Pembelajaran berbasis proyek sebagai alternatif solusi bagi materi yang padat

​[03-21, 16:20]  Kami guru di SMA banyak mengeluhkan dengan kondisi sekarang

[03-21, 16:21] Ketika kami banyak memberi latihan agar anak semakin mahir dan menguasai konsep yang ada anak mengeluh, ada yg tidak mengerjakan, atau mengerjakan dengan mencontek teman tanpa peduli bagaimana cara mendapatkannya

[03-21, 16:22] Ketika menerapkan kooperatif learning,anak2 menjadi semangat dan termotivasi tapi mereka tetap menuntut saya untuk dijelaskan ulang pada pertemuan berikutnya sehingga akibatnya harusnya satu topik selesai dlm 2jam akhirnya menjadi 4jam pelajaran

[03-21, 16:23]  Kendala kami adalah kurikulum kimia yg terlalu padat karna hanya diberikan di jenjang SMA. Berbeda dg biologi dan fisika dimana konsep sudah dikenalkan Dr SMP atau SD

[03-21, 16:23]  Kami di kelas X harus menanamkan semua konsep dasar kemudian kelas XI sudah masuk materi berat

[03-21, 16:23]  Hampir semua guru kimia tidak tuntas menyelesaikan penyampaian materi kimia pak

[03-21, 16:25] Permasalahan yg lain adalah,dalam mapel kimia banyak konsep yg terkait hitungan sedang anak penguasaan akan konsep dasar matematika (yg ditanamkan di SD dan SMP) tidak kuat. Mereka terkadang oaham konsep kimianya tapi salah dalam penyelesaiannya karna kendala penguasaan hitungan matematika

[03-21, 16:26]  Saya pernah mengajak anak2 bermain ukar tangga kimia… Galery learning… Pembuatan peta konsep, presentasi kelompok

[03-21, 16:27]  Tapi akibatnya keteteran menyelesaikan materi pak

Cuplikan diatas adalah diskusi saya dengan guru yang menyampaikan mengenai situasi terkini di kelas yang beliau ajar.

Secara singkat hal yang beliau alami adalah:

1. Guru merasa harus menambal konsep siswa yang belum kuat akan sebuah materi dan disaat yang sama banyak materi yang perlu diajarkan.

2. Guru sudah mencoba melakukan strategi pembelajaran namun malah berakibat siswa senang namun pembelajaran tidak fokus.

Saya sangat menghargai usaha dari guru untuk hadirkan pembelajaran menarik di kelasnya. Untuk itu saya akan coba untuk memberikan alternatif solusi

1. Guru mesti lakukan pemetaan kurikulum yang akan digunakan dan diajarkan selama satu tahun ajaran. Pemetaan berarti menandai area mana saja yang akan diujikan dalam ujian nasional atau ujian penerimaan di universitas. Hal ini penting agar guru selama setahun tak habis waktunya untuk ajarkan hal yang bukan prioritas. Kemudian golongkan materi menjadi mudah sedang dan susah.

2. Setelah guru dapatkan materi mana yang membuat siswa perlu pendampingan anda yang serius sebagai guru kemudian guru gunakan pendekatan project based learning atau PBL.

Berikut ini alasannya

1. Project based learning melandaskan dirinya pada pertanyaan pertanyaan penuntun yang dibuat oleh guru. Guru membuat pertanyaan yang berkisar pada beberapa materi yang mirip dan bisa disatukan kedalam sebuah projects.

2. Guru bisa menggunakan prinsip pertanyaan dari taksonomi bloom. Gabung pertanyaan tingkat tinggi dan tingkat rendah.

3. Tujuan PBL adalah terjawabnya pertanyaan guru. Pertanyaan yang bermutu adalah jika bisa merangkum beberapa materi menjadi satu pertanyaan yang terbuka.

4. PBL menitik beratkan pada pengalaman belajar siswa. semakin baik pertanyaan penuntun yang diberikan oleh guru maka makin baiklah pengalaman belajar yang akan siswa lalui yang bisa saja terdiri dari riset, pembuatan model, presentasi, tutor sebaya sampai penilaian performance dan penilaian rekan sejawat.

5. Guru mesti membagi satu tahun ajaran kedalam beberapa project. Dengan demikian guru punya bayangan apa yang terjadi satu tahun ajaran ke depan. Dalam satu tahun ajaran akan ada 3 sampai 6 project yang bisa dilaksanakan.

6. Kelompok kan siswa dalam satu kelompok dengan kemampuan yang berbeda beda. Hal ini akan memungkinkan pelaksanaan tutor sebaya.

7. Ukuran PBL adalah meningkatnya pemahaman. Bukan sekedar pada produk yang dihasilkan.

8. PBL memungkinkan guru menggunakan ragam penilaian autentik yang ada  di kurikulum 2013.

Saya menyadari bahwa tulisan ini sangat singkat untuk dapat menjelaskan PBL sebagai sebuah alternatif solusi. Namun hal yang saya alami adalah guru jadi punya waktu untuk mengajari siswa yang Konsepnya belum matang dalam sebuah materi. Saat yang sama siswa yang sudah mampu sibuk dengan risetnya. Bahkan dengan adanya prinsip tutor sebaya maka sesama siswa akan saling membantu.

PBL memerlukan kegiatan yang sangat vital yaitu perencanaan. Sebuah kegiatan yang guru guru masih belum terbiasa.

Iklan

Penulis: agusampurno

Mitra menuju sekolah efektif dan guru profesional

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s