Solusi jitu perencanaan pembelajaran tatap muka di tahun ajaran baru.


Pendidik mana yang tidak senang karena proses pembelajaran tatap muka (PTM) akan dilakukan? saat yang sama ada banyak kekhawatiran bahwa murid sudah tertinggal jauh dalam soal pencapaian akademis.

Dalam survei baru-baru ini oleh Lembaga McKinsey, guru dari delapan negara yang berbeda, melaporkan “bahwa siswa rata-rata tertinggal dua bulan dari biasanya pada awal November 2020.” Selain itu, “guru di sekolah di mana lebih dari 80 persen siswanya tinggal dalam rumah tangga di bawah garis kemiskinan melaporkan rata-rata kehilangan pembelajaran selama 2,5 bulan.”

Strategi apa yang bisa anda lakukan? Sebelumnya mari kita ubah cara pandang dahulu terhadap situasi ini. Dikarenakan jika cara pandangnya adalah mengejar ketertinggalan (learning loss) maka sekolah anda akan menempuh yang namanya upaya remedial dibandingkan dengan akselerasi.

Remedial – menguasai konsep pembelajaran masa lalu yang tertinggal
Akselerasi – mempersiapkan sukses ke masa depan.
Bagaimana cara penerapan prinsip akselerasi

  1. Petakan dahulu mana saja pengetahuan siswa yang dikhawatirkan masih belum mencukupi. Lakukan diagnostic test. Guru tiap matpel berkumpul bekerja sama untuk membuat test sederhana berdasarkan hasil pemetaan kurikulum. Hasilnya bisa menjadi dasar di area mana saja siswa masih perlu dukungan.
  2. Saat nanti PTM sudah berlangsung lakukan penilaian secara formatif untuk mengetahui pengetahuan yang siswa miliki sejauh ini dengan cara yang menyenangkan dan sering.
  3. Lakukan pembelajaran dengan cara diferensiasi, setelah cek kemampuan anak lalu membuat program yang berbeda beda untuk siswa sesuai dengan irama belajarnya (lambat, sedang dan cepat) agar masing masing tekun belajar kembali.


Ada beberapa hal yang tidak boleh dilakukan oleh kita semua sebagai pendidik dalam situasi persiapan menuju tatap muka ini yaitu

Berusaha keras kembali ke situasi sebelum pandemi. Pola pikir ini akan membuat standar prokes menjadi berkurang dan guru lebih condong untuk melakukan pembelajaran konvensional. Padahal tanpa sadar ia dan muridnya sudah berinovasi selama PJJ berlangsung.

Lalai mengecek siswa. Kewajiban sekolah dan guru adalah berusaha mencari tahu mengenai hal yang dialami siswa dalam situasi luar biasa pandemi ini. Bisa saja siswa mengalami guncangan saat pandemi berlangsung. Ada anggota keluarga yang wafat, kehilangan pekerjaan atau penurunan penghasilan serta banyak alasan lain yang menyebabkan anda mesti berempati padanya

Anda bisa saja berpikir bahwa telah tejadi ‘learning loss atau defisit yang berujung kerugian dari sisi pembelajaran. Lebih baik siapkan rencana agar siswa bisa kembali ke jalur sebagai pembelajar yang sesuai dengan kapasitas.
Pertahankan mental anda sebagai pendidik yang berani mencoba, fleksibel, bersedia menyesuaikan diri dan berani dalam mencari solusi.

Dari situasi pandemi semua pendidik menjadi sadar bahwa pengetahuan ada dimana mana. Saat PJJ anda sebagai guru akan terlihat lucu ketika memberikan pertanyaan yang mudah di googling oleh siswa. Sebaliknya siswa akan semangat mencari dan belajar lebih saat guru perhatian dan memperbaiki caranya berkomunikasi.

Saat PTM nanti sekolah harusnya menjelma seperti layaknya ‘bengkel’ dan bukan museum yang senyap dan sepi. Sebuah sekolah jika diibaratkan bengkel atau workshop yang terjadi adalah dimana mana siswa riuh, sibuk dan fokus karena pembelajarannya menarik serta membuat mereka betah. Suasana ini terbangun dikarenakan guru sudah sering lakukan inovasi selama PJJ berlangsung sebisanya dan semampunya.

Sekali lagi cara pandang terbaik menjelang dilakukannya PTM nanti bukan dalam suasana mengejar ketertinggalan namun lebih pada upaya pemulihan proses pembelajaran.

It’s Not Learning Loss…It’s Educational Recovery

3 keterampilan penting bagi guru kekinian

Bagi seorang guru sangat penting kiranya untuk mempunyai keterampilan mengelola perasaan dan punya pola pikir yang tepat dan membuat dirinya sukses sebagai pendidik. Seorang pendidik adalah sosok yang kesehariannya sibuk mengelola interaksi dirinya dengan manusia disekitarnya. Mereka adalah murid muridnya, sesama guru, atasan dan orang tua siswa. Jika pendidik mampu menguasai keterampilan diatas akan membuat dirinya tahan banting dan senang mencoba hal yang baru.

Berikut ini adalah keterampilan dan pola pikir apa saja yang perlu dikuasai

  1. Pola pikir berorientasi pada solusi. Saat hadapi masalah hindari emosi. Fokuslah pada solusi. Jika sebagai pendidik anda fokus pada solusi anda akan terlupa untuk menyalahkan sistem pendidikan, kurikulum, input siswa, orang tua siswa bahkan diri anda sendiri.
  2. Tahan uji dalam menahan emosi. Keterampilan ini hanya akan diuji ketika anda gagal atau pada saat anda dicemooh atau saat menghadapi cercaan dari senior sesmaa pendidik atau bahkan sikap murid yang tidak pada tempatnya. Jika emosi anda tetap stabil dalam situasi yang tidak enak dan tidak menyenangkan maka anda akan sukses.
  3. Ketahui kinerja dan cara kerja otak. Kemampuan untuk menguasai kinerja otak akan berujung pada kehati hatian anda dalam memilih kata kata yang anda gunakan pada murid anda di kelas. Ingat Words can influence the brain.

Ketiga hal diatas hanya bisa dilakukan dan diterapkan saat anda sadar bahwa saat menjadi pendidik adalah saat untuk sibuk belajar kembali. Menjadi pendidik adalah cara untuk merasa bahagia, jika sebaai guru anda belum bahagia maka saatnya berefleksi apakah ada hal yang belum tepat selama ini dalam bersikap, belajar dan berefleksi .