3 Solusi Menjadi Sekolah yang Kreatif

Kreativitas di sekolah adalah sebuah hal yang erat kaitannya dengan sikap berpikiran terbuka dan keberanian untuk mengatakan bahwa bisa saja yang selama ini dianggap benar belum tentu masih relevan. Ada banyak salah paham mengenai kreativitas selama ini di sekolah, jika dirasakan memang ada semacam batas antara kreativitas dan semua praktek pelaksanaan pembelajaran sehari hari di sekolah. Hal ini dikarenakan salah paham yang mengatakan bahwa:

  1. Kreativitas hanya milik dari seseorang yang berada dalam dunia seni dan pertunjukan
  2. Kreativitas memerlukan biaya yang banyak
  3. Kreativitas memerlukan waktu yang banyak dalam penerapannya
  4. Kreativitas bertentangan dengan kurikulum
  5. Kreativitas adalah ledakan ekspresi sesaat yang akan hilang dengan sendirinya

Dari faktor diatas jelas sekali bahwa ada keengganan dari sekolah untuk mau bertindak dan berpikir kreatif. Padahal kreativitas bisa muncul dari macam segi penerapan dan wujudnya.
Secara singkat hal yang diperlukan sebuah sekolah agar kreativitas menjadi gaya hidup dan kebiasaan adalah

  1. sosok kepala sekolah atau pimpinan supportif yang mengatakan bahwa sebuah ide layak dicoba dan bersedia menjadi sosok yang mengawal perubahan akibat pelaksanaan ide tersebut
  2. suasana sekolah yang ramah pada kegagalan yang mengakibatkan guru/siswa tak takut mencoba hal yang baru.
  3. tidak adanya senioritas, jika hal ini ada maka suasana sekolah akan sangat menjemukan karena jika ide bukan dari seseorang yang dituakan atau senior maka bukan sebuah ide yang bagus. Sesuai kebiasaan maka ide yang baru jarang dari sosok yang senior dan sudah nyaman di tempatnya.

Kreativitas lahir dari suasana sekolah yang supportif, dan situasi dimana semua ide ditantang untuk diwujudkan dengan pengawalan kepala sekolah yang mumpuni dan memaksa semua pihak detail merencanakan dan konsisten dalam menjalankan. Dikarenakan sebuah kreativitas bukan lah hal yang besar, megah dan mewah namun adalah sebuah niat kecil yang berbeda dengan sebelumnya namun direncanakan dengan matang yang konsisten dan komitmen.

Iklan

Pendidikan di tahun 2019, saatnya guru fasih menggunakan teknologi dalam mengajar

Di tahun 2018, nyata sekali media sosial menjadi tempat guru bersosialisasi secara online. Padahal dahulu di awal-awal dunia media sosial muncul, sekitar 10 tahun lalu adalah saat sebagian guru masih kesulitan membuat email karena sering lupa kata sandinya.

Saat ini hampir semua guru punya minimal satu media sosial yang disitu ia bisa lancar berekspresi. Ekspresinya bisa apa saja, dari pandangan politik, perasaan gairah dalam beragama sampai seperti biasa, curahan hati.

Hal yang menarik dalam tingkat internal sekolah secara umum di hampir semua sekolah yang saya datangi menggunakan aplikasi Whatsapp sebagai pilihan dalam berkomunikasi antar guru, guru dengan kepala sekolah. Banyak juga saya temui para wali kelas memilih aplikasi tadi sebagai pilihan dalam berkomunikasi dengan warga kelasnya.

Dalam situasi dimana aspek teknologi sudah masuk ke ruang kelas. Pilihan seorang guru jadi makin beragam dalam mengkomunikasikan perihal kemajuan anak didik atau dalam sekedar berkomunikasi dengan murid atau wali murid. Merupakan sebuah kemunduran jika sekolah masih merasa bahwa dunia komunikasi dan teknologi adalah gangguan, dikarenakan masih merasa sulit kendalikan sisi negatifnya.

Jika di tahun 2019 ini sekolah ingin masuk atau akrab kedalam jargon kekinian seperti ‘pembelajaran digital’, pendidikan 4.0 atau era industri 4.0 maka beberapa hal mendasar mesti sekolah lakukan.

1. Guru diberikan wawasan betapa teknologi memudahkan. Memberikan PR lewat email sampai mempunyai grup (kelas virtual) di facebook atau edmodo untuk menaruh bahan ajar dan berkomunikasi adalah sebuah kewajaran di jaman ini. Sudah saatnya guru membuat kuis di google forms dan kahoots yang membuat siswa senang dan merasa dirinya kekinian.

2. Atur kembali penggunaan hand phone di sekolah. Seperti bumi dan langit jika sebuah sekolah ingin masuk ke pembelajaran digital namun urusan pengaturan penggunaan HP tidak selesai selesai diatur dan dibicarakan dalam level pimpinan sekolah. HP perlu bukan hanya untuk berkomunikasi tetapi juga sebagai sarana belajar. Siswa bisa diminta mengerjakan kuis secara real time di situs situs gratis yang guru buat sebelum pertemuan.

Beberapa hal yang bisa sekolah dapatkan dari kemauan membuka diri terhadap teknologi adalah

1. guru dipaksa untuk terus belajar. Saat ini seorang guru dalam membuat update di IG maupun facebook, sampai berbelanja online sudah sangat mandiri. Bahkan saya mengenal guru yang juga pebisnis di dunia maya. Saatnya kemahirannya digunakan dalam membuat pembelajaran yang menarik dengan teknologi

2. Siswa merasa pembelajaran di sekolahnya kekinian, tidak ada lagi kisah mencatat  tulisan di papan tulis demi adanya kegiatan di kelas yang kelihatannya siswa ‘belajar’ padahal dengan teknologi semua jadi dipermudah.

3. Guru dan siswa tidak lagi menjadi liar (tidak beradab) di dunia media sosial dan teknologi hanya karena merasa bahwa dunia online dan dunia pembelajaran di kelas punya dinding yang membatasi. baik guru dan siswanya merasa harus berhati hati di media sosial (online).

Menggunakan teknologi saat ini merupakan kompetensi guru yang mesti dipenuhi. Tidak akan ada lagi guru yang mengatakan bahwa ia mengajar demi mempersiapkan masa depan, karena masa depan adalah sekarang.