Konferensi bagi anda para pendidik profesional

Pendidik yang terbaik adalah pendidik yang senang berbagi. Jika anda adalah pendidik profesional saatnya berpartisipasi dalam ajang ini.

C14oGipUkAARnB6.jpg

Iklan

Sekolah yang efektif adalah sekolah yang menyenangkan.

DBBEWq0XoAUFyv1

Hampir semua guru inginnya menampilkan dirinya sebagai guru yang menyenangkan dan seorang praktisi profesional yang mampu menciptakan kelasnya menjadi menyenangkan. Sebuah kelas yang menyenangkan bisa dilihat dari banyaknya karya siswa yang dipajang serta manis dan ramahnya senyum guru saat mengelola siswanya. Indikator lain adalah siswa yang aktif belajar dan bertanya dan antusias ikut dalam irama pembelajaran gurunya.

Dibalik layar semua hal diatas adalah proses pengaturan agar seorang guru bisa mengajar dengan efektif di kelas. Kunci dari baiknya cara guru mengajar di kelas adalah sekolah yang efektif. Sekolah yang efektif menyandarkan dirinya pada dua hal . Aspek belajar mengajar yang mengacu pada prinsip PAIKEM (Pembelajaran aktif kreatif inovatif dan menyenangkan), sumber belajar mengajar/ sarana prasarana. serta aspek non akademis yaitu penganggaran (budgeting), komunikasi serta dukungan yang tak henti dari para pemangku kepentingan.

Dalam membuat sebuah sekolah menjadi maju dan efektif, hal yang tidak boleh dilupakan adalah kapasitas dan kemampuan kepala sekolah. seringnya sosok mereka hanya sibuk pada situasi pengaturan aspek non akademis, dan kurang berpihak menomor satukan proses belajar mengajar. Jika situasinya seperti itu maka se menyenangkannya guru menampilkan dirinya di kelas akan terhambat oleh minimnya dukungan dari pengelola. Bayangkan jika guru sudah kreatif namun terhambat oleh ketiadaan kertas untuk menghias serta kursi meja kelas yang rusak tidak pernah dilakukan penggantian.

Sekolah yang efektif berarti menomorsatukan proses belajar mengajar dengan standar tertinggi yang bisa dicapai. Setiap sekolah mulai dari titik tolak yang berbeda namun jika tujuan akhirnya adalah standar yang tinggi dalam proses belajar mengajar maka segala cara akan ditempuh. Misalnya dengan komunikasi kepada pemangku kepentingan (masyarakat dan orang tua siswa) serta memaksimalkan semua sumber. Pada akhirnya semuanya akan bermuara pada mudahnya guru untuk berganti peran dari guru yang biasa-biasa saja menjadi guru yang mengajar dengan cara menyenangkan.

3 cara memberdayakan guru yang akan pensiun

Pensiunan Guru

Ada banyak kesempatan saya bertemu dengan para guru yang akan pensiun. Selalu sebuah kesenangan bagi saya bertemu dengan senior yang merupakan pendidik berpengalaman. Merekalah generasi yang memutuskan menjadi pendidik di saat banyak yang menolak untuk menjadi guru dikarenakan minimnya gaji dan pendapatan.
Saat yang sama sekarang ini profesi pendidik sedang jadi incaran banyak orang, apalagi ditambah status yang PNS. Dikarenakan pemerintah sudah menyadari bahwa kemajuan pendidikan hanya akan bisa berjalan jika guru gurunya diperbaiki, dilatih dan disejahterakan.

Lanjutkan membaca “3 cara memberdayakan guru yang akan pensiun”

10 syarat seorang guru agar mampu jadi fasilitator pelatihan.

DFMBIR1XYAAwPyx

Menjadi guru bagi siswa berbeda dengan menjadi guru bagi orang dewasa alias fasilitator sebuah pelatihan. Untuk itu diperlukan kemampuan lebih sebagai seseorang yang mentransfer ilmu sekaligus memodelkan karakter serta ilmu yang aplikatif di ruang kelas. Sebenarnya apa perbedaan antara siswa kita di kelas sebagai pembelajar dengan orang dewasa yang menjadi pembelajar

Orang dewasa sebagai pembelajar menyukai:

• Kesempatan untuk berinteraksi dengan peserta lainnya.
• Rasa belajar sesuatu yang baru.
• Cukup waktu untuk berbicara, merefleksikan dan membangun makna.
• Presenter yang menarik, sadar akan kebutuhan peserta.
• Terlibat dan isu-isu provokatif untuk bergulat dengan.
• Berbagai perspektif.
• Tujuan yang jelas.
• Berbagai gaya presentasi.
• Lingkungan yang aman untuk mencoba gagasan kita.

Orang dewasa sebagai pembelajar tidak menyukai:

• Menjadi pasif sementara presenter sibuk menguliahi.
• PowerPoint dengan terlalu banyak kata.
• Kurangnya akses internet.
• Sebuah agenda yang penuh sesak.
• Kebutuhan fisik tidak terpenuhi
• Tidak cukup waktu untuk merefleksikan dan menginternalisasi.
• Kurangnya dukungan dan tindak lanjut.

Lanjutkan membaca “10 syarat seorang guru agar mampu jadi fasilitator pelatihan.”

Punya murid pendiam itu sungguh sebuah anugrah.

Sebagai guru, secara tidak sadar kita sering lalai jika mesti bersyukur dikarenakan punya anak pendiam di kelas.
Ada banyak salah sangka mengenai anak pendiam.
Pendiam berbeda dengan pemalu. Rasa malu adalah tentang rasa takut akan penilaian sosial.

Sementara sifat pendiam yang akan saya bahas adalah sifat introvert yang ada pada siswa kita. Introvert dan ekstrovert adalah mengenai bagaimana seorang siswa sebagai pribadi merespon stimulasi sosial. Beberapa guru bahkan khawatir mengenai masa depan si introvert dikarenakan kemampuan komunikasi mereka yang terbatas, padahal guru justru diperlukan kemampuannya untuk membimbing mereka berkomunikasi dengan efektif dan bukan sekedar memaksa mereka berbicara di depan orang banyak yang akan menjadikan siswa introverts menjadi trauma.

Bagaimana dengan siswa yang ekstrovert ? Ekstrovert biasa di sebut si anak banyak omong, cerewet, ceriwis dan lain sebagainya. Ekstrovert adalah jenis pribadi yang mendambakan stimulasi dalam jumlah besar, sedangkan para introvert merasa paling hidup dan paling aktif dan paling merasa mampu saat berada di lingkungan yang lebih tenang.

Sayangnya sekolah-sekolah dirancang terutama untuk orang-orang ekstrovert dan untuk kebutuhan para ekstrovert. Jika diamati banyak sekali ruang atau tempat yang dirancang di sekolah sebagai tempat untuk ‘bersama’ dan disitu siswa akan berdesak-desakan. Sebuah siksaan tersendiri bagi si Introvert.

Berikut ini adalah fakta mengenai sifat introvert, tentunya sambil membahas sedikit sifat kebalikannya yaitu ekstrovert

1. Guru lebih terganggu dengan anak yang berjenis kepribadian introvert, sering mereka dianggap bermasalah.
2. Guru masih merasa bahwa siswa yang ideal adalah siswa yang ekstrovert.
3. Menurut penelitian siswa yang mampu mendapatkan nilai yang lebih baik adalah para siswa yang introvert.
4. Carl Jung, psikolog yang mempopulerkan istilah ini, mengatakan bahwa tidak ada yang namanya introvert murni atau ekstrovert murni. Beberapa orang jatuh tertegun di tengah spektrum introvert / ekstrovert, dan para ahli menyebut orang-orang ini ambivert.
5. Para psikolog melihat dan meneliti kehidupan orang-orang paling kreatif, yang mengejutkan adalah orang-orang yang sangat ahli dalam mewujudkan gagasan adalah orang yang memiliki kecenderungan introvert
6. Saatnya guru tidak lagi terlalu paksakan siswa yang temannya sedikit (atau tak ada teman sama sekali) untuk mereka mencari teman. Sepanjang ia nyaman dengan situasi itu tak ada yang perlu dirisaukan
7. Gerakan literasi yang saat ini sedang ramai diterapkan sangat membantu para introverts dikarenakan mereka akan selalu rindu dan suka kegiatan membaca hening 15 menit.
8. Para ahli menemukan bahwa ekstrovert paling baik kinerja belajarnya saat di tempat yang bising, dan para introvert paling baik kinerjanya di tempat yang lebih hening.
9. Bagi para introverts, guru mesti meramu antara pekerjaan individual, kerja kelompok, dan meminta siswa melakukan lebih banyak pekerjaan secara berpasangan, dijamin para introvert dan ekstrovert dapat berkembang.
10. Gunakan teknik TPS (Think-Pair-Share) atau (Berfikir-Berpasangan-Berbagi) jika ingin optimalisasikan potensi si introverts. TPS merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. TPS menghendaki siswa bekerja saling membantu dalam kelompok kecil (2-6 anggota) dan lebih dirincikan oleh penghargaan kooperatif, dari pada penghargaan individual.
11. Jika sekolah atau kelas anda sudah gunakan edmodo/schoology akan sangat baik untuk si introvert dikarenakan akan membuat aspirasi mereka tersalurkan. Penerapan media belajar online sangat banyak gunanya. Dikarenakan bahkan si ekstrovert pun akan berpikir dua kali untuk angkat tangan berbicara dan menjawab pertanyaan di tengah setting ruang kelas yang belum menjadi kelas yang menyenangkan (belum ramah secara intelektual).

Judul diatas adalah ajakan untuk guru mulai membagi konsentrasi dan supportnya bagi si pendiam. Nah sekarang bagaimana jika malah gurunya yang introverts? Mampukah ia mengajar dengan baik ? atau bagaimana ia mengelola siswa yang ekstroverts?

Pustakawan sebagai ujung tombak kegiatan literasi di sekolah

book

Menjadikan sebuah sekolah yang punya kedekatan yang bermakna pada buku dan bahan informasi semestinya menjadi tujuan semua pengelola dan penentu kebijakan di bidang pendidikan. Perpustakaan yang menjadi tulang punggung dari literasi sering dinomor duakan dari proses pengembangan atau pembangunan sarana prasarana sebuah sekolah. Lanjutkan membaca “Pustakawan sebagai ujung tombak kegiatan literasi di sekolah”

11 prinsip pembelajaran yang bermakna di kelas

learning-to-fish-eduwellsJika kelas yang anda asuh sudah menerapkan 11 prinsip dibawah ini maka selamat anda adalah guru profesional!. Mari kita cek sama sama

1. Guru ‘memaksa’ siswa fokus dengan teknik yang kreatif agar tercipta suasana kelas yang kondusif namun tetap dengan nuansa yang positif. Ingat kelas yang kondusif adalah kelas dimana siswa bersedia ikut alur pembelajaran guru dengan perasaan sukarela.

2. Senang mengajak siswanya melakukan brainstorming, guru bersama siswa, siswa bersama partner atau rekannya dalam satu kelompok. Kelas yang sering lakukan brainstorming memang akan terdengar ribut/berisik sesaat, namun faedahnya akan lahir siswa yang berpikiran kritis.

3. Mengaitkan terus semua kegiatan dengan aspek menulis singkat (quick writes). Misalnya siswa menuliskan refleksi bagamana mereka menjalani pembelajaran bersama anda, dua atau tiga kalimat. Dilanjutkan dengan tugas menulis yang lebih kompleks.

4. Selalu ada soal/problem menarik yang diminta guru untuk siswa pecahkan sebagai cara menarik antusiasme siswa . Semakin siswa antusias semakin menarik kelas yang anda ajar.

Lanjutkan membaca “11 prinsip pembelajaran yang bermakna di kelas”