5 cara me’restart’ sekolah dan cara mengajar dalam menghadapi tantangan perubahan.

Apakah HP anda pernah ‘ngelag’? Itilah ngelag adalah bahasa murid kita sekarang ketika mereka main game dan game tersebut lambat/kurang responsif saat dimainkan. Jika mengalami hal seperti itu yang saya lakukan biasanya adalah merestart gawai saya.

Jika anda adalah guru atau kepala sekolah. Apa yang akan anda lakukan jika sekolah atau kelas anda ‘melambat’ kinerjanya?

Prof. Clayton Christensen, pencipta teori disrupsi, pada tahun 2014 memberikan prediksi : “50% dari seluruh universitas di AS akan bangkrut dalam 10-15 tahun ke depan.” Penyebabnya, karena universitas-universitas itu terdisrupsi oleh beragam terobosan inovasi seperti online learning dan MOOCs (Massive Online Open Courses). Pandemi yang sedang dialami dunia ternyata mempercepat ramalan ahli tersebut.

Pakar dan lembaga think tank global tersebut menjadi wake-up call bagi stakeholders pendidikan kita. Bahwa kalau dunia pendidikan dikelola dengan cara-cara yang BAU (business as usual) pada akhirnya akan menjadi obsolete (usang), tak relevan, dan akhirnya melapuk.

Mari melihat situasi dunia persekolahan kita saat ini. Selalu ada kekhawatiran namun ada juga optimisme. Apa yang membuat khawatir? Ada learning loss (Kehilangan Pembelajaran). Hal lain yang dikhawatirkan adalah menurunnya disiplin siswa karena lama tidak tersentuh oleh aturan. keduanya adalah akibat berhentinya pembelajaran tatap muka.

Hal apa yang masih membuat tetap optimis? kerja sama guru dan orang tua yang erat karena keharusan orang tua jadi guru anaknya di rumah. Guru guru yang makin terampil gunakan teknologi untuk mengajar jarak jauh. Dari grup whatsapp sampai menggunakan Learning Management System semacam kelas virtual.

Sekarang mari gabungkan keduanya. Demi untuk ‘merestart’ sekolah atau kelas anda. Berikut adalah lima caranya:

  1. jika anda adalah pemimpin di unit anda (kepala sekolah dll) tempatkan diri anda sebagai pembelajar. Pemimpin yang sejati tidak malu mengakui dirinya tidak tahu. Ia bahkan tampil mensupport bawahannya untuk lebih maju. Pemimpin tidak khawatir kehilangan pamor dan wibawa saat ada anak buahnya yang lebih pintar. Tugasnya malah menjadi lebih ringan jika anak buah nya lebih pintar darinya. Dengan demikian si pemimpin itu fokus saja pada nilai nilai prinsip yang menjadi proritas bagi perbaikan dan perubahan ke arah lebih baik.
  2. Sekolah sibuk menyadarkan beratnya tantangan didepan. Ada dua tipe sekolah sebagai lembaga pendidikan. Tipe pertama sekolah yang mempersiapkan muridnya untuk masa depan. Tipe kedua adalah sekolah yang memberikan kenyamanan bagi orang dewasa (guru) untuk hidup nyaman di ‘masa lalu’.
  3. Sekolah menggunakan gaya berjejaring (networking) dalam tata kelolanya. Dalam artikel Harvard Business Review 2012, John Kotter, memperkenalkan konsepnya mengenai network (jejaring) dalam organisasi. Terbukti membantu mengembangkan organisasi dengan lebih cepat dan gesit. Sebuah sekolah tentu saja tetap membutuhkan hierarki untuk “berjalan dan beroperasi”, tetapi gaya koordinasi ‘networking’ dapat membantu sekolah beradaptasi dan menghadapi tantangan jaman.
  4. Sekolah mengubah cara pandang mengenai nilai. Selama ini guru mendapatkan nilai dengan mencari kesalahan. Memberikan siswa masukan dengan cara mengkritik dan menghakimi. Padahal cara yang benar adalah dengan memberikan feedback atau umpan balik. Jika sebuah sekolah sudah bertransformasi maka pertanyaan orang tua siswa kepada anaknya bukan ‘kamu dapat nilai berapa?’ menjadi ‘pengetahuan/keterampilan apa yang sudah kamu kuasai’. Bahaya terbesar dari sekedar mengejar nilai adalah orang tua siswa merasa bahwa anaknya nilai nya tinggi namun tidak menguasai konsep-konsep yang penting untuk ke jenjang berikutnya.
  5. Sekolah mereview atau mengevaluasi lagi visi misinya. Penyebabnya adalah 65% anak-anak kita yang kini memulai sekolah nantinya bakal mendapatkan pekerjaan-pekerjaan yang saat ini belum ada. 75 juta (42%) pekerjaan manusia akan digantikan oleh robot dan artificial intelligence pada tahun 2022 (World Economic Forum, 2018). 60% universitas di seluruh dunia akan menggunakan teknologi virtual reality (VR) pada tahun 2021 untuk menghasilkan lingkungan pembelajaran yang imersif (Gartner, 2018).

Anak didik kita saat ini adalah generasi yang menolak untuk digurui. Ia adalah sosok yang lebih ingin agar guru gurunya menjadi sosok mentor, motivator, dan teladan yang bisa mereka dengar dan tiru. Mereka adalah self-learner yang selalu mencari sendiri pengetahuan yang mereka butuhkan melalui youtube dan sumber pengetahuan lain yang dinamis dan menawarkan keluasan berpikir sesuai dengan minat bakat mereka.

Sinyal/alarm perubahan bisa datang dari siapa saja. Bisa datang dari guru muda biasa yang baru ‘kemarin sore’. Bisa datang dari guru senior, orang tua siswa atau bahkan dari peserta didik kita sendiri di kelas.

Saatnya sekolah dan guru merestart cara pandang dan praktek belajar mengajar dengan tujuan untuk lebih tanggap terhadap tantangan masa depan.

Penulis: agusampurno

Mitra menuju sekolah efektif dan guru profesional

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: