik dan menghakimi. Padahal cara yang benar adalah dengan memberikan feedback atau umpan balik. Jika sebuah sekolah sudah bertransformasi maka pertanyaan orang tua siswa kepada anaknya bukan ‘kamu dapat nilai berapa?’ menjadi ‘pengetahuan/keterampilan apa yang sudah kamu kuasai’. Bahaya terbesar dari sekedar mengejar nilai adalah orang tua siswa merasa bahwa anaknya nilai nya tinggi namun tidak menguasai konsep-konsep yang penting untuk ke jenjang berikutnya.
  5. Sekolah mereview atau mengevaluasi lagi visi misinya. Penyebabnya adalah 65% anak-anak kita yang kini memulai sekolah nantinya bakal mendapatkan pekerjaan-pekerjaan yang saat ini belum ada. 75 juta (42%) pekerjaan manusia akan digantikan oleh robot dan artificial intelligence pada tahun 2022 (World Economic Forum, 2018). 60% universitas di seluruh dunia akan menggunakan teknologi virtual reality (VR) pada tahun 2021 untuk menghasilkan lingkungan pembelajaran yang imersif (Gartner, 2018).

Anak didik kita saat ini adalah generasi yang menolak untuk digurui. Ia adalah sosok yang lebih ingin agar guru gurunya menjadi sosok mentor, motivator, dan teladan yang bisa mereka dengar dan tiru. Mereka adalah self-learner yang selalu mencari sendiri pengetahuan yang mereka butuhkan melalui youtube dan sumber pengetahuan lain yang dinamis dan menawarkan keluasan berpikir sesuai dengan minat bakat mereka.

Sinyal/alarm perubahan bisa datang dari siapa saja. Bisa datang dari guru muda biasa yang baru ‘kemarin sore’. Bisa datang dari guru senior, orang tua siswa atau bahkan dari peserta didik kita sendiri di kelas.

Saatnya sekolah dan guru merestart cara pandang dan praktek belajar mengajar dengan tujuan untuk lebih tanggap terhadap tantangan masa depan.

3 resep jitu menjadi guru di era tatap muka terbatas.

Sekolah yang sudah melakukan tatap muka terbatas mulai kembali menyesuaikan diri dalam memberikan layanan pendidikan. Guru yang menanti-nantikan tatap muka pastinya adalah guru yang khawatir jika siswa terlalu lama terputus kontak fisik dengan sekolah maka akan terjadi learning loss. Istilah ini mengacu pada hilangnya kemampuan akademik pengetahuan atau keterampilan peserta didik.

Lalu apakah masalah learning loss saja yang mesti anda waspadai?

Tulisan ini akan membahas tantangan yang mungkin anda hadapi saat pembelajaran dengan tatap muka terbatas sudah mulai dilakukan. Jika sekolah anda belum masuk pun anda tetap bisa mengambil manfaat dari tulisan ini demi bersiap untuk segala kemungkinan dan menguatkan mental.

1. Perbedaan hasil belajar siswa saat PJJ dan pada saat tatap muka.Siswa yang selama ini tepat waktu dan bagus pekerjaannya dalam pengumpulan tugas saat PJJ bisa saja karena dibantu penuh oleh orang tua siswa. Guru boleh saja kaget dengan situasi ini. Bagaimana tidak? setelah anak masuk dan guru melihat serta membandingkan kemampuan nya selama PJJ bedanya sangat jauh sekali. Padahal selama ini tugasnya lancar tepat waktu dan mutunya bagus.

Apa yang mesti guru lakukan?

Tetap menghormati usaha yang orang tua siswa lakukan. Berikan test diagnostik kepada anak anak yang menjadi tanggung jawab anda. Test diagnostik adalah tes yang digunakan untuk mendiagnosa kelemahan dan kekuatan siswa pada pelajaran tertentu. Kemudian mulai dari situ untuk membangun pemahaman anak didik tentang aspek kunci yang mesti ia kuasai. Kepada orang tua siswa berikan penghargaan dan tetap jaga semangatnya agar setia mensupport perkembangan belajar putra/putrinya. Di internal sekolah bersama guru satu KKG/MGMP lakukan pemetaan bersama untuk menentukan bagian mana dari kurikulum yang perlu diprioritaskan untuk ditekankan dan diajarkan secara intensif.

  1. Disiplin dan karakter siswa yang perlu di ‘charge’ kembali.
    Bayangkan selama 2 tahun pandemi terjadi. Orang tua siswa yang kelelahan karena situasi ekonomi atau kesehatan saat yang sama mesti jadi guru anaknya di rumah. Pasti akan terjadi lepas kontrol dalam mendidik. Bentuknya bisa macam macam. Ada anak yang tidak terjadwal istirahatnya (tidurnya) sehingga jam biologisnya terganggu sampai anak yang menjadi punya kebiasaan berbicara kotor karena terlalu sering ‘mabar’ games favorit bersama teman temannya.

Apa yang mesti guru lakukan?

