Menggelorakan semangat anti korupsi melalui kegiatan pembelajaran. Refleksi dari Teacher Supercamp 2017

24775239_1747236271961368_4581219806292786067_n

Apa sebenarnya tugas dari lembaga yang bernama sekolah? jika dibuat survey jawaban nya hampir pasti memintarkan siswa. Sebuah jawaban yang menarik dan pastinya tidak sesuai dengan semangat jaman yang saat ini kesadaran memintarkan siswa sudah berkembang menjadi membuat siswa yang pintar dan berkarakter. Di akhir bulan November 2017 saya bertemu dengan guru-guru hebat dari seluruh Indonesia yang oleh KPK (Komisi Pemberantan Korupsi) dikumpulkan untuk melakukan Teacher Supercamp 2017 . Sebuah event tahunan yang sangat menarik dikarenakan ini membuktikan bahwa oleh KPK kesadaran untuk mencegah sekarang sudah sama besar dan kuatnya dengan kesadaran penegakan hukum.

Dalam event ini yang dibahas adalah bagaimana menggaungkan kesadaran ‘anti korupsi’ di level kelas dan sekolah. KPK megharapkan guru-guru yang punya kesadaran dan keahlian dalam menyelipkan tambahan semangat dan pesan anti korupsi bisa memberi inspirasi bagi pendidik lainnya.

Ada banyak ide, produk serta rancangan dalam bentuk RPP yang timbul dalam upaya guru guru yang terpilih di ajang Teacher Supercamp 2017 ini untuk menyuarakan semangat ‘anti korupsi’. Bersama Pak Zulfikri Anas saya memndampingi guru agar pesan yang diinginkan sampai kepada siswa dalam bentuk kegiatan pembelajaran yang bermakna. Di sekolah pesan anti korupsi bisa disampaikan lewat penguatan karakter serta penguatan tata kelola sekolah yang transparan dan partisipatif.

9-nilai-antikorupsi-menurut-kpk-n
Lanjutkan membaca “Menggelorakan semangat anti korupsi melalui kegiatan pembelajaran. Refleksi dari Teacher Supercamp 2017”

Iklan

9 prinsip yang penting dalam memasarkan sekolah anda.

Ada banyak teori mengenai bagaimana memasarkan sekolah swasta atau lembaga pendidikan swasta. Ada juga sekolah-sekolah yang tidak terlalu peduli dengan teori, yang lebih penting bagi mereka adalah cetak sebanyak-banyaknya spanduk/banner/poster/brosur dan diletakkan ditempat strategis dengan harapan menjaring calon orang tua siswa.

Desain alat promosinya pun hampir pasti bisa ditebak dengan foto kegiatan di kelas, field trip dan tak lupa discount yang menarik perhatian. Calon orang tua siswa jaman now saat ini memang masih tertarik dengan alat promosi, namun saat yang sama mereka andalkan pertimbangan orang lain lewat media sosial atau biasa disebut sebagai ‘world of mouth’.

Sila cermati prinsip dibawah ini, semoga membantu anda dalam merencanakan promosi.

  1. Memasarkan sekolah saat ini menjadi kewajiban semua pihak di sekolah. Sekolah swasta memang punya kewajiban mesti memasarkan sekolahnya, sayangnya sering dibebankan hanya pada kepala sekolah dan bagian admission sekolah.Sekolah dan orang tua siswa akan mendapatkan malapetaka jika ada salah konsep saat bagian admission memasarkan sekolah. Bayangkan jika memasarkan sekolah kepada orang tua siswa layaknya seperti memasarkan property, dengan diskon antar pembeli yang berbeda tergantung nego keras atau lembut dari si orang tua siswa. Ujung-ujungnya antar orang tua siswa akan saling membandingkan berapa diskon yang didapat. Diperlukan ketegasan dalam menentukan aspek keuangan biaya masuk.
  2. Inti dari sebuah sekolah adalah kegiatan belajar dan mengajar, silakan sekolah mulai berpromosi mengenai sekolahnya dari kegiatan inti tsb. Kegiatan lain serta sarana dan prasarana hanya jadi pelengkap saja, pemanis yang bisa membuat calon orang tua siswa tertarik.
  3. Saat memasarkan sekolah, arti ‘brand’ menjadi sangat penting, lakukan evaluasi/refleksi diri, sekarang ini saat disebutkan nama sekolah anda apa yang orang lain pikirkan? jika masih ada perbedaan atau malah kebanyakan persepsi negatif nya saatnya sekolah anda mawas diri.
  4. Apa Tagline sekolah anda? Brand lembaga pendidikan saat ini bagus bagus, coba tebak tag line ini, ‘Berprestasi tinggi dan berakhlak terpuji’. Lembaga pendidikan apakah yang punya tag line tadi? sekolah atau bimbel?
  5. Jika sebuah sekolah swasta serius dalam mengelola lembaga pendidikannya, itu berarti ia mesti berfokus dan berorientasi pada bagaimana menghadirkan ‘pengalaman belajar yang mendidik dan bermakna’ bagi setiap pemangku kepentingan di sekolahnya (siswa, guru dan orang tua siswa). Orang tua siswa mungkin akan tertarik oleh gambar fasilitas yang ‘wah’ di brosur sekolah anda, namun ketertarikan akan berubah jadi keluhan tak ada ujung ketika mutu guru yang rendah, miskin ilmu mendidik serta pembelajaran di kelas yang konvensional.
  6. Banyak sekolah yang sdh punya akun di medsosdan rajin berpromosi, dengan cerdik melakukan soft selling dgn unggah kegiatan sekolahnya. Sebuah itikad yang baik, pertanyaan selanjutnya adalah apa guru-gurunya di medsos juga lakukan hal yg sama? Nah dari sini bisa diungkap dari sudut bagaimana cara menjual sekolah yang terbaik. Menjual dengan cara ‘Soft Selling’ sangat dianjurkan dalam membuat calon orang tua siswa tertarik. Sekolah bisa melakukannya lewat serangkaian kegiatan beberapa kali dalam satu tahun ajaran. Kegiatannya bisa seminar orang tua mengenai bagaimana mendidik dengan baik dan lain sebagainya, pelatihan guru yang difasilitasi oleh guru setempat yang mengundang guru guru di sekolah sekitar untuk jadi peserta. Intinya semua kegiatan yang bisa membuat orang tua siswa yang menyekolahkan anaknya merasa menyekolahkan di tempat yang tepat. Dikarenakan guru-gurunya update dengan isu terkini, tak sayang berbagi ilmu dengan sesama guru dan orang tua siswa serta sederet perasaan positif lain yang timbul karena kegiatan yang bermakna. Memang konsep soft selling dalam memasarkan sekolah mengandalkan sekali peran serta guru-guru. Soft selling akan muncul saat guru selesaikan keluhan orang tua siswa, menjadi rekan sharing orang tua siswa saat memilih sekolah dan sederet hal lain yang ada hubungannya dengan pendidikan Ujung dari semua kegiatan ini adalah komentar serta support yang positif dari orang tua siswa yang sudah ada. Ingat mereka lah agen pemasar terbaik. Pertanyannya sekarang apakah sekolah sudah cukup membuat guru guru nya mampu berbagi ilmu dan percaya diri dalam berbagi dan selesaikan masalah. Diperlukan atmosfir yang positif di sekolah hingga semua guru merasa ‘berharga’ dan diperhatikan sebagai guru sekaligus karyawan. Dengan demikian mereka jadi senang berbagi dan berpartisipasi dalam semua event marketing sebagai seorang yang profesional.
  7. “Teachers should be on the front lines of any marketing effort” kata Rob Norman, pakar marketing sekolah. Sudahkah kita berikan tanggung jawab yang sama pada para guru untuk ikut mendukung promosi sekolah, atau diam-diam guru bicara negatif soal sekolah di postingan medsos mereka. Sesungguhnya kualitas sebuah sekolah ditentukan oleh kualitas percakapan guru-gurunya di media sosial.
  8. Anda pemilik sekolah, pengurus yayasan atau kepala sekolah swasta? sudahkah anda duduk satu meja dengan semua guru, paparkan bagaimana strategi sekolah dalam menjaring calon siswa baru? atau para guru anggap persoalan marketing sekolah menjadi tanggung jawab kepsek sendirian. Di sekolah swasta sangat wajar apabila ada kesepakatan bersama bahwa banyak siswa akan mempengaruhi tingkat kesejahteraan guru.
  9. Anda pemilik sekolah, pengurus yayasan atau kepala sekolah swasta? saatnya cantumkan di surat kontrak bagi karyawan/guru baru bahwa, ‘bersedia membantu memasarkan sekolah dgn cara mengajar dan bersikap profesional sekaligus ikut serta dalam event marketing”.

Prinsip diatas membantu anda fokus pada bagaimana melakukan promosi dengan cerdas dan efektif. Intinya adalah sebagai sebuah sekolah anda punya team pemasar (marketer) yang hebat, mereka adalah para guru. Cukup minta mereka mengajar dengan baik. profesional bermakna dan bersikap profesional di medsos maka semua barang cetakan anda untuk promosi (yang biayanya tidak murah) akan makin efektif dan efisien dalam menarik calon orang tua siswa.

4 perubahan yang mesti anda lakukan jika ingin serius mengajar siswa jaman ‘now’

The_Generations.width-1000

Generasi Z yang lahir di tahun 2000 an bisa juga disebut generasi jaman now. Merekalah yang sering dikeluhkan oleh para guru saat pelatihan, saat obrolan santai sesama guru dan segenap pemakluman lain dikarenakan ketidak mengertian akan potensi mereka.
Jika anda serius membaca judul status ini berarti memang hasrat anda untuk mengajar dengan sebaik-baiknya generasi jaman ‘now memang besar. Saya berharap keinginan anda yang besar sejalan dengan keinginan untuk lakukan perubahan. Minimal perubahan yang dimulai dari diri sendiri. Sebab saat guru berniat mendidik generasi jaman ‘now maka sederet perubahan akan menjadi makanan sehari-hari saat mengajar, mendidik bahkan dalam cara berpikir.

Perubahan apa saja yang diperlukan jika anda serius ingin mendidik generasi jaman now?

1. Mesti siap ubah mindset dari yg mengajar demi nilai menjadi mengajar demi pemahaman, alias ‘teaching for understanding’. Dengan sendiri dan bekerja sama (dalam team) guru lakukan langkah-langkah sbb 1) mengidentifikasi topik, konsep, dan keterampilan yang patut dipahami; 2) membingkai tujuan yang membantu siswa berfokus pada aspek terpenting dari topik tersebut; 3) melibatkan siswa dalam menantang pengalaman belajar yang membantu membangun dan menunjukkan pemahaman mereka; dan 4) mengembangkan praktik penilaian yang membantu memperdalam pemahaman siswa.
Ada beberapa tahapan dalam melihat seberapa jauh siswa sudah paham apa yang guru ajarkan.
a. Siswa yang benar-benar paham akan dapat ‘menjelaskan’
b. Siswa yang benar-benar paham akan dapat ‘menginterpretasikan’
c. Siswa yang benar-benar paham akan dapat ‘mengaplikasikan’
d. Siswa yang benar-benar paham akan dapat melihat ‘perspektif’
e. Siswa yang benar-benar paham akan dapat menunjukkan ‘empati’
Tidak heran jika sekolah yang baik dan menyenangkan akan berujung pada lulusannya yang berkarakter. Hal ini dikarenakan guru yang mengajar tidak berhenti pada siswanya kemudian bisa menjelaskan hal yang ia terangkan alias sekedar ada dalam ranah pengetahuan namun juga bisa melekatkan pada tindakan (action) sebagai hasil dari penguasaan pengetahuan yang diberikan guru. Lanjutkan membaca “4 perubahan yang mesti anda lakukan jika ingin serius mengajar siswa jaman ‘now’”