5 cara agar anda menjadi guru yang handal saat mengajar secara online

EUIiKZ-XsAgOAY- 1

Dalam era wabah Covid 19 ini semua guru ada di dalam keterpaksaan. Semua keluar dari zona nyaman untuk menjadi bisa dan mampu menghantarkan pembelajaran jarak jauh atau distance Learning

Dalam menjawab tantangan ini, guru mesti memaksa dirinya agar bisa sukses dan belajar dari pengalaman.

Berikut ini adalah 5 hal yang mesti dilakukan guru agar dirinya handal dalam berpraktek sebagai guru jarak jauh

1. Membuat tugas kepada siswanya dengan simple saja. Simple bukan berarti gampang atau terlalu mudah. Simple disini berarti siswa tidak mulai dengan hal yang sama sekali baru, guru bisa mulai dengan tugas yang pernah siswa lakukan dan sedikit di modifikasi.
2. Membuat jadwal atau kalendar kegiatan mingguan. Dalam seminggu siswa mesti tahu ia akan belajar apa dan menghasilkan produk apa. Hal ini juga menjadi cara guru menghargai orang tua siswa yang telah membantu siswa di rumah. Dengan memberikan gambaran mingguan artinya guru memberikan napas bagi orang tua di rumah tenggat waktu dan pikiran dalam membantu mengerjakan.
 3. Berani memodifikasi kurikulum. Terapkan prinsip merdeka belajar berikan tugas yang diluar kebiasaan namun menantang siswa. Membuat vlog misalnya anak pasti senang dan ada banyak sederet tugas lain selain hanya mengerjakan buku paket.
 4. Tetap menjadi guru. Jangan karena mediumnya berbeda maka dalam diskusi dengan siswa, anda jadi terlalu cair atau bahkan terlalu tegang. Tetaplah jadi guru yang tegas tapi ramah saat melakukan pembelajaran online.
5. Ingat bahwa isi atau konten pembelajaran anda bisa dari mana saja. Variasikan sumber belajar maka kelas online anda akan menarik. Jika sumber belajar anda beragam, jangan terkejut jika siswa juga akan menjadi kreatif dalam menuangkan hasil belajarnya. Bisa lewat peta pikiran, vlog, blog atau infographic

Dalam mengajar aspek komunikasi tetap nomor satu. Tempatkan diri anda pada diri siswa, misalnya tidak semua siswa punya dukungan yang sama dari orang tua siswa. Untuk itu ada baiknya selalu mengecek bagaimana siswa mengerjakan tugas nya selama pembelajaran dengan tipe online ini.

Panduan Awal Mendesain Pembelajaran Dalam Jaringan (Daring)

uuuu

Satu minggu penuh baru saja berlalu sejak Mendikbud mengeluarkan Surat Edaran nomor 36962/MPK.A/HK/2020 agar seluruh kegiatan belajar mengajar baik di sekolah maupun kampus perguruan tinggi menggunakan metoda daring (dalam jaringan) alias online sebagai upaya pencegahan terhadap perkembangan dan penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19).

Banyak sekali kisah menarik, lucu, maupun sedih yang terjadi dalam proses belajar dengan metode ini. Bisa dilihat bagaimana gagapnya para pendidik, stresnya orang tua yang mendampingi anak-anaknya belajar di rumah, dan tentunya bagaimana siswa kebingungan menghadapi tumpukan tugas yang aneh-aneh dari para pendidik yang sedang gagap.

Secara proses, sebenarnya model pembelajaran modern ini sudah diatur dalam Permendikbud no. 22 tahun 2016 tentang Standar Proses dengan prinsip sebagai berikut:

 

  1. Dari peserta didik diberi tahu menuju peserta didik mencari tahu;
  2. Dari guru sebagai satu-satunya sumber belajar menjadi belajar berbasis aneka sumber belajar;
  3. Dari pendekatan tekstual menuju proses sebagai penguatan penggunaan pendekatan ilmiah;
  4. Dari pembelajaran berbasis konten menuju pembelajaran berbasis kompetensi;
  5. Dari pembelajaran parsial menuju pembelajaran terpadu;
  6. Dari pembelajaran yang menekankan jawaban tunggal menuju pembelajaran dengan jawaban yang kebenarannya multi dimensi;
  7. Dari pembelajaran verbalisme menuju keterampilan aplikatif;
  8. Peningkatan dan keseimbangan antara keterampilan fisikal (hardskills) dan keterampilan mental (softskills);
  9. Pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat;
  10. Pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan (ing ngarso sung tulodo), membangun kemauan (ing madyo mangun karso), dan mengembangkan kreatifitas peserta didik dalam proses pembelajaran (tut wuri handayani);
  11. Pembelajaran yang berlangsung di rumah di sekolah, dan di masyarakat;
  12. Pembelajaran yang menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa
    saja adalah peserta didik, dan di mana saja adalah kelas;
  13. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan
    efisiensi dan efektivitas pembelajaran; dan
  14. Pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang budaya peserta didik.

Apabila prinsip pembelajaran diatas diselaraskan dengan 4 pilar pendidikan yang disusun oleh UNESCO yaitu: Learning to Know (belajar untuk mengetahui), Learning to Do (belajar untuk melakukan sesuatu), Learning to Be (belajar untuk menjadi sesuatu), dan Learning to Live Together (belajar untuk hidup bersama).

Maka saat ini adalah kesempatan paling tepat untuk mengatur ulang arah dunia pendidikan kita yang selama sudah tersesat jauh dari tujuan.

Dunia pendidikan harus kembali mengajarkan cara belajar (Learning How to Learn) bukan Learning What to Learn (belajar tentang sesuatu).

Semua ini tercermin dari isi pembelajaran daring seminggu ini dimana guru masih berkutat tentang konten / materi yang dibuat untuk memberi tahu peserta didik daripada membiarkan mereka untuk mencari tahu sendiri.

Dengan adanya internet peserta didik dapat belajar untuk tahu, belajar untuk melakukan, belajar untuk menjadi sesuatu, dan belajar untuk hidup bersama dengan pendekatan yang sangat berbeda di masa pra internet dimana guru menjadi satu-satunya sumber belajar.

Para pendidik cukup memfasilitasi bagaimana peserta didik dapat mencari tahu sumber belajar yang dapat dipercaya, bukan hoax, dan bukan sekedar opini seseorang yang kredibilitasnya masih diragukan.

Tahun 2014 yang lalu, Bank Dunia meluncurkan sebuah kajian berjudul Developing Social-Emotional Skills for the Labor Market (Mengembangkan Keterampilan Sosial Emosional untuk Dunia Kerja) yang ditulis oleh Nancy Guerra, Kathryn Modecki, dan Wendy Cunningham. Ada 8 keterampilan yang paling dicari oleh perusahan-perusahaan dalam merekrut pegawai:

Memecahkan Masalah yang optimal perkembangannya diusia anak (6-12 tahun) dan remaja (12-18 tahun), namun dapat dikenalkan dasarnya sejak usia dini (0-5 tahun), dan dapat dikuatkan sampai usia dewasa (19-29 tahun); Ketangguhan (tidak mudah menyerah) yang optimal perkembangannya diusia dini (0-5 tahun) dan usia anak (6-12 tahun), serta dapat dikuatkan sampai pada usia remaja (12-18 tahun); Motivasi untuk Berprestasi yang optimal perkembangannya anak (6-12 tahun) dan dapat dikuatkan sampai pada usia remaja (12-18 tahun); Pengendalian Diri yang optimal perkembangannya diusia dini (0-5 tahun) dilanjutkan pada usia anak (6-12 tahun) hingga di usia remaja (12-18 tahun), dan dapat dikuatkan sampai usia dewasa (19-29 tahun); Teamwork yang optimal perkembangannya diusia dini (0-5 tahun) dan usia anak (6-12 tahun), serta dapat dikuatkan sampai pada usia remaja (12-18 tahun); Prakarsa yang optimal perkembangannya dari usia dini sampai dengan dewasa (0-29 tahun); Kepercayaan Diri yang optimal perkembangannya diusia anak (6-12 tahun) dan remaja (12-18 tahun), namun dapat dikenalkan dasarnya sejak usia dini (0-5 tahun), dan dapat dikuatkan sampai usia dewasa (19-29 tahun); dan Etika yang optimal perkembangannya diusia anak (6-12 tahun) dan remaja (12-18 tahun), namun dapat dikenalkan dasarnya sejak usia dini (0-5 tahun).

 

Menghidupkan Visi dan Misi sekolah

Keberhasilan sekolah dalam mencapai target atau tujuannya sangat dipengaruhi oleh komitmen sekolah dalam melaksanakan apa-apa yang sudah dirumuskan sebagai visi dan misinya. Perlu diketahui bahwa tujuan sekolah sebagai lembaga pendidikan adalah membantu siswa untuk berkembang secara optimal dari segi fisik, moral, sosial, spiritual, pengetahuan, dan keterampilan .

Visi dan misi sekolah hendaknya mengandung nilai-nilai yang diperlukan seluruh warga sekolah dalam menjalankan aktifitasnya  sehari-hari sehingga akan tercipta lingkungan sekolah yang profesional, aman, nyaman dan kekeluargaan.

Bagaimana visi dan misi sekolah yang baik itu, Sebagai ilustrasi:

Sekelompok guru mempunyai agenda untuk membawa siswa studi wisata maka ditunjuklah seorang menjadi kordinator. Secara bersama  dirembukkanlah tujuan yang hendak dicapai, Visi dan  bagaimana upaya untuk mencapainya Misi. Jika dilakukan secara bersama-sama maka semua yang terlibat akan merasa jelas dengan tujuan yang akan dicapai dan bertanggung jawab untuk melaksanakan tugasnya guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

Jadi  visi dan misi sekolah  bukan  hanya sekedar  sederet pernyataan tertulis namun merupakan pernyataan yang menjadi  tujuan yang akan dicapai dan untuk mencapainya  diperlukan upaya konkrit yang akan dilaksanakan  untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Lebih penting lagi bahwa visi dan misi perlu difahami dan dilaksanakan oleh warga sekolah dalam setiap aktifitas yang dilakukan.  seperti pada saat guru melaksanakan aktifitas belajar mengajar, interaksi antar warga sekolah dan pada kegiatan-kegiatan lainnya.Untuk menilai  seberapa efektifkah visi dan misi sekolah kita maka jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut:

1.Apa indikator untuk mengetahui bahwa visi dan misi difahami dan dilaksanakan oleh warga sekolah?

2.Apakah visi dan misi  memenuhi syarat SMART (Simple, Measurable, Achievable, realistic, tangible) ?

3.Bagaimana kita tahu jika visi dan misi difahami oleh warga sekolah?

2.Bagaimana proses perumusannya?

4.Upaya apa yang dilakukan agar visi dan misi difahami dan dilaksanakan oleh warga sekolah?

Yang terpenting adalah Untuk dapat menghidupkan visi  dan misi, sekolah perlu menciptakan budaya komunikasi yang efektif. Ketahuilah bahwa visi dan misi yang efektif dapat dilihat dan dirasakan sejak pertama seseorang memasuki lingkungan sekolah. Mulailah meninjau kembali visi dan misi sekolah kita agar tujuan yang hendak dicapai dapat terwujud..