7 Arah Penerapan Kurikulum Merdeka

Gambar ini adalah hasil dari guru yang duduk bersama dalam MGMP untuk menentukan materi yang esensial. Hal ini adalah sebagai langkah pendahuluan menuju ke integrasi kegiatan pembelajaran dengan mata pelajaran lain

Semester 2 tahun ajaran ini ada banyak kesibukan di sekolah. Guru mulai lakukan PTM dan mulai mengamati jalannya rencana implementasi kurikulum baru. Kurikulum prototipe – Merdeka akan secara penuh diterapkan di 2025. Di bulan Februari 2022 ini Kementrian sudah mulai memberikan penjelasan lengkapnya.
Jika sekolah anda tertarik untuk menerapkan akan dicek kemampuannya melalui serangkaian self assessment.

Sebagai guru yang menjadi praktisi di kelas selayaknya anda mengetahui akan kemana arah kurikulum prototipe ini.

  1. Guru diposisikan sebagai pemimpin pembelajar. Sebuah istilah unik. Posisi guru tidak lagi menjadi sosok yang kerjanya mengeluh soal beratnya administrasi. Ia menjadi sosok yg ‘haus’ mencari ragam tipe penugasan yg bermakna bagi anak didiknya. Ia paham penugasan apa yg menarik & berorientasi masa depan. Pergulatan ia dalam merencanakan pembelajaran adalah bagaimana hadirkan skenario yang terbaik agar muridnya mendapatkan manfaat.
  2. Sekolah akan mempunyai kurikulumnya sendiri. Versi kurikulum dari kementrian selama ini adalah standar minimum. Sekolah yang efektif meminta guru-gurunya kerja bersama merancang sendiri kurikulumnya. Menambahkan muatan sesuai dengan situasi lalu didokumentasikan. Dokumen ini lah yang kemudian menjadi acuan bagi guru guru dalam mengajar dan rutin tiap ditinjau tiap dua tahun. Sekolah juga bisa membawa kearifan lokal daerahnya masuk dalam kurikulum. Misalnya sekolah yang terletak didaerah rawan bencana bisa menyelipkan muatan materi sadar bencana bagi siswanya.
  3. Karakter siswa diintegrasikan dalam pembelajaran. Profil pelajar Pancasila dihadirkan sebagai masukan bagi sekolah untuk diajarkan layaknya matpel. Sebuah cara terbaik dlm memberikan masukan kepada sekolah dalam memilih karakter apa yang akan diterapkan dalam proses pembelajaran agar sisi afektif siswa menjadi terasah. Detail dari karakter ini diintegrasikan dalam pembelajaran. Dijadikan bahasa sehari-hari guru dalam berkomunikasi, mendidik dan memberikan umpan balik. Karakter ini pun tertera diraport dan diberikan narasi bagaimana siswa menjalaninya di sekolah. Butir butir karakter ini pun terpajang di sekolah membuat guru dan siswa selalu diingatkan agar menjadi orang yang melaksanakan (walk the talk)
  4. Sekolah melakukan perubahan orientasi dari penyampaian konten (kejar target) menuju kepada pemahaman dan penguasaan kompetensi. Sekolah aktifkan KKG/MGMP level sekolah yg merekomendasikan materi esensial untuk digunakan. Sebagai hasilnya sekolah akan mempunyai dokumen kurikulum sendiri (point 2).
  5. Guru diminta melakukan usaha penyesuaian dalam hal konteks pengajaran yang diberikan. Kepada siapa (target) pembelajaran betul-betul menjadi pertimbangan. Istilah yang digunakan dalam kurikulum ini adalah ‘teaching at the right level’. Usaha yg mudah jika point 4 sdh dilakukan. Dokumen kurikulum yang komprehensif adalah dokumen yang menyampaikan tingkatan umur dan bersandar pada pemahaman yang siswa miliki sebelumnya.
  6. Sekolah serius dan fokus pada penyusunan standar literasi & numerasi di level internal sekolah. Selain sekolah sibuk hadirkan pembelajaran yg bermakna lewat metode/strategi/model/pendekatan/teknik yg beragam. Sekolah menggiring dahulu guru-gurunya kerja bersama dalam ‘membungkus’ target literasi dan numerasi di level satu sekolah. Dikarenakan jika sekolah hanya fokus pada target penguasaan materi tanpa mendirikan fondasi lewat numerasi dan literasi maka guru akan menemui kesalahan yang terus berulang karena ada pondasi yang lemah dan tidak tergarap.
  7. Sekolah dengan mudah menerapkan (PBL) ‘project based learning’. Alasan terbesar sekolah selama ini sulit terapkan PBL karena materi yang ada masih dalam bongkahan besar yang sulit guru integrasikan dengan matpel lain. PBL bisa berhasil jika guru sudah selesai dengn proses menentukan materi esensial dari matpelnya. (point 4)

Tujuh hal diatas jika sudah dilaksanakan tentunya akan melancarkan niat sekolah jika ingin terapkan Kurikulum prototipe ini. Namun jika belum semua diterapkan tidak menjadi soal. Akan ada pembimbingan bagi sekolah yg akan menerapkan. Mari beradaptasi terhadap perubahan.
“Bukan yang terkuat yang bertahan, melainkan mereka yang paling adaptif menghadapi perubahan.

Penulis: agusampurno

Mitra menuju sekolah efektif dan guru profesional

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: