3 P di sekolah yang efektif (Place, People and Profit)

Tiga hal yang menjadi judul artikel ini menjadi ‘agak aneh’ ketika diterapkan di sekolah. Sepertinya konsep diatas hanya cocok untuk dunia wirausaha. Namun saatnya sekolah membuka diri untuk menggunakan konsep yang berasal dari luar konsep pendidikan. Berikut ini adalah paparan saya mengenai konsep diatas dalam konsep persekolahan.

 

Place (tempat)

Sekolah yang nyaman dan bersih membuat semua yang belajar dan bekerja didalamnya merasa senang, bangga dan terhormat. Sebaliknya sekolah juga bisa mencapai standar yang tadi saya sebutkan dalam konsep yang sederhana sesuai kemampuan. Inti dari konsep ‘place’ adalah sekolah bisa menjadi rumah kedua bagi siswa dan tempat yang nyaman bagi guru untuk berkarya sebagai professional. Bagus dan aman tidak perlu mahal karena untuk apa jika sekolah yang bagus gedungnya namun guru keluar masuk atau orang tua merasa dikecewakan dan sibuk complain kemana mana.  Soal ‘tempat ‘ bisa juga diartikan sebagai atmosfir, sejatinya sebagai tempat mendidik sekolah mesti bernuansa pendidikan dan bukan bisnis atau (maaf) tempat penitipan anak.

 

People (manusia)

Ketika bicara ‘people’ yang ada di bayangan saya adalah guru-guru yang ada di sekolah. Sebagai sekolah swasta Ananda Islamic School percaya sekali bahwa guru mesti diberdayakan dan bukan diperdayakan. Dua kata yang mirip namun beda makna.

Gurudan karyawan di sekolah  diberdayakan dengan cara

  • di dengar apa keinginan yang bisa membuatnya jadi semakin professional
  • menciptakan nuansa kerja yang positif dan bebas dari prasangka negatif
  • ada nuansa saling menghormati antar guru, guru dengan orang tua siswa, guru dan siswa serta siswa dan guru.
  • Membuat suatu system dimana mereka merasa dihargai karena kinerja dan bukan karena kedekatan personal
  • Menghargai pencapaiannya sebagai pribadi sebagai guru dan sebagai orang yang punya keinginan dan cita-cita
  • Berusaha mempercaya guru dan berbaik sangka . Berbaik sangka diajarkan dengan jelas dalam Agama Islam dan jadi penyembuh dari berbagai macam penyakit hati. Sekolah yang sehat bebas dari ‘penyakit hati’ seperti gossip dll.

Profit

Bicara profit mohon dibedakan dengan membicarakan uang atau kekayaan. Sekolah yang bagus dan baik memang perlu dana. Namun profit disini saya artikan sebagai keuntungan yang dihasilkan sekolah dan diberikan kembali kepada masyarakat.  Kepada yang mengelola pun kata ‘profit’ bisa diartikan sebagai berkah (sebuah hal yang jika kita percaya tidak bisa dinilai dengan uang0 atau ‘priceless’. Jika kedua prinsip yang sebelumnya (Place and People) dijalankan sekolah akan mendapatkan profit sebagai konsekuensi. Profit yang saya maksud antara lain lulusan yang dihasilkan punya kontribusi pada masyarakat, guru-guru nya berprestasi, siswanya cemerlang dalam akhlak dan akademis. Sementara sekolah tidak perlu pusing lagi soal dana karena murid mengantri untuk masuk karena cerita yang beredar mengenai sekolah ini sangat harum dan menjadikan semua calon orang tua merasa cocok dan senang menyekolahkan anaknya .

Dengan demikian jelaslah bahwa profit hanya datang setelah usaha yang keras dalam hal sarana dan prasarana (Place) dan orang-orang yang bekerja di dalamnya (people) merasa betah dan mempercayakan sebagian episode dalam hidupnya bekerja bersama sekolah tsb. Jadi selamat bekerja keras saya ucapkan bagi semua orang yang peduli pada pendidikan yang terbaik untuk generasi Indonesia sekarang dan masa depan.

 

4 thoughts on “3 P di sekolah yang efektif (Place, People and Profit)

  1. Assalamu’alaikum mas Agus Sampurna,
    Menarik membaca artikel diatas, saya setuju mengenai “Place” dan “People” dan memang idealnya demikian.

    Sedikit yang perlu diulas mengenai “Profit” hal ini menjadi lumrah dan wajar utk sekolah swasta atau lembaga pendidikan yang dikelola oleh swasta atau Yayasan. Tidak bisa dipungkiri orientasi Profit identik dengan dana atau money.
    Kalau ingin masuk sekolah bagus, terkenal dan lengkap fasiltasnya, maka harus sediakan dana….sekian rupiah. Permasalahannya adalah tidak setiap orang tua siswa memilki kemampuan financial yang sama. Ada yang berlebih, ada yang cukup tapi ada juga yang kurang. Bagaimana jika ada orang tua siswa dengan kemampuan financial yang kurang…? sementara mereka ingin anaknya memperoleh pendidikan yang bermutu.

    Memang biaya pendidikan saat ini dirasakan makin tinggi meskipun telah ada subsidi dana dari pemerintah, namun program itu dirasakan masih belum merata. Masih banyak sekolah negeri yang pada akhirnya membebankan biaya-biaya operasional kepada siswa didiknya.

    Mungkin perlu dicarikan solusi yang tepat sasaran agar “profit” itu bisa dirasakan langsung oleh pihak sekolah, guru, siswa dan orang tua. Harus ada kegiatan atau usaha yang bisa dikelola bersama untuk kepentingan semua yang terlibat didalam. Ingat sesuatu yang menghasilkan “profit”…. dan tentunya bisa melibatkan semuanya.

    Usaha daur ulang atau bank sampah, itu bisa jadi alternatif usaha yang bisa menghasilkan profit untuk semua yang terlibat didalamnya. Adanya kreatifitas mengubah atau mendaur ulang sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat dan memiliki nilai jual. Siswa, guru dan orang tua bahkan masyarakat lingkungan sekolah bisa dilibatkan dalam usaha ini. Proyek padat karya dan padat kreatifitas ini bisa jadi percontohan sekolah yang kreatif dan ramah lingkungan.

    Wassalamu’alaikum Wrwrb

    Ciputat, 04 Maret 2012

    Iwan Prasetyo,

    1. Wah Pak Iwan terima kasih sudah mampir
      senang sekali saya diberikan balasan atas tulisan saya, mohon ijin untuk memuat tulisan bapak di blog saya ya pak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s