Resep sukses terapkan Pembelajaran berdiferensiasi


Guru yang menjadi wali kelas atau guru yang mengajar banyak rombel selalu punya pertanyaan yang sama. Bagaimana mengakomodir kebutuhan belajar murid yang berbeda-beda? Jawabannya adalah pembelajaran berdiferensiasi.
Guru sebagai pemimpin pembelajaran tentu sadar bahwa pembelajaran dikelasnya harus berpihak pada siswa. Ini berarti ada beberapa kesalahan guru yang tidak perlu lagi terjadi.

Apa saja kesalahan guru dalam mengajar selama ini?

  1. Tujuan pembelajaran yang tidak jelas. Guru tidak punya acuan dan tahapan dalam kurikulum (scope and sequences). Guru cenderung mengajar sesuai yang ada di buku teks saja.
  2. Guru menggunakan pendekatan satu untuk semua. Artinya guru tidak menggunakan alternatif pada sumber mengajar, cara mengajar, penugasan dan cara menilai siswanya.
  3. Pembelajarannya monoton. Siswa tidak dibuat tertarik. Guru sibuk membuat siswa antusias namun terlewat untuk menghadirkan pembelajaran yang bermakna.
  4. Guru masih sibuk mengelola kelasnya. Tingkah siswa masih menjadi masalah buat dirinya. Jika ingin menerapkan strategi/pendekatan pembelajaran yang baru hal yang ada di pikirannya masih mengenai apakah muridnya bisa diatur perilakunya atau tidak.
  5. Guru sibuk menilai dengan cara penilaian sumatif saja. Kalaupun ada penilaian tengah semester hakikatnya tetap penilaian sumatif. Guru belum menganggap bahwa proses pembelajaran yang ia lakukan perlu dicek dan dinilai dengan penilaian jenis formatif.

Pembelajaran berdiferensiasi bisa menjadi solusi dalam membuat guru makin bersemangat mengajar dan siswa merasa dihargai. Sebelum solusi ini diterapkan maka aspek nomor 4 yaitu pengelolaan kelas harus sudah dimatangkan oleh guru.
Apa saja yang bisa didiferensiasikan oleh guru dikelas agar siswa makin semangat belajar? Berikut ini adalah 3 prinsip pembelajaran berdiferensiasi dan contohnya penerapannya.

  1. Konten pembelajaran. Guru menyediakan tiga jenis pekerjaan. Tipe mudah, Tipe sedang dan Tipe sulit. Di awal guru boleh melakukan diagnostik test. Dari hasilnya guru akan membagi siswa menjadi tiga kelompok. Dengan demikian guru bisa fokus pada siswa yang ada di level bawah. Sambil terus mengawasi dua kelompok lainnya.
  2. Proses pembelajaran. Guru membuat semacam menu pembelajaran. Ada menu wajib dan ada menu pilihan. Menu wajib cukup dua tugas dan menu pilihan boleh tiga pilihan berbeda. Dalam tugas pilihan guru membuat perintah penugasan yang beragam. Dengan cara guru memperhitungkan kesiapan, minat dan gaya belajar siswa.
  3. Produk pembelajaran. Bukan saatnya lagi guru hanya meminta bukti bahwa siswa paham hanya dengan mengerjakan LKS saja. Guru membuat rubrik yang berisi kriteria infomasi apa yang ia inginkan muridnya sampaikan diakhir bab pembelajaran. Minta siswa menyampaikan hasil pembelajaran dengan cara membuat video singkat, slideshow ppt/canva. poster digital dan banyak lagi produk kekinian yang siswa sukai.

Cara diatas berlaku bagi guru yang mengajar di satu kelas atau kelas yang banyak (guru bidang studi). RPP nya pun tetap sama hanya saja guru benar benar fokus dalam memperhitungkan profil belajar siswa, kesiapan dan minat siswa. Dalam proses identifikasinya guru bisa meminta siswa mengerjakan test, survey atau secara simple minta mereka bercerita mengenai apa hal yang ia suka dan tidak suka. Boleh juga guru meminta cerita dari guru sebelumnya agar mendapatkan gambaran yang jelas.

Selamat menjadi guru merdeka yang mengajar dengan kreatif.

Penulis: agusampurno

Mitra menuju sekolah efektif dan guru profesional

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: