5 jenis perubahan yang perlu dikelola dalam penerapan kurikulum merdeka di sekolah

Penerapan kurikulum merdeka sebagai sebuah perubahan perlu dikelola secara baik sehat dan terstruktur. Cara terbaik menghadapinya adalah pemimpin sekolah harus menganggap sekolahnya sebagai sebuah ekosistem. Sebuah ekosistem yang sehat didalamnya sesama guru dan pimpinan saling dukung demi perbaikan.

Perubahan apa saja dalam Kurikulum Merdeka yang harus dikelola bersama sebagai sebuah sekolah.

  1. Kemampuan mengembangkan kurikulum. Sebagai sebuah ekosistem sekolah perlu duduk bersama mencerna dan memahami elemen apa saja yang sudah ada di Kurikulum 2013 dan muncul dengan nama baru atau penekanan yang lebih di Kurikulum Merdeka. Membiasakan melakukan ATM (Amati Tiru Modifikasi) pada modul yang ada di Kurikulum Merdeka). Sekolah perlu bersepakat mengenai kompetensi esensial pada tujuan pembelajaran untuk kemudian menjadi penanda dari tiap tingkatan kelas.
  2. Mendorong peningkatan kapasitas guru yang ada di sekolah. Kepala sekolah menggerakkan KKG atau MGMP tingkat sekolah untuk melakukan telaah terhadap CP (Capaian Pembelajaran) untuk digunakan di sekolah. CP berisi pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dirangkai dalam satu kesatuan proses  yang berkelanjutan sehingga membangun kompetensi yang utuh dari suatu mata pelajaran. 
  3. Menjadikan tim BK sebagai tim yang inovatif dan berlandaskan pada program yang terkait dengan minat bakat, perilaku positif sampai hal yang bersifat jati diri siswa. Profil pembelajar Pancasila adalah hal yang dijadikan acuan dalam Kurikulum Merdeka ini.
  4. kemampuan mengubah cara pandang dalam menilai atau melakukan asesmen pada siswa. Guru tidak lagi mengandalkan tes sumatif saja namun juga akrab dengan tes formatif yang bertujuan untuk memantau dan memperbaiki proses pembelajaran, serta mengevaluasi pencapaian tujuan pembelajaran. Sesuai dengan tujuannya, asesmen formatif dapat dilakukan di awal dan di sepanjang proses pembelajaran. 
  5. Sekolah menyesuaikan semua yang ada pada modul ajar dengan karakteristik murid dan kondisi sekolah. Diharapkan output pembelajaran menjadi lebih sesuai dengan tantangan kompetensi lulusan setempat.

Semua hal di atas menjadi bukti bagaimana sekolah mempunyai keberanian dalam  memanfaatkan otonomi untuk melakukan operasional jalannya kurikulum.

Pemimpin di sekolah menempatkan dirinya sebagai pemimpin pembelajaran dengan segala aspek nya. Pemimpin tidak tampil semata mengurusi hal kedisiplinan seperti absensi guru, izin guru dan hal lain yang berbau ‘micromanaging’. Akan sangat baik jika pemimpin sekolah punya kemampuan mengelola kolaborasi dan berinovasi secara internal. Pimpinan hadir untuk menginspirasi dan membuat perubahan yang sulit menjadi mungkin.

Pimpinan sekolah dan guru gurunya hanya sukses melalui tantangan ini jika mengedepankan kebiasaan kolaborasi dan melakukan refleksi dalam setiap langkah menuju perbaikan mutu dalam proses belajar mengajar. 

Iklan

Penulis: agusampurno

Mitra menuju sekolah efektif dan guru profesional

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: