5 Langkah menjadikan kepanitiaan di sekolah anda efektif

Di sekolah yang efektif ada saja acara atau kemeriahan serta event yang dilaksanakan. Dari yang sifatnya rutin tahunan seperti PPDB sampai acara kemeriahan yang berbau hari besar nasional sampai keagamaan. Di banyak sekolah saya amati perayaan seperti ini akan menyisakan pembicaraan setelah event tersebut usai.

Apa saja yang biasanya menjadi ‘trending topic’ pasca sebuah acara di sekolah dilakukan?

  1. Orang yang menjadi terlibat di kepanitiaan acara adalah orang yang sama terus menerus. Di banyak sekolah yang orangnya sedikit hal ini tidak bisa dihindari. Tetapi di sekolah yang personil nya cukup jika hal ini terjadi terus menerus akan menjadi pertanyaan bagi semua orang. Sampai ada istilah ‘sekertaris abadi’ atau ‘ketua panitia’ sampai ‘bendahara’ abadi.
  2. Ada personil yang mengerjakan semua namun ada yang cuma duduk duduk saja padahal namanya ada di deretan kepanitiaan bahkan tertera di proposal.
  3. Ada yang merasa sudah melakukan semua hal namun masih saja dianggap kurang atau tidak memenuhi standar.

Ada 5 langkah yang bisa dilakukan seorang kepala sekolah dalam membuat sekolahnya semarak dan personilnya makin lama makin profesional dan ‘gercep’ dalam bekerja.

  1. Lakukan analisa tugas. Siapa mengerjakan apa. Lakukan pemetaan tugas dan tentukan posisi posisi kunci yang penting. Dalam banyak kesempatan kepala sekolah ketika ada event di sekolah mengeluarkan surat keputusan atau SK hal ini akan baik sekali jika ada job description yang jelas pada surat tersebut. Dengan demikian semua orang yang ditunjuk saling tahu apa yang menjadi tugas pokok mereka.
  1. Pahami kekuatan dan kelemahan tim di sekolah anda. Selanjutnya, evaluasi tingkat kematangan/kedewasaan emosional dan keterampilan bekerja team anda. Teori Model Kepemimpinan Situasional Hersey-Blanchard bisa diterapkan disini karena model ini membantu membingkai gaya kepemimpinan dengan tingkat kedewasaan individual dalam tim. Berdasarkan model ini, Kepala sekolah akan mengetahui kapan harus menggunakan gaya kepemimpinan tertentu dan pada tingkat kematangan emosional yang bagaimana.

R1 – Orang-orang pada tingkat kedewasaan emosional ini berada di tingkat paling bawah dari skala. Mereka tidak memiliki pengetahuan, keterampilan, atau kepercayaan diri untuk bekerja sendiri dan sering kali perlu didorong untuk melakukan tugas.
R2 – Pada level ini, anggota tim mungkin bersedia mengerjakan tugas, tetapi mereka masih belum memiliki keterampilan untuk menyelesaikannya dengan sukses.
R3 – Di sini, anggota tim siap dan bersedia membantu tugas. Mereka memiliki lebih banyak keterampilan daripada individu yang ada di grup M2, tetapi masih tidak percaya diri dengan kemampuan mereka.
R4 – Pengikut ini dapat bekerja sendiri. Mereka memiliki kepercayaan diri yang tinggi, keterampilan yang kuat dan mereka berkomitmen pada tugas dalam kepanitiaan.

3. Tetapkan ekspektasi yang jelas. Tanpa ekspektasi yang jelas, Anda dan tim tidak memiliki kerangka kerja yang ditetapkan untuk mengukur kinerja kerja, pemberian manfaat, atau pemahaman yang jelas tentang apa yang dimaksud dengan sebuah tugas telah ditunaikan dengan baik. Termasuk verifikasi apa yang diminta untuk membuat sebuah penugasan dianggap berhasil dan selesai dikerjakan.

4. Latih tim anda. Dalam setiap kepengurusan panitia anda mungkin akan menemukan anggota tim yang komitmen dan percaya diri namun tidak punya cukup keterampilan. Nah orang orang seperti ini yang bisa dikirim untuk pelatihan atau dilakukan pendampingan secara khusus oleh orang yang ahli.

5. Check and Recheck . Hal yang paling tidak menyenangkan bagi seorang anak buah adalah punya pemimpin yang tidak percayaan dan cenderung detail serta gemar menguliti langkah demi langkah hal yang anak buahnya lakukan atau biasa disebut ‘micro management’. Selalu terangkan pada tim anda bahwa anda memberikan mereka 100 persen kepercayaan namun hak anda sebagai pemimpin untuk memverifikasi sudah sampai dimana pelaksanaan tugas yang dilakukan.

Dengan lima langkah diatas maka setiap penugasan yang anda berikan yang tadinya dianggap sebagai rutinitas dan hal yang biasa dalam sebuah pekaksanaan event menjadi sarana pembelajaran bagi semua orang yang terlibat. Sebuah sekolah yang efektif adalah sekolah dimana pemimpin nya menciptakan pemimpin lewat cara cara yang kreatif dan penugasan yang tidak biasa. Jika secara konsisten anda menerapkan langkah diatas maka prinsip yang sama bisa diberlakukan untuk penugasan yang lebih berat dan menantang. Seperti misalnya tim kerja bagi akreditasi dan hal lainnya yang memerlukan kerjasama dan pendelegasian tugas yang jelas.

Iklan

Penulis: agusampurno

Mitra menuju sekolah efektif dan guru profesional

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: