5 Prinsip strategi efektif penugasan atau pemberian PR kepada siswa di era pembelajaran campuran.

Ada banyak situasi yang terjadi dalam proses pembelajaran jarak jauh atau pembelajaran campuran (blended learning) yang menyebabkan komunikasi antara rumah dan sekolah menjadi tidak nyaman. Masalah yang biasanya terjadi adalah pemberian tugas kepada siswa yang terlalu berat. Hal lain yang dikeluhkan adalah orang tua siswa diminta mengajar anaknya sendiri oleh guru tanpa panduan yang jelas dan cukup.

Penugasan PR di era PJJ ini sebenarnya sah sah saja mengingat banyak sekali keterbatasan dari sisi waktu dan pelaksanaan pembelajaran. Apalagi jika guru masih mempunyai cara berpikir dan mengajar masih sama sebelum pandemi berlangsung yaitu menghabiskan target kurikulum. Cara yang paling konvensional adalah menghabiskan buku teks. Komunikasi antara orang tua siswa dan guru seakan hanya dimediasi oleh buku teks yang belum tentu bisa dimengerti orang tua siswa.

Mari kita berpikir mengenai PR ini dari tiga sisi yaitu guru, orang tua siswa dan siswa sebagai subyek pembelajaran.

  1. Dari sisi guru, PR adalah sebagai cara guru melengkapi pembelajaran yang tidak tuntas.
  2. Dari sisi orang tua mengenai PR ini biasanya sikapnya netral. Mereka sebenarnya dengan senang hati membantu mengenai PR ini asalkan saja komunikasi antara sekolah ke rumah jernih dan jelas. Orang tua pun senang jika dirinya terupdate atau tersampaikan materi apa yang sedang anaknya pelajari saat ini. Jika anak merasa asik dan fokus saat mengerjakan PR biasanya orang tua akan tidak berkeberatan dan ada kebanggaan saat anaknya fokus
  3. Dari sisi siswa, mereka senang mengerjakan sesuatu yang membuat dirinya mengetahui sebuah hal baru dan makin dihargai oleh orang orang disekitarnya.

Apa saja kekeliruan terbesar guru saat memberikan PR atau penugasan kepada siswa dalam situasi PJJ Ini?

  1. Guru berasumsi siswa punya orang tua yang support dan selalu ada untuk membantu siswa.
  2. Guru berasumsi siswa punya kemampuan mengerjakannya sendiri.
  3. Guru berasumsi siswa punya waktu, tempat, kesempatan dan kebiasaan untuk mengerjakan tugas dari sekolah.
  4. Guru berasumsi bahwa hanya ia sebagai guru yang memberikan PR kepada siswa

Lalu bagaimana dengan siswa yang kurang beruntung. Siswa yang mesti bekerja, mungkin harus menjaga adik atau mempunyai orang tua yang awam mengenai pendidikan.

Bagaimana jalan keluar agar guru bisa tetap menyelesaikan target kurikulum dan siswa bisa mengerjakan PR yang bermakna dan tidak sekedar membuatnya sibuk. Berikut ini adalah prinsip yang bisa digunakan

  1. Prinsip diferensiasi: Guru memberikan peluang untuk siswa mengerjakan penugasan yang diberikan dengan cara yang berbeda beda (boleh mengacu pada kecerdasan majemuk). Waktu penugasan lebih dari sehari. Menggabungkan antara HOTS dan LOTS. Siswa bisa memilih mana yang lebih dulu ia ingin kerjakan. Jika siswa selesai lebih dahulu ia boleh mengajar temannya. Guru terbuka akan masukan orang tua siswa
  2. Prinsip komunikasi. Guru membekali orang tua siswa dengan materi ajar yang sudah disesuaikan dalam bahasa mudah dan sederhana agar ortu siswa tahu apa yang anaknya sedang pelajari. Siswa dibolehkan dan diberikan kesempatan seluas luasnya untuk bertanya dan berdiskusi online dengan rekannya. Siswa diberikan penugasan yang simple, ringkas namun membuat ia berpikir mengenai pembelajaran yang dilakukan. Contohnya meminta siswa menulis 3 pertanyaan mengenai pembelajaran dan lain lain.
  3. Prinsip eksplorasi. Siswa boleh mencari tahu dan berefleksi mengenai topik yang diajarkan oleh guru dari berbagai sumber bahkan dari orang orang terdekatnya di rumah. Siswa digali ketertarikannya pada topik yang guru ajarkan.
  4. Prinsip inovasi dan kreativitas. Guru melibatkan teknologi dalam memberikan tugas kepada siswa. Hyperdocs atau Choice board masuk dalam kategori ini. Guru berinovasi lewat jenis tugas, media tugas sampai cara menyampaikan sebuah materi yang baru kepada siswa. Guru memberikan kesempatan siswa untuk mempunyai portfolio digital lewat media seperti canva yang kemudian di upload di media sosial. Siswa punya kesempatan diapresiasi oleh audiens diluar lingkup sekolahnya.
  5. Prinsip latihan. Gunakan PR untuk memperkuat aspek yang penting dalam kapasitas sebagai pembelajar atau keterampilan dalam belajar (study skills) dan bukannya untuk menguasai materi yang harusnya diajarkan oleh guru. PR bukan diberikan untuk mengejar kurikulum atau pembelajaran yang kurang waktunya karena PJJ Ini. Berikanlah siswa PR terkait dengan penguatan aspek aspek yang bermanfaat. Aspek literasi membaca dan literasi informasi, matematika dasar, aspek TIK dan banyak lagi keterampilan yang jika siswa pelajari maka akan membantu skill dasar bagi masa depannya.

Semua prinsip diatas hanya bisa berhasil jika guru sudah berhasil melewati ‘jebakan’ kurikulum. Bersama rekan sekerjanya di sekolah ia sudah berhasil memilah milah mana yang penting dan prioritas untuk disampaikan kepada siswa. Kepada orang tua siswa tipe guru seperti ini tidak akan cuma mengajak bermitra namun juga disempatkan mengedukasi lewat penugasan kepada siswa nya yang mempererat hubungan orang tua dan anak dan tidak sebaliknya menjadikan suasana rumah menjadi ‘panas’ karena tugas yang ia berikan.

%d blogger menyukai ini: