Emosi saat mengajar di kelas? ini yang mesti anda lakukan

Siapa pun bisa marah – marah itu mudah. Tetapi, marah pada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang tepat, demi tujuan yang benar, dan dengan cara yang baik – bukan hal mudah.
Aristoteles

Saat mengajar di kelas seorang guru terkadang terpancing emosi nya oleh sikap siswa nya yang dianggap melewati batas kesabaran. Sayangnya batas kesabaran setiap orang itu berbeda, Jadi memang ada istilah guru yang emosional bagi guru yang mudah marah atau naik pitam. Sebaliknya ada juga guru yang sepertinya sabar serta ‘lunak’ di mata siswa, ia akan diam saja ketika siswa berbuat apa pun bahkan jika siswa nya ‘kurang ajar’

Sebenarnya bolehkah guru marah pada siswa? Serta dalam kondisi apa marah pada siswa itu boleh dan tidak diperbolehkan.

  • Jawabannya boleh. Asal penyebabnya bukan karena harga diri guru. Guru boleh marah pada siswa karena sebagai guru ia peduli pada masa depan siswa nya.
  • Silakan marah pada perilaku dan kinerja murid anda. Marah karena anda kesal atau tidak suka pada siswa anda secara pribadi atau karena faktor lain, sangat-sangat ter larang.
  • Marah lah dengan melipat tangan anda ke belakang, ini untuk menghindari ‘tangan melayang’ dari guru kepada siswa nya
  • atur napas dengan baik jika anda merasa sudah marah sekali

saran saya guru marah itu baik, karena berarti guru peduli namun banyak cara untuk membenahi perilaku siswa selain melalui ekspresi marah. Cara nya adalah ;

  • Jika ada anak yang terus ber ulah dan membuat anda kesal, cari tahu latar belakang keluarga dan masalah yang dihadapi anak tersebut. Dijamin anda jadi punya wawasan baru tentang mengapa siswa tsb bersikap menyebalkan.
  • Komunikasi dengan sesama guru untuk cari solusi dan kontak orang tua siswa sebagai cara meredakan masalah.

Sebagai guru kita semua adalah orang yang terpilih untuk bisa mengubah perilaku siswa. Betapa hasil menjadi tidak penting ketika kita bicara soal perilaku karena yang dipentingkan adalah usaha yang terencana, kerja sama semua pihak dan komunikasi yang sehat, maka tiada lagi yang namanya guru emosional yang ada adalah guru yang coba mengerti sambil perlahan membenahi siswa nya.

8 thoughts on “Emosi saat mengajar di kelas? ini yang mesti anda lakukan

  1. Saya terkadang kesel dengan bbrp murid yang malas sekali mengerjakan PR, apalgi PR itu diberikan saat mereka sedang libur krn ada kegiatan kelas 6 seperti US kmrn. Bbrp cara wajar sudah saya lakukan, salah satunya memberi hukuman dengan meminta mereka mengerjakan PR itu di sekolah dan harus selesai saat itu juga dengan tulisan yang rapi dan memanggil org tua dr bbrp anak yg rutin tidak mengerjakan PR. Tapi tetap itu tidak menjamin mereka akan tidak akan mengulang hal yang sama. Apa yang harus saya lakukan? Kalo saya mau marah, mungkin saya bisa tapi saya pikir kalo saya marah, malah akan sangat merugikan saya.

    1. Thanks komentarnya bu, cara ibu mengingatkan sudah bagus, pertahankan ya bu. hanya saja mohon kiranya menelaah kembali isi PR apakah terlalu sulit untuk siswa.Karena tidak semua siswa mendapatkan support penuh dari orang di sekelilingnya

  2. namanya marah.. apapun penyebabnya.. akan menjalar ke lain masalah… alasan peduli pada masa depan siswa… tapi penerimaan siswa beda… akhirnya sampai kle orang tua.. sudah makin berbeda lagi… terjadilah sesuatu yang tak diinginkan…
    tapi semoga saja tidak terjadi di Indonesia ini…

    Persiapan Perangkat Keras Warnet

    1. Terima kasih atas komentarnya, untuk itu guru perlu membungkusnya menjadi kepedulian bukan sekedar marah.
      Thanks for comment

    1. benar bu Lili, guru perlu atur saja nada suara. Di usia dini anak sudah bisa membedakan perbedaan nada suara. Saat sayang dan saat tegas mereka sudah mengerti membedakannya

  3. Marah itu manusiawi, guru itu juga manusia. Apalagi menjadi guru di sekolah swasta yang (maaf) siswanya tidak sebaik siswa sekolah negri secara akademik dan perilaku. Lebih sering memancing kemarahan. Belum lagi masalah klasik dari pendapatan guru swasta yang kecil yang berujung kesulitan ekonomi. Tentunya tekanan-tekanan tersebut berpotensi memancing kemarahan bukan. Teori memang mudah, namun kenyataanya sulit dijalani.

    1. Terima kasih atas komentarnya. Tiada guru yg inginkan siswanya bermasalah dan memang kesabaran diperlukan ketika guru menemui situasi ini. Rasa hormat saya bagi rekan sesama guru yg dengan sadar memilih profesi guru sebagai pilihan hidup. Mudah mudahan tulisan saya bisa jadi sarana utk kita sesama pendidik saling menguatkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s