3 Tipe kepala sekolah dalam menghadapi disrupsi dalam dunia pendidikan

Ada penggolongan jenis kepala sekolah dalam menghadapi perubahan dan situasi dalam dunia pendidikan. Beberapa hal yang saya cermati dalam kaitannya dengan perubahan dalam dunia pendidikan beberapa tahun ini.

  1. perubahan kurikulum
  2. perubahan akibat pandemi
  3. perubahan akibat permintaan pasar (biasanya di sekolah swasta)
  4. perubahan kebijakan

Perubahan diatas lah yang sudah mengharu biru dunia pendidikan di indonesia dalam 5 tahun terakhir ini. Dalam diskusi pendidikan dan obrolan disela sela pertemuan para pendidik kerap menjadi bahan perbicangan. Disrupsi menjadi kata yang akrab ditelinga. DIsrupsi bukan sekedar perubahan karena ketika dialami oleh dunia pendidikan akan terasa keras kejam dan tanpa ampun.

Teori disruption pertama kali dikenalkan oleh Christensen. Disruption menggantikan “pasar lama” industri dan teknologi untuk menghasilkan kebaruan yang lebih efisien dan menyeluruh. Ia bersifat destruktif dan creative. Kata disrupsi akhir-akhir ini muncul beriringan dengan istilah era Industri 4.0. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, kata “disrupsi” diartikan sebagai “hal tercabut dari akarnya”.

Sebuah hal yang tidak mengenakkan bukan? apalagi jika pendidik masih terpesona dengan gambaran masa lalu. Dimana guru dengan mudahnya digugu dan ditiru. Padahal anak sekarang akan bertanya lagi; “guru macam apa dulu anda?”

Ada 3 hal yang menjadi kesalahan umum yang terjadi saat kepala sekolah menghadapi disrupsi ini

  1. terlalu slow untuk beradptasi dan memberikan respon. Dalam kasus pandemi misalnya, sayang sekali jika sekolah belum mempersiapkan pengajarnya agar bisa mengajar dalam dua dunia. Antara tatap muka dan virtual. Walaupun bisa dimengerti bahwa semua orang berharap pandemi hanya berlangsung sebentar. Namun tetap diperlukan kemampuan dalam beradaptasi terhadap situasi yang baru tanpa menunggu nunggu hingga situasi normal
  2. terlalu reaktif. biasanya hal ini diikuti oleh pengambilan keputusan tanpa melibatkan pemangku kepentingan di sekolah. Bahayanya jenis respon seperti ini jika membuat msalah baru. Kepala sekolah akan dianggap sebagai pemain tunggal dan tidak kolaboratif dalam menghadapi perubahan.
  3. terlalu defensif. Menolak atau terlalu cepat melakukan keputusan. Cara terbaik sekolah bisa menjadikan semua perubahan ini sebagai cara untuk lakukan pembenahan semampunya dan sebisanya

Tiga hal diatas adalah kewajaran dalam sebuah organisasi dalam menghadapi disrupsi dalam dunia pendidikan. Mari ambil keuntungan dari setiap situasi. Sesuaikan visi misi dengan kadaan dan kondisikan semua warga sekolah agar tahu bahwa disrupsi bukan sebuah hal yang bisa ditolak atau dicegah. Disrupsi dalam dunia pendidikan adalah kenicsayaan dan pasti terjadi. Sepanjang semua usaha adalah demi memeprsiapkan siswa kenapa tidak untuk dilakukan, diubah atau malah sekalian diganti dan disesuaikan.