Resep sukses wujudkan program prestasi di sekolah.

  1. Sekolah sudah ‘selesai’ membangun komunikasi ke dalam dan keluar komunitas sekolah mengenai pentingnya siswa merasakan pengalaman berlomba. Sudah bukan saatnya lagi guru menolak memberikan nilai KKM dalam pembelajarannya kepada siswa yang kerjanya membela nama baik sekolah. Jika tidak terbiasa anda akan kaget dengan pemandangan yang saya lihat, dimana di hari aktif, sekolah (yang berprestasi) dalam keadaan tidak terlalu ramai bahkan cenderung sepi karena siswa nya sibuk latihan, mengisi acara atau lomba di luar sekolah. Bayangkan jika guru tidak dipersiapkan, yang ada ia akan shock melihat kelasnya kosong.
  2. Sekolah punya sistem pembelajaran kelas virtual. Seorang siswa yang kerjanya membela nama sekolah dan berprestasi bagi karier masa depannya akan sangat sibuk dan kurang waktu belajarnya. Kepala sekolah melatih dan meminta guru lakukan flipped learning dan punya kelas virtual dimana siswa tidak mesti hadir di kelas namun tetap terhubung dengan tugas tugas serta target pembelajaran. Bahkan jika kepala sekolah berani, sistem SKS ala perkuliahan bisa menjadi pilihan dalam mensinergikan antara pencapaian target kurikulum serta keinginan melahirkan siswa berprestasi.
  3. Sekolah punya prinsip ‘satu untuk semua’. Terima saja keadaan bahwa tidak semua anak suka olah raga atau tidak semua anak suka dengan bidang akademis. Sebaliknya ada siswa yang mudah sekali diarahkan serta punya minat yang besar di kedua bidang diatas. Jika ada 700 an anak di sekolah anda, mungkin anda hanya akan punya 10 anak yang masuk kategori. Saatnya sekolah fokus pada anak tersebut, binalah mereka dengan sekuat daya dan tenaga, sambil kepala sekolah terdepan memimpin proses agar berhasil. Keberhasilan satu anak saja akan mengangkat nama sekolah dan membuat bangga ratusan anak yang lain di sekolahnya. Mungkin yang ikut lomba hanya anak yang itu itu saja, namun hal itu akan lebih baik mereka dipilih karena sudah dipersiapkan dan bukan dipilih karena tidak ada yang lain yang bisa atau mampu.
  4. Latih guru guru spesialis kompetisi. Biarkan mereka berinovasi lewat program pembinaan yang berbasis pada proses yang baik dan persiapan yang matang. Ekskul bisa menjadi salah satu cara. Tugas kepala sekolah melakukan pengawasan dan memastikan komitmen dari semua pihak.
    Sering sekolah terjebak dalam dilema ingin sukses dalam segala hal yaitu aspek akademik dan non akademik. Ujung ujungnya semua malah menjadi tumpul dan minim prestasi.
  5. Semua komponen di sekolah menerima bahwa tidak semua siswa ‘lancar’ mengarungi karier pembelajarannya. Ada siswa yang jiwa dan raganya sangat siap menjadi atlet. Dikarenakan semua sadar fungsi sekolah adalah lembaga yang melejitkan dan membesarkan potensi. Sekolah juga tidak tinggal diam, dengan segala cara melakukan usaha dimana tiap siswa punya keterampilan dasar yang akan ia perlukan (lihat point 7) dalam karier nya sebagai pembelajar. Ketika semua siswa sudah punya bekal baru disitu akan terlihat mutiara mutiara yang layak dibina lebih lanjut (lihat point 3)
  6. Segenap elemen di sekolah sudah sadar bahwa O2SN dan FLS2N adalah hanya salah satu ajang saja dalam unjuk prestasi. Sebuah prestasi tidak melulu lahir dari kompetisi. Prestasi bisa beragam, misalnya siswa siswi sekolah anda menjadi langganan pemda setempat karena punya keterampilan menari atau hal lain yang terjadi karena kepercayaan pihak di luar sekolah.
  7. Sekolah punya kelas ‘keterampilan dasar’ bagi siswanya. Siswa yang masuk di kelas 7 atau 10 diwajibkan mengikuti kelas pembinaan bagi keterampilan wajib yang ada hubungannya dengan kaidah pembelajaran abad 21 yaitu 6C (Creativity, Communication, Collaboration, …) Disitulah siswa dibekali keterampilan belajar bagaimana belajar yang menjadi bekal di saat ia harus sibuk ini dan itu dalam rangka berprestasi.
  8. Sekolah sudah punya sistem ketika team yang dikirim menjadi juara atau menerima hadiah. Tentunya semua diatur terlebih dahulu oleh sekolah dengan tata cara yang adil dan profesional.

Menjadi gambaran bahwa saat ini pilihan bagi sebuah sekolah adalah apakah hanya sibuk di akademis semata? Serta menjadikan pencapaian Kurikulum dan UN sebagai alasan sekolah untuk hanya fokus pada satu sisi saja. UN memang penting untuk diikuti namun potensi siswa juga tak kalah pentingnya untuk didampingi.

Sudah saatnya kepala sekolah berhenti mengatakan “apakah guru/siswa saya mampu?” Karena bukan pemimpin namanya jika malah meragukan potensi yang dipimpin. Hal lain yang terkadang terlewat untuk dirasakan manfaatnya adalah siswa akan berkurang perilaku minusnya dikarenakan sekolah punya banyak pilihan dalam menghabiskan energi siswa”nya. Saya yakin guru BK akan banyak memetik manfaat.

Di jaman dimana seorang atlet mendapatkan bonus ratusan juta bahkan miliaran atau jaman dimana ada beasiswa banyak tersedia bagi pemenang lomba karya ilmiah apakah tidak terbersit dalam diri kita sebagai pendidik bahwa salah satu dari siswa/siswi kita akan jadi penerimanya.

“Siapa kita yang bisa bisanya menghalangi potensi seorang siswa hanya karena khawatir nilainya turun atau kurikulum tidak tercapai” Tidak adil rasanya jika sebagai pendidik, kita tidak melapangkan jalan bagi siswa kita untuk bisa mandiri dalam kehidupannya karena prestasi.

Iklan

Penulis: agusampurno

Mitra menuju sekolah efektif dan guru profesional

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s