5 Tipe guru yang akan diingat oleh siswa

Ada berita baik di minggu ini. Isinya bahwa jika semua guru sudah selesai di vaksin maka pembelajaran tatap muka akan dilaksanakan di bulan Juli tahun ini. Aamin

Menarik jika kita rasakan bahwa kita semua sudah cukup kuat melalui situasi unik selama setahun ini sampai sampai ada istilah guru dan siswa angkatan corona. Bagaimana anda para guru angkatan corona? Tentunya kita semua tersenyum pahit ketika mendengar istilah tersebut. Nah mari kita berefleksi sambil belajar bagaimana agar anda diingat yang baik baik nya saja oleh siswa siswi kita.

  1. Anda adalah guru yang membuka kesempatan siswa untuk mengekspresikan hasil pembelajaran dan pemahaman mereka terhadap materi pembelajaran dengan cara yang beragam.
  2. Anda adalah guru yang sadar bahwa siswanya perlu punya portfolio digital dikarenakan dengan situasi saat ini pasti banyak hasil karya mereka
  3. Anda memvariasikan pembelajaran dengan menghadirkan pengalaman belajar yang unik walaupun dengan situasi online dengan cara virtual fieldtrip dan menghadirkan narasumber tamu agar situasi lebih menarik untuk siswa siswinya.
  4. Anda mengajarkan bagaimana berhati hati di internet dengan anda berusaha menjadi contoh bagaimana berinternet sehat
  5. Anda berani menyampaikan bahwa dalam situasi ini anda pun masih belajar dan mengakui bisa saja murid lebih ahli.

Semua profil guru diatas hanya bisa dilakukan saat guru mempunyai mental yang bertumbuh dan positif. Caranya bagaimana?

1. Sadar bahwa situasi saat ini sangat menantang dan bukannya anda pasrah namun memilih untuk belajar walaupun pelan namun dengan tujuan dan arah yang benar.

2. Jika menemui kesulitan hal yang anda lakukan adalah ambil napas dan tenangkan diri dan lanjut teruskan proses.

3. Selalu punya rasa percaya diri. Jika seorang guru punya kepercayaan diri dengan melihat youtube pun ia bisa belajar hal yang baru bagi kelasnya.

Seorang guru untuk bisa sukses melalui sebuah perubahan cara terbaiknya adalah dengan beradaptasi. Dengan cara beradaptasi atau menyesuaikan diri maka guru tidak memposisikan diri harus ini dan itu sampai membuat dirinya tertekan. Ia hanya perlu mengubah sedikit demi sedikit cara ia berkomunikasi dan menghantarkan ilmu.

‘Slow growth’ atau pertumbuhan yang perlahan itu sehat bagi fisik dan mental guru. Asal saja arahnya benar yaitu mengutamakan siswa dan memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa.

5 Transformasi Pendidikan Pasca Pandemi

Saat Maret 2020 sekolah diputuskan untuk ditutup, tidak ada sekolah yang siap memasuki masa pandemi. Hampir semua pihak yang peduli pendidikan hanya berharap situasi akan segera pulih. Sampai akhirnya semua sadar bahwa sekolah sampai hari ini tetap belum bisa dilangsungkan dalam format tatap muka.

Jika sekolah dibuka kembali bagaimana kira kira format penyelenggaraan pendidikan yang cocok pasca pandemi? Perlahan namun pasti sekolah dipaksa oleh keadaan untuk mempertanyakan praktek praktek pendidikan yang sudah terjadi selama ini. Saat yang sama sekolah diminta mengembangkan strategi sistem pendidikan yang lebih baik. Tantangan ini berarti sekolah tidak bisa lagi sekedar mengulang hal hal rutin yang sudah dilakukan sebelum pandemi yang tidak efektif. Sebaliknya jika sekolah tidak bisa mengambil pelajaran dan pengalaman selama pembelajaran saat pandemi maka sekolah melewatkan kesempatan emas untuk bertransformasi.

Sal Khan seorang ahli Pendidikan yang terkenal dengan channel Khan Academy di Youtube pernah mengatakan “Let’s teach for mastery, not test scores,” atau mari kita mengajar siswa agar mereka mengerti dan paham, bukan hanya sekedar bagus dalam nilai ujiannya. Untuk itu Pendidikan pasca pandemi perlu mempertimbangkan beberapa hal.

  1. Waktu yang fleksibel (pengaturan waktu ini yang memungkinkan siswa dan guru tetap sehat). Artinya pengaturan waktu perlu dilakukan dengan cara guru focus pada individu dan pengunaan kelas virtual yang memungkinkan waktu konsultasi lewat virtual melengkapi kelas tatap muka. Dengan metode Hybrid Learning atau pembelajaran yang menggabungkan tatap muka dan kelas virtual maka pembelajaran tidak berhenti saat sekolah selesai di akhir hari. Pembelajaran akan dilakukan dengan cara yang lebih fleksibel dan tetap berkualitas karena ad akelas virtual yang bisa diakses kapan saja (24/7) dan dimana saja.
  2. Pembelajaran yang berpusat pada siswa. Suasana pendemi mengajarkan kita semua bahwa dukungan orang tua sangatlah penting dalam keberhasilan siswa. Ada juga siswa yang perlu dukungan lebih dari beragam sisi yang sayangnya belum tersedia. Dari situasi pandemic ini sekolah diharapkan untuk bisa membangun sistem Pendidikan yang berpusat pada siswa dengan berbagai macam kemungkinan.  
  3. Peran guru sebagai pendidik. Terasa sekali bahwa saat ini ada pergeseran dengan guru tidak lagi menjadi satu satunya nara sumber di sekolah atau kelas virtual yang ia adakan. Guru juga tidak bisa santai santai lagi dengan mengatakan bahwa tujuannya mendidik dan mengajar agar siswanya bagus dalam nilai atau lulus ujian. Peran guru saat ini adalah seorang desainer seorang perancang yang menyediakan sumber daya (resources) dan panduan pada siswanya agar siswa bisa belajar dengan cara yang baru dan sumber yang beragam.
  4. Pengembangan kurikulum. Buku teks memang banyak menyediakan sumber dan isi pembelajaran. Saatnya guru tidak hanya bergantung pada buku teks saja namun menggabungkan dari banyak sumber. Saatnya guru mempunyai kendali atas kurikulumnya. Dengan informasi (data) yang tersedia di ujung jari kita melalui ponsel cerdas dan layar komputer, pendidikan perlu beralih dari sekedar transmisi informasi ke penguasaan keterampilan, termasuk kemampuan untuk berpikir logis, meneliti dengan cepat dan efisien, dan banyak lagi yang merupakan kebutuhan nyata di masa depan.
  5. Budaya sekolah. Sebuah sekolah yang efektif bisa berjalan dan sukses dengan tidak mengandalkan pada satu orang saja. Sekolah yang baik menumbuhkan pemimpin melalui sistem yang transparan dan selalu diperbaharui. Pandemi ini adalah saatnya sebuah sekolah untuk menguatkan sistem dan memastikan bahwa sistemnya bisa terus menjawab tantangan zaman pasca pandemi. Dengan cara pembelajaran yang berbasis karakter dan melejitkan potensi siswa akademis dan non akademis.

Pandemi memang belum selesai, namun ia memberikan kesempatan langka bagi dunia Pendidikan untuk berpikir Kembali sambil mereposisikan dirinya apakah sudah cukup membekali siswa menghadapi tantangan masa depan. Transformasi Pendidikan menjadi jawaban dari bagaimana sebuah sekolah bisa melewati dengan sukses dunia yang penuh tantangan pasca covid 19.

%d blogger menyukai ini: