3 resep jitu menjadi guru di era tatap muka terbatas.

Sekolah yang sudah melakukan tatap muka terbatas mulai kembali menyesuaikan diri dalam memberikan layanan pendidikan. Guru yang menanti-nantikan tatap muka pastinya adalah guru yang khawatir jika siswa terlalu lama terputus kontak fisik dengan sekolah maka akan terjadi learning loss. Istilah ini mengacu pada hilangnya kemampuan akademik pengetahuan atau keterampilan peserta didik.

Lalu apakah masalah learning loss saja yang mesti anda waspadai?

Tulisan ini akan membahas tantangan yang mungkin anda hadapi saat pembelajaran dengan tatap muka terbatas sudah mulai dilakukan. Jika sekolah anda belum masuk pun anda tetap bisa mengambil manfaat dari tulisan ini demi bersiap untuk segala kemungkinan dan menguatkan mental.

1. Perbedaan hasil belajar siswa saat PJJ dan pada saat tatap muka.Siswa yang selama ini tepat waktu dan bagus pekerjaannya dalam pengumpulan tugas saat PJJ bisa saja karena dibantu penuh oleh orang tua siswa. Guru boleh saja kaget dengan situasi ini. Bagaimana tidak? setelah anak masuk dan guru melihat serta membandingkan kemampuan nya selama PJJ bedanya sangat jauh sekali. Padahal selama ini tugasnya lancar tepat waktu dan mutunya bagus.

Apa yang mesti guru lakukan?

Tetap menghormati usaha yang orang tua siswa lakukan. Berikan test diagnostik kepada anak anak yang menjadi tanggung jawab anda. Test diagnostik adalah tes yang digunakan untuk mendiagnosa kelemahan dan kekuatan siswa pada pelajaran tertentu. Kemudian mulai dari situ untuk membangun pemahaman anak didik tentang aspek kunci yang mesti ia kuasai. Kepada orang tua siswa berikan penghargaan dan tetap jaga semangatnya agar setia mensupport perkembangan belajar putra/putrinya. Di internal sekolah bersama guru satu KKG/MGMP lakukan pemetaan bersama untuk menentukan bagian mana dari kurikulum yang perlu diprioritaskan untuk ditekankan dan diajarkan secara intensif.

  1. Disiplin dan karakter siswa yang perlu di ‘charge’ kembali.
    Bayangkan selama 2 tahun pandemi terjadi. Orang tua siswa yang kelelahan karena situasi ekonomi atau kesehatan saat yang sama mesti jadi guru anaknya di rumah. Pasti akan terjadi lepas kontrol dalam mendidik. Bentuknya bisa macam macam. Ada anak yang tidak terjadwal istirahatnya (tidurnya) sehingga jam biologisnya terganggu sampai anak yang menjadi punya kebiasaan berbicara kotor karena terlalu sering ‘mabar’ games favorit bersama teman temannya.

Apa yang mesti guru lakukan?

Lakukan diskusi dengan guru lain dan kepala sekolah. Jadikan sekolah dan guru menjadi tempat dan sosok yang menyenangkan bagi peserta didik untuk belajar dan berinteraksi. Buat lingkungan fisik yang mendukung pembinaan kembali karakter peserta didik. Hindari menghakimi siswa karena kita tidak tahu situasi apa yang terjadi pada saat 2 tahun ini kita ‘jauh’ dari mereka. Buat program khusus mengenai pembiasaan dan penguatan karekter positif di sekolah dengan melibatkan orang tua siswa.

  1. Siswa yang enggan kembali ke sekolah.
    Ada yang unik dari situasi ini, jangan melulu anggap siswa yang enggan kembali ke sekolah adalah siswa yang malas. Bisa saja anak anak tersebut adalah siswa introvert yang sudah nyaman belajar dengan online. Dikarenakan ia merasa mampu dan lebih bebas melakukan eksplorasi dari materi pembelajaran yang guru sampaikan dengan lebih dalam. Alasan lain adalah tipe anak seperti ini malas ke sekolah jika harus hadapi guru di sekolah yang gayanya ‘catat buku sampai habis’. Siswa yang memang tipe ekstrovert mungkin malah senang kembali ke sekolah karena memang kebutuhannya untuk bertemu teman dan guru.

Apa yang perlu anda lakukan?

Berefleksi lah dengan cara mengajar anda sebelum pandemi terjadi. Buang cara mengajar yang konvensional dan pertahankan cara mengajar yang kreatif. Tetap pertahankan kelas virtual atau LMS anda. Tetap aktifkan dan efektifkan grup Whatsapp kelas dan orang tua siswa di kelas anda. Tegakkan etika dan aturan saat siswa berkomunikasi dengan siswa dan guru via online.
Tetap niatkan berikan pengalaman yang sama saat dahulu PJJ dilakukan. Guru tetap membuat video pembelajaran dan penugasan via online (hanya untuk membaca pelajaran dan tidak mengerjakan soal latihan yang sulit). Tetap jaga komitmen orang tua yang selama ini senang membantu anaknya belajar. Ambil alih tugas mereka selama ini dengan anda lakukan elaborasi pengetahuan dan materi pembelajaran di kelas tatap muka walaupun singkat. Dijamin orang tua bangga dan senang karena sekolah anaknya tidak meninggalkan hal yang selama ini sudah baik.

Bagi orang tua siswa yang protes kenapa masih ada kelas online silahkan berikan pengertian padanya bahwa saat ini adalah jamannya metode ‘flipped learning/classroom’. Flipped classroom adalah model pembelajaran dimana siswa sebelum belajar di kelas mempelajari materi lebih dahulu di rumah sesuai dengan tugas yang diberikan oleh guru. Di sekolah guru tinggal melakukan elaborasi (diskusi tanya jawab) dengan cara kreatif lewat grouping dan sistem center.

Wajar jika di era kembali ke sekolah dalam situasi tatap muka terbatas ini fokus anda sebagai pendidik adalah semata mengejar ketertinggalan pada aspek akademi semata. Namun jika anda lupa bahwa ada aspek karakter, jati diri siswa dan motivasi siswa tidak dibenahi dahulu maka akan membuat guru mendapatkan masalah sepanjang tahun ajaran dan mewariskannya pada guru di kelas berikutnya.

Fokus akademik boleh tapi semata fokus ke sana tanpa persiapan dan kerja kolaborasi meningkatkan karakter anak didik akan membuat guru dan sekolah akan kerepotan. Sekolah yang cuma sibuk hanya menantikan siswa kembali setelah PJJ akan kerepotan sendiri jika tidak mempunyai program untuk menerima dan menyetel kembali adab, karekter dan motivasi siswa.

Anda sudah punya momen dan kenangan manis atau pahit saat bekerja sama dengan orang tua siswa saat PJJ kemarin. Jadikan itu langkah menuju komunitas pembelajar.

%d blogger menyukai ini: