Di sekolah yang efektif ‘gedung dan bangunan (prasarana fisik)’ sama pentingnya dengan ‘kurikulum dan program’

Sekolah bukan sekedar bangunan fisik tapi adalah hubungan interaksi antar warganya demi wujudkan pendidikan yang berkualitas.

‘Gedung milik sendiri dan permanen’ adalah bahasa yang sering digunakan oleh pengelola sekolah dalam memasarkan sekolahnya. Kata-kata tadi tercetak di brosur, spanduk dan materi promosi lain yang bertujuan untuk menarik minat calon orang tua murid. Tidak heran karena banyak orang tua siswa calon orang tua murid yang jadikan gedung dan fasilitas sebagai ukuran. Maklum kalau bisa orang tua ingin anaknya bersekolah di sekolah yang gedung dan fasilitasnya memadai.

Sebagai ukuran pertama, sebuah sekolah akan dilihat dan dipercaya  jika gedung dan fasilitasnya kelihatan permanen dan nyaman. Layaknya konsumen, calon orang tua murid juga gunakan penilaian-penilaian saat memilih sekolah untuk buah hatinya, dan biasanya memang yang dijadikan penilaian pertama adalah bentuk fisik dan fasilitas sekolah.

Nah saat memilih sekolah untuk anaknya, calon orang tua siswa biasanya akan langsung berpikir bahwa sekolah yang gedungnya bagus, program-progam dan kurikulumnya pasti bagus. Padahal belum tentu. Maklum orang tua siswa terkadang masih berpikir secara awam dan lurus-lurus saja.

Dalam prakteknya pada beberapa kasus banyak pengelola sekolah yang memulai dengan keinginan kuat membawa sekolahnya ke dalam tujuan pendidikan tertentu lewat program-program. Kemudian program-programnya itu yang menuntun mereka dalam  melengkapi sarana dan prasarana fisik. Green school yang ada di Bali misalnya, sekolah tersebut adalah sekolah internasional yang sadar betul bahwa anak sejak dini mesti dikenalkan oleh pentingnya manjaga dan mencintai lingkungan. Sekolah tersebut bagaikan menyindir sekolah-sekolah yang mengatakan dirinya mencintai lingkungan namun sambil belajar di ruang AC dan anak-anak yang menjadi murid jarang terkena cahaya matahari. Sekolah alam yang sekarang banyak dibuka oleh individu yang peduli lingkungan juga bisa dijadikan contoh, betapa konsep dan program bisa menuntun pengelola dalam melengkapi sarana dan prasarana.

Gambar

Gambar

sumber: http://didikanantha.blogspot.com/2011/02/green-school-bali.html

Pengelola sekolah perlu mengetahui dengan pasti kemana arah ia membawa lembaga pendidikannya. Saya tidak mengatakan bahwa semua sekolah mesti jadi sekolah alam, namun minimal konsentrasi antara membangun software dan hardware dalam sebuah sekolah bisa terbagi secara adil.

Secara singkat yang saya maksud hardware (perangkat keras) dari sebuah sekolah antara lain;

  1. Gedung  dan ruang kelas yang ada karya dan pekerjaan anak-anak beserta furniture  yang selalu dirawat dan memenuhi standar
  2. Buku teks dan alat serta sumber belajar bagi guru
  3. Resepsionis tempat menerima tamu untuk kepentingan sekolah
  4. Toilet yang pantas nyaman dan bersih
  5. Ruang laboratorium (sains dan lain sebagainya)
  6. Ruang perpusatakaan beserta isinya
  7. Ruang guru yang aman, nyaman dan bersih
  8. Tempat menunggu bagi orang tua
  9. Sarana olah raga

Sementara software (perangkat lunak) dari sebuah sekolah yang efektif adalah

1. Guru yang profesional (yang diseleksi lewat seleksi yang baik dan pelatihan yang terus menerus) yang punya kemampuan dalam

  • Mengelola kelas dengan baik dan menomor satukan siswa dalam pembelajaran
  • Punya standar terhadap kualitas pekerjaannya
  • Punya kemampuan mengelola kurikulum
  • Ramah dan sopan terhadap orang tua siswa, bisa membawa diri dan senang belajar hal yang baru serta berpikiran terbuka

2. Program sekolah yang ditata dan direncanakan dengan baik yang meliputi:

  • Program bagi siswa baru
  • Program bagi siswa yang memerlukan bantuan akademis
  • Program event olahraga, seni, keagamaan dan program lain yang menyeimbangkan potensi siswa dari sisi akademis dan karakter
  • Program yang mengikutsertakan siswa dalam kehidupan masyarakat (community service)
  • Program ekstra kurikuler yang bermakna dan dijalankan oleh guru dari dalam dan luar sekolah.
  • Program konseling bagi siswa
  • Serta banyak sekali program yang bias dihasilkan oleh guru yang kompak dan kreatif.

3. Kurikulum

  • jelas mengacu pada kurikulum nasional atau mencampurnya dengan kurikulum negara lain atau menggunakan kerangka kerja dari badan tertentu di luar negeri
  • jelas dalam  pemilahan dan dibangun dan dikembangkan oleh guru-guru dari dalam sekolah sendiri
  • jelas strukturnya dan standarnya

Silahkan anda membandingkan antar keduanya. Jelas sekali perbedaanya. Jika kemampuan sekolah dalam membangun fisik (bangunan dan lain sebagainya) disesuaikan dengan program. Maka sekolah akan lebih tepat sasaran dan terasa sekali suasana yang dinamis, karena bahkan saat sebuah bangunan baru akan dimulai pengerjaannya segenap komunitas sekolah sudah tahu untuk apa sarana fisik tersebut dan apa urgensinya dibangun sarana tersebut.

Namun sebaliknya jika semata sekolah mengejar dan menargetkan fisik sekolah tanpa pernah melirik program, maka bersiaplah sekolah akan mengalami gonta ganti guru, orang tua siswa yang mengeluh terus dari satu masalah ke masalah lainnya. Bahkan bisa saja terjadi sarana fisik sudah rusak duluan sebelum terpakai.  Serta sederet masalah lain karena fisik sekolah ‘berlari kencang’ meninggalkan program sekolah di belakang.

Sebagai kesimpulan dari tulisan ini, baik program dan pengadaan sarana fisik sekolah keduanya memerlukan biaya. Namun selalu ada jalan untuk memaksimalkan pengeluaran dan membuat orang tua siswa semakin percaya. Caranya dengan selalu menempatkan programsekolah dan  prasarana fisik sekolah sama pentingnya. Karena prasarana fisik mungkin tidak akan ada habisnya jika terus dikerjakan, dan saat yang sama orang tua siswa mengukur dan mengerti sekali bahwa sekolah yang bagus ada karena program-program dan inovasinya dalam menghadapi tantangan zaman.

3 thoughts on “Di sekolah yang efektif ‘gedung dan bangunan (prasarana fisik)’ sama pentingnya dengan ‘kurikulum dan program’

    1. Komentar menarik, dalam banyak segi perubahan yang paling bisa dilihat adalah perubahan fisik, sementara perubahan budaya atau cara mengajar memakan waktu yang lama dan memerlukan pelatihan ang terus menerus, namun jika berhasil sekolah akan menjelma menjadi sekolah yang bagus dan semakin dipercaya masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s