9 cara meningkatkan kreativitas dan kompetensi guru

images (3)Kepala sekolah dan pemilik sekolah (sekolah swasta) kerap mengalami kebingungan serta ketidakpastian dalam upaya meningkatkan kualitas mengajar dan kompetensi pribadi para guru yang mengajar di sekolahnya. Sebenarnya seberapa penting untuk meningkatkan keterampilan mengajar seorang guru?

Jika masih ragu bayangkan saja perangkat hp atau smart phone yang kehabisan baterai (low bat), seperti itulah bayangan seorang guru yang jarang dilatih dan diberikan tambahan ilmu terkini dalam mengajar. Cara mengajarnya menjadi konvensional dan kerap dikeluhkan oleh orang tua siswa. Ujung dari semuanya adalah guru menjadi tidak bersemangat dan cenderung hanya mengajar sebagai rutinitas saja.

Sebenarnya pelatihan apa yang diperlukan bagi seorang guru agar cara mengajarnya kreatif sekaligus guru menjelma menjadi sosok yang profesional dalam membawakan diri dalam keseharian dan tangkas berkomunikasi pada orang tua siswa.

Manajemen kelas yang kondusif

Mengapa pelatihan ini penting ?

  1. Guru mengetahui bagaimana mengelola kelas menyesuaikan dengan prinsip pembelajaran Abad 21
  2. Mengetahui bagaimana mengatur kelas sesuai dengan prinsip pembelajaran dalam Kurikulum 2013
  3. Mengetahui dan bisa mempraktekkan bagaimana membentuk lingkungan pembelajaran yang kondusif
  4. Mengatasi dan mencegah bullying, dari siswa ke siswa, guru ke siswa dan siswa ke guru.
  5. Memberikan siswa motivasi,  membentuk karakter siswa melalui disiplin yang positif
  6. Bagaimana membentuk kesepakatan kelas dan peraturan kelas yang dipatuhi oleh siswa.

Lanjutkan membaca “9 cara meningkatkan kreativitas dan kompetensi guru”

Iklan

Strategi Penggalangan Sumber Daya Sekolah yang Efektif

unique-fundraising-ideas-1030x674

Peran komite sekolah dalam mengiringi perubahan di sekolah sangat penting. Jika sekolah lalai melibatkan maka sekolah akan kurang demokratis dalam prakteknya dan peran komite sekolah hanya layaknya stempel. Pintu perubahan bagi revitalisasi peran komite sekolah sudah sangat terbuka. Terbukti dalam Permendikbud Nomor 75 Tahun 2016, komite mengemban tugas untuk menggalang dana dan sumber daya pendidikan dari masyarakat maupun pemangku kepentingan lainnya melalui upaya kreatif dan inovatif.

Saat yang sama belum semua Komite Sekolah memiliki kapasitas yang cukup dalam menggalang sumber daya yang kreatif khususnya dari pihak eksternal sekolah. Sementara dukungan anggaran dari pemerintah baik melalui APBN maupun APBD melalui berbagai skema seperti BOS, DAK, KIP dan lain-lain belum mampu mengakomodir kebutuhan sekolah dalam meningkatkan mutu layanannya diatas standar pelayanan minimal (SPM).

Sementara itu, Satgas Saber Pungli Kota Surakarta Ipda Supanto menjelaskan, pada Permendikbud Nomor 75 Tahun 2016, sekolah memang sama sekali tidak boleh melakukan pungutan pada murid dan wali murid. Hal itu sebagaimana diatur dalam Pasal 10, Pasal 11 dan Pasal 12.Namun dalam Pasal 10, disebutkan bahwa Komite Sekolah boleh melakukan penggalangan dana dan sumber daya pendidikan lainnya. (link berita)

Dengan demikian sekolah mesti canggih dalam menggalang dana, caranya antara lain:

  1. melalui pertunjukan, sekolah mendapat dana melalui tiket masuk dan kegiatan lainnya yang membuat peserta diharapkan membayar dan menyumbang untuk sekolah.
  2. menjual karya siswanya (bisa karya seni atau makanan), dibeli oleh undangan yang hadir atau lewat online.
  3. menggunakan situs kita bisa https://kitabisa.com/   Situs donasi yang menggalang dana (fundraising) untuk inisiatif, campaign dan program sosial

Lanjutkan membaca “Strategi Penggalangan Sumber Daya Sekolah yang Efektif”

10 tanda bahwa sekolah anda belum ‘berkarakter’

 

Sekolah adalah sebuah organisasi sekaligus lingkungan dimana setiap harinya ada interaksi dan aktivitas. Jika sebuah sekolah lalai dalam pengelolaan karakter hal yang terjadi adalah sekolah akan bernuansa negatif. Ada interaksi namun tidak mendidik, ada kegiatan namun sekedar rutinitas.

Apa ciri sekolah yang bernuansa negatif dan cenderung menjelma bukan membesarkan potensi namun menjadi lembaga yang gagal menelurkan lulusan yang siap hidup di masyarakat.

1. Sekolah tidak pernah punya standar mengenai perilaku apa yang diinginkan ada dalam keseharian di sekolah dari guru siswa dan komunitas di sekolah.

2. Keseharian aktivitas di kelas adalah catat buku sampai habis alias konvensional. Guru merasa sudah laksanakan kewajiban jika sudah berceramah di depan siswanya.

3. Kelas tidak punya kesepakatan kelas dan siswa tak pernah diajak berembuk dalam membuat kelasnya menjadi kelas yang kondusif. Setiap kejadian di kelas diselesaikan secara insidentil saja sesuai mood dari guru di hari itu.

Lanjutkan membaca “10 tanda bahwa sekolah anda belum ‘berkarakter’”