10 Pondasi keberhasilan dalam pembelajaran jarak jauh

Memulai pembelajaran jarak jauh kembali setelah 6 bulan berlalu adalah sebuah hal yang tidak mudah. Saat semester ganjil hampir semua pendidik berharap bahwa situasi akan membaik di Januari 2021. Saat yang sama semua pemerintahan daerah dan kabupaten akhirnya dengan terpaksa melarang kembali pembelajaran tatap muka. Dikarenakan kesehatan adalah hal yang mesti diutamakan.

Pembelajaran jarak jauh diperkirakan akan semakin menjadi kelaziman sampai 4 tahun kedepan. Dikarenakan situasi yang masih belum memungkinkan. Sebenarnya apa yang mesti dijadikan pondasi agar semua hal yang menjadi akar sumber masalah di semester ganjil kemarin tidak terjadi lagi di semester genap ini.

Ada hal yang mesti disetujui bersama dahulu bahwa sekolah tidak “ditutup” di tengah lonjakan virus Corona yang melanda hampir setahun ini. Sekolah tetap buka hanya saja menggunakan dunia maya sebagai sarana interaksi. Ucapan terima kasih bagi semua guru yang bekerja tanpa lelah untuk mewujudkan pembelajaran jarak jauh. Sekolah adalah sebuah bentuk relasi atau hubungan antara guru dan murid, murid dan murid.

Hanya seorang guru yang sadar bahwa sebuah relasi adalah pondasi dari sebuah interaksi pembelajaran baik itu tatap muka maupun virtual yang akan berhasil melewati situasi sulit ini. Sebenarnya seperti apa relasi (hubungan) yang dianjurkan untuk terjadi selama pembelajaran jarak jauh ini. Jika pada saat pembelajaran tatap muka seorang guru adalah seorang yang tidak terlalu peduli pada kualitas hubungan guru dan murid maka di situasi pembelajaran jarak jauh ia adalah orang yang paling kerepotan membuat situasi pembelajarannya menjadi kondusif.

Bagaimana relasi, koneksi dan hubungan menjadi penting dalam situasi pembelajaran jarak jauh ini?

  1. Guru yang hebat memulai semester ini dengan melakukan koneksi dahulu kepada siswanya. Koneksi yang saya maksud adalah guru bersepakat dahulu dengan siswanya mengenai bentuk pembelajaran, mengapa kita perlu belajar ini dan itu. Bagaimana bentuk komunikasi jika siswa ingin bertanya dan guru ingin menilai mereka. Kapan murid bisa bertanya dan dimana saja pembelajaran virtual akan dilakukan. Semua membuat murid tahu bahwa guru ingin menjalin saling pengertian kepada muridnya. Menanamkan bahwa keberhasilan pembelajaran berasal dari dua belah pihak.
  2. Murid sulit untuk belajar dari orang yang ia tidak sukai. Siswa hanya mau belajar pada orang yang peduli pada mereka. Guru yang berhasil dalam pembelajaran jarak jauh ini adalah guru yang melihat siswanya secara individu.
  3. Saatnya guru berpikir apakah saya sudah berusaha yang terbaik untuk siswa saya? Seberapa sering saya menyerah terhadap situasi sulit sekarang ini? Seberapa sering juga saya bangkit, mencari bantuan dan mencoba sendiri di tengah ketidaktahuan akan metoda baru dan keterampilan baru untuk bisa bertahan dalam situasi pembelajaran jarak jauh ini.
  4. Pendidik yang masih mengeluhkan disiplin siswa dalam situasi pembelajaran jarak jauh ini mestinya berefleksi dahulu mengenai bagaimana kualitas hubungan dengan siswanya.
  5. Situasi pembelajaran jarak jauh memerlukan guru yang memang berniat memberikan umpan balik kepada siswanya dengan cara yang jernih dan langsung ke pokok permasalahan dikarenakan guru peduli dan ingin siswanya berhasil melalui situasi ini.
  6. Dalam pembelajaran jarak jauh guru bukan sekedar tutor atau fasilitator. Ia adalah seorang perancang (desainer) yang merancang bentuk interaksi, konten dan konteks pembelajaran sampai berpikir bagaimana membuat siswanya bersedia terus ‘terikat’ secara emosional dengan pembelajaran yang ia lakukan.
  7. Di kelas yang punya relasi yang baik, guru tidak pernah menyuruh ini dan itu. Ia membuat sebuah skenario sampai seorang murid tahu dan mengerti apa yang ia mesti kerjakan dan jelas proses apa yang mesti ia lakukan dan lalui. Guru menjadi seorang yang membuat alur dimana murid dengan sukarela dan tidak terasa berperan dalam situasi pembelajaran dengan pertanyaan pertanyaan serta diskusi yang mengasikkan.
  8. Demi sebuah relasi yang sehat antara guru dan siswanya, guru yang berhasil dalam sebuah pembelajaran jarak jauh tidak ragu untuk terus memodifikasi pembelajarannya. Ia tidak merngubah pembelajarannya karena dirinya ingin lebih berhasil dalam mengajar dan menghabiskan target kurikulum tapi karena ia ingin muridnya bisa aktif dalam pembelajaran.
  9. Guru yang berhasil adalah guru yang tahu dan mengamati perubahan yang terjadi pada siswanya. Ia sensitif dan sadar betul hal apa yang berubah dari siswanya. Ia menggunakan segala kemampuan dan cara agar ia mengetahui perubahan apa yang terjadi pada siswanya.
  10. Gunakan strategi ‘dua kali sepuluh’. Seorang guru membuat target untuk berbicara secara individual dengan siswa yang mengalami kesulitan selama dua menit selama 10 hari berturut turut. Interaksi yang cepat dan terfokus ini dapat membangun hubungan dan memberikan dorongan emosional kepada siswa yang mengalami kesulitan.

Apa bukti bahwa anda sudah sukses dan berhasil dalam sebuah situasi pembelajaran jarak jauh ini ? buktinya adalah sebagai guru anda tidak selalu kelelahan dan siswa pun tidak selalu stres. Sebuah relasi yang sehat dan baik dari sebuah kelas pembelajaran jarak jauh adalah menempatkan guru dan siswa dalam posisi yang sama dan sejajar. Jika guru mesti sehat mentalnya (bebas stress) demikian juga dengan siswanya. Hanya saja guru sering memposisikan pembelajarannya sebagai ‘menghantarkan pengetahuan’ dan bukan dengan segala cara dan merupakan sebuah ‘seni’ dalam membuat siswanya mengerti.

Penulis: agusampurno

Mitra menuju sekolah efektif dan guru profesional

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s