7 pertimbangan dalam memfasilitasi prinsip ‘merdeka belajar’ di era pembelajaran campuran (Blended learning)

Prinsip merdeka belajar dalam penerapannya berarti unit pendidikan yaitu sekolah, guru-guru dan muridnya punya kebebasan. Kebebasan untuk berinovasi, kebebasan untuk belajar dengan mandiri dan kreatif. Dalam upayanya prinsip merdeka belajar mempunyai tantangan baru yaitu bagaimana menyelaraskannya dengan prinsip pembelajaran campuran (Blended learning).

Berikut adalah tujuh hal yang mesti dipertimbangkan dalam menyelaraskan prinsip merdeka belajar dan pembelajaran campuran.

1. Siswa. Guru yang profesional sudah punya pemetaan siswanya. Bisa pemetaan gaya belajar sampai kecepatan belajar. Siswa senang belajar dikarenakan ia merasa menemukan penugasan yang sesuai dengan kapasitas dirinya. Tidak lain dikarenakan guru sudah mempunyai data siswa dengan lengkap. Siswa juga merasa didengar dikarenakan guru selalu meminta umpan baliknya (feedback) di akhir pembelajaran. Secara rutin ia juga diminta mengisi self assessment atau penilaian terhadap diri sendiri.

2.Proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Guru memberikan siswanya fleksibilitas dalam pemberian tugas. Dari segi waktu, pengerjaan dan hasil akhir. Guru membuat goal setting atau merencanakan tujuan akhir pembelajaran bersama dengan siswa.

Lanjutkan membaca “7 pertimbangan dalam memfasilitasi prinsip ‘merdeka belajar’ di era pembelajaran campuran (Blended learning)”

5 cara me’restart’ sekolah dan cara mengajar dalam menghadapi tantangan perubahan.

Apakah HP anda pernah ‘ngelag’? Itilah ngelag adalah bahasa murid kita sekarang ketika mereka main game dan game tersebut lambat/kurang responsif saat dimainkan. Jika mengalami hal seperti itu yang saya lakukan biasanya adalah merestart gawai saya.

Jika anda adalah guru atau kepala sekolah. Apa yang akan anda lakukan jika sekolah atau kelas anda ‘melambat’ kinerjanya?

Prof. Clayton Christensen, pencipta teori disrupsi, pada tahun 2014 memberikan prediksi : “50% dari seluruh universitas di AS akan bangkrut dalam 10-15 tahun ke depan.” Penyebabnya, karena universitas-universitas itu terdisrupsi oleh beragam terobosan inovasi seperti online learning dan MOOCs (Massive Online Open Courses). Pandemi yang sedang dialami dunia ternyata mempercepat ramalan ahli tersebut.

Pakar dan lembaga think tank global tersebut menjadi wake-up call bagi stakeholders pendidikan kita. Bahwa kalau dunia pendidikan dikelola dengan cara-cara yang BAU (business as usual) pada akhirnya akan menjadi obsolete (usang), tak relevan, dan akhirnya melapuk.

Lanjutkan membaca “5 cara me’restart’ sekolah dan cara mengajar dalam menghadapi tantangan perubahan.”

3 resep jitu menjadi guru di era tatap muka terbatas.

Sekolah yang sudah melakukan tatap muka terbatas mulai kembali menyesuaikan diri dalam memberikan layanan pendidikan. Guru yang menanti-nantikan tatap muka pastinya adalah guru yang khawatir jika siswa terlalu lama terputus kontak fisik dengan sekolah maka akan terjadi learning loss. Istilah ini mengacu pada hilangnya kemampuan akademik pengetahuan atau keterampilan peserta didik.

Lalu apakah masalah learning loss saja yang mesti anda waspadai?

Tulisan ini akan membahas tantangan yang mungkin anda hadapi saat pembelajaran dengan tatap muka terbatas sudah mulai dilakukan. Jika sekolah anda belum masuk pun anda tetap bisa mengambil manfaat dari tulisan ini demi bersiap untuk segala kemungkinan dan menguatkan mental.

1. Perbedaan hasil belajar siswa saat PJJ dan pada saat tatap muka.Siswa yang selama ini tepat waktu dan bagus pekerjaannya dalam pengumpulan tugas saat PJJ bisa saja karena dibantu penuh oleh orang tua siswa. Guru boleh saja kaget dengan situasi ini. Bagaimana tidak? setelah anak masuk dan guru melihat serta membandingkan kemampuan nya selama PJJ bedanya sangat jauh sekali. Padahal selama ini tugasnya lancar tepat waktu dan mutunya bagus.

Apa yang mesti guru lakukan?

Lanjutkan membaca “3 resep jitu menjadi guru di era tatap muka terbatas.”
%d blogger menyukai ini: