3 cara memberdayakan guru yang akan pensiun

Pensiunan Guru

Ada banyak kesempatan saya bertemu dengan para guru yang akan pensiun. Selalu sebuah kesenangan bagi saya bertemu dengan senior yang merupakan pendidik berpengalaman. Merekalah generasi yang memutuskan menjadi pendidik di saat banyak yang menolak untuk menjadi guru dikarenakan minimnya gaji dan pendapatan.
Saat yang sama sekarang ini profesi pendidik sedang jadi incaran banyak orang, apalagi ditambah status yang PNS. Dikarenakan pemerintah sudah menyadari bahwa kemajuan pendidikan hanya akan bisa berjalan jika guru gurunya diperbaiki, dilatih dan disejahterakan.


Jika dibandingkan dengan jaman para senior kita mengajar maka akan terlihat sekali perbedaan pola pembelajaran tradisional dan pola pembelajaran abad 21. tantangannya adalah bagaimana menjadikan rekan guru yang mau pensiun senang ikut dalam perubahan bahkan bisa berbagi pengalaman dan tidak lagi mengatakan, “apalah saya ini, sebentar lagi juga akan pensiun, jadi jangan bebankan saya dengan pekerjaan yang berat apalagi harus belajar hal baru (teknologi)”.

Jika sekolah ingin memberdayakan mereka ada banyak hal yang bisa dilakukan:

1. Jadikan mereka mentor bagi guru baru (dipasangkan). Saran saya awasi dengan baik dikarenakan yang biasa terjadi adalah guru baru bukannya dilatih dan dibelajarkan hal yang baru, malah seringnya disuruh mengerjakan pekerjaan mentornya. Menjadi mentor bukan berarti berhenti belajar, guru senior diminta jadi mentor dikarenakan pengalaman asam garamnya yang menarik untuk dipelajari.

2. Jadikan mereka dewan pertimbangan yang tidak resmi. Kepala sekolah bisa memanggil atau melibatkan mereka dalam pengambilan keputusan penting. Tentunya kepala sekolah mengerti mana putusan yang bisa dimintakan pendapatnya kepada para guru senior, mana yang merupakan wewenang dan otoritasnya untuk diputuskan sendiri.

3. Jadikan mereka team penilai saat rekruitmen guru. Dengan pengalamannya mereka tahu mana guru yang baik mana yang bukan. Minta guru senior menilai mikro teaching calon guru sekaligus ajak mereka untuk melakukan seleksi.

Menjadi warga senior di sekolah bukan berarti berakhirnya kontribusi guru senior kepada sekolah. Sayang sekali jika pengalaman yang dimiliki guru senior tidak dibagikan. Saat ini ada kecenderungan mengukur seorang guru semata dari keterampilan penggunaan teknologi saja. Akhirnya guru senior seperti dipinggirkan dan kurang dianggap, serta dibiarkan menunggu akhir waktu purna tugasnya datang. Mari akhiri masa kerja mereka dengan senyum bahwa sebagai warga senior di sekolah, kontribusi nya tetap dinanti dan diperlukan.

Iklan

Penulis: agusampurno

Mitra menuju sekolah efektif dan guru profesional

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s