Lakukan diskusi dengan guru lain dan kepala sekolah. Jadikan sekolah dan guru menjadi tempat dan sosok yang menyenangkan bagi peserta didik untuk belajar dan berinteraksi. Buat lingkungan fisik yang mendukung pembinaan kembali karakter peserta didik. Hindari menghakimi siswa karena kita tidak tahu situasi apa yang terjadi pada saat 2 tahun ini kita ‘jauh’ dari mereka. Buat program khusus mengenai pembiasaan dan penguatan karekter positif di sekolah dengan melibatkan orang tua siswa.

  1. Siswa yang enggan kembali ke sekolah.
    Ada yang unik dari situasi ini, jangan melulu anggap siswa yang enggan kembali ke sekolah adalah siswa yang malas. Bisa saja anak anak tersebut adalah siswa introvert yang sudah nyaman belajar dengan online. Dikarenakan ia merasa mampu dan lebih bebas melakukan eksplorasi dari materi pembelajaran yang guru sampaikan dengan lebih dalam. Alasan lain adalah tipe anak seperti ini malas ke sekolah jika harus hadapi guru di sekolah yang gayanya ‘catat buku sampai habis’. Siswa yang memang tipe ekstrovert mungkin malah senang kembali ke sekolah karena memang kebutuhannya untuk bertemu teman dan guru.

Apa yang perlu anda lakukan?

Berefleksi lah dengan cara mengajar anda sebelum pandemi terjadi. Buang cara mengajar yang konvensional dan pertahankan cara mengajar yang kreatif. Tetap pertahankan kelas virtual atau LMS anda. Tetap aktifkan dan efektifkan grup Whatsapp kelas dan orang tua siswa di kelas anda. Tegakkan etika dan aturan saat siswa berkomunikasi dengan siswa dan guru via online.
Tetap niatkan berikan pengalaman yang sama saat dahulu PJJ dilakukan. Guru tetap membuat video pembelajaran dan penugasan via online (hanya untuk membaca pelajaran dan tidak mengerjakan soal latihan yang sulit). Tetap jaga komitmen orang tua yang selama ini senang membantu anaknya belajar. Ambil alih tugas mereka selama ini dengan anda lakukan elaborasi pengetahuan dan materi pembelajaran di kelas tatap muka walaupun singkat. Dijamin orang tua bangga dan senang karena sekolah anaknya tidak meninggalkan hal yang selama ini sudah baik.

Bagi orang tua siswa yang protes kenapa masih ada kelas online silahkan berikan pengertian padanya bahwa saat ini adalah jamannya metode ‘flipped learning/classroom’. Flipped classroom adalah model pembelajaran dimana siswa sebelum belajar di kelas mempelajari materi lebih dahulu di rumah sesuai dengan tugas yang diberikan oleh guru. Di sekolah guru tinggal melakukan elaborasi (diskusi tanya jawab) dengan cara kreatif lewat grouping dan sistem center.

Wajar jika di era kembali ke sekolah dalam situasi tatap muka terbatas ini fokus anda sebagai pendidik adalah semata mengejar ketertinggalan pada aspek akademi semata. Namun jika anda lupa bahwa ada aspek karakter, jati diri siswa dan motivasi siswa tidak dibenahi dahulu maka akan membuat guru mendapatkan masalah sepanjang tahun ajaran dan mewariskannya pada guru di kelas berikutnya.

Fokus akademik boleh tapi semata fokus ke sana tanpa persiapan dan kerja kolaborasi meningkatkan karakter anak didik akan membuat guru dan sekolah akan kerepotan. Sekolah yang cuma sibuk hanya menantikan siswa kembali setelah PJJ akan kerepotan sendiri jika tidak mempunyai program untuk menerima dan menyetel kembali adab, karekter dan motivasi siswa.

Anda sudah punya momen dan kenangan manis atau pahit saat bekerja sama dengan orang tua siswa saat PJJ kemarin. Jadikan itu langkah menuju komunitas pembelajar.

3 Cara memilih Kepala Sekolah Sesuai dengan kebutuhan yayasan sekolah swasta.

Pemimpin di sekolah adalah sosok yang menjadi pemandu bagi perubahan dan inovasi di sekolah. Di tangannya semua pihak pemangku kepentingan menggantungkan dirinya pada kreativitas dan kemampuan nya dalam memimpin.

Di sekolah swasta masing masing sekolah punya caranya sendiri dalam memilih dan menciptakan pemimpin.

Ada beberapa cara untuk membuat stock pemimpin baca: kepala sekolah tetap tersedia di sebuah sekolah. Berikut ini cara yang biasa ditempuh oleh sebuah swasta dalam memilih kepala sekolah beserta plus minusnya.

Cara 1. Membuka lowongan pemimpin internal dalam waktu tertentu. Bisa 2 tahun atau 4 tahun sekali.

Plus:
Sekolah menjadi dinamis. Semua orang punya peluang sebagai pemimpin. Guru muda pun bisa jadi kepsek (syarat sudah mengabdi 5 tahun misalnya). Sekolah tidak perlu mengeluarkan budget yang banyak. Tinggal memberikan tambahan tunjangan gaji kepada orang yang terpilih.

Minus

1. Jika system penggajian dan jenjang karir belum bagus maka sulit menjaring pelamar. Dikarenakan calon pelamar tidak melihat perbedaan signifikan dengan menjadi kepsek dan menjadi guru biasa. Jika lowongan internal dibuka biasanya yang melamar orang yang itu itu saja. Sekolah bahkan harus sedikit memaksa agar jumlah pelamar yang akan diinterview bisa memenuhi angka yang cukup.

2. Jika performance nya jelek biasa nya jarang diputus masa jabatannya. Hanya ditunggu masa jabatannya berakhir untuk kemudian tidak dipilih kembali.

Hal yang harus diwaspadai:
1. Dalam pemilihan teknis dan mekanismenya harus terbuka dan transparan. Guru yang ingin jadi pemimpin akan kecewa jika ternyata pemilihan nya hanya setting an. Calon unggulan ternyata sudah ada dan proses pemilihan hanya menjadi pemanis saja.

2. Orang yang terpilih bisa saja bukan orang yang disukai publik atau orang yang senang menyenangkan atasan namun dingin terhadap sesama rekan karena ambisius. Dengan demikian sekolah mesti bersiap untuk drama drama yang dihasilkan dari proses pemilihan internal.

Tugas dan peran yayasan:
Memastikan bahwa job description dan KPI pencapaian jelas. Lakukan pembimbingan dan pendampingan. Lapangkan jalan bagi pemimpin baru. Minta ia membuat road map dan target target yang terukur.

Cara 2. Menerima talent atau calon pemimpin dari luar sekolah lewat job posting.

Positif:
Jika mendapatkan orang yang pas maka sekolah akan pesat berkembang. Jika orang dari luar biasanya ia akan minim beban masa lalu. Ia akan bebas melakukan pembenahan. Situasi mungkin akan chaos sejenak. Namun cepat membaik jika semua pihak berada di sisi new Comer ini untuk memajukan sekolah. Karena ia akan kesulitan jika ada pemangku kepentingan di sekolah yang cari aman.

Minus:
Jika pemimpin dari luar ini diminta untuk melakukan ‘cuci piring’. Perjelas apa hal yang harus dicuci dan dibenahi. Yayasan mungkin akan menyembunyikan hal ini khawatir calon akan mundur. Lebih baik diberikan kode kode diawal agar calon kepsek tahu ia akan berhadapan dengan situasi seperti apa.

Kepsek yang bagus biasanya berharga mahal. Jika yayasan ada Dana silahkan melakukan proses ini. Tentunya dengan menghitung Manfaat bagi kemajuan sekolah.

Tugas dan peran yayasan:
Membuat proses recruitment yang Profesional demi menjaring calon dari luar yang cocok. Lakukan proses wawancara dengan panel. Cek rekam jejaknya. Cek juga medsos nya. Perkecil masalah di kemudian hari jika ternyata calon ini cenderung galak di medsos maka di kehidupan nyata ia juga akan banyak dapat lawan.

Cara 3. Membenahi dan memperkuat sistem terus menerus dan cukup menjadikan seorang kepala sekolah saja sampai ia pensiun atau resign.

Plus

Sekolah bebas drama pemilihan kepala sekolah. Sekolah tinggal fokus saja meningkatkan kapasitas orang ini. Kirim ia ke pelatihan dalam dan luar negeri.

Minus
Jika leadership nya lemah maka guru guru yang tidak sepaham dengannya akan cenderung resign dan pergi ke sekolah lain. Jika masih bertahan guru yang tidak seirama dengannya akan menjelma menjadi dead wood alias orang yang apatis dengan kerja seadanya dan terima gaji diakhir bulan.

Tugas dan peran yayasan
Tidak boleh berdiam diri. Tidak bisa melepaskan semuanya pada orang ini saja. Harus aktif memantau. Cek semua target dan KPI. Menjadi mitra yang kritis dan dinamis.

Ketiga cara diatas adalah hal yang bisa dan mungkin dilakukan oleh sekolah dalam menciptakan pemimpin. Apapun cara yang ditempuh dalam memilih pemimpin utamakan tipe tipe pribadi seperti dibawah ini

  1. Tipe orang yang selalu mau meningkatkan kapasitas diri sendiri dan senang belajar hal baru
  2. Memprioritaskan hal yang utama sebagai insan pendidikan yaitu siswa
  3. Bersedia mengakui kesalahan jika keliru dan tidak bersikap defensif
  4. Mampu berpikir secara reflektif
  5. Mampu mengkomunikasikan visi. Menyederhanakan hal yang rumit sehingga mudah dikomunikasikan kepada khalayak ramai di sekolah.
  6. Manajemen diri yang baik dalam penampilan, menata emosi dan mengatur sikap sebagai pemimpin di depan semua pemangku kepentingan di sekolah.
  7. Pendengar yang baik
  8. Bersedia memimpin di depan, mendampingi di samping dan mendorong dari belakang bagi orang orang yang dipimpinnya.
  9. Punya kecerdasan emosi yang baik
  10. Mampu melakukan koneksi dengan tingkatan yang berbeda saat memimpin .

%d blogger menyukai ini: