5 Transformasi belajar dalam kurikulum merdeka

Banyak guru yang masih berpendapat bahwa cara belajar di Kurikulum 2013 masih berlaku di Kurikulum Merdeka. Cara belajar siswa aktif adalah hal yang selalu ada dalam tiap keluaran kurikulum dari pemerintah. Dalam kurikulum merdeka hal yang terkait dengan cara belajar diupayakan diubah dengan pendekatan guru aktif merencanakan dan murid aktif berpartisipasi. 

Ada beberapa transformasi yang penting untuk dilakukan guru dan dilaksanakan di kelas. 

  1. Tujuan pembelajaran adalah agar anak paham. Indikasinya adalah guru diminta menerapkan Pembelajaran Berbasis Proyek (PJBL) yang tujuannya bukan membuat anak punya nilai yang baik saat diuji namun anak menjadi paham dan bisa menerapkan hasil pembelajaran dalam keseharian. Siswa dibuatkan skenario oleh guru lewat tahapan pembelajaran yang membuat keasikan dalam belajar terasa. Di ujung unit proyek pembelajaran siswa membuktikan dirinya paham dengan membuat poster, pertunjukan, pameran sampai talk show. Dengan demikian siswa pantang stress karena ujian dan tes yang meminta siswa tampil dengan angka setinggi tingginya.  
  2. Kurikulum merdeka menyiapkan 6 karakter apa saja yang diharapkan terwujud pada siswa sebagai hasil pembelajaran. 1) Beriman, bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa dan berakhlak mulia; 2) Mandiri; 3) Bergotong-royong; 4) Berkebinekaan global; 5) Bernalar kritis; 6) Kreatif. Kurikulum Merdeka bahkan telah menyediakan elemen turunan nya. Tugas guru adalah menerapkannya di kelas. Mengajarkannya sebagaimana mengajarkan subjek pembelajaran. Guru juga perlu mengintegrasikannya dalam penilaian pembelajaran dan mengikutsertakannya di dalam rapor. 
  3. Guru mengukur dan mengajar siswa bukan lagi berbasis angka. Dengan Kurikulum Merdeka guru diajak untuk mengajar berbasis proses. Dengan demikian KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) menjadi tidak relevan lagi. KKM berlandaskan pada  assessment of learning (asesmen yang dilakukan pada akhir semester) dengan cara guru melakukan ujian akhir atau ujian tengah semester. Di dalam Kurikulum Merdeka  assessment as learning (penilaian sesaat setelah pelajaran selesai) dan assessment for learning (asesmen dalam bentuk penilaian ulang, perbaikan nilai, atau remedial) diharapkan diprioritaskan oleh guru. Penilaian proses menjadi tulang punggung bagi proses pembelajaran yang bermakna.
  4. Sekolah dan guru mempunyai fleksibilitas dalam menafsirkan kurikulum yang cocok di lingkungan sekolahnya. Di Indonesia ada tren yang cukup unik. Jika ada situasi yang membuat para orang tua cemas maka semua pihak berseru bahwa kurikulum perlu disisipkan hal yang mencemaskan itu. Aspek kesehatan reproduksi, aspek literasi digital, aspek darurat kebencanaan, aspek tertib berlalu lintas adalah hal yang pernah ramai diminta dimasukkan ke kurikulum. Dengan kurikulum merdeka dimungkinkan sekolah memasukkan aspek diatas sesuai dengan karakteristik sekolah. Jika sekolah ada di daerah rawan bencana maka aspek pengetahuan kebencanaan masuk ke dalam kurikulum lewat pendekatan project based learning (PJBL). 
  5. Guru tidak lagi sendiri sendiri dalam merencanakan pembelajarannya. Kurikulum Merdeka meminta tidak hanya siswa yang berkolaborasi. Guru pun diminta berkolaborasi dalam merencanakan. Kurikulum yang sebelumnya dianggap sebagai benda keramat yang tidak boleh diubah dan dipetakan menjadi terbuka untuk ditafsirkan kembali. Proses penafsiran kurikulum ini tidak boleh dilakukan guru sendirian. Bayangkan jika di SD semua guru kelas 1 berkumpul untuk memetakan materi pembelajaran calistung. Dijamin guru kelas 2 akan senang karena murid menjadi lebih mudah diajar. Materi pengajaran pun menjadi terang benderang tanpa harus mengulang atau meraba mana yang dipentingkan mana yang bisa dilewatkan. Begitu juga jika guru guru yang mata pelajarannya sama di SMA atau SMP berdiskusi dan bertemu dan memetakan bahan ajar bersama sama. Dijamin guru makin semangat dalam menampilkan pembelajaran yang terbaik di kelasnya. 

Transformasi hanya bisa terjadi jika semua elemen di sekolah berpikiran terbuka. Tidak ada transformasi yang berhasil jika belum belum pemimpin di sekolah bertanya dananya dari mana? kemungkinan besar memang belum pantas orang itu menjadi pemimpin. Karena pemimpin yang inovatif akan mengatakan jalani saja dulu dari yang kita bisa dan kita mampu. Sebagai guru anda beruntung jika pemimpin di sekolah anda adalah tipe yang senang berinovasi dengan dana seminim minimnya. Caranya adalah dengan mendayagunakan semua potensi yang ada. 

Selamat bertransformasi demi anak didik. 

Penulis: agusampurno

Mitra menuju sekolah efektif dan guru profesional

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: