Menimbang antara ‘pencitraan’ dan ‘reputasi’ dalam mempromosikan sekolah swasta.

Mempromosikan sekolah swasta berarti mesti siap dengan dua hal yang sangat penting yaitu REPUTASI dan PENCITRAAN. Bagi sekolah yang sudah lama berjalan, penting bagi pengelola sekolah untuk mengetahui fakta negatif dan positif (reputasi) mengenai sekolah.. Bagi sekolah yang baru saatnya melakukan pencitraan habis-habisan agar orang tua siswa percaya dan berkenan. Apakah sekolah yang sudah lama berjalan tidak boleh melakukan pencitraan? Jawabannya tentu boleh, dikarenakan melakukan pekerjaan mempromosikan sekolah, setengah dari pekerjaannya adalah melakukan pencitraan.

Mari kita bedakan antara pencitraan dan reputasi.

PENCITRAAN : Erat kaitannya dengan citra apa yang ingin sekolah anda bentuk dan citrakan. Sebagai contoh, menjadikan siswa pembelajar dan bertakwa sepanjang hayat sampai menjadikan siswa sebagai pemimpin masa depan. Citra yang paling mudah dibangun adalah sekolah yang hasilkan siswa berkarakter, fasilitas lengkap sampai siswanya berprestasi. Melakukan pencitraan berarti sekolah anda mesti sadar diri dahulu dan melihat semuanya dari kacamata positif agar mudah mengangkat sebuah hal untuk dicitrakan positif.

REPUTASI: adalah label atau cap atau sangkaan masyarakat terhadap sekolah anda. Sangatlah tidak mungkin mengatur bagaimana masyarakat menilai sekolah kita, yang mungkin adalah membenahi hal yang memang nyata adanya dari cap (negatif) yang ada. Tidak lah mungkin sebuah sekolah hanya punya label negatif saja, jika label positif ada di sekolah anda, angkat itu habis-habis an melalui pencitraan. Gunakan kekuatan media sosial untuk melakukannya.

Dalam membentuk pencitraan dan reputasi perlu kerjasama dari hulu ke hilir, yaitu kerja sama antara pengelola sekolah, kepala sekolah, guru dan orang tua siswa. Saat melakukan upaya pencitraan, sekolah mesti terus berbenah dan terus lakukan peningkatan. agar pencitraan yang dilakukan sejalan dengan kondisi aslinya, Hal yang tidak boleh terjadi misalnya saat melakukan pencitraan ke arah sekolah yang berprestasi namun pengelola sekolah malah membiarkan angka keluar masuk guru yang tinggi alias team nya tiap tahun ajaran berganti karena selalu (banyak) ada saja guru yang keluar. Bagaimana bisa sekolah mencitrakan siswanya berprestasi sementara gurunya keluar masuk.

Hal yang menakjubkan dari sebuah sekolah adalah jika pengelola sekolahnya tidak sadar atau memilih menutup telinga jika ada label negatif yang ujungnya akan menjadi reputasi sekolah. Cap sekolah dengan manajemen pengelolaan yang amburadul, hanya bisa diberikan oleh orang tua siswa yang sudah menyekolahkan anaknya lebih dari setahun. Bahaya betul jika pengelola atau pemilik sekolah kekeuh dan malah mempersilahkan orang tua siswa yang ngambek untuk tetap memilih menyekolahkan anaknya disitu atau pindah. Atau alih alih kompak dengan kepala sekolah sebagai pelaksana yang akan melakukan pembenahan, yang terjadi malah seringnya terjadi debat pertengkaran hanya karena masalah komunikasi.

Sekolah anda bisa saja serius dan berhasil melakukan pencitraan lewat diskon harga masuk, website, instragram dan lain lain, namun tanpa diiringi oleh usaha keras memelihara kepercayaan orang tua siswa yang sudah terlanjur percaya terhadap pencitraan anda, lewat usaha keras melayani dan amanah maka ujungnya akan menimbulkan kekecewaan.

Jadi lakukan pembenahan dan pembiayaan (yang efektif) terus menerus jika sekolah anda ingin punya reputasi dan citra yang positif. Caranya amanah, pengelola kompak dengan pelaksana, hormati dan pertahankan guru, jadikan mereka profesional, tempatkan orang yang mahir luwes berkomunikasi dan jujur di bagian manajemen sekolah dijamin baik citra dan reputasi sekolah anda akan berbanding lurus saat bersamaan.

Iklan