6 Pertanyaan kepada siswa dimasa pembelajaran jarak jauh

Sebelum pandemi, saat selesai memberikan pembelajaran saat tatap muka, guru biasa bertanya pada siswanya bagaimana mutu pembelajarannya. Dikarenakan jamannya sekarang berbeda maka pertanyaannya pun berbeda.

1. Selama belajar online, pengalaman yang mana yang paling kamu sukai, mana yang paling kamu kuasai dan mana yang paling membuatmu kesulitan?
2. kamu lebih suka mana saat belajar dengan tata cara daring, menyalakan video atau mematikan video?
3. Hal apa yang membuat mu tak nyaman saat belajar online, silakan kamu boleh cerita
4. saat pembelajaran jarak jauh di rumah kamu paling suka berada dimana? kalau kamu punya adik gimana? apakah kamu diberi tugas menjaganya?
5. HP atau laptop di rumah mu apakah dipakai bergantian?
6. apakah kamu punya masukan untuk saya sebagai guru mu agar pembelajaran kita bisa lebih menarik.

Pertanyaan diatas bisa membuat guru makin percaya diri dalam melakukan perencanaan pembelajaran jarak jauh yang efektif.

5 Salah paham mengenai prinsip delegasi tugas dari Kepala Sekolah kepada bawahannya

Membina staf di sekolah erat kaitannya dengan membina potensi. Jika seorang pemimpin melewatkan potensi stafnya dan kemudian hanya sibuk menyuruh ini dan itu maka ia melewatkan pembinaan potensi dan kompetensi staf nya. Ada istilah keren lainnya yaitu ‘mendelegasikan’. Sayangnya masih banyak yang salah kaprah dengan istilah ini.

Apa saja kesalahpahaman yang kerap terjadi?

  1. Mendelegasikan bukan melepas tanggung jawab. Mendelegasikan berarti melepas tanggung jawab untuk dikerjakan orang lain agar pemimpin bisa lebih berkonsentrasi pada hal yang strategis dan orang yang menerima tanggung jawab akan meningkat kapasitasnya.
  2. Mendelegasikan bukan sekedar menyuruh, disana ada kesepakatan dan target serta verifikasi apa yang membuat penugasan itu menjadi berhasil atau tercapai.
  3. Mendelegasikan tugas bukan sekedar menurunkan pekerjaan ke bawah. Mendelegasikan tugas perlu perencanaan, waktu serta verifikasi.
  4. Tidak ada pola yang sama dalam delegasi. Lain orang lain cerita dan perlu banyak penyesuaian tergantung pada situasi pekerjaan.
  5. Pendelegasian bukan berarti seorang pemimpin punya kelemahan. Seberapapun hebatnya seorang kepala sekolah ia tidak akan mampu mengerjakan semuanya.

Dalam situasi tertentu diperlukan keluwesan seorang pemimpin untuk kapan ia mengarahkan, membina, mendukung dalam jangka waktu tertentu dan baru kemudian mendelegasikan.

Proses pendelegasian bisa langsung dilakukan jika ketiga hal sebelumnya sudah dipastikan dilakukan atau bisa langsung melewatinya jika dianggap bawahan sudah cocok dan siap untuk dibiarkan sendiri mengerjakan tugas yang diberikan. Kaitanya dengan hal ini adalah kompetensi, inisiatif dan kemampuan menindak lanjuti perintah sampai selesai.

3 jenis solusi perubahan bagi 3 tipe sekolah yang berbeda

Saat menjadi pemimpin yang baru menjabat di sebuah sekolah akan diperlukan pengamatan dan penyesuaian. Ketika hasil pengamatan singkat sudah dilakukan maka saatnya kepala sekolah mengambil keputusan akan bersikap bagaimana. Ada beberapa situasi dimana seorang pemimpin sekolah akan diminta berperilaku yang berbeda. Kesemuanya tergantung dengan situasi dan tipe keadaan di sekolahnya. Di banyak sekolah yang rotasi kepemimpinannya selalu berganti maka penting bagi seorang pemimpin yang baru masuk untuk bisa mengenali tipe apakah sekolah yang akan ia pimpin.

Sebuah sekolah jika digolongkan ke dalam situasinya bisa dibagi menjadi 3 tipe

Tipe sekolah dalam situasi ‘krisis’. Ciri cirinya adalah kepercayaan masyarakat rendah terbukti dengan muridnya yang sedikit. Guru gurunya rendah motivasinya dan cenderung cuek bahkan membangkang. Murid-muridnya dalam kondisi semangat belajar yang seperlunya saja di sekolah bahkan cenderung tinggi angka membolos dan banyak terlibat kasus di luar sekolah seperti tawuran dan lain sebagainya.

Apa yang bisa dilakukan oleh kepala sekolah baru dalam menghadapi situasi ini:

Pemimpin perlu mengambil peran otoriter atau arahan dalam memobilisasi orang lain menuju hasil yang diinginkan. Anda hanya perlu mencari seperempat dari jumlah guru untuk digerakkan agar ia setuju dengan konsep perbaikan yang anda tawarkan. Mulai petakan mana saja bawahan yang ahli berpengalaman, sedang dan bawahan yang tidak punya kompetensi. Ketika berhadapan dengan bawahan ahli yang sangat berpengalaman, pendekatan yang lebih partisipatif direkomendasikan. Sementara dengan dua tipe lainnya anda diperlukan perannya dalam membina dan mengajari agar bisa ikut arus perubahan. Kepala sekolah bisa mulai dengan memperbaiki proses belajar mengajar yang akarnya adalah kedisiplinan guru dan siswa.

Tipe sekolah yang sedang sedang saja. Cirinya adalah sekolah yang sudah cukup lama ada namun prestasinya standar standar saja. Gurunya pun seragam dalam bersikap, yang muda cenderung ikut arus, yang sedang terlanjur pasrah dan yang senior tunggu pensiun. Tipe sekolah seperti ini guru gurunya tipe ‘wait and see’ seperti orang yang tertidur namun menunggu untuk dibangunkan.

Apa yang bisa dilakukan oleh kepala sekolah baru dalam menghadapi situasi ini:

Jika kepala sekolah menemui situasi ini hal yang mesti dilakukan adalah membangkitkan kemampuan semua yang ada di sekolah agar bisa menampilkan sisi terbaik dari kinerjanya. Biasanya tipe sekolah seperti ini pernah punya prestasi dan kehebatan di masa lalu. Saya yakin semua yang anda sarankan akan dijawab bahwa dulu sudah pernah dilakukan. Sebagai pemimpin anda bisa minta mereka memilih prestasi apa yang akan dilakukan atau digiatkan kembali agar kebangaan mereka datang kembali. Setelah itu pastikan anda memberikan target pencapaian dan prestasi sambil terus ditingkatkan proses belajar mengajarnya agar lebih berkualitas.

Tipe sekolah yang stabil. Tipe sekolah ini biasanya dipercaya masyarakat. Guru gurunya percaya diri dan merasa punya nama. Prestasinya ada namun belum tentu kekinian. Punya sejarah panjang sebagai sekolah yang dipercaya masyarakat dan guru gurunya sangat percaya diri dengan praktek yang selama ini lakukan

Apa yang bisa dilakukan oleh kepala sekolah baru dalam menghadapi situasi ini:

Kepala sekolah bisa menerapkan teknik pendelegasian yang terukur, transparan dan terverifikasi. Biasakan mereka berbicara dengan data dan bukti. Ungkapkan bahwa di jaman google ini semua orang mesti bicara dengan bukti data. Untuk itu lengkapi mereka dengan kemampuan dokumentasi dan data. Selama ini kebiasaan yang tidak baik di sekolah adalah semua dokumen dilengkapi jika ada akreditasi saja. Berikan sentuhan nilai yang baru dan kekinian pada dokumen mereka dari segi pengayaan konten dan kreativitas dalam pelaksanaan. Untuk prestasi coba agar mereka mencari variasi dari lomba lomba yang biasa diadakan oleh kementrian menjadi lomba yang berasaskan pada inovasi dan persaingan yang murni (biasanya diadakan oleh perguruan tinggi).

Silakan cermati ada di tipe yang mana anda sekarang. Selanjutnya lakukan terus pola penyesuaian tipe kepemimpinan agar semua tujuan anda tercapai. Selamat membawa perubahan.