Seminar Pendidikan dengan tema ” Membangun Jiwa ENTREPRENEURSHIP GURU dalam Menyiapkan Keterampilan Abad 21 di SMA Unggul Albayan Sukabumi

*Foto-foto dari Fb Bpk Iwan Sumantri Guru Era baru dari Sukabumi

Entrepreneur / wirausahawan sering difahami dalam pengertian yang sempit, yaitu orang yang mampu menghasilkan uang untuk dirinya atau perusahaannya. Padahal entrepreneur memiliki arti yang sangat luas yaitu seseorang yang mamiliki kecerdasan menangkap peluang meningkatkan nilai tambah sumber daya yang ada menjadi sumber daya atau produk yang kompetitif.

Seorang kepala desa yang mampu meningkatkan gairah kerja warganya sehingga produktivitasnya meningkat bisa disebut sebagai seorang entrepreneur. Meskipun tidak secara langsung kepala desa tersebut memperoleh keuntungan finansial. Demikian pula seorang guru yang mampu memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya, dimiliki oleh sekolahnya, atau lingkungannya untuk membuat pembelajaran yang menarik dan bermakna adalah seorang entrepreneur. Meskipun belum tentu guru tersebut mendapatkan keungtungan finansial secara langsung.

Dengan pengertian ini maka ada presiden yang seorang entrepreneur, ada gubernur yang seorang entrepreneur, ada walikota yang memiliki entrepreneur. Jiwa entrepreneur harus ada di dada setiap manusia. Sehingga apayang ia usahakan akan selalu berdampak positif bagi dirinya hingga bagi lingkungannya.

Lanjutkan membaca “Seminar Pendidikan dengan tema ” Membangun Jiwa ENTREPRENEURSHIP GURU dalam Menyiapkan Keterampilan Abad 21 di SMA Unggul Albayan Sukabumi”

3 P di sekolah yang efektif (Place, People and Profit)

Tiga hal yang menjadi judul artikel ini menjadi ‘agak aneh’ ketika diterapkan di sekolah. Sepertinya konsep diatas hanya cocok untuk dunia wirausaha. Namun saatnya sekolah membuka diri untuk menggunakan konsep yang berasal dari luar konsep pendidikan. Berikut ini adalah paparan saya mengenai konsep diatas dalam konsep persekolahan.

 

Place (tempat)

Sekolah yang nyaman dan bersih membuat semua yang belajar dan bekerja didalamnya merasa senang, bangga dan terhormat. Sebaliknya sekolah juga bisa mencapai standar yang tadi saya sebutkan dalam konsep yang sederhana sesuai kemampuan. Inti dari konsep ‘place’ adalah sekolah bisa menjadi rumah kedua bagi siswa dan tempat yang nyaman bagi guru untuk berkarya sebagai professional. Bagus dan aman tidak perlu mahal karena untuk apa jika sekolah yang bagus gedungnya namun guru keluar masuk atau orang tua merasa dikecewakan dan sibuk complain kemana mana.  Soal ‘tempat ‘ bisa juga diartikan sebagai atmosfir, sejatinya sebagai tempat mendidik sekolah mesti bernuansa pendidikan dan bukan bisnis atau (maaf) tempat penitipan anak.

 

People (manusia)

Ketika bicara ‘people’ yang ada di bayangan saya adalah guru-guru yang ada di sekolah. Sebagai sekolah swasta Ananda Islamic School percaya sekali bahwa guru mesti diberdayakan dan bukan diperdayakan. Dua kata yang mirip namun beda makna.

Gurudan karyawan di sekolah  diberdayakan dengan cara

  • di dengar apa keinginan yang bisa membuatnya jadi semakin professional
  • menciptakan nuansa kerja yang positif dan bebas dari prasangka negatif
  • ada nuansa saling menghormati antar guru, guru dengan orang tua siswa, guru dan siswa serta siswa dan guru.
  • Membuat suatu system dimana mereka merasa dihargai karena kinerja dan bukan karena kedekatan personal
  • Menghargai pencapaiannya sebagai pribadi sebagai guru dan sebagai orang yang punya keinginan dan cita-cita
  • Berusaha mempercaya guru dan berbaik sangka . Berbaik sangka diajarkan dengan jelas dalam Agama Islam dan jadi penyembuh dari berbagai macam penyakit hati. Sekolah yang sehat bebas dari ‘penyakit hati’ seperti gossip dll.

Profit

Bicara profit mohon dibedakan dengan membicarakan uang atau kekayaan. Sekolah yang bagus dan baik memang perlu dana. Namun profit disini saya artikan sebagai keuntungan yang dihasilkan sekolah dan diberikan kembali kepada masyarakat.  Kepada yang mengelola pun kata ‘profit’ bisa diartikan sebagai berkah (sebuah hal yang jika kita percaya tidak bisa dinilai dengan uang0 atau ‘priceless’. Jika kedua prinsip yang sebelumnya (Place and People) dijalankan sekolah akan mendapatkan profit sebagai konsekuensi. Profit yang saya maksud antara lain lulusan yang dihasilkan punya kontribusi pada masyarakat, guru-guru nya berprestasi, siswanya cemerlang dalam akhlak dan akademis. Sementara sekolah tidak perlu pusing lagi soal dana karena murid mengantri untuk masuk karena cerita yang beredar mengenai sekolah ini sangat harum dan menjadikan semua calon orang tua merasa cocok dan senang menyekolahkan anaknya .

Dengan demikian jelaslah bahwa profit hanya datang setelah usaha yang keras dalam hal sarana dan prasarana (Place) dan orang-orang yang bekerja di dalamnya (people) merasa betah dan mempercayakan sebagian episode dalam hidupnya bekerja bersama sekolah tsb. Jadi selamat bekerja keras saya ucapkan bagi semua orang yang peduli pada pendidikan yang terbaik untuk generasi Indonesia sekarang dan masa depan